Jadi Tua? Siapa Takut?

“Lanjut usia hendaknya tidak menghalangi untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi sesama dan selalu mensyukuri rahmat yang sudah Tuhan berikan dari usia muda sampai lanjut usia,” demikian Pastor F.X. Widyatmaka, SJ dalam sambutannya di acara Rekoleksi ADI YUSWA yang bertajuk “Hidup Lansia Penuh Syukur” pada Sabtu (22/10/16) yang dihadiri oleh 119 peserta.

Menurut Bapak L. Wiedayatmo, jumlah lansia di Paroki Duren Sawit mencapai 2.976 orang (data berdasarkan BIDUK 2016). Jumlah yang sangat banyak sehingga perlu dibuat suatu komunitas yang anggotanya adalah para lansia dengan nama Adi Yuswa. Adi Yuswa sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya adalah usia yang berharga.

Gejala usia lanjut, seperti yang disebutkan oleh Bapak Wiedayatmo adalah 5 B, yaitu:

  1. Budeg : Pendengaran mulai berkurang (tuli).
  2. Blawur : Pengelihatan mulai berkurang (rabun).
  3. Beser : Sebentar-sebentar ke kamar kecil.
  4. Bingung: Mulai pikun/ alzheimer.
  5. Bablas : Dipanggil Tuhan.

Sebenarnya ada banyak kegiatan yang bermanfaat jika diikuti oleh para lansia sebagai pengisi waktu menikmati hari tua di Paroki Duren Sawit, misalnya kegiatan dalam komunitas Couple For Christ (CFC). Bapak Jimmy Sapulete dari Gereja Bonaventura, Paroki Pulomas menjelaskan tentang komunitas Couple For Christ atau pasangan suami istri yang mempersembahkan dirinya untuk Kristus, yang artinya melibatkan diri dalam keperluan pelayanan dan evangelisasi.

CFC ini tidak hanya melibatkan pasangan suami istri saja. Mereka juga membentuk Kids For Christ (KFC) untuk usia 4-12 tahun. KFC bertujuan membentuk anak-anak untuk menjadi pemimpin yang menyerupai Kristus. Lalu ada juga Youth For Christ (YFC) untuk usia 12-31 tahun, Single For Christ (SFC) untuk usia 31-40 tahun dengan tujuan untuk mempersiapkan kehidupan masa depan, baik menikah atau berkeluarga maupun membiara. CFC juga memberikan perhatian kepada orang tua tunggal dalam bentuk komunitas Handmaids Of The Lord, untuk para wanita orang tua tunggal (janda) dan Servant Of The Lord, untuk para pria orang tua tunggal (duda).

CFC sendiri mempunyai misi membangun gereja rumah tangga dan membangun gereja bagi kaum miskin. Sedangkan visinya adalah membangun keluarga dalam Roh Kudus yang memperbaharui muka bumi.

Awal berdiri komunitas Couple For Christ adalah di kota Manila (Philipina) pada tahun 1981 dan mulai diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1990 dimulai dengan 15 pasangan suami istri dan 4 pasang diantaranya adalah umat Gereja Santa Anna, yaitu Bapak Barotodi dan istri, Bapak Kustoyo dan istri, Bapak Yosef Subagyo dan istri, serta Ibu Gusri Handoko.

Kegiatan lain yang bisa diikuti oleh para lansia adalah Bio Energi Power (BEP). Bio Energi Power merupakan kombinasi olah nafas dan olah gerak yang dirancang sesuai dengan teori medis. “Di Gereja Santa Anna diadakan latihan BEP setiap sabtu, jam 08.00 pagi, bertempat di bedeng samping Gua Maria. Latihan tersebut free alias gratis,” jelas Bapak Adi Hendro yang juga instruktur BEP.

Fungsi latihan Bio Energi Power adalah:

  • Tubuh tidak mudah merasa lelah,
  • Tubuh tidak mudah terserang penyakit,
  • Sembuh dari penyakit yang diderita,
  • Terbebas dari ketergantungan obat-obatan,
  • Tidak mudah stress.

Selain itu, latihan BEP menjamin darah kaya akan oksigen sehingga tidak satu pun bakteri, virus, bahkan sel kanker ganas dapat hidup di dalam tubuh. Proses metabolisme tubuh pun akan terjaga.

Tak lupa di kesempatan ini Bapak Adi Hendro sedikit mempraktikkan gerakan senam BEP yang disambut antusias para peserta rekoleksi.

Lain lagi bagi para lansia yang gemar bernyanyi. Mereka diharapkan bergabung dalam koor Adi Yuswa Santa Anna. Koor Adi Yuswa rutin melakukan latihan setiap Jumat malam di gereja. Koor tersebut sudah beberapa kali juara dalam perlombaan Koor Adi Yuswo di Dekanat Timur yaitu tahun 2014, 2015, dan tahun 2016. Ibu Triswoyo selaku pelatih dan dirigen koor ini mengundang para peserta rekoleksi untuk ikut bergabung di koor Adi Yuswa.

Tidak habis di situ, kegiatan yang bisa diikuti oleh para lansia lainnya adalah bermain music dalam kelompok Karawitan Asih Laras pimpinan Ibu Triswoyo. Karawitan ini berlatih tiap Selasa malam di Gedung Yos Sudharso. Kelompok karawitan ini sudah beberapa kali mengisi koor di misa gereja seperti di Misa Inkulturasi Jawa dan juga ikut memeriahkan acara Pagelaran Wayang Orang baru-baru ini.

Menjadi lansia diharapkan tidak hanya menyendiri di rumah, mengenang masa muda. Banyak cara untuk tetap berkreasi, tetap energik, berkumpul bersama teman, bernyanyi bersama dan terus semangat. Banyak alasan untuk terus bersyukur, menikmati keselamatan, tetap sehat, menghirup udara segar, dan merasa dicintai.

Bapak Sutarman, salah seorang peserta rekoleksi yang berusia 63 tahun mengapresiasi diadakannya Rekoleksi Adi Yuswa ini. “Banyak yang saya peroleh yang bermanfaat bagi kehidupan rohani dan jasmani saya, misalnya kita para lansia harus tetap sabar, para lansia jangan merasa kalau kita bukan hanya sudah lanjut usia, tapi juga harus bermanfaat, bersyukur, harus selalu memakai kehidupan kita untuk kehidupan orang-orang yang ada di sekitar, dan untuk memuji Tuhan,” demikian ujar Bapak Sutarman.

Acara ditutup dengan makan siang bersama, menikmati semangkuk soto hangat sambil mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Romo Widyatmaka, tetap dengan lagu andalannya … “Cucak Rowo”. (Koko.ed)

DSCF2767

DSCF2759

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>