Ketidaktertiban Batin Adalah Ketidaktertiban Sosial
Kebanyakan orang modern menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja mencari uang, sandang, pangan, papan, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Kebudayaan, agama, masyarakat tercipta tidak lebih sebagai system penyokong bagi kebutuhan survival manusia.
Setiap orang mencari rasa aman. Ada yang mencari rasa aman dalam kerja, dengan memiliki uang, dengan memiliki rumah atau mobil, dengan memiliki nama baik atau status terhormat, dengan memiliki pasangan hidup dan keturunan, dengan memiliki kepastian menikmati seks dan kesenangan lainnya, dengan mengikuti otoritas tradisi, kebudayaan, agama dan masyarakat.
Pemuasan kebutuhan fisiologis atau biologis seringkali diikuti atau ditunggangi oleh pemuasan kebutuhan psikologis. Ketika pemuasan kebutuhan psikologis lebih penting daripada kebutuhan fisiologis, maka kebutuhan survival umat manusia justru terancam. Konflik-konflik keras terjadi bukan hanya karena sumber daya yang terbatas diperebutkan dengan sengit, tetapi diperparah oleh fanatisme budaya, fanatisme agama, dan fundamentalisme kelompok-kelompok masyarakat. Jumlah kaum fundamentalis yang berani menebar teror secara public tidak banyak, tetapi orang-orang yang memiliki sikap fondasionalistik jauh lebih banyak. Keduanya tidak berbeda, sama-sama menebar kekacauan di tengah masyarakat. Itulah awal dari seluruh gerak ketidaktertiban batin yang adalah ketidaktertiban social.
Kebutuhan fisiologis dan rasa aman psikologis
Mengapa orang mencari rasa aman? Silahkan melihat batin Anda sendiri. Bukankah orang menghadapi ketidakamanan hidup dan berlari dengan berbagai jalan untuk menutupi ketidakamanan? Bukankah lewat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis itu, menyusuplah kelekatan terhadap apa yang membuat rasa aman dan mulailah orang bergelut dengan masalah penderitaan psikologis entah disadari atau tidak? Lalu eksploitasi, persaingan, konflik, perpecahan mendominasi cara kita berhubungan baik dalam keluarga, di tempat kerja, masyarakat, antar kelompok etnik, negara dan komunitas internasional?
Mengapa pemenuhan kebutuhan biologis atau fisiologis itu begitu penting dalam hidup Anda? Bukankah itu semua penting bukan hanya karena tanpa itu semua Anda tidak bisa hidup layak, tetapi terlebih karena lewat itu semua Anda menemukan rasa aman psikologis? Apa yang terjadi ketika kehilangan sarana pemenuhan kebutuhan fisiologis dan batin Anda terkoyak? Bukankah kebutuhan akan rasa aman psikologis telah menyusup dan menjadi lebih penting dari rasa aman fisiologis?
Apa yang sesungguhnya dicari oleh kebanyakan orang? Orang bekerja keras sekedar mencari sesuap nasi dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup ataukah lebih mencari rasa aman atau rasa puas psikologis dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis itu? Bukankah orang lebih mengutamakan rasa aman psikologis daripada rasa aman fisiologis? Bukankah itu merupakan karakter kejiwaan kebanyakan orang dan itulah struktur masyarakat yang kita ciptakan?
Kalau orang hanya mencari pemenuhan kebutuhan fisiologis dan berhenti mencari pemenuhan kebutuhan psikologis lewat pemenuhan kebutuhan uang, sandang, pangan, papan, maka ia bebas seperti burung di udara yang tidak memerlukan lumbung, namun demikian tidak satupun jatuh mati kelaparan. Justru karena orang mementingkan rasa aman atau rasa puas psikologis, maka sebagian orang bisa hidup mewah sementara sebagian yang lain hidup dalam kemiskinan dan mati kelaparan. Kalau pasangan hidup berhenti mengejar kepuasan psikologis, bukankah konflik-konflik dalam keluarga yang dipicu oleh masalah-masalah ekonomi tidak berlanjut? Kalau orang-orang berhenti mementingkan rasa aman dalam ideology, tradisi dan agama mereka, bukankah konflik-konflik antar ideology, tradisi dan agama bisa berakhir?
Keamanan dan kepuasan psikologis sebagai ilusi
Rasa aman biologis atau fisiologis punya tempatnya. Tetapi adakah yang disebut rasa aman psikologis itu? Anda takut hidup miskin, lalu bekerja keras mencari uang dan penghidupan yang lebih layak. Dengan memiliki lebih banyak uang, Anda berpikir akan bebas berkeinginan dan menikmati rasa aman. Kalaupun bisa membeli apa saja yang Anda suka, mendapatkan apa saja yang Anda inginkan, bukankah Anda tetap didera oleh ketakutan dan tetap saja tidak ada rasa aman psikologis itu? Lalu Anda mencari lebih banyak pengetahuan, pengalaman, komunitas atau organisasi, agama atau kepercayaan yang cocok, Tuhan dan melekatinya. Adakah rasa aman itu? Ataukah rasa aman psikologis itu tidak lebih dari sekedar ilusi?
Batin yang mencari rasa aman tidak akan menemukan rasa aman yang sesungguhnya. Pencarian rasa aman merupakan pelarian dari kenyataan. Pelarian itu sendiri telah menciptakan ketakutan. Bisakah Anda melihat pemuasan akan rasa aman psikologis itu sebagai ketidaktertiban? Bisakah Anda melihat sikap aman hanya sekedar mentaati norma-norma agama, tradisi, hukum, aturan sebagai sumber kekacauan? Bisakah kita menghadapi rasa tidak aman, ketidaktertiban, kekacauan itu? Kalau Anda tinggal bersamanya, apa yang terjadi? Bukankah Anda melihat rasa aman yang sesungguhnya di tengah arus ketidakamanan? Bukankah Anda melihat lahirnya ketertiban dalam ketidakamanan yang tidak perlu dihindari?
Begitu pula dengan rasa tidak puas. Ketidakpuasan fisiologis punya tempatnya. Lewat ketidakpuasan, kita tergerak untuk membangun dunia fisik. Anda tidak puas dengan pendapatan kecil, lalu Anda berjuang lebih keras untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Anda tidak puas dengan rumah kecil, lalu Anda membangun rumah yang besar.
Bagaimana dengan ketidakpuasan psikologis? Apakah pemuasan atas ketidakpuasan psikologis membuat Anda terpuaskan? Meskipun hidup berkecukupan, masih saja orang tidak puas untuk menimbun barang, mencari kekuasaan, nama baik, prestasi, kedudukan, kecakapan, dst. Semakin besar pendapatan, kebutuhan juga semakin meningkat. Kalau tidak disadari, kebutuhan pemuasan psikologis juga semakin meningkat. Semakin kuat orang berburu pemuasan, semakin meningkat tuntutan pemuasan. Faktanya tidak ada ketidakpuasan yang bisa dipuaskan. Bukankah demikian?
Kepuasan selalu untuk diri sendiri. Semakin tidak puas dan batin mengejar pemenuhan atas ketidakpuasan, maka ketidakpuasan itu menimbulkan ketidaktertiban karena seluruh tindakan pemuasan berpusat pada kepentingan diri.
Bisakah kita melihat pelarian batin dari ketidakpuasan itu sebagai ketidaktertiban? Bisakah kita melihat sakitnya pemuasan dan kekacauan dari ketidakpuasan yang diingkari? Lalu bisakah kita tinggal bersama ketidakpuasan tanpa motif, tanpa mencari jalan keluar, tanpa pemuasan, tanpa menutupi dengan hiburan, kesenangan, kepercayaan, ideologi dst? Apa yang terjadi ketika batin tidak berlari dari setiap gerak ketidakpuasan? Bisakah Anda melihat kepuasan yang sesungguhnya di tengah ketidakpuasan tanpa motif?
Bukan fondasionalistik, bukan fundamentalistik
Rasa aman atau rasa puas yang sesungguhnya tidak membutuhkan fondasi apapun. Untuk membangun rumah atau gedung bertingkat, orang membutuhkan fondasi yang kokoh. Fondasi yang tidak kuat akan membuat rumah atau gedung rapuh. Tetapi untuk menikmati kebebasan, kebenaran, kepuasan yang sesungguhnya, apakah dibutuhkan suatu fondasi?
Kita tahu ada begitu banyak masalah individual maupun social. Kita merasa kecil, rapuh dan lemah. Kita tidak tahu apa yang musti kita perbuat. Lalu kita mencari teori, norma, ideology, kepercayaan, rumus kebenaran dan menjadikan itu sebagai fondasi hidup kita. Kita merasa aman bersandar padanya meskipun tetap saja kita merasa takut, khawatir, rapuh dan lemah. Terlebih lagi, fondasi di mana kita berdiri justru menciptakan konflik, kekerasan, dan perpecahan social. Sikap fundamentalistik atau fondasionalistik seperti itu tidak membuat orang aman. Justru sebaliknya mengancam rasa aman.
Bisakah kita menyadari fondasi-fondasi yang kita bangun yang membuat kita hanya menelan rasa aman palsu? Bisakah kita menyadari sikap-sikap fundamentalistik atau fondasionalistik dalam batin kita karena kita bersandar pada sesuatu yang kita lekati? Bisakah kita membongkar lapis-lapis fondasi itu, membiarkan semuanya runtuh dan batin hidup sendirian tanpa keinginan mencari jalan keluar? Apa yang terjadi kemudian ketika batin tidak lagi bersandar pada fondasi apapun? Bukankah Anda melihat suatu fondasi yang lain yang jauh lebih nyata, lebih kokoh daripada fondasi yang Anda ciptakan sendiri atau fondasi yang dipaksakan kepada Anda dari luar?
Bukankah apapun tempat kita bersandar tidak membuat kita merasa sungguh-sungguh aman. Beranikah batin tidak bersandar pada apapun, berada dalam keadaan sendiri, tinggal bersama ketidakamanan itu? Tidak banyak orang yang berani hidup dengan batin yang sendirian seperti Yesus: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” (Luk 9:58) Justru karena tidak membutuhkan rasa aman psikologis, tidak membutuhkan tempat bersandar, orang seperti Yesus menemukan kenyamanan dalam ketidaknyamanan, seperti domba di tengah kawanan serigala, menjadikan seluruh dunia yang keras sebagai rumah aman dan memperlakukan semua orang sebagai saudara.*







Romo Sudrijanta……
Mo, bukankah sudah kodrat manusia untuk mencari fondasi rasa aman ? Dan sudah sewajarnya toh kalau manusia kembali ke sang Pencipta yaitu Allah Bapa di Surga sebagai dasar atau fondasi atau pegangan dalam menjalani kehidupan yang fana ini.
Maaf ya Mo, cuma ungkapan hati atau pikiran.
Salam Damai Kristus
Andreas
Thanks Romo,
Indah sekali..very meaningful and inspiring.,applicable as well.
Mudah dicerna dan kmdn dihidupi hari demi hari dlm sikon spt ini,rasanya cocok benar….
Terima kasih, untuk great reminder ini,jd se makin eling, dan siap melangkah maju dg batin yg jernih bening,yg sebetulnya sdh tertanam,……..
namun kadang terlupakan, a l krn kelekatan2 diri ini.
Best Regards,
ly
@Andreas: Apa yang Anda ungkapkan itu adalah doktrin. Sekarang tinggalkan dulu doktrin itu dan Anda amati secara langsung batin Anda sendiri. Mengamati SECARA LANGSUNG artinya, melihat gerak batin Anda TANPA melalui teori, doktrin atau kesimpulan tertentu. Mengapa Anda mencari rasa aman dan apakah Anda mendapatkan?
@Rm Sudrijanta,
Pada tahap tertentu kita manusia mengungkapkan pendapat kita melalui ‘doktrin’, pendapat yang sudah baku, kita semua sepakat bahwa ini itu benar. Tapi yang jarang bahkan tidak pernah dilakukan adalah ‘MENGALAMINYA’. Salah satu cara mungkin apa yang romo katakan yaitu mengamati SECARA LANGSUNG, tinggalkan sebentar doktrin itu.
Tapi manusia kan harus mempunyai pegangan hidup yang benar kan Romo.. seperti AGAMA , kalau tidak bukankah hidup semakin kacau….
Mo Sudri….. n temen2 terimakasih responnya.
Mencari rasa aman…, yang didapatkan diri/ daging ini sungguh lemah……
Mungkinkah pengalaman bisa dibagikan , bagaimanakah agar dalam pengamatan atau melihat batin supaya tidak terpengaruh atau terdistorsi oleh pengalaman masa lalu ? Apakah melupakan masa lalu = hidup tidak ada apa-apanya……?
Salam damai Kristus
Andreas
Sdr. Andreas,
bila berkenan,kiranya bs memiliki buku:”Revolusi Batin adalah
Revolusi Sosial” yg tersedia di Pustaka / tk buku, st. Anna,Duren Sawit.Silahkan baca,n hayati pelan2.
Lalu jika akan mencoba belajar mengolah bathin, silahkan dtg,
dan berlatih bersama di gdg. Yos Sudarso,di gdg yg sama dg Pustaka tsb.
Setiap Sabtu pkl. 7 pagi.Semoga jarak tdk menjadi kendala, bagi
Sdr.Andreas.See You
Regards,
lily
@Andreas
Practically : distorsi datang coba tidak berusaha “mengusirnya”.”Biasa aja” gitu loch…:). Sikap lain, kalo memang membantu lakukan, seperti pasrah, rendah hati, pengampunan. Pada kenyataannya akan sangat sulit dan berbeda sehingga kata2 saya ini hanya “kata pengantar” ke pengalaman sesungguhnya.
Dear Mas Andreas,
Frasa yang mas tulis: “Mencari rasa aman” menunjukkan bahwa ada ketidak-amanan dalam hidup.
Mungkin: Khawatir gek besok makan apa?
atau: gek besok kalo tua aku sama siapa?
atau: gek besok kalo sakit siapa yang mengurus aku?
Macam macam.
Dari kekhawatiran-kekhawatiran itu, lalu mas akan merasa tidak puas atas apa yang ada sekarang. Selain mas perlu cari uang buat makan hari ini, mas merasa perlu nabung buat makan bulan depan tahun depan dan 100 tahun lagi, juga bayar asuransi kesehatan untuk 100 tahun ke depan, lalu perlu juga cari pasangan supaya kelak punya anak yang bisa nemani mas kalo tua.
Ini semua yang bikin rumit hidup. Coba bayangkan, kalo orang menikah dengan pikiran supaya punya anak yang nemani saat tua, lha kalo anaknya pergi ke negeri lain lalu si tua kan misuh misuh,”Anak gak tau diuntung, sudah dibiayai susah susah sekarang malah pergi jauh, aku telantar!” Padahal anak itu punya HAM untuk pergi kemana pun dia mau.
Ini yang disebut ketidaktertiban batin.
Kalau yang tertib ini begini:
aku hidup diciptakan oleh Tuhan, dipeliharakan Tuhan sepanjang hidupku dan kelakpun aku mati untuk Tuhan. Maka, mari bekerja untuk Tuhan, tanpa harus repot mikir besok makan apa. Karena burung pipit yang tidak menabur dan tidak menuai pun diberi makan oleh Tuhan.
Kalo sakit? Tuhan sang Maha Tabib pasti akan menolong! Maka tetaplah bekerja tanpa khawatir apapun.
Besok tua sama siapa? Ya sama semua orang yang hidup bersama dengan kita karena mereka yang mengerjakan perintah Tuhan kan juga saudara kita wong mereka itu adalah saudara Yesus. Makanya kasihilah tetanggamu, teman-temanmu. Gak punya anak juga gpp to… Lha, kalo punya anak, itu adalah bonus dari Tuhan. Hadiah. Maka monggo bersukacita, bukan koq malah misuh ben dhino. Apa lalu tidak perlu punya bojo? Ya tergantung perlune. Kalau bakalan hangus oleh hawa nafsu ya luwih becik kawin untuk Tuhan. Kalo bakalan tidak kobong oleh hawa nafsu ya monggo hidup seperti Paulus. Pokoke batinnya tertib mengarah kepada Tuhan selama hidup.
Ada beberapa contoh bagaimana Yesus itu tertib batinnya:
Yesus menjalankan tugas-Nya menebus dosa manusia kan tanpa minta bayar, tanpa mbrengkel melainkan patuh kepada Bapa;
Yesus pergi kemana mana mengajar juga tidak ribet mikir mau makan apa, pokoke tugas-Nya mengajar ya mengajar aja;
Yesus gak punya untuk meletakkan kepalaNya ya gak pernah bilang sama murid murid-Nya,”Kamu bikin dong rumah buat aku, ntar kalo aku pulang ngajar dari mana mana, aku pulangnya kemana dong?!” itu karena Yesus tau bahwa RumahNya ya di Surga.
Yang jadi masalah dengan kita manusia itu kan karena kita kadang kurang beriman. Kita sudah diberitahu bahwa rumah kita ya di Surga, tapi kenapa koq kita serakah maunya punya 10 rumah di bumi, padahal kita cuma perlu ruang ukuran 2×1 m aja?! 2×1 kan bukan cuma kuburan, tapi kasur kan juga ukurannya segitu to… Naaa… serakah itu kan ya karena kita khawatir ini itu yang tidak tertib yang membuat hubungan kita dengan Tuhan jadi amburadul.
Naaaa… proses mengamati tuh begini:
coba mas memperhatikan batin mas sendiri: apakah mas khawatir kalo sakit gimana? Bukannya dilarang bayar premi asuransi tapi khawatir itu yang masalah. kalo batin mas tertib maka mas percaya Tuhan memelihara mas, dan mas mengasihi Tuhan dengan memelihara kesehatan mas. Kalo toh sakit, ya rpp. pertama badan toh ya ada saatnya minta istirahat, kedua mungkin baik bila sekali sekali sakit, ketiga mungkin juga itu akan jadi sarana mas makin mengasihi Tuhan. Biayanya gimana? Tanpa rasa khawatir karena mas percaya Tuhan pasti memberi rejeki, maka baiklah mas menyisihkan sebagian untuk biaya sakit supaya mas tidak merepotkan orang lain. Itu karena mas mengasihi orang lain juga to….
Lalu mengapa koq: Ketidaktertiban Batin Adalah Ketidaktertiban Sosial? Lha ya itu, kalo batin kita kisruh dengan segala kekhawatiran dan keserakahan ya pastilah kelakuan kita jadi rusuh juga to maka jangan heran kalo kehidupan sosial masyarakat kita jadi rusuh penuh korupsi.
Dengan mengamati batin, kita akan semakin tau apakah kita sungguh mengasihi Tuhan.
Salam berkah Dalem, rin
Mbak Irene yang baik,
Agama itu mengajari kita bagaimana memiliki batin yang tertib, perilaku yang tertib sehingga hubungan kita dengan Tuhan selama hidup di dunia ini terjaga. Misalnya, jangan zinah. Mengapa sih koq gak boleh zinah wong salaman sama siapa aja boleh?! Itu sebab menurut Tuhan, perkawinan itu adalah gambar persatuan Tuhan dan manusia. Lha supaya tingkah kita tertib tidak zinah itulah maka batin kita juga mesti tertib, ora thingak thinguk saben wong lewat hayuuuk aja.
Kalau kita lihat bagaimana Tuhan menginginkan agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, itu memang tandanya bahwa Tuhan tidak menghendaki kita selingkuh terhadap apapun: berhala, zinah, curang dll. Itu sebabnya Tuhan juga bilang: Keluaran 20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, …
Maka agama itu baik, tapi lebih baik lagi memiliki batin yang lurus kepada Tuhan.
Salam berkah Dalem, rin