Istri terlalu banyak menuntut
Salam sejahtera,
saya dulu menikah di Gereja St Ignatius Semplak Bogor,keadaan perkawinan saya sedang tidak baik Romo,istri saya meminta cerai dan tidak mau menemui saya lagi ( kami sama2 katolik )
Bahkan istri saya mengganti no hpnya dan saya sebagai suami tidak diberitahu,istri saya mudah sekali terpengaruh omongan orang dan memiliki sifat yg amat sangat keras kepala.
susah sekali jika dinasehati yang malah saya dimaki maki,saya juga bingung ada apa sebenarnya dengan istri saya,padahal saya tidak pernah selingkuh atau apapun itu yg beresiko mengganggu rumah tangga saya.
istri saya mudah sekali cemburu dan suka berlebihan jika marah dan bukan sewajarnya marah sebagai istri,seolah saya ini bukan siapa2nya. Istri saya juga sering marah2 dan meluapkan emosinya di jejaring sosial atau Facebook,sehingga banyak orang di Facebook mengetahuinya termasuk saudara2 yg ada di situ membacanya.Saya sudah pernah mengingatkan agar jangan membawa ke media umum masalah rumah tangga pribadi,yg ada malah semakin emosi istri saya,
sekarang istri saya ada d bogor brsama orang tuanya dan saya di jogja,sudah hampir 5 bulan saya tidak ada komunikasi dengan istri saya,karena istri saya sudah tidak mau lagi mendengar suara saya.
tapi sebagai suami saya tetap masih menafkahi istri saya via transfer uang melalui BCA.(pada 3bln awal )
dulu setelah saya menikah,kami tinggal di jogja (rumah sendiri), saya sempat kerja di salah 1 hotel dijogja,kebetulan penghasilan saya sangat lumayan untuk ukuran Jogjakarta.istri saya tidak setuju dan meminta saya untuk mundur dari kerja tersebut dengan alasan istri saya tidak suka saya pulang malam,kadang saya pulang jam 22.00 – 00.00 tp itu jg tidak setiap hari.
dikarenakan posisi saya sewaktu itu adalah manager hotel yg memang dituntut tanggung jawab tinggi.makan siang saya pulang,makan malam pun saya msh pulang.tp istri saya tetap saja tidak mau tau.memang saya juga sempat konsultasi dengan bos saya,tp bos saya jg tidak mau tau,dan akhirnya demi istri saya,saya putuskan untuk mundur,sebelumnya saya jelaskan kepada istri saya, jika saya keluar kerja bagaimana untuk kehidupan rumah tangga kita?..padahal lokasi hotel dan rumah tinggal kami dekat sekali,bahkan jalan kaki untuk kerja pun bisa..istri bilang kepada saya agar mncari kerja lain,kmudian saya mencari kerja lain dan kebetulan mendapat panggilan kerja di percetakan kanisius Jogja.tapi istri sekali lagi melarang saya karena kerja shift malam.
Saya bingung sekali dan akhirnya saya tidak jadi kerja di percetakan tersebut,istri saya kemudian meminta kita berdua untuk tinggal dirumah orang tua istri di Bogor,di Bogor saya sebenarnya malu jika tidak bekerja karena saya tinggal satu rumah dengan orang tua istri saya..
istri saya berjualan pulsa dirumah dan beberapa bisnis aksesoris juga,saya merasa bangga dengan istri saya kreatif dalam seni merangkai aksesoris tersebut,saya hanya menasehati jangan boros pake uangnya dan mengajak dia agar menabung..eh malahan istri saya membentak saya dan mengatakan “AKU SENGAJA JUAL PULSA BUAT JAJAN!”..salah lagi saya jadinya,maksud hati membimbing,
beberapa kendala dan masalahnya adalah sebagai berikut;
1.istri saya tidak setuju saya mengikuti kegiatan Rohani Karismatik di jogja yg sudah saya jalani sejak sebelum menikah,misa / Persekutuan Doa tersebut biasa saya lakukan setiap hari senin di Gereja Katolik bukit doa Yerusalem baru Bintaran Yogyakarta pada jam 18.00 hingga 20.00..saya mencoba mngajak istri saya untuk bergabung tetapi istri menolaknya dan bahkan melarang saya untuk menghadiri ibadah tersebut dan mengancam cerai jika masih menghadiri dan termasuk mengikuti retret juga saya dilarang,padahal saya berniat mengajak istri saya turut serta juga, maksud hati agar kehidupan rohani kita berdua semakin dikuatkan.tapi istri tetap melarang keras.akhirnya saya tidak pernah berangkat ke ibadah tersebut,(smnjak istri saya tdk mau kmbali lg , saya aktif kmbali di pelayanan)
2.istri saya malas ke gereja, jika saya mengajak ke gereja selalu saja pakai cekcok mulut dlu,karena saya tidak mau datang terlambat sampai d gereja. tapi jika keadaan emosi istri saya sedang baik dia tanpa diminta juga mau ke Gereja.
3.masalah kerja..dia pernah mengatakan/mengadu kepada orang tuanya bahwa sewaktu bekerja saya tidak pernah memberi dia uang,saya coba menjelaskan ke istri dan mertua saya, sewaktu bekerja dan menerima gaji..saya selalu jujur dengan istri saya jumlah gaji saya.Rp 2.5jt/bln d jogja ,saya jelaskan ke istri saya 1jt digunakan untuk bayar air,listrik,rt/rw,iuran kampung,dana kebersihan,dll, 1jt lagi saya berikan istri saya untuk keperluannya dan belanja rumah tangga, 500rb saya gunakan untuk operasional kerja misal bensin dan kebutuhan mendadak…
tidak sampai 1 bulan uang istri sudah habis,saya pernah menasehati agar irit/hemat dlu..tetapi yg ada saya dikatakan pelit dan tidak mau menafkahi buat istri padahal maksud saya bukan mau pelit tapi MANAGEMEN keuangan rumah tangga.akhirnya saya bebaskan istri saya terserah mau menggunakan uang tersebut untuk apa aja.Di bogor istri saya mengadu lagi dengan kakak iparnya dan orangtuanya bahwa saya tidak menafkahi beberapa bulan terakhir ( terhitung sejak sebulan sbelum kita pisah ),saya bingung kerja dilarang ga kerja dikatain ga menafkahi…dia minta saya usaha wiraswasta dirumah..tapi itu juga kan perlu modal,jika tidak kerja modal dari mana Romo?
KERJA SALAH..GA KERJA SALAH…
3.Mertua saya yg perempuan juga menurut saya terlalu dalam masuk ke dalam urusan rumah tangga saya,meskipun niatnya baik untuk mempersatukan kembali rumah tangga saya, cuma kadang saya kurang cocok dengan caranya..dan suka berubah-ubah jika bicara..didepan baik tapi tidak tahu juga dibelakang..padahal seharusnya ini masalah rumah tangga kita berdua.tapi tidak bisa disalahkan juga karena istri saya sendiri sudah sama sekali tidak mau berbicara dengan saya.sekarang saya dijogja bekerja serabutan saja Romo yg penting ada pemasukan.seminggu sekali saya mengirim uang buat istri.
Saya pernah sekali waktu menanyakan ke istri saya via sms perihal uang tersebut,saya cuma mau tanya apakah sudah di cek belum uangnya di ATM..malah saya dimaki-maki via sms yg sebenarnya kata2 tersebut tidak pantas keluar dari mulut seorang istri..dia mengatakan saya najis dan tidak mencintai/menyayangi saya lagi, istri saya juga mengirimkan sms bahwa dia memang tidak mau bertanggung kepada saya lagi yg masih suaminya.
saya juga pernah menemukan sebuah buku dikamar yang berisi curahan hati istri saya yang tidak menyukai keluarga saya, dan ada tulisan disitu yang menyumpah agar ibu saya meninggal..saya sakit hati sekali Romo..kok bisa ya sampai segitunya..
4.istri pernah mengadu ke orang tuanya bahwa saya pernah menampar istri..saya akui satu kali saya pernah menampar istri saya.tapi itu juga ada alasannya Romo.
suatu hari di jogja saya sudah tidak kerja lagi karena permintaan istri, kemudian mau tidak mau karena desakan kbutuhan rumah tangga, akhirnya saya bekerja dirumah orang tua saya sendiri yang kebetulan berusaha cafe, saya masak disitu..pada suatu malam ada tamu datang dan jam 21.00 tamu tersebut belum pulang, saya juga bingung masa’ saya mau usir tamu tersebut…dan memang cafe tersebut nonstop 24 jam buka.karena staff lain belum datang saya sms istri saya untuk menyusul ke cafe daripada dirumah sendirian, saya ceritakan alasannya, dan jarak rumah tinggal dengan cafe tersebut juga sangat dekat 300 mtr,istri saya tidak mau dan saya dimaki-maki, dikatakan saya suami tidak bertanggung jawab, menelantarkan istri dirumah sendirian otaknya cuma kerja dan kerja..saya bingung bagaimana ini?..tamu belum juga pulang,staff pengganti belum datang,istri marah2 ga jelas dan berkata-kata kasar..padahal saya kerja ini justru karena saya merasa harus mencukupi kebutuhan rumah tangga dan istri saya. keadaan dirumah waktu itu ibu saya sudah istirahat dan ayah saya sedang kurang enak badan.
jadi saya juga sebagai anak sekalian membantu menjaga cafe tersebut,karena jika ditinggal kosong tidak ada yg mengurus tamu tersebut.
Istri saya mengirimkan sms ke ibu saya yg berisikan kira2 seperti ini
(anak mama itu punya istri dirumah suruh pulang sekarang!) menurut Romo sopan tidak seperti itu?…
kemudian Ibu saya bangun dan malam itu menjaga cafe tersebut sendiri, padahal tadinya sudah istirahat, maksud saya sebenarnya hanya ingin istri saya sedikit peduli dengan keadaan. saya sedang kerja kenapa tidak membantu atau sekedar menemani saya ya paling tidak mengerti, padahal saya sudah menawarkan dia untuk datang ke cafe saya jemput.padahal jarak dekat sekali dengan rumah.istri tetap tidak mau.
akhirnya saya pulang kerumah 21.30..saya bilang ke istri saya dan menasehati agar lain kali jangan sms seperti ke orang tua, tidak baik/tidak sopan…itu saja..
Tapi kemudian istri saya malah teriak2 dan maki maki saya, saya bingung waktu itu sudah malam dan sepi..rumah saya persis di perkampungan tetangga mendengar semua perkataan istri saya yang teriak2 maki2 saya sejadi2nya…sambil meronta-ronta seperti orang kesurupan..saya bingung bagaimana meminta dia untuk diam paling tidak pelan2 saja..malah semakin jadi dan berteriak BIAR SEMUA ORANG DENGAR DAN TAHU KALO KAMU MEMANG SUAMI TAK BERTAGGUNG JAWAB!!!..saya kelepasan dan menampar istri saya dengan maksud agar diam..dia membalas menampar muka saya berkali-kali..saya tidak membalas lagi..hanya satu kali itu saja tetapi saya tidak menampar dengan keras.karena kasian juga melihat istri saya seperti itu.tapi bagaimana lagi saya juga bingung..maksud hati membahagiakan istri dengan kerja agar nantinya kebutuhan istri dapat saya penuhi..tapi istri selalu sewot kalau saya bekerja.
5.Istri memiliki anjing kesayangan dirumah,saya tidak keberatan karena saya juga menyukai anjing tersebut, hanya yg jadi masalah anjing tersebut selalu dibiasakan utk tidur dikamar bersama kami, saya menasehati agar jgn seperti itu…kamar jadi bau dan kotor karena bulu” yg menempel di selimut dan kasur…istri marah tidak terima, saya hanya menasehati yg wajar saja peliharanya jangan berlebihan. sesuai porsi saja, karena masih byk kebutuhan yg lebih penting yg belum bisa tercukupi…istri semakin marah.akhirna saya mengalah saja dan diam.
sebenarnya saya sangat sayang dengan istri saya, saya hanya ingin dia bahagia, tapi justru sebaliknya kejadiannya..saya sebagi suami bermaksud membimbing istri tapi selalu gagal, ajakan saya berdoa malam sebelum tidur dan sebangun tidur tidak pernah mau dia menjalani jika saya paksa terus..dia akan marah, saya cuma minta minum teh pagi hari sebelum saya brangkat kerja juga tdk pernah dijalani saya diam saja krn pasti nanti dia marah, saya minta berhemat dibilang saya pelit,
saya mengerti dan amat sangat mengetahui bahwa pernikahan gereja sangat sakral dan tidak bisa cerai kecuali oleh maut. saya pernah cerita ke istri dan menjelaskan atau mengingatkan akan janji nikah kita dulu dan firman Tuhan yang dulu dibacakan sewaktu kita menikah, kata istri saya ITUKAN DULU!..SEKARANG LAIN!!..saya kaget dan heran juga, saya jawab FIRMAN TUHAN GA ADA DULU SEKARANG DAN KEMAREN,FIRMAN TUHAN ITU ABADI…kata istri saya BODO AMAT!!!….
sakit hati saya Romo kadang saya menangis sendiri kalo ingat ini. dlm doa saya masih mendoakan istri saya agar lebih baik dan di murahkan rejeki.
bagaimanapun juga dia istri saya yg dulu saya pilih.
syarat cerai/anulasi di gereja itu apa saja Romo?
bagaimana menurut Romo dengan masalah yang saya hadapi ini?
mohon pencerahannya Romo…
terimakasih
St
=======
saya bukan romo, saya hanya seorang awam..
Saya akan mencoba menanggapi permasalah PAk st..
YAng pasti anda tidak punya alasan berat untuk membatalkan pernikahan anda, pernikahan anda sah dan sempurna menurut Gereja KAtolik. Anda tidak menceritakan bahwa pernikahan anda adalah karena terpaksa atau dipaksa, saya menyimpulkan dasar pernikahan kalian pun karena cinta.
Sering kali pasangan suami isteri berkeluh kesah akan sikap dan tingkah laku pasangannya yang buruk. Entah-lah apakah ini begitu sempurna ditutupi oleh pasangan hingga baru dirasakan dalam perkawinan. Jika benar, maka semakin banyak orang yang pandai berbohong dan makin banyak orang tertipu dalam perkawinan.
PAk st, anda memerlukan seorang penghubung dalam berkomunikasi dengan isteri anda, entah seorang konselor, Imam Katolik atau seorang yang disegani oleh anda dan isteri anda. DAri cerita anda, tampak bahwa komunikasi anda dan isteri anda sudah dirusak oleh rasa tidak percaya, kemarahan, dan keragu-raguan antara satu dengan lainnya. Tampaknya akan jauh lebih sulit melakukan usaha rekonsiliasi seorang diri dengan isteri anda.
Bisa jadi pemicu dari masalah ini adalah ketidakpuasan isteri anda terhadap pekerjaan anda yang tidak sesuai dengan harapan-harapannya. Namun bisa juga bukan, karena bila memang demikian, seharusnya ini sudah diketahui indikasinya sejak awal pernikahan atau setidaknya sudah didiskusikan resiko menerima pekerjaan di hotel. (saya menyarankan pasangan yang akan menikah, untuk semaksimal mungkin mendapatkan terlebih dahulu pekerjaan yang mapan, yang diketahui oleh pasangannya. SEhingga, Jika hal pekerjaan menjadi potensi masalah dikemudian hari, maka sebelum perkawinan terjadi, bisa dicari jalan keluarnya atau setidaknya belum terlambat untuk memilih melanjutkan hubungan atau tidak karena alasan pekerjaan itu. Jangan pernah menduga hal ini bisa dipikirkan setelah menikah, karena setelah menikah anda tidak lagi memiliki kebebasan yang sama untuk memilih dan memutuskan)
sebelum pindah dari hotel sebaiknya anda sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kesepakatan bersama dan ini adalah janji anda kepadanya. Anda bisa memutuskan hal ini, tetapi juga harus sungguh2 dalam menepati janji. Jika anda tahu bahwa isteri anda keberatan anda pulang larut malam, maka seharusnya anda berusaha menghindari pekerjaan yang menuntut anda wajib kerja malam.
Di satu sisi, perlu ada kesadaran dari isteri anda, bahwa mencari pekerjaan yang cocok sesuai harapan itu butuh waktu. Namun sementara waktu terus berjalan, maka seiring itu kebutuhan pun terus mengalir untuk dipenuhi, oleh karenanya perlu di cari jalan keluar terbaik dalam kondisi itu. Karena bila bila kebutuhan tersebut terus tidak terpenuhi, maka ini menjadi bahan bakar baru untuk menimbulkan masalah baru atau memperbesar maalah yang ada.
Oleh karenanya sang isteri seharusnya memberi dukungan kepada suami untuk menjalankan tugas-tugas anda sebagai seorang kepala keluarga. PEmahaman ini harus dimiliki oelh isteri anda, dan bila tidak bisa ditanamkan melalui anda, maka anda butuh seseorang membantu anda. Anda harus mencari seorang bukan dari pihak anda, jika tidak dari pihaknya, maka carilah seorang yang kalian hormati dan segani.
Anda yang “terpaksa” memiliki pekerjaan yang mengharuskan anda suatu waktu pulang malam, harus menyadari bahwa isteri sebenarnya tidak setuju dengan pilihan anda. Kesadaran ini harus mendorong anda memahami sikap yang bagaimana yang harus diberikan kepada isteri. bahkan mungkin anda, bisa berbuat sebaliknya, daripada anda “menuntut” pelayanan, anda melayani isteri anda dengan menyuguhkan sarapan misalnya walaupun anda tahu anda letih… Lakukanlah dengan cara-cara dimana anda “Berusaha” menghibur hati isteri anda.
Nah.. kembali kepada kondisi saat ini, maka saran saya, cobalah menceritakan masalah ini kepada seorang konselor pernikahan, atau seorang Imam KAtolik atau seorang panutan yang kalian segani. semoga saja isteri anda bisa terlibat dalam konseling. supaya bisa segera dicari tahu akar permasalahannya dan dicari jalan keluar terbaik untuk anda berdua.
Satu hal lagi yang perlu anda lakukan, rajinlah berdoa, daraskan novena, terima sakramen tobat dan Ekaristi. Jangan pernah berhenti mengajak isteri anda untuk bersama berdoa atau ke Gereja. Niscaya Allah yang tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari umat-Nya yang setia, akan meringankan bebanmu dan memberimu dan isterimu jalan keluar yang sesuai dengan kehendak-Nya.
May God bless your steps..
Johan







saya menikah satu tahun yang lalu. baru satu hari setelah pernikahan, suami saya sudah membohongi saya dengan main serong dengan cewek satu kerjaan, padahal saya sebelumnya sudah percaya sekali dengan mereka, apalagi kami beda kota. tapi hal itu saya abaikan, karena dalam pikiran saya, mungkin itu hanya perasaan saya, tapi setelah beberapa bulan, saya merasakan sikap suami saya berubah. di telpon, di sms tidak pernah menjawab. tibalah suatu hari saya melihat sms dari seorang cewek yang isinya mungkinn tidak patut untuk orang yang sudah berumahtangga apalagi mereka adalah seorang guru di sekolah yayasan katolik cirebon. kemudian akhirnya saya mengajukan berpisah karena saya sudah tidak tahan dengan kebohongan mereka. setelah saya ngomong hal itu, suami mengiyakan permintaan saya, tetapi dari lubuk yang paling dalam saya masih sayang dengannya dan saya tidak mau orang tua kami sedih.dilain pihak saya tidak mau dibohongi terus menerus. memang kami tinggal beda kota karena suatu pekerjaan. saya ingin petunjuk dari Romo.. makasih sebelumnya.
@setia
jika saya membaca tulisan anda, anda mengatakan percaya dengan “mereka”.. apakah anda mengenal wanita teman suami anda ?
LAlu, apakah selama satu tahun pernikahan, anda tinggal terpisah dengan suami anda berbeda kota ? Mengapa ?
SAya akan mencoba membahasnya secara umum ..
Saya adalah tipe seorang yang tidak menyetujui pasangan suami dan isteri yang baru disahkan pernikahannya hidup terpisah karena alasan pekerjaan dan hanya bertemu di saat-saat tertentu saja.
Memang saya tidak bisa memungkiri hal itu seiring perjalanan waktu yang memberi tekanan dari sisi sosial ekonomi mulai menjadi hal yang “wajar” terjadi.
TEtapi sebaiknya hal tersebut dihindari. Mengapa ?
pada masa-masa awal pernikahan justru adalah moment di mana suami dan isteri dapat saling mengenal lebih dekat pasangannya lebih dari sebelum menikah. Pengenalan ini membuat suami maupun isteri memahami karakter, sikap dan kebiasaan yang dilakukan individu dalam pernikahan itu. Lalu mulailah ada penyesuaian dan kesepakatan sehingga satu sama lain dapat saling menerima dan melengkapi kekurangan masing-masing. seiring dengan itu, sama lain mulai menjalankan fungsinya sebagai suami dan sebagai isteri, yaitu pelayanan dalam kesetiaan pernikahan. Tanggung jawab ini adalah ikatan suci yang diungkapkan dalam janji di depan altar, di hadapan Allah.
Yang disebut pelayanan di sini, bukan sekedar pemuasan kebutuhan fisik dan seksual semata. Tetapi juga pelayanan dalam iman, harapan dan kasih yang lebih tinggi nilainya dari kedua hal itu. Mereka harus berusaha membangun keluarga yang diberkati Allah, yaitu sebuah GEreja domestik. Keluarga adalah suami dan isteri dan anaka-anak mereka. Sehingga lengkaplah suami akan menjadi seorang ayah dan isteri akan menjadi seorang ibu, dan pada saat itu, suami dan isteri berbagi tanggungjawab.
Dan anak-anak ini yang akan menjadi ikatan emosional yang baru bagi suami dan isteri. KEdekatan emosional ini penting untuk menyuburkan ikatan suami dan isteir itu sendiri. JAdi sangat disarankan supaya sang suami pun dekat dengan anak-nya, membantu sang isteri menjaga dan belajar merawatnya.
Bila orangtua pada masa Sukarno, mengatakan suami pantang untuk mengganti popok sang bayu, itu hanya tugas isteri. lupakan! suami diperkenankan melakukannya. Intinya lakukan apa yang bisa dilakukan untuk menunjukkan bahwa suami pun peduli.
Kedekatan antara suami dan isteri ini penting dalam membangun komunikasi yang sehat. banyak sedikitnya komunikasi suami dan isteri dapat menunjukkan sehat tidaknya hubungan mereka.
Dan faktor pekerjaan adalah faktor yang paling banyak menjadi penyebab komunikasi suami dan isteri berkurang sangat banyak.
PAgi hari berangkat, isteri dan anak masih terlelap, siang hari sibuk dengan aktifitas kantor hingga malam. Malam terlalu lelah untuk menyapa. Bila weekend pun habis digunakan untuk hal lain di luar keluarga (misal kumpul bersama teman), maka perlahan namun pasti akan muncul bibit-bibit konflik mulai dari yang kecil, sebagai akibat kurangnya komunikasi.
Setia, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan..
anda bertemu dengan suami anda dan menyatakan keinginan anda untuk kembali bersatu dengannya. Dan bila hal ini dilakukan maka perlu pengorbanan, dan tampaknya kemungkinan besar, pengorbanan itu datang dari anda, yaitu anda harus berkomitmen berhenti bekerja dan tinggal bersama suami anda [setidaknya jika anda ingin bekerja, bekerjalah di kota dimana suami anda berada]. Namun di satu sisi suami anda pun sebaiknya tidak bekerja lagi di tempat yang sama dengan wanita temannya itu. Jadi sangat tepat bila suami anda pun mencari pekerjaan baru di tempat lain atau meminta untuk mutasi. Mulailah hidup yang baru. Anda lihat, bahwa hal ini butuh komitmen dari kedua belah pihak untuk berkeinginan melakukan rekonsiliasi. Dan hal ini berlaku untuk semua kasus keretakan RT.
Cara lain adalah meminta bantuan seorang yang ia segani dan hormati dari pihak yang netral, untuk berbicara dengan suami anda. Semoga di dalam hatinya masih ada hati nurani yang membimbingnya mengikuti kehendak Allah untuk tetap bersatu dengan anda sebagai suami dan isteri yang diberkati Allah. Jika ini berhasil anda harus berjanji untuk menomorduakan kepentingan anda terlebih dahulu dan memberikan prioritas lebih tinggi untuk keutuhanperkawinan anda. Hal yagn sama berlaku untuk suami. Namun suami sebagai kepala keluarga, memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada isteri dan anak-anak. jadi bila karir harus dikorbankan, karir anda-lah yang harus dikorbankan. Namun ini adalah suatu kesepakatan bersama. Termasuk bila memang anda terpaksa harus bekerja.
HAl lain yang bisa dilakukan adalah berbicara dengan wanita teman suami anda. Cara ini sangat beresiko (Saya cenderung meminta anda menghindarinya). Namun terkadang cara ini efektif, apabila wanita itu bisa bekerja sama dan menyadari kesalahannya.
Namun yang perlu disadari di sini adalah, wanita cenderung berbicara dengan emosi. Jadi situasinya bisa menjadi tidak terkendali dan bahkan bisa memperkeruh situasi. Jadi sebaiknya jika anda tidak siap dengan emosi anda dan tidak siap dengan sikap yang anda terima dari wanita itu, sebaiknya tidak dilakukan.
DAlam hal berbicara dengan suami anda, janganlah melalui telepon, tetapi kehadiran fisik lebih efektif. Anda bisa saja meminta seorang mendampingi anda. Seseorang yang bisa anda andalkan untuk menolong anda, sebaiknya adalah seorang yang disegani juga oleh suami anda.
Walaupun suami anda setuju untuk bersatu kembali dengan anda, ini adalah awal. Anda berdua sebaiknya pergi menemui konselor pernikahan atau pastor paroki untuk konseling, memeriksa diri satu sama lain dan pribadi masing-masing. Lalu bersama-sama membuat kesepakatan untuk perbaikan.
Satu hal yang tidak boleh tertinggal.. rajinlah berdoa dan daraskan novena, menerima Komuni dan sakramen tobat..niscaya Allah yang tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari umatnya yang setia, akan meringankan bebanmu..
May God bless your steps..