Kesempatan kedua
Kesempatan kedua – Minggu Prapaskah 3/C
Bacaan: Lukas 13:1-9
Ada cerita yang terjadi di sebuah SMA. Di sekolah itu ada dua murid laki-laki dengan nama yang sama, Yosep. Yosep yang satu pendiam, sangat cermat dan patuh, murid kesayangan guru. Yosep yang lain sangat berkebalikan dengannya. Ia suka membuat onar dan malas belajar. Ia menjadi seperti duri bagi gurunya.
Pada kesempatan pertemuan orang tua murid dan guru yang pertama, seorang Ibu yang lembut dan santun masuk ruang guru dan memperkenalkan diri sebagai ibu dari Yosep. Mengandaikan bahwa ia adalah Ibu Yosep murid kesayangannya, Sang Wali kelas melambungkan pujian atas anaknya, mengatakan bahwa dia adalah anak yang sangat baik dan betapa gembiranya Sang Guru mempunyai murid seperti Yosep.
Pagi hari berikutnya, Yosep yang bandel pergi ke sekolah pagi-pagi benar dan langsung berjalan menuju Ruang Guru. Ia menemui wali kelasnya, dan dengan kepala tertunduk dia terbata-bata bicara: “Teri.. terima kasih karena Ibu telah mengatakan pada ibu saya bahwa saya… saya adalah salah satu murid kesayangan Ibu… dan betapa Ibu merasa bersukacita karena saya… Saya… saya tahu saya bandel dan nakal… saya belum jadi anak baik.. tapi saya tahu, saya akan jadi anak baik mulai sekarang….”
Sang Guru sadar apa yang telah terjadi. Tetapi ia juga menangkap perubahan sikap pada muridnya itu. Dia menepuk pundak Yosep, mengandeng tangannya dan membimbingnya keluar dari Ruang Guru. Sejak hari itu, kedua Yosep menjadi sumber suka cita Sang Guru di kelasnya.
Saudari-saudaraku dalam Kristus. Secara tidak sengaja, Yosep Si Anak Nakal telah mendapat kesempatan berubah, dan ia pun menjadi sosok lain yang dari sebelumnya. Pernahkah Anda mendapat pengampunan dan diberi kesempatan lain untuk berubah? Mungkin dari orang tua saat tahu kita nakal, atau dari anak-anak kita saat kita melakukan kesalahan kecil. Atau mungkin dari pasangan kita yang menderita karena perbuatan kita? Atau mungkin dari teman atau rekan kerja. Entah perkara besar atau kecil, saya pikir kita semua pernah mendapat kesempatan berubah dalam hidup kita, kesempatan untuk membuka lembaran baru, kesempatan berbalik arah menuju hidup yang lebih hidup.
Dalam Injil hari ini, orang-orang berspekulasi tentang tragedi, mecoba mencocokkan kejadian di dunia ini dengan kehendak Tuhan. Sebagaimana mereka mencoba memahami kejadian-kejadian yang menyesakkan hati, mungkin kita juga sesekali merenungkan kejadian-kejadian senada, melabelinya sebagai berkah atau kutukan, imbalan atas kebaikan atau hukuman atas kesalahan dan dosa-dosa. Kita ingat perbincangan ramai menyangkut iman saat terjadi tsunami, pasti juga saat gempa bumi menimpa Chili dan Haiti baru-baru ini, kebakaran besar di Negara bagian Victoria (Australia) tahun lalu atau banjir di Negara bagian Queensland (Australia) hari-hari ini. Kita cemas dan tak habis mengerti, mengapa hal-hal buruk menimpa orang-orang baik, atau kesuksesan dan keberuntungan diraup oleh orang-orang jahat. Ya, semua ini merupakan rangkaian permenungan yang penting dan mendapat tempatnya dalam pemikiran teologi Kristiani. Namun, dari pada mencoba mencocokkan kejadian-kejadian di dunia dengan kehendak Ilahi, Yesus mengingatkan kita akan hal yang lebih penting, yakni menyatakan kehendak Ilahi dalam kejadian-kejadian di dunia.
Yesus menceritakan kisah tentang pohon ara untuk mengingatkan para pendengarnya bahwa tidak semestinya kita menghakimi. Kita semua telah mendapat kesempatan lain meski kita tidak menghasilkan banyak buah dalam hidup kita. Yesus mengajak kita untuk memberikan kesempatan lain satu sama lain, sebagaimana kita mendapat kesempatan lain dari Tuhan. Dan dalam hal ini kita tidak sendirian. Kita tahu orang-orang besar yang telah mendapat kesempatan baru dan sungguh berubah. Raja Daud, Petrus, Paulus, St Agustinus, St Ignasius Loyola, Dorothy Day dll.
Selagi kita melanjutkan perjalanan Prapaskah dan merenungkan hidup kita, mungkin kita bisa bertanya pada diri kita, siapakah dalam hidup kita yang membutuhkan kesempatan lain dari kita. Adakah seseorang yang kita perlu kita ampuni? Atau mungkin kitalah yang membutuhkan kesempatan lain itu. Perlukah kita meminta maaf dan minta diberi kesempatan lain dari seseorang? Entah kitalah orang yang membutuhkan kesempatan baru atau kita yang bisa memberi kesempatan baru, minggu ini kita bisa melangkah dalam perjalanan Prapaskah kita dengan sedikit lebih serius bersama-sama. Kita bisa bertanya pada diri sendiri, siapa dalam hidup kita yang membutuhkan kesempatan baru, dan pada siapa saya perlu meminta kesempatan baru. Jika kita lakukan ini semua, minggu depan kita bisa persembahkan syukur dan terima kasih pada Tuhan bahwa kita mendapat kesempatan baru untuk menghidupi Injil secara baru minggu ini. Mari berikan kesempatan baru pada mereka yang membutuhkan. Amin.
-AM Ardi Handojoseno SJ. Inspirasi dari Brendan McGuire dan koleksi kisah2 Hedwig Lewis SJ-







Met pagi Rm Ardi ( and ‘met siang ya disana), waktu saya baca renungan ini saya belum selesai baca baru pada alinea keempat saya merasa ini pasti renungan dari Rm..eeh saat selesai benar kan dari Rm Ardi. Contoh yang sederhana dan mudah dimengerti tapi mempunyai makna yang dalam untuk membuat seseorang berubah. Memang berbagai pendekatan harus dilakukan supaya seseorang bisa berubah secara total seperti yang selalu Rm Sudri tekankan juga baik dalam bukunya maupun dalam homilinya.
Thanks untuk sarapan pagi ini, and selamat beraktifitas.
Salam,
mary
Terima kasih Romo Ardi, karena masih sempat mengirimkan renungannya sehingga dapat dimuat di website St. Anna, seperti biasa renungan dari Romo selalu mudah dicerna dan penuh pesan bermakna.
Selamat beraktifitas, kami tunggu renungan-renungan lainnya.
salam AMDG
gunawan