Jadwal Misa & Petugas 26-27 Juli 2008
26-27 Juli 2008
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 26 Juli, Jam 17.30
Penanggung jawab : Pd. Klp II, Lk Agnes
Koor : Assisi
Hari : Minggu, 27 Juli, Jam 06.30
Penanggung jawab : DS. PTB, Lk Thomas, Gabriel, M. Mirabilis
Koor : Pasukris
Hari : Minggu, 27 Juli, Jam 08.30
Penanggung jawab : DS. Baru, Lk Kristophorus & Kel. Kudus
Koor : Helena
Hari : Minggu, 27 Juli, Jam 16:30
Penanggung jawab : Malaka Jaya II, Lk Mathias
Koor : Gracia
Hari : Minggu, 27 Juli, Jam 18:30
Penanggung jawab : Pd. Klp I, Lk Clara
Koor : Immanuel
Stasi St Yoakhim
Hari : Sabtu , 26 Juli, Jam 18.30
Penanggung jawab : Pd. Kopi II, Lk Markus
Koor : Yohanes Pemandi
Hari : Minggu , 27 Juli , Jam 08.00
Penanggung jawab : Pd. Kopi I, Lk Dionisius
Koor : Laetitia







Misa ternoda tepuk tangan penampilan seorang pemudi yang menyanyi lagu pop rohani.
Tidak ada dalam aturan dan hukum Gereja mengenai tepuk tangan dilakukan di dalam misa. Karena tidak ada bukan berarti diperbolehkan.
Ada satu dokumen Gereja yang bila dibaca satu kutipan saja seakan memperkenankan tepuk tangan di dalam misa diperbolehkan,yaitu bila tidak dilihat untuk apa dan kepada siapa dokumen itu ditujukan yaitu dari instruksi inkulturasi dan liturgi Roma yang disusun oleh Kongregasi untuk Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen. Saya terjemahkan sebagai berikut :
“Di antara beberapa masyarakat, bernyanyi secara instink ditemani dengan tepuk tangan, gerakan mengayun dan tari berirama sebagai bagian dari para peserta. Bentuk-bentuk dari ekspresi eksternal tersebut boleh mendapat tempat dalam tindakan-tindakan liturgikal untuk masyarakat ini, dengan syarat bahwa hal itu selalu merupakan ekspresi dari doa-doa komunal sejati dari adorasi, pujian, penawaran dan permohonan, dan bukan hanya sekedar sebuah penampilan [performance]”
Dalam insiden yang terjadi di misa ke-2 tanggal 27 Juli sebelum doa dan berkat penutup, instruksi tersebut bahkan pun bila digunakan untuk membenarkan insiden tersebut, tetap salah, karena instruksi tersebut ditujukan untuk adaptasi liturgi di daerah-daerah yang baru mengenal Gereja. Jelas bukan untuk kota besar seperti Jakarta.
Umat yang bertepuk tangan setelah performa biduanita tersebut tanpa disadari telah turut mengambil andil menodai misa kudus.
Kardinal Joseph Ratzinger yang sekarang adalah Paus tercinta kita Paus Benedictus XVI dalam tulisannya “THE SPIRIT OF THE LITURGY” mengatakan demikian :
“Wherever applause breaks out in the liturgy because of some human achievement, it is a sure sign that the essence of liturgy has totally disappeared and been replaced by a kind of religious entertainment.”
Jika hal itu ingin dilakukan mengapa tidak menunggu hingga berakhirnya perayaan Misa ? Bagaimana pun ini adalah tanggung jawab gembala yang memimpin Ekaristi Kudus pada hari tersebut sesuai dengan Instruksi Umum Misa Roma yang memberikan tanggung jawab bagi Imam untuk memastikan bahwa di dalam misa tidak terjadi improvisasi. Domba-domba yang tidak mengerti hanya akan mengikuti sang gembala. Semoga tulisan sederhana ini dapat disebarluaskan untuk menghilangkan kebiasaan bertepuk tangan oleh umat di dalam perayaan Misa Ekaristi Kudus. Dan semoga Imam Paroki, gembala Gereja St. Anna, menjaga kami domba-dombanya supaya semakin menghayati makna Ekaristi Kudus dengan mencegah hal serupa terjadi di kemudian hari.
Cor Jesu sacratissimum, Miserere nobis.