Istri nekad ingin cerai, suami tidak mau

Pastor, sy mau nanya ttg masalah keluarga kami.

Bentar lagi kami mau sidang cerai, istri gugat cerai saya tanpa alasan yg jelas (masalah hati/perasaan). Kami menikah secara Sakramen Katolik 5,5 tahun yg lalu. Kami sudah konsultasi ke gereja dll. Saya berusaha bertahan sampe akhir hayat krn memang sy sangat mencintai istri sy dan anak sy yg berumur 5 th, sy laki2 yg bertanggung jawab. Semua orang tua, saudara, sahabat sudah mengingatkan istri, tp gak ada yg istri dengar. Sempat depresi berat, sampe bilang agama/sakramen itu buatan manusia. Pindah agamapun bagi dia gak masalah.

Kasihan memang dia, yg jadi masalah adl pikiran dan perasaan dia. Dia minder dgn dirinya sendiri, slalu menyalahkan dirinya sendiri, slalu bilang kamu layak bahagia dgn wanita lain. Seperti ada kepribadian ganda, sejak kehadiran teman ceweknya yg menjadi atasannya kerja, temannya yg racuni otak dan hati istri sy. Temannya sakit hati dgn saya krn urusan bisnis. Dia doktrin istri sy dgn metode kerja mereka (perusahaan asuransi). Sampe pernah saya lihat bukti2 sms yg ingin kami pisah. Istri akui salah curhat, tapi skrg mereka dekat lagi.

Hampir 8 bulan kami tidak campur walau msh satu ranjang, akhirnya sy pisah rumah dan sudah 4 bulan ini dan anak ikut istri. Sy sudah berusaha dan bertahan… Sy sampe diusir lebih dari 2 kali saat sy mendekat. Semua kewajiban sy lakukan tapi hanya sia2. Semua kebaikan dan itikad baik sy tidak pernah dia hargai apalagi bilang terima kasih. Dari materi kami cukup dan tidak ada masalah. Saya support kebutuhan dia. Sampe detik ini sy masih perhatian sama dia.

Sy ajak retret/konsultasi/berobat kemanapun tetap tidak mau. Sy berubah jadi malaikat sekalipun dia tetap gak bisa terima sy. Katanya sudah gak ada hati. Skrg dia baik dan perhatian sama sy, itu dia lakukan demi anak kami yg ulang tahun tgl 11 maret kmrn. Sy pikir dia sudah baik krn saat sy minta kerik dan pijit (sy sakit) diapun lakukan dgn baik. Sy bilang kalo sudah baik ya sudah kita kembali satu rumah, tp dia hanya diam dan geleng2 kepala. Sambil lirih dan sedih muka dia bilang kalo sudah ajukan gugatan ke pengadilan. Dia tetap mau pisah. Apapun yg terjadi dia mau pisah.

Memang banyak kisah sedih selama 5,5th kami menikah. Anak kedua kami meninggal saat berumur 17 hari, mamanya istri meninggal, simboknya meninggal, ini hampir berurutan dari bulan September 2008 sampe Mei 2009. Disamping itu dia merasa memang bukan anak kandung papa mamanya. Dia diadobsi saat bayi. Dia gak tau orang tua biologisnya (papa mamanya ini Muslim), tapi sy tidak pernah mempermasalahkan itu. Yg sy lihat istri skrg adalah dia malu hati krn telah banyak sakiti saya. Dia sifatnya keras (atos) dan gengsi/egonya besar (bintang Scorpio dan sy Leo). Saya sangat sedih dan tetap berusaha mempertahankan pernikahan kami ini tapi istri tetap mau pisah.

Complain istri ke saya : katanya sy karakter keras, sy terlalu condong ke keluarga sy, merasa tidak bebas, tidak tau keinginan / perasaan dia (semua berhubungan dg pikiran, hati dan perasaan dia sendiri). Dan memang tidak ada orang ketiga, atau sy bejad, tidak ada KDRT, dan sy nafkahin istri full.

Sifat istri : diam gak pernah diomongin jika tidak cocok hanya dipendam, atos klo punya pendirian, obsesi tinggi sekali utk sukses dlm segala hal.

Dari surat ini sy tulis ke pastor, 3 hari lagi kami akan sidang pengadilan.

Sy berusaha ikhlas asal dia bahagia. Keinginan sy tetap bertahan, tapi istri tetap tidak mau katanya sudah tidak cinta/gak ada hati lagi. Dia sayang sama sy sbg saudara/kakak dan bukan sbg suami.

Pertanyaan saya romo:
1. Saya harus bersikap bagaimana saat nanti sidang?
2. Seandainya sy bertahan tapi dia menderita/sengsarain dirinya sendiri, apa itu baik dilihat dari segi agama Katholik?
3. Seandainya sy kabulkan keinginan istri utk pisah, apakah sy bisa menikah lagi secara katolik? Krn sy tidak mau pisah tp istri memaksa.
4. Apakah sy bisa dapatkan mengajukan surat amnesti (seperti kasus Sophia Latjuba) dari Vatikan agar sy bisa menikah secara Katolik, krn sy tidak menginginkan perceraian tapi istri yg memaksakan?
5. Apakah sy masih bisa terima komuni bila surat cerai dari pengadilan dikeluarkan?

Mohon dibantu nasihat dan saran Pastor untuk masalah keluarga kami ini.
Apa yang harus sy lakukan untuk mempertahankan pernikahan kudus kami ini.
Atas bantuannya, terima kasih. Tuhan memberkati. GBU

Salam,
Roy

5 Responses to “Istri nekad ingin cerai, suami tidak mau”

  1. Salam pak Roy,

    Saya bukan romo tapi ini jawaban saya atas pertanyaan bapak:

    1. Saya harus bersikap bagaimana saat nanti sidang?

    Jawab:
    Tolaklah. Katakan kepada Hakim bahwa bapak bermaksud mempertahankan keutuhan rumah tangga.

    2. Seandainya sy bertahan tapi dia menderita/sengsarain dirinya sendiri, apa itu baik dilihat dari segi agama Katholik?

    Jawab:
    Bertahanlah dan usahakan istri bapak bahagia. Ajak istri bapak menyadari bahwa perkawinan adalah gambaran persatuan Tuhan dan manusia. Itu sebabnya tidak boleh diceraikan.(Matius 19:6) Kalau dia nekad bercerai maka:
    a. dimana tanggung jawab dia atas luka batin anak?
    b. ia berdosa melawan Tuhan.

    3. Seandainya sy kabulkan keinginan istri utk pisah, apakah sy bisa menikah lagi secara katolik? Krn sy tidak mau pisah tp istri memaksa.

    Jawab: Tidak.

    4. Apakah sy bisa dapatkan mengajukan surat amnesti (seperti kasus Sophia Latjuba) dari Vatikan agar sy bisa menikah secara Katolik, krn sy tidak menginginkan perceraian tapi istri yg memaksakan?

    Jawab: silakan mencoba, itu hak bapak. Tapi apakah Vatican mengabulkan? Itu hak Vatican

    5. Apakah sy masih bisa terima komuni bila surat cerai dari pengadilan dikeluarkan?

    Jawab: Tidak.

    Pak,
    Sebaiknya Bapak cerita ke Hakim apa yang bapak rasakan/ketahui, lalu minta keputusan agar istri terapi. Setelah itu silakan terapi bersama (suami istri) agar bapak ibu sama sama maju dan berkembang dalam relasi suami istri. Kalau perlu bantuan info kemana mesti terapi di Jakarta, silakan japri: ibnurini@suzuki.co.id

    Semoga rumah tangga bapak harmonis kembali.

    Salam berkat Tuhan, rin

  2. saya hanya ingin menanggapi dan mengkoreksi jawaban Ibnurini.

    4. Apakah sy bisa dapatkan mengajukan surat amnesti (seperti kasus Sophia Latjuba) dari Vatikan agar sy bisa menikah secara Katolik, krn sy tidak menginginkan perceraian tapi istri yg memaksakan?

    Jawab: Bukan Amnesti, tetapi yang benar bahasa Inggris disebut “petrine privilege” (atau, Privilegium Petrinum), tetapi ini hanya berlaku untuk KAtolik yang menikah dengan Non Kristen (sifat pernikahannya memang bukan Sakramen). Yang menerima adalah Takhta Suci Vatikan dan sangat jarang dikabulkan.

    5. Apakah sy masih bisa terima komuni bila surat cerai dari pengadilan dikeluarkan?

    Jawab: Selama anda setia dengan janji pernikahan anda, dan tidak melakukan dosa berat maka anda bisa menerima komuni. Jadi saya sangat menyarankan anda menerima sakramen tobat sesering mungkin selama ada kesempatan.

  3. Saya bingung Pastor, saya tak tahu lagi harus bagaimana…
    Mengetahui kondisi istri seperti ini tak ada orang satupun dari keluarga yg menyarankan utk terapi / konsultasi.
    Sy ikhlas dan pasrah apa yg terjadi besok, walau sy akan berusaha mempertahankan..
    Dia msh perhatian sm saya tp sudah gak cinta…
    Dia takut menyakiti sy katanya jika diteruskan…
    Apakah ada yg bisa membantu utk menyentuh hati istri sy Pastor…

  4. Saya bukan pastor.. tetapi saya menyarankan anda bertemu konselor pernikahan atau bertemu dengan pastor paroki atau seseorang yang anda dan isteri anda segani dan hormati. Anda membutuhkan seorang yang dapat menjadi jembatan komunikasi di antara kalian.

    di topik lain saya katakan, bahwa dalam proses rekonsiliasi, bukan saja satu melainkan dua orang, baik suami dan isteri berperan untuk ber-komitmen menjalankannya. Bukan “yang bersalah” yang perlu berbenah diri tetapi juga “yang tidak bersalah”, bahkan sangat mungkin perlu ada pengorbanan.
    Harus menurunkan masing-masing ego, lalu mulai melatih diri untuk menuju ke arah perubahan yang diinginkan. Dan buanglah dulu pikiran, bahwa rekonsiliasi adalah proses yang nyaman bagi diri anda, tetapi sebaliknya mungkin justru andalah yang akan berada di posisi yang paling tidak nyaman, dalam usaha membangun kembali hubungan anda dengan isteri di atas landasan pernikahan Katolik yang sesungguhnya.

    May God bless your steps..

  5. Pak Roy yang baik,
    Berdoalah!
    Yang paling besar kuasa doanya dalam menyembuhkan segala sesuatu adalah Tuhan.

    Terapi yang maksud adalah terapi psikologis ya harus psikolog. Saya anjurkan demikian karena dari cerita bapak kelihatannya ada missing link di antara kalian. Perbedaan di antara kalian harusnya jadi sumber synergy, tapi karena tidak nyambung jadi ada situasi tidak bisa saling mengerti.

    salam berkat Tuhan, rin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>