Kekerasan dan Kepercayaan kepada Roh Leluhur

Berikut adalah dialog Sinta, Johan dan Sudrijanta tentang kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh Ibu Shinta. Kekerasan ini terkait dengan kepercayaan keluarga suami kepada Roh Leluhur.(Admin)
===========

Salam Damai Kristus Romo,
Pada tgl.13 Mei 2009 saya mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh kakak ipar saya. Pemukulan tsb terjadi karena lantaran saya menolak untuk patuh dan mempercayai kekuatan roh leluhur mereka yg pada saat itu katanya sdng merasuki tubuh kakak ipar saya itu. Entah mengapa mereka selalu mengkaitkan roh leluhur terus-menerus setiap kali ada permasalahan keluarga. Pemukulan pertama yg dilakukan oleh ipar saya terjadi ketika saya bertanya” kenapa saya dihakimi?”. Setelah itu saya berkata “Hanya Tuhan Yesus saja yang boleh menghakimi saya” tapi setelah saya berkata spt itu ipar saya itu langsung menjadi marahnya dan lantas saya dipukul lagi kepala saya berkali-kali dgn kedaan tangan saya dipegangi suami saya sendiri tanpa boleh membela diri, pemukulan tsb disaksikan oleh putra saya sendiri yg berumur 3 thn. Setelah kejadian itu saya coba bicarakan baik2x dgn suami saya bahwa saya tetap tdk mau mempercayai atau bahkan mengandalkan kekuatan roh2x leluhur tsb. Namun suami semakin marah dan meminta cerai kepada saya dihadapan mama saya sendiri. Permintaan cerai tsb adalah kedua kalinya yg ia lontarkan kpd saya, dulu pernah dia minta cerai ketika kami sdng menghadapi persoalan rumah tangga. Permintaan cerai yg pertama ia lontarkan juga disertai pemukulan ke kepala saya.

Tolong romo apa yang harus saya perbuat saat ini? Saat ini kami hanya saling diam dan tdk tegur sapa. Saya tidak mau anak saya besar dlm lingkungan kekerasan apalagi saya tidak mau anak saya diajarin untuk percaya dan mengandalkan kekuatan roh leluhur karena bagi saya itu sudah menduakan Tuhan. Romo kalau boleh saya ingin bertemu dengan romo Sudrijanta sendiri, bolehkah?
=============

Ibu Sinta..

sebelum Romo Sudri menjawab pernyataan dan permintaan Ibu, ijinkan saya mengulas sedikit kasus anda dilihat dari kacamata hukum Gereja Katolik.

Saya melihat hakikat pernikahan Katolik tidak ada.. pertanyaan saya
1. apakah benar suami anda bukan seorang KAtolik ?
2. apakah pernikahan anda diketahui Gereja Katolik ? (menikah secara Katolik)

Apa yang ibu alami adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dalam situasi dimana jiwa anda atau anak-anak anda terancam, Gereja memperkenankan anda untuk meninggalkan suami anda dan hidup terpisah. Tetapi yang saya pikirkan bahwa saat ini Ibu sedang bingung mengambil langkah yang harus ditempuh. Apakah bercerai dengan demikian bisa membebaskan diri anda dari kekerasan RT dan juga menyelamatkan iman anak-anak atau tidak, karena perceraian sedikit banyak pun memberikan efek yang negatif bagi anak-anak dan kemungkinan juga memberikan pengaruh bagi kesejahteraan mereka di masa depan khususnya secara finansial.

Saya melihat besar kemungkinan desakan perceraian akan terus terjadi di kemudian hari, anda hidup dibawah ancaman perceraian dan bayang-bayang kekerasan yang kecil kemungkinan akan berakhir. TErlebih tampaknya kekerasan itu didukung oleh pihak keluarga suami anda, bahkan oleh suami anda sendiri. tentu saja perbuatan suami dan keluarga suami memberi efek negatif bagi jiwa anda dan juga tidak tertutup kemungkinan jiwa anak-anak anda. Perbuatan suami dan kakaknya seakan mengisyaratkan kehidupan keluarga mereka sangat lekat dengan kekerasan. Mungkin waktu kecil pun mereka dididik dengan cara demikian atau lingkungan tempat mereka bertumbuh sarat dipenuhi kekerasan. Tidak tertutup kemungkinan kelak, suami anda bisa melakukan hal yang sama kepada anak-anak anda. Dan bukan saja fisik terluka tetapi sekaligus psikis yang sudah terdistorsi akan membuat rekaman peristiwa yang mereka alami ini.. dan efek perbuatan suami tsb. dapat membentuk diri mereka hingga dewasa dan te-refleksi dalam sikap dan perbuatan mereka kepada orang lain, bahkan kepada orang tua dan saudara mereka sendiri. Ini yang harus kita cegah.
Ada dua hal yang mungkin terjadi.. ada analogi demikian :

ada sepasang suami isteri, si suami suka berjudi, main perempuan, mabuk2an, dan suka ringan tangan kepada si isteri.
si isteri juga suka keluyuran, selingkuh, nggak ngurusin RT. Tentu saja kehidupan RT mereka hancur. kekerasan, pertengkaran, rumah bagai neraka, dan seringkali si anak menjadi tempat “curahan” orang tuanya. Anak tunggal mereka hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak mendidiknya, sehingga ia pun mencari “pendidikan” di luar.. dan tentu saja ketika dewasa, si anak tidak akan berbeda jauh hidupnya dengan orang tuanya.

ada keluarga lain, si suami itu teman main judinya si suami di cerita pertama, suka mabuk dan main perempuan juga. Tetapi si ibu, adalah seorang yang soleh, rajin berdoa, taat ke Gereja, tidak pernah mengeluh, selalu melayani si suami dengan setia walaupun hal itu pun merupakan penderitaan, karena si suami tak jarang memukulnya. si ibu selalu melindungi si anak, dan setiap kali si ibu mengingatkan si anak untuk tidak membenci ayahnya. Walaupun si anak sangat marah melihat sikap bapaknya itu dan merasa kasihan akan penderitaan ibunya. Ketika dewasa, si anak tumbuh menjadi seorang yang sukses dan tidak sedikit pun tercermin sikap orang tuanya, bahkan sikap ibunya lah yang terlihat begitu nyata dalam kehidupannya.

kedua cerita di atas memang dibuat ekstrim, tetapi bila dilihat masih ada kemungkinan anak-anak diselamatkan oleh kasih sayang, perjuangan dan keikhlasan satu dari orang tua mereka. Inilah yang harus ibu perjuangkan. Anak-anak harus dilindungi. Tetapi untuk melindungi anak-anak, keselamatan, kesehatan anda pun harus dijaga, agar anda mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka.

Saran saya, tepatlah ibu meminta nasihat dari Romo paroki. Cobalah juga meminta dukungan dari keluarga anda dan dukungan moril dari orang-orang terdekat anda. Jika dalam satu kejadian, anda merasa tekanan yang cukup berat dalam diri anda dan bahaya keselamatan bagi anda dan anak-anak anda.. segera keluarlah dari rumah itu dan carilah pertolongan segera. Janganlah tergoda untuk segera kembali ketika suami membujuk anda, karena sering terjadi dalam berbagai kasus, bujukan itu hanya suatu janji palsu. Tanpa ada tindakan dan usaha memperbaiki diri yang nyata, janganlah kembali. Tindakan nyata itu seperti kehendak baik untuk memperbaiki diri dengan mendatangi psikolog Katolik atau berdialog dengan terbuka dengan pastor paroki anda, karena bagaimana pun perbuatan suami dan keluarganya termasuk memaksakan kepercayaan kepada orang lain apalagi ditambah hingga kekerasan kepada anak melanggar hukum hak asasi (UU n0 39 tahun 1999 pasal 9 ayat ke 2 tentang hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. Pasal 22 tentang kebebasan beragama dan beribadah. Pasal 29 tentang hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, dan martabat, dan pasal-pasal tentang perlindungan anak). Artinya perbuatan suami dan keluarga suami dapat dicegah dengan dan secara hukum negara.

May God bless your steps dan give you strength.
Johan
=============

Ibu Sinta,
Saya menangkap akar dari permasalahan rumah-tangga anda adalah ketidakmampuan dalam menghadapi atau mengolah setiap permasalahan keluarga yang muncul. Saat masalah muncul, tanggung-jawab untuk mengatasi masalah itu dilempar keluar. Alih-alih menghadapi atau mengolah setiap masalah, tetapi justru lari kepada kepercayaan roh lelulur.

Dua kali suami anda mengancam untuk bercerai dan dua kali anda dipukul. Anda dipaksa untuk percaya pada roh leluhur yang hadir dalam kakak ipar anda. Ancaman bercerai, pemukulan dan pemaksaan untuk tunduk pada kepercayaan mereka merupakan manifestasi dari kebingungannya sendiri dalam menghadapi masalah keluarga yang muncul.

Kekerasan yang anda (dan anak anda) alami menjadi lebih buruk dan lebih berbahaya karena dikaitkan dengan fenomen kehadiran roh leluhur. Perlakuan kekerasan di masa depan potensial terulang melampaui batas-batas kemanusiaan dan ini tentu bisa membahayakan hidup anda dan anak anda. Bagi pelaku kekerasan, tindakannya bisa diklaim sebagai benar karena merasa mendapat legitimasi kehadiran roh leluhur.

Melanjutkan pertanyaan Pak Johan, silahkan menjawab beberapa pertanyaan berikut:
1. Masalah-masalah apa yang muncul dalam keluarga anda dan sulit diterima oleh suami atau keluarga suami anda?
2. Apa hubungan antara fenomena kesurupan kakak ipar anda dan anda sendiri menurut keluarga suami?
3. Bisakah memberikan informasi latar belakang suami anda: agama, budaya, tingkat pendidikan, profesi, dst?
4. Berapa lama anda menikah dan berapa lama ketidakharmonisan hubungan sudah mulai anda rasakan?
5. Apakah anda menikah secara Katolik?
6. Kalau anda berpisah rumah, apakah anda memiliki cukup dukungan finansial?

Rasanya anda perlu segera bertemu dengan pastor paroki anda atau silahkan datang ke sini untuk bertemu dengan saya.
Sudrijanta

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>