Kelekatan dan Penderitaan
Apa yang Anda lakukan ketika penderitaan batin datang dan mendera Anda? Anda menangis, berdoa, mencari sahabat, makan banyak, berolah-raga, naik gunung, pergi ke kafe atau ke tempat-tempat hiburan, menyibukkan diri dengan kerja? Kebanyakan dari kita sudah memiliki pola kebiasaan untuk menghadapi penderitaan atau lari dari penderitaan ketika ia datang. Tetapi pola kebiasaan itu tidak cukup membuat penderitaan terpahami secara tuntas.
Ketika penderitaan datang, seringkali orang menyalahkan factor-faktor di luar diri, orang lain atau diri sendiri. Apa salahnya kalau Anda menderita? Penderitaan adalah sifat hakiki dari eksistensi kita sebagai manusia. Tapi kita sering menolak penderitaan. Kita sering bertanya mengapa aku menderita? Aku merasa penderitaanku paling berat. Mengapa orang lain tidak menderita seberat aku? Kita berpikir kalau aku tidak berbuat ini atau itu mungkin aku tidak menderita. Kita sering berpikir kalau aku melakukan ini atau itu atau memiliki ini atau itu, barangkali aku akan bahagia. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat kita makin jauh dari fakta penderitaan.
Penderitaan dan kebahagiaan itu seperti ayunan bandul yang terus bergerak. Hari ini menderita, besok bahagia, besok lusa menderita. Begitulah seterusnya. Demikian kebahagiaan dan penderitaan silih berganti. Seolah-olah dualitas ini merupakan kenyataan hidup. Sesungguhnya, dalam keheningan meditative, kita melihat dualitas itu semu belaka sebab kenyataannya yang ada hanya penderitaan.
Seringkali penderitaan dan kebahagiaan ditentukan oleh factor keinginan. Orang sering kali mengalami penderitaan kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan bahagia kalau keinginan tercapai. Kenyataannya, mendapatkan apa yang kita inginkan itupun adalah penderitaan.
Orang yang belum bangun batinnya melihat kebahagiaan sebagai terpenuhinya keinginan merupakan hal yang nyata. Itu seperti orang yang sedang tidur bermimpi indah. Ia berpikir bahwa mimpi indah itu sebagai kenyataan. Lalu orang lebih dalam melekatinya. Mari kita melihat bersama akar dari penderitaan itu yang adalah keinginan atau kelekatan.
Kelekatan menyebabkan penderitaan. Mengapa demikian? Segala yang ada di muka bumi ini muncul dan lenyap begitu cepat. Semuanya berubah dan tidak ada yang memuaskan. Ketika batin mencari pemuasan dari segala sesuatu yang pada hakekatnya tidak memuaskan, maka di situ terjadi konflik, pergulatan, penderitaan. Keinginan akan segala sesuatu yang pada hakekatnya tidak memuaskan sebagai sarana pemuasan merupakan kelekatan. Sebab penderitaan bukanlah segala sesuatu yang pada hakekatnya tidak memuaskan, melainkan kelekatan akan pemuasan terhadap segala sesuatu yang tidak memuaskan.
Kalau Anda lapar dan merasa puas setelah makan makanan yang enak, kepuasan seperti ini merupakan hal yang wajar. Tetapi ketika batin Anda setiap kali berpikir tentang makanan yang enak dan Anda tidak mau makan selain makanan yang enak, maka kelekatan telah membuat Anda menderita. Bukankah demikian? Anda bisa melihat batin dan pengalaman pengindraan Anda sendiri. Demikianlah semua gugus indra adalah penderitaan selama kelekatan merasuki penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, kesadaran.
Ada banyak objek batin yang bisa dilekati. Batin bisa melekat pada barang-barang seperti makanan, handphone, internet, play station, TV, film, rumah, kendaraan, barang kepemilikan yang lain. Batin bisa melekat pada suami atau istri, anak, sahabat, guru, keluarga, komunitas, organisasi. Batin bisa melekat pada hal-hal yang lebih halus sifatnya pada model-model doa, teknik meditasi, dogma, kepercayaan, ide, ideology, Tuhan di pikiran. Batin juga bisa melekat pada ketenangan, kenikmatan, kepuasan, hiburan yang bersumber dari paham adanya diri: uangku, rumahku, pasangan hidupku, sahabatku, keluargaku, kepercayaanku, Tuhanku, nyawaku.
Bagaimana kita mengenal batin kita sendiri ketika kelekatan menyusup dalam relasi-relasi kita dengan orang, barang, idea dan hal-hal lain? Seringkali kita tidak sadar akan gerak kelekatan itu sebelum terjadi sesuatu dalam relasi itu. Ketika dalam kita bahagia karena memiliki seseorang atau sesuatu yang berharga, semakin besar kemungkinan kita menderita saat rasa kebahagiaan itu berakhir. Ketika penderitaan itu berakhir, kebahagiaan itu muncul kembali. Begitulah ayunan bandul dualitas itu terus bergerak sampai akhirnya kita melihat dengan jernih bahwa kebahagiaan itu tidak lain adalah penderitaan. Ketika muncul rasa luka, benci, takut, lelah, tergantung barulah kita merasa betapa sakitnya hidup dalam kelekatan. Kita pada umumnya sadar akan kelekatan-kelekatan itu karena implikasi yang ditimbulkan pada moment akhir geraknya. Tantangannya adalah bisakah kita menyadari bukan hanya pada akhir, tetapi menyadari keseluruhan gerak itu dari awal hingga akhir, seluruh gerak kelekatan itu saat kemunculannya sampai akhir konsekuensi yang ditimbulkan?
Kita perlu menyadari kelekatan-kelekatan saat itu muncul dalam batin. Bukan menganalisa sebabnya, tetapi memahami prosesnya, strukturnya, hakekatnya, keseluruhannya dari awal hingga akhir dan mengakhirinya seketika. Melihat kesepian-kesepian batin dan gerak pelarian dengan mencari pemuasan. Melihat gerak pikiran yang suka mengingat-ingat kenikmatan-kenikmatan yang sudah lewat. Melihat keinginan untuk menikmati kembali kesenangan yang pernah didapat. Melihat munculnya hasrat akan pemuasan. Lihatlah ketakutan, konflik, pergulatan dan rasa sakit mengiri gerak pelarian dari realitas kesepian Anda dan pencarian pemuasan menciptakan lebih banyak ketakutan dan penderitaan.
Apakah Anda pernah muak dengan kehidupan yang Anda jalani? Kalau Anda muak dengan kehidupan Anda yang adalah relasi-relasi Anda yang dibelit oleh kelekatan, bukan muak karena tidak sesuai dengan keinginan Anda, maka kemuakan itu bisa menjadi moment transformasi. Muak melihat kelekatan sebagai sumber ketakutan, ketergantungan, kecemburuan, kekerasan, mendominasi dan didominasi, keinginan memiliki dan dimiliki, memperbudak dan diperbudak, konflik, pergulatan, luka dan penderitaan. Kalau Anda betul-betul sadar akan sakitnya suatu kelekatan, bukankah moment kesadaran itu sendiri mengakhiri kelekatan seketika?
Penderitaan perlu diselami atau dipahami ketika itu muncul dan pemahaman akan halnya hanya mungkin kalau pikiran tidak menggangu pengamatan. Demikianlah kita lihat bersama bahwa hidup adalah penderitaan. Sebab penderitaan adalah kelekatan. Penderitaan bisa diakhiri dengan mencabut akar penderitaan yang adalah kelekatan. Kelekatan bisa berakhir dengan memahami seluruh gerak kelekatan itu.*







Kalau kita melekat memang jadinya kita menderita. Gak bisa kemana mana, lha nempel terus seperti perangko sih! Mau meleng dikit takut suaminya ngelirik ceweq lain sehingga kemana mana mesti nempeeell terus. Maka kalo gak mau menderita ya jangan lekat. Gpp lah suaminya nglirik wong memang punya mata dan masih normal. Selebihnya, toh dia harus taat kepada Tuhan.
Suamiku itu bukan milikku, dia milik Tuhan. Maka dia setia kepada Tuhan, bukan kepadaku. Kalo dia setia kepadaku ya sudah pasti frustrasi dari dulu lah wong punya istri keras kepala sak penak’e dewe, buat apa setia kepada orang seperti itu?! Tapi karena dia setia kepada Tuhan ya dia terima istrinya sebagai salib toh salib yang harus dipikulnya itu bisa juga diajak hwuenaaakkk….
Anak-anakku juga bukan milikku, mereka milik Tuhan. Maka mereka bebas menentukan masa depan mereka. Aku tidak pernah memaksa mereka sekolah atau belajar. Cukup aku beritahu gunanya sekolah, setelahnya ya diberi tambahan wawasan dan semangat. Kalo anakku minta bolos 1 hari maka aku mengusulkan begini:
“Kalo cuma 1 hari, dik, nanti ibu rugi karena kamu pasti tidak naik kelas. Itu karena besoknya ibu pasti nulis surat: Iyo’ tidak masuk sekolah karena bolos. Naaaa…. dari pada rugi bayar uang sekolah lalu tidak naik kelas ya sebaiknya kamu liburnya 10 tahun. Ibu tidak bayar uang sekolah lagi, enak dong ibu! Tapi akibatnya kamu harus kerja karena hanya orang yang kerja yang berhak makan. Kalo kamu sekolah, itu masih dihitung sebagai persiapan bekerja, jadi ibu masih mau bayar makanmu. Tapi kalo kamu tidak sekolah yaaaa… mohon maaf, ibu sudah boleh tidak membiayai kamu lagi. Gimana dik? Asyik kan libur 10 tahun?!”
“Kalo aku mesti kerja, aku kerja apa bu?”
“Banyak, bisa jadi tukang sampah, tukang angkat barang di pasar, petani sayur di tanah kosong situ juga bisa. Tapi kalo mau jadi OB ya mesti lulus SMA, dik.”
“Itu kan susah, bu!”
“Lho tapi kan halal. Yang gak boleh itu nyopet.”
hahahahaaa…. sudah pasti anak umur 10 tahun pun sudah punya akal sehat untuk pilih sekolah dari pada libur 10 tahun!
Kuncinya adalah NIKMATILAH hidup!
Manusia itu beruntung. Kita gak usah memiliki, gak usah lekat tapi bisa menikmati.
Biarpun suamiku itu milik Tuhan, tapi aku bisa menikmatinya. Menikmati susah senang hidup bersama. Waktu aku jomblo sendirian juga aku menikmati hidupku. Sudah senang dinikmati sendiri ato bersama teman teman. Lalu dinikmati bersama suami, sekarang dinikmati ber 4 bersama anak-anak.
Biarpun anak-anak itu milik Tuhan, tapi aku bisa menikmati susah senangnya punya anak. Harus bangun malam untuk ganti popok, menyanyi dan bercerita untuk anak, memberi makan anak, tertawa dan menangis karena anak. Nikmati saja!
Itu semua karena kuk yang dipasang Tuhan itu memang enak.
Gimana kalo udah telanjur lekat pada sesuatu? Lepaskan! Itu hanya sebuah loncatan. Dari ERAT MENGGENGGAM ke LEPASKAN. Kalau biasa melekat lalu harus melepas ya mungkin rasanya sayang ini sayang itu, beraaattt ngelepasnya. Tapi kalo udah tau rasanya bahwa itu akan membuat hidup jadi bebas lepas, ngapain juga melekat?!
Maka ada orang yang memang mencintai seperti yang dimaksudkan 1Kor 13. Ada juga orang yang mengira dirinya mencintai padahal sebetulnya melekat. Sesungguhnyalah hidup ini penuh kebahagiaan sejak awal mula Tuhan mencipta. Orang miskin atau kaya bisa saja bahagia asal hanya melekat dengan Tuhan.
Salam berkah Dalem, rin
Terimakasih Romo, selalu mengingatkan saya, yg mmg sering lupa
menjalani hidup harian…up n down,silih berganti.Stlh sy amati,
memang kelekatan lah yg jd penyebab utamanya.
Hari2 blkg an ini saja ,misalnya karena ditinggal mudik para asisten dirumah, sore2 juga timbul rs kesepian, kehilangan,
kalo kerepotan sbtlnya tdk terlalu…Nah, kalo ini tdk terpahami jg bs menjadi penderitaan…
Untung Romo telah ckp lama mengajak memahami/ mengolah hidup
harian kami….jd meski timbul penderitaan ,kesepian, kecemasan
etc, batin ini:peka/ tanggap untuk bangkit lg, untuk terus maju
menjalani kehidupan dg bersemangat kembali,dg tenang, damai
dan sungguh bebas tanpa belenggu/beban.
Terima kasih Mo, untuk pembekalan yg meaningful ini
Warm rgrds,
ly
He..he..he.. aku kalau baca koment ibu Rini pingin tertawa.. lucu ..lucu…sy senang membacanya, apa yang ditulis Romo Sudri bagus sekali,Beliau ingin mengajarkan atau mengajak umatnya supaya tidak terlalu menderita bila ada pencobaan datang oleh karena itu kita diajak untuk tidak terlalu lekat pada sesutu karena kelekatan dapat menimbulkan penderitaan. ada ajaran Romo Sudri yang sy rasakan manfaatnya yaitu duduk diam beberapa saat dengan merilekkan seluruh anggota badan, mengosongkan pikiran, walaupun tidak terlalu sempurna sy lakukan tapi sy merasakan manfaatnya,pikiran lebih terarah, sy bisa lebih konsentrasi dalam pekerjaan sehari hari, lebih sabar, lebih rileks, lebih bisa menerima keadaan,tidak kemerungsung (apa ya bahasa indonesianya..jenuh ,bosan, penuh,seperti dikejar kejar waktu) dalam menghadapi banyaknya pekerjaan .jadi enak gitu rasanya.
to romo sudri dan sedulurs yang sudah response…
terima kasih atas tulisan2nya.
memang saat ini saya sedang mengalami perasaan muak dengan hubungan2 yang ada,
dengan istri, dengan ortu, dengan mertua, dengan pekerjaan..dan lain sebagainya.
memang..kelekatan adalah sumber penderitaan..ngga ada yang lain.
saya sebagai manusia, ingin sekali lepas dari penderitaan itu..
persis seperti apa yang ditulis romo diatas..kepikiran utk mencari cara utk melepaskan itu, berpikiran enaknya hal2 yang lalu, menyesali keputusan yang sudah diambil, pokoknya tidak menikmati hidup ini…
mungkin kelekatan yang ada dalam diri saya dah paraah sekali ya..sampe2 saya tidak bisa menikmati hidup ini
dengan tulisan ini saya tersadarkan utk melepaskan kelekatan yang ada di dalam diri saya..
mohon doanya…
maturnuwun
naryo