Pembatalan Perkawinan (2)
saya ana, dan baru menikah hampir 1 tahun bulan ini. dan dalam pernikahanku ini, aku telah membuat sebuah keputusan yang salah.
sebenernya suami saya sangat baik, tetapi saya tidak mencintainya lagi.. sampai saat berada di altarpun saya masih membathin bahwa :”Tuhan masih bisa membatalkan pernikahan ini”
setelah pernikahan kami, dalam rumah tangga yang ada hanyalah pertikaian.. dan semua itu karena saya yang tidak mencintai suami saya..
suami saya sangat baik, dan apapun dia mau lakukan untuk saya…tapi saya serasa tekanan bathin. karena selama hampir 1 tahun ini, saya dihinggapi perasaan kecewa…karna telah menikah dengan terburu2, tidak dipikirkan matang2..
jujur, persiapan pernikahan kami sangat singkat. persiapan hanya dibutuhkan waktu 8 bulan.. dan itu sungguh sangat singkat dan berkesan terburu2..tapi menjelang 3 bulan sebelum pernikahan, saya merasa perasaaan saya dengan pasangan saya hilang.. yang ada cuma berantem saja…..tapi saya tidak membatalkan pernikahan saya, karena saya kasihan dengan prang tua, dan malu dengan saudara2 dan orang lain, termasuk mertua saya…. saya merasa tidak enak hati apabila akhirnya saya harus membatalkan pernikahan kami waktu itu…walauapun sebenernya saya ingin sekali membatalkan nya…
bagaimana tanggapan gereja Katolik tentang masalah ini… apakah di sahkan apabila kami bercerai???
saya merasa, jalan yang terbaik adalah berpisah, mengingat saya merasa ada tekanan bathin yang lebat…
saya ingin mencari cinta sejati saya…dan mencari kebahagiaan itu.. yang sama sekali belum pernah saya bisa rasakan setelah menikah dengan suami saya..saya selalu murung, walaupun secara ekonomi semua cukup, tetapi cinta yang tidak saya punya untuk suami saya..
semoga Tuhan Yesus memberi pengampunan dan jalan yang terbaik untuk masalah ini…
salam,
ana
===========
Saudari Ana,
Sebaiknya anda bersama suami segera datang ke pastor paroki yang memproses perkawinan anda. Kalau memang saat menikah anda dalam keadaan tidak bebas, dan bisa dibuktikan memang demikian, maka pastor akan membantu memproses kemungkinan pembatalan perkawinan.
JS







Salam kenal,
Saya mempunyai similar situation, tapi yang berada dalam keadaan tidak bebas pada saat menikah adalah suami saya.
Kami berdua dari keluarga katolik dan menikah 9 tahun yang lalu di Indonesia, sekarang kami tinggal diluar negeri. Kami belum mempunyai anak atas kesepakatan bersama. Kami berpacaran selama 5 tahun dan bertunangan 2 tahun. Selama masa pacaran dan tunangan, suami saya tidak pernah terbuka tentang bekas-bekas pacarnya, hanya satu yang satu tahu, yaitu eks-nya yang sebelum saya (H). Selama 16 tahun, saya merasa hubungan kami sangat rukun dan harmonis, terkadang ribut, tapi bisa diselaikan dengan baik-baik.
Tanggal 23 Juni 2009 saya tidak sengaja menemukan satu file chatting suami saya dengan seorang perempuan (Y) yang di-save di email yang saya dan suami pakai bersama (email #1). Apa yang saya baca dari file itu sangat menghancurkan saya. Suami saya bukan orang yang mudah bilang “I love you”, tapi di file itu dia begitu mudahnya menulis itu. Waktu saya konfront dia dengan file itu, dia kaget setengah mati dan ngga bisa ngomong. Malam itu dia minta2 maaf dan janji bahwa dia akan memutuskan hubungan itu. Waktu saya tanya “Kenapa bisa seperti ini?”, dia ngga punya jawaban selain bilang, “Saya ngga berpikir, saya ngga tahu, it just happen”. Dan dia bilang bahwa Y adalah bekas pacarnya waktu smp.
Keesokan harinya, saya menggali semua informasi tentang mereka dan mendapatkan bahwa suami saya punya email address lain (email #2) yang khusus dia buat untuk berhubungan dengan Y, dia bahkan membuat email address baru juga buat Y. Dari konfrontasi saya lewat telpon, suami bilang bahwa Y mencari dan mendapatkan suami saya lewat facebook (tgl 29 May, 09). Dari file chat dan email itu saya mengetahui bahwa sejak tanggal 1 juni sampai tgl 23 juni itu mereka setiap hari chat, bertukar sms, sampai suami saya tidak tidur karena perbedaan waktu, padahal saya tidur disampingnya. Bahkan suami saya telpon international setiap pagi begitu saya berangkat kerja, bahkan ada beberapa kali suami tinggalkan note minta dibangunin begitu saya siap berangkat kerja, alasannya supaya ngga kesiangan.
Tanggal 24 Juni sore, saya telpon Y dan dia sumpah-sumpah bahwa dia ngga bermaksud menyakiti atau merusak rumah tangga saya. Malan itu, suami saya mengakui bahwa Y itu pacar dan cinta pertamanya, dan Y memutuskan hubungan mereka tanpa alasan, dan sampai lulus sma suami saya masih penasaran dan ngga terima itu, tapi ngga tahu kemana mesti cari Y. Anehnya waktu kuliah dia punya pacar lagi (H), sebelum akhirnya dengan saya. Malam itu suami saya janji bahwa it’s over, dan dia akan memperbaiki semua itu. Hari itu juga saya mengetahui bahwa, Y mencari suami saya karena dia merasa bersalah memutuskan hubungan dan menyesali itu dan minta maaf. Saat itu Y sedang dalam pelarian dari suaminya bersama anaknya dan perkawinan mereka dalam proses perceraian. Sampai saat ini, Y ditampung dan dibantu oleh pastor paroki disalah satu kota di Jawa Timur. 2 minggu kemudian, suami ngaku bahwa mereka masih suka chat. badan saya rasanya panas dingin. Suami saya tidak mau meninggalkan saya, dengan alasan kami menikah secara katolik dan dia bertanggung jawab atas saya, tapi dia juga tidak mau memutuskan hubungan dengan Y, katanya perasaan dia bukan seperti komputer yang bisa dimatikan begitu saja.
Singkat cerita, tanggal 20 Juli, 09 saya minta pisah. Esoknya suami saya memohon-mohon supaya saya tidak meninggalkan dia, bahwa mereka sudah putus dan dia hanya menginginkan saya. Kami berbaikkan kembali dan saya stayed. Tapi seminggu kemudian saya ditelpon teman kantornya dan memberitahu bahwa suami saya suka sembunyi-sembunyi chat dikantor kalau pagi, tapi dia ngga ngaku waktu saya konfront. Setahu saya mereka benar2 tidak saling kontak lagi setelah kakak suami saya (L) menelpon Y di paroki tempat dia kerja, dan mengancam bahwa L akan mendatangi pastor paroki Y untuk membeberkan semua ini kalau Y tetap berhubungan dengan suami saya.
Sejak itu, saya tidak tahu sama sekali apa mereka masih in contact, suami saya bilang untuk percaya saja sama dia bahwa sekarang cuma antara dia sama saya. Diantara kami tidak lagi ada komunikasi kecuali pada saat kami ribut (dan ini sering sekali) dan sekarang saya pisah kamar. Suami saya selalu minta-minta saya untuk kembali tidur bersama dan melupakan kejadian ini. Dia tidak mau membicarakan dan mengungkit-ungkit hal ini lagi. Dia juga tidak mau untuk konseling dengan pastor paroki, atau ke gereja, apalagi mengaku dosa.
Seminggu yang lalu, suami mengakui bahwa dia terkadang masih memikirkan Y dan bahwa Y itu pujaan hatinya. Saya hargai keterbukaannya, tapi saya merasa berat sekali untuk bisa mempercayai suami saya lagi, dan mempertimbangkan untuk bercerai. Saya merasa dibohongi dan merasa bahwa perasaan dia bukan yang sesungguhnya pada waktu dia menikahi saya. Saya tidak ingin perpisah dari suami apalagi bercerai, tapi batin saya tertekan.
Bisa kan perkawinan saya ini dibatalkan mengingat suami tidak mau konseling dengan pastor paroki.
Mohon saran.
jawaban dari pertanyaan Ibu Ana adalah tidak..
sudah cukup banyak tulisan dan jawaban mengenai pembatalan pernikahan di website ini.. jika menggunakan fasilitas search di website ini dengan kata kunci “pembatalan” anda bisa menemukan beberapa artikel, topik terkait dengan kasus yang sama.. salah satunya “pernikahan dan perceraian menurut iman Katolik”.. silahkan anda baca-baca di sana.
tetapi menilik cerita anda.. :
bahwa suami anda masuk kembali kepada kenangan akan perasaannya yang ia rasakan ketika ia masih SMP. Kita tidak perlu kapan perasaan itu muncul kembali. Terkadang kita pun bisa tiba-tiba merasakan perasaan yang nyaman dan menyenangkan yang dulu dan dalam waktu yang sangat lama pernah kita rasakan, dan kita teringat kembali kepada masa itu, bahkan merindukannya. Wajar bila seseorang berkeinginan agar keinginan ini bisa dinikmati setiap saat kita mau. Ingat ketika Petrus, Yakobus dan yohanes merasakan perasaan seperti itu ketika bersama Yesus di atas gunung dan melihat kemuliaan-Nya dan penampakan Musa dan Elia ? mereka ingin membangun kemah di sana, mereka ingin terus merasakan hal itu.
Namun perasaan ini bisa menjadi addict dan menggerogoti kenyataan. perasaan ini mendorong munculnya khayalan-khayalan yang liar dan khayalan-khayalan ini mendorong niat seseorang untuk mewujudkannya. membuat otaknya berpikir untuk mewujudkannya dengan berbagai cara. Dan kemunculan seseorang di masa lalu yang terlibat dalam khayalan itu menjadi katalisator, yang membuat reaksi dan aksi yang ekstrim.
Suami anda mungkin saat ini ada dalam atmosfir itu..dan sulit bagi dirinya untuk keluar dari dalam apabila tidak ada niat atau sesuatu yang memiliki efek yang kuat dari “katalisator” untuk mendorong dirinya “mengobati” dirinya sendiri dan memperbaiki hubungannya dengan anda, dimana anda pun perlu melakukan hal yang sama, karena hilangnya rasa nyaman dan aman bersama suami anda.
Nah saya pikir sekarang anda punya katalisator itu dari cerita anda, suami anda tidak ingin berpisah dengan anda. Ini sebenarnya yang bisa “memaksa” suami anda untuk melakukan apa yang anda kehendaki untuk memperbaiki kondisi RT anda. Bagaimanapun harus ada langkah nyata perbaikan dalam kasus ini, bukan sekendar janji kata-kata saja yang mudah keluar dan diubah. dan langkah ini harus nyata, dalam arti visible, terlihat dan bisa dirasakan bersama, bukan oleh dirinya sendiri. Tanpa hal ini, maka perubahan itu masih dalam tatanan konsep atau lebih buruk lagi iming2 atau imajinasi.
Jika anda kurang cukup, mungkin perlu dibantu dorongan dari pihaknya yaitu keluarganya, orang-orang terdekatnya, orang-orang yang ia hormati dan didengarkan olehnya. Semua ini harus cukup deras untuk menyeretnya kembali kepada kenyataan bahwa apa yang ia lakukan bisa merusak dan menghancurkan apa yang telah ia perjuangkan selama 16 tahun lamanya untuk sesuatu yang tidak pasti hasilnya, karena belum tentu kebersamaan ia dengan Y akan mendapatkan kebahagiaan, mengingat si Y sendiri punya masalah dan bukan itu saja si Y sudah memiliki anak. Jika suami anda mengatakan hubungan ini bukanlah apa-apa baginya, tetapi ia harus diingatkan bahwa bagi si Y hubungan itu mungkin sesuatu yang berbeda, dimana saat ini, kondisi psikologis si Y tidak dalam kondisi normal, dan mudah sekali terkontaminasi karena si Y pastinya merasakan bahwa ia membutuhkan dukungan dari siapa pun. jadi suami anda sebenarnya memperburuk kondisi si Y dan bukan menolongnya.
Untuk sementara itu dulu, nanti saya teruskan lagi.. tetapi semoga tulisan pendek di atas bisa memberikan insight berarti..
May God bless your steps..
Mb Ana, kalau batal jadi ngurus harta gono-gini dong…