Istri tiba-tiba minta cerai
Dear Pengasuh
Saya mempunyai permasalahan yang sangat berat menurut saya saat ini. Saya dan istri adalah penganut Katolik, menikah secara Katolik, dan dalam kehidupan rumah tangga saya yang sudah 6 tahun ini, kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang sempurna menurut kami.
Secara materi kami merasa tidak terlalu kekurangan, artinya saya dan istri bekerja (pengelolaan keuangan 100% di tangan istri, gaji saya transfer ke istri), dan sampai hari ini kami juga sudah mempunyai rumah sendiri, hidup layak dan sepertinya tidak ada masalah yang berarti.Kami tidak pernah ada masalah dengan orang ketiga, dengan saling memberikan kepercayaan masing-masing.
Tapi minggu lalu tiba-tiba istri saya mengutarakan niatnya untuk berpisah dari saya.
Dunia rasanya mau runtuh….
Setelah kita diskusikan, kita datang ke orang tua istri saya, dan di sana istri saya mengutarakan semua kekurangan-kekurangan saya…
Secara pribadi saya bisa menerima kekurangan-kekurangan saya tersebut, seperti katanya saya tidak mau mendengarkan sarannya, saya kurang perhatian dengan jarang menjemput, tidak mau memikirkan belanja dan seterusnya-seterusnya.
Saya mengakui semuanya, sebagai manusia kalau masih dianggap banyak kekurangan dan dihadapan orangtuanya saya janji untuk memperbaiki.
Tapi istri saya bersikukuh tetap pada pendiriannya dengan alasan sudah cukup dia bersabar selama ini…
Saya sebenarnya siap menghadapi semua ini, yang menyangkut diri saya sendiri. Saya tidak pernah kuatir akan hidup ini, karena saya yakin benar semua sudah ada yang mengatur, yaitu Allah yang kuasa.
Hanya satu yang saya tidak bisa bayangkan, bagaimana nanti anak saya…hidup dan besar dengan kondisi tanpa ayah atau tanpa ibu ( menurut saya baik ikut saya maupun ikut ibunya, tetap saja tidak lengkap).
Membayangkan hal ini saja rsanya dunia ini gelap, dan saya benar-benar tidak sanggup.
Mohon saran bagaimana saya menghadapi hal ini.
Salam
AT







Dear pak AT,
Seseorang tidak merasa tahan terhadap sesuatu memang bersifat subyektif. Ada orang yang tahan terhadap suami yang selalu ingin kawin lagi dengan Luna Maya. Ada juga yang tidak tahan walaupun si suami hanya melirik orang cantik yang lewat di depannya.
Mengakui kekurangan bapak merupakan sesuatu yang terpuji. Tapi toh tidak bisa berhenti disitu. Harus dibicarakan lagi. Ada hal yang bisa bapak upayakan untuk berubah, tapi mungkin ada juga yang oleh karena keadaan tidak dapat bapak ubah. Itu juga mesti dicari jalan keluarnya. Untuk yang dapat diubah, sejauh yang saya baca bapak sudah cukup terpuji karena mau berusaha memperbaiki. Untuk hal yang tidak dapat diubah ya sepakati saja jalan keluar. Misal, (hanya misal lho pak) tidur ngorok kan sulit sekali diubah. Maka silakan sepakati jalan keluar:
1. operasi supaya tidak ngorok;
2. minta istri mensyukuri selama istri masih dengar suara ngorok itu artinya bapak tidur di rumah dan bukan di rumah permepuan lain;
3. bapak pindah tidur di kamar lain;
4. bapak hanya tidur bila istri sudah tidur.
Untuk masalah nyata bapak:
a. saya tidak mau mendengarkan sarannya,
Sebuah saran tidak selalu harus diikuti. Sebaiknya didiskusikan jalan sinergis yang paling baik antara saran dan pendapat bapak pribadi. kalau sudah sepakat mengenai jalan terbaik itu ya silakan jalani berdua. Kalau istri selalu maunya saran dia yang digunakan, kan ya bisa salah jalan juga nantinya.
b. saya kurang perhatian dengan jarang menjemput,
tiap orang lahir sendiri besok mati sendiri tentu diberi kemampuan oleh Tuhan untuk melakukan apapun sendirian. Tidak koq oleh karena menikah maka dia boleh memaksa pasangannya untuk melakukan ini itu sekehendak hatinya sehingga pasangannya tertindas. Soal menjemput itu kan harus memperhatikan apakah suami ada waktu,tenaga, biaya untuk menjemput. Kalo tidak menjemput istri tapi maunya dengan senang hati menjemput istri tetangga ya bolehlah dia marah. Tapi kalo suami tidak menjemput istri karena memang tidak mampu yaaaaa…. kasian ya… heheheh…
c. tidak mau memikirkan belanja
Kalo suami sudah menyerahkan semua uangnya, lalu apa yang disebut tidak memikirkan belanja? Apakah bapak minta masakan yang mahal mahal, baju baju bagus padahala gaji kecil? Kalo ya, ya memang keterlaluan. Tapi kalo bapak mau terima hidup sederhana, bapak juga tidak foya foya, mau juga menabung dan sedikit sedikit usaha tambahan yaaaa… mungkin sebaiknya kalian mengunjungi konsultan perkawinan, ato ikut retret hidup berkeluarga.
Bila bapak sebetulnya masih bisa mendevelop diri dan toh dia juga sadar bahwa dalam agama Katolik tidak ada perceraian, tapi istri tetap kekeuh marekeuh maunya cerai, silakan tanya sebetulnya ada apa. Siapa tau dia sedang berangan angan untuk hidup dengan lelaki lain yang lebih bagus dari bapak. Mungkin dia memang bertemu dengan lelaki yang lebih bagus itu sehingga tidak lagi mau sabar menunggu perbaikan diri bapak.
Kalau memang begitu, jangan keburu marah. Coba mengerti, kalau bapak banyak kurangnya dan dia terpesona pada lelaki lain yang jauh lebih bagus kan ya masuk akal. Jangan juga khawatir apapun. Temani saja istri untuk lebih kenal si lelaki lain itu. Apa betul sih hidup sama dia bakal lebih enak? orang kan sawang sinawang. Kalo perlu bapak kenalan aja sama lelaki itu, jangan sekali pun menjelekkan dia karena bapak memang banyak kurangnya. Disini diperlukan kebijaksanaan dari bapak untuk menemani istri menemukan apa yang dikehendaki Tuhan.
Salam, rin
@AT, saya belum tahu maksudnya berpisah apakah berpisah dalam arti tidak tinggal satu rumah atau hidup terpisah untuk sementara waktu, atau bercerai secara sipil.
Tentu saja perceraian sipil tidak menceraikan pula secara otomatis pernikahan di Gereja Katolik, artinya pernikahan anda dan isteri anda tetap sah, artinya tidak akan terjadi pernikahan ke-2 di Gereja Katolik baik untuk anda dan isteri anda setelah berpisah kecuali bila pernikahan anda sebelumnya dibatalkan atau salah satunya telah meninggal dunia.
Katakan saja bahwa yang dimaksud adalah perceraian secara sipil. Maka rasanya, yang dikemukakan oleh isteri anda masih ringan untuk menjadi alasan sebuah perceraian. Menurut saya ada alasan lain yang mendorongnya mengambil keputusan itu. Tentunya jika ia mengasihi anaknya, ia pun memiliki pemikiran yang sama dengan anda tentang bagaimana seorang anak menghadapi perceraian orang tuanya dan kehidupannya paska perceraian tersebut.
Jadi tentunya perlu digali lebih dalam. Menceritakan ini ke keluarga sang isteri mungkin bisa membantu. Tetapi sayang anda belum menceritakan bagaimana reaksi mereka.
Kalo memang benar alasannya hanya yang diungkapkan, dan orangtuanya pun memegang prinsip menikah hingga maut memisahkan, maka orangtuanya bisa membujuknya mempertimbangkan kembali keputusannya itu dan semoga bisa dibatalkan.
Walaupun demikian ini membutuhkan waktu. Mungkin saja memang isteri anda membutuhkan waktu untuk keluar dari kemelut dalam RT yang melilitnya saat ini. Jadi beri ia waktu untuk tinggal bersama orang tuanya. Ada baiknya hal ini diketahui oleh romo paroki. Ada baiknya kalian pun mendengarkan dari orang lain di luar keluarga. Bisa romo paroki atau konselor pernikahan.
Saya heran mengapa alasan-alasan sederhana itu tidak diungkapkan dalam kehidupan pernikahan kalian, sehingga satu sama lain bisa saling memperbaiki. Apakah mungkin ada masalah komunikasi ? atau satu sama lain terlalu cuek ?
anyway, jika memang alasan yang anda ungkapkan itu, rasanya masih ada harapan yang besar untuk rekonsiliasi. Mungkin saja keputusan isteri anda itu lebih besar dipengaruhi emosi atau kondisi psikis yang labil, sehingga ia mengambil jalan pintas untuk membebaskan dirinya dari belenggu masalah.
Akan jadi lebih berat kalo masalahnya adanya pria lain dalam hidupnya. Dan masalah-masalah kecil itu menjadi salah pendorong ia tertarik kepada pria yang ia nggap lebih baik dari diri anda Walaupun secara praktek sekalipun, hal ini tidak menjamin. Dan hal ini yang tidak dilihat oleh isteri anda, karena pikirannya yang terbelenggu masalah itu.
Jadi harus dicari tahu dulu akar permasalahannya yang membuat hubungan kalian sakit sebagai suami dan isteri, supaya bisa dicari obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Dan ini tidak bisa anda berdua lakukan seorang diri, melainkan butuh bantuan pihak ke-3. Walaupun keluarga sang isteri bisa menjadi pihak yang membantu, tetapi saya tetap menyarankan anda bertemu romo paroki atau konselor pernikahan.
Sementara itu dalam kehidupan kalian saat ini, anda saya sarankan untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga, terutama bersama anak anda. JAdi anda harus mengorbankan waktu pribadi anda untuk dapat bersamanya. Siapa tahu kedekatan ini bisa membuka sedikit demi sedikit perasaan rindu untuk berada dalam sebuah keluarga bahagia dalam dirinya.
Jangan tunjukkan kekhawatiran, keresahan, kegalauan, kekecewaan, dan perasaan-perasaan negatif anda, terutama kepada anak anda. Karena hal ini bisa mempengaruhinya langsung atau tidak langsung, juga tanpa anda sadari dapat mengubah prilaku dan sikap anda dengan orang-orang sekitar anda, termasuk dalam lingkungan pekerjaan anda.
Jadi anda harus tampil semaksimal mungkin, untuk menghadapi masalah ini. Menjadi diri anda yang lebih baik. tunjukkan bahwa anda tidak seburuk pikiran isteri anda. Tunjukkan bahwa anda masih orang yang dulu ia pilih untuk menjadi suaminya dan mengikat janji setia kepada Allah dan kepadanya di depan Altar Gereja.
Ajak anak anda berdoa bersama setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan malam sebelum tidur. ajari anak anda mendoakan papa mama-nya.
Anda pun jangan lupa berdoa untuk kedamaian dan keutuhan keluarga. kekuatan untuk menjalani setiap masalah dalam kehidupan anda. Jangan lupa terima sakramen tobat dan sakramen ekaristi.
Sementara itu dulu.. May God bless your steps..
Bpk AT, cobalah Bpk ingat-ingat lagi, bagaimana sikap dan perilaku Bpk terhadap istri saat masih menjadi sepasang kekasih? Seringkali jerih-payah mengejar apa yang diimpikan, seolah terbayar lunas, pada saat kita sudah memperoleh apa yang kita impikan/idam-idamkan. Lalu, tidak ada lagi upaya mempertahankan apa yang telah kita peroleh. Mungkin begitulah yang dirasakan istri Bpk. Dulu ia merasa disanjung dan dimanja, kini hari-hari berlalu tanpa kesan, masing-masing tenggelam dalam kesibukan kerja dan rumah tangga. Padahal, mencintai adalah kata kerja aktif.
Gary Chapman, dalam bukunya Mengenal Bahasa Cinta, mengungkapkan tangki cinta yang kosong ibarat mobil yang tak dapat dinyalakan karena tidak ada bahan bakar. Maka, setiap suami dan istri hendaknya bersedia mempelajari bahasa cinta utama pasangannya, jika ingin menjadi komunikator cinta yang efektif. Perhatikan apa yang membuat istri merasa bahagia? Itulah yang dimaksud Gary Chapman dengan bahasa cinta utama. Apakah istri Bpk bahagia jika (1) mendengar kata-kata peneguhan dari Bpk? (2) melewatkan waktu bersama meski tidak terlalu lama setiap hari? (3) menerima hadiah dari Bpk? (4) mendapat pelayanan dari Bpk? (5) memperoleh sentuhan fisik dari Bpk? Kalau istri Bpk mengeluhkan Bpk jarang menjemput, tidak mau memikirkan belanja dsb, tampaknya bahasa cinta utama istri Bpk adalah yang nomor 4.
Setelah Bpk mengetahui kekurangan Bpk dan ingin memperbaiki diri, istri bersikukuh pada pendiriannya. Apakah selama ini ia telah memberi sinyal-sinyal ketidaksukaannya terhadap sikap dan perilaku Bpk, tetapi Bpk tidak menangkapnya? Sekali lagi, keterbukaan komunikasi adalah kunci keharmonisan suatu relasi. Tak perlu menunggu masalah ini semakin berlarut-larut, mulailah Bpk membuka diri terhadap istri. Minta maaf dan berikan perhatian serta perlakuan manis yang dulu pernah menjadi miliknya. Isilah tangki cinta Bpk setiap hari. Buktikan kalau Bpk memang sungguh ingin berubah dan memulai lembaran baru. Ingatkan istri akan janji pernikahan dan beban mental yang ditanggung anak jika ayah-ibunya berpisah. Yang terutama, doakan istri setiap hari agar ia diterangi Roh Kudus, sehingga ia diberi hati yang baru – hati yang lembut dan mencinta.