Kakak mau kawin dengan pacar bermasalah, keluarga bingung
Saya mempunyai seorang kakak laki-laki. Dia saat ini sedang pacaran dengan perempuan yang kebetulan berbeda agama. Ibu saya tidak setuju dengan hubungan ini. Karena selain berbeda agama, latar belakang keluarga ini cukup kompleks. Ibunya menikah lagi dan sepertinya hubungan antara perempuan dan ayahnya yang baru kurang baik. Selain itu, keluarga perempuan ini juga memiliki hutang di bank yang cukup besar. Saya sebagai adik dan anak dari Ibu saya seringkali mendengar percecokan mereka berdua. Saya bingung. Saya ingin sekali menengahkan mereka berdua. Ibu saya takut kalau seandainya kakak saya benar-benar menikah dengan perempuan ini. Karena bagaimanapun juga kelak hutang-hutang itu akan menjadi tanggungan kakak saya. Sedangkan saat ini kakak saya belum memiliki pekerjaan tetap. Disatu sisi saya juga kasihan melihat Ibu saya yang sering menangis karena masalah ini. Saya butuh saran kira-kira hal apa yag sebaiknya saya bisa lakukan.
mta







Dear mta,
Segala perikatan hukum lahir setelah adanya perkawinan. Maka kakak anda tidak dapat dimintai pertanggungan jawab atas hutang keluarganya karena hutang terjadi sebelum perkawinan. Lagi pula siapa yang berhutang? bukan perempuan itu kan? jadi, ya itu memang bukan tanggungan dia.
Sebetulnya yang dikhawatirkan itu apa? Wong ya kakak anda saja belum punya pekerjaan tetap. Kalau akhirnya pekerjaannya jadi tetap dan kakak memang mau ikut saweran mbayari hutang keluarga istrinya, emangnya kenapa? Ibu anda kan tidak pernah berharap anak lanangnya memberinya uang to?! Jadi ya buat apa bingung?
Soal ibunya menikah lagi dan banyak masalah tentu bukan urusan kakak anda.
Kelihatannya, cobalah pisahkan mana urusan kalian dan mana urusan keluarga itu. Bahwa keluarga kalian sudah memperingatkan kakak soal kesulitan apa saja yang akan hadir, saya kira cukuplah. Perempuan yang akan dinikahi kakak anda toh bisa berubah menjadi lebih baik. Kakak anda pun punya hak untuk menikahi perempuan yang dicintainya. Kalian kan tidak tau, mungkin perempuan itu mendatangkan banyak kebahagiaan bagi kakak anda. Tapi, kalau kakak anda toh banyak menderita oleh perempuan itu namun tetap mau menikahinya, ya check saja apakah dia memang sedang salah berpikir. Yang pasti memarahinya bukanlah solusi. Maka sebaiknya kalian bicara dari hati ke hati untuk tau apa sebenarnya yang kakak dan perempuan itu rasakan, pikirkan, cita citakan.
Salam berkah Dalem, rin
teorinya atau idealnya masalah keluarga perempuan itu tidak menjadi masalah Kakak mta dan isterinya.. tetapi hal ini akan sulit terjadi.. si isteri masih bagian dari keluarganya, masalah keluarganya pasti ia pikirkan, terlebih bila keluarganya meminta ia terlibat.. dan bila itu terjadi sulit dihindari kakak mta pun akhirnya “dipaksa” terlibat. Ini memang berpotensi menjadi masalah keluarga. Tidak jarang pertikaian besar antara suami dan isteri terjadi karena masalah keluarga salah satunya yang menyeret si suami atau si isteri.
Belum lagi ditambah masalah beda agama. Tidak tertutup kemungkinan bila pertikaian itu membesar, keluarga ikut campur dan mendesak terjadi perceraian.
Saya tidak tahu bagaimana keluarga pacar kakak mta ini melihat calon menantunya yang secara materil boleh dikatakan biasa-biasa saja, dan juga masalah perbedaan agama. Jika mereka benar-benar tahu kondisi ini dan tetap mendukung pernikahan anaknya dengan kakak mta, itu bisa saja diartikan, keluarganya tidak akan merecoki RT anaknya kelak dengan masalah keluarga yang dihadapi saat ini. Walaupun tidak ada jaminan untuk hal tersebut.
Jadi memang sebenarnya kekhawatiran ibu mta beralasan.. kekhawatiran ini sebenarnya karena rasa kasih sayang kepada anaknya.
Saya melihat seharusnya kakak mta juga memahami apa yang dikhawatirkan sang ibu. Sehingga caranya adalah bagaimana meyakinkan sang ibu tentang calon isterinya, dan tentang pernikahannya, bahwa hal-hal itu tidak perlu sang ibu khawatirkan. Tidak perlu terjadi pertengkaran jika sang kakak mta menyadari ini.
Karena komunikasi sudah agak rusak akibat pertengkaran setiap membahas masalah ini, maka sebaiknya kedua sisi tersebut perlu dikomunikasikan dengan bantuan orang ke-3 yang netral dan dihormati oleh kakak mta terutama. Dimana kakak mta merasa nyaman men-share-kan pemikirannya, tanpa merasa khawatir menjadi “terdakwa” dalam kasus ini. syukur-syukur kakak mta bisa menunda pernikahannya, dan mempersiapkan dirinya lebih matang untuk kelak menjadi seorang kepala keluarga, termasuk mempertimbangkan masak-masak faktor pernikahan beda agama.
untuk sementara itu dulu… May God bless your steps..