Keheningan dalam Kesibukan Sehari-hari
“Tuhan, siapa diam di kemahMu? Siapa tinggal di gunungMu yang suci?” Refren lagu Mazmur Tanggapan itu selalu bergema. Memanggil-manggil saya untuk naik ke gunung dan tinggal menyepi dalam keheningan…
Sejak mempraktikkan meditasi tanpa objek satu setengah tahun silam, hati terasa sejuk. Membayangkan retret meditasi di gunung, membuat hati ingin kembali dan kembali menikmati keheningan di tempat sunyi. Kehidupan perkotaan yang bising dengan segala hiruk-pikuknya menjadi tidak menarik lagi bagi saya. Lalu, mulailah saya mencermati berbagai iklan penjualan vila di gunung. Ada sebuah vila di kawasan Lembang yang begitu menarik, seperti tampak dalam foto-foto di salah satu situs properti. Lebih dari setahun saya memendam keinginan untuk melihat langsung kondisi vila itu. Sampai suatu hari di penghujung 2010….
Saat sebagian besar orang di muka bumi sibuk menyiapkan acara tutup tahun, saya pun berencana menjenguk vila impian itu. Suami saya enggan berangkat, membayangkan kepadatan lalu-lintas Bandung di saat pergantian tahun. Namun, saya nekat berkendara, ditemani dua anak saya. Kami belum pernah menyusuri kawasan Lembang dengan mobil pribadi. Berbekal kompas dan peta, dari kota Bandung kami mengarah ke utara.
Setiba di kawasan Lembang, kami ikuti petunjuk jalan menuju ke vila yang jadi incaran. Menjelang sore, di tengah tiupan angin Lembang yang dingin, kami tiba di lokasi. Betapa terkejutnya saya menyaksikan pemandangan yang ada di depan mata. Vila yang tampak asri di foto, nyatanya tinggal separuh tembok bata bersekat-sekat tanpa atap, pintu, dan jendela. Belum lagi panorama sekelilingnya, tak seindah imajinasi dalam benak saya.
Saat memandang vila itu, saya merasakan runtuhnya seluruh diri. Imajinasi yang tercipta dalam pikiran saya selama ini lenyap. Kosong. Terdengar suara dalam hati, “Mengapa engkau menempuh jarak begitu jauh untuk mencariKu? Padahal, Aku selalu tinggal bersemayam dalam hatimu….”
Saya terkesiap, air mata menitik. Mengapa saya memburu sesuatu yang maya, sehingga kehadiranMu yang nyata malah tidak saya pedulikan? Saya menatap kedua anak saya. Mereka tengah beranjak dewasa, apa jadinya kalau saya mengabaikan mereka demi mengikuti obsesi saya tinggal menyepi di gunung? Lalu, pasangan hidup saya. Belum pernah kami melewatkan malam tahun baru secara terpisah. Tetapi, pergantian tahun kali ini, kami tak bersama, lantaran kenekatan saya pergi meninggalkannya – lagi-lagi untuk memenuhi ambisi melihat vila impian.
Mobil saya pacu ke arah biara Karmel Lembang. Masih adakah penginapan bagi kami di tengah serbuan orang-orang yang haus berlibur? Di sebuah hotel tepi jalan raya kami singgah. Tanpa harapan muluk, hanya sekadar bertanya. Ternyata, ada satu kamar yang nyaman!
Saya bersyukur diberi kesempatan menutup tahun lama dan membuka tahun baru di tengah suasana meditatif di Karmel. Dua malam saya menyapu batin, mengenali gerakan-gerakan di dalamnya yang berpotensi memunculkan ego.
Kembali berkutat dengan rutinitas hidup sehari-hari, saya dapat menikmati keheningan dalam kegaduhan. Refren lagu Mazmur Tanggapan itu masih tetap bergema, “Tuhan, siapa diam di kemahMu? Siapa tinggal di gunungMu yang suci?” Jawaban pertanyaan itu terungkap dalam salah satu bait lagunya, “orang yang bersih tangannya dan murni hatinya…” Hati yang murni lahir dari batin yang hening. Dan batin yang hening bisa kita nikmati dalam aktivitas hidup sehari-hari, tanpa harus tinggal menyepi di gunung.
Cendrawati Suhartono







Leave a Reply