<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Istri ingin bantu orang tua, suami tidak setuju</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/istri-ingin-bantu-orang-tua-suami-tidak-setuju/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/istri-ingin-bantu-orang-tua-suami-tidak-setuju/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 09:44:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: johan</title>
		<link>http://gerejastanna.org/istri-ingin-bantu-orang-tua-suami-tidak-setuju/comment-page-1/#comment-2898</link>
		<dc:creator>johan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 04:59:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1498#comment-2898</guid>
		<description>1. apakah kamu pernah memberi masukan atau solusi terkait dengan krisis keuangan keluarganya.. saya lihat isteri kamu ingin bekerja dan membantu orang tuanya. bisakah kamu membuat isteri anda tidak bekerja tetapi tetap dapat membantunya, misal dengan menyisihkan sebagian dari uangmu untuk diberikan kepada isteri.. atau

bisakah isterimu bekerja di kota yang sama dimana kamu bekerja ? sehingga keluarga tetap utuh dalam satu rumah. mengenai anak, bisa dibantu dengan menyewa baby sitter dan diawasi oleh mama kamu..

Intinya harus ada jalan keluar yang terbaik.. jika kamu dalam posisinya tentunya kamu mengharapkan pengertian dan dukungan darinya, bukan ?
Mengapa kamu mengancamnya ? ini sama sekali bukan ajaran iman Katolik.. bagaimana perasaanmu mengikuti kehendak orang lain dibawah ancaman ?

Isterimu saat ini pikirannya sedang bingung, di satu sisi ia tahu kewajibannya sebagai isteri dan sebagai ibu.. ia menyayangi keluarganya, no doubt.. tetapi di sisi lain, ia ingin membantu orang tuanya.. di saat ia membutuhkan seseorang untuk membantunya, terutama dari dirimu, sebagai suaminya, justru yang ia dapatkan adalah ancaman.. menurutmu bagaimana kondisi psikis-nya hari ini ? bagaimana ia menjalani hari-harinya dengan kondisi demikian ? 

Dalam kehidupan suami isteri seharusnya anda dan isteri anda harus saling memahami satu sama lain, mencari jalan keluar bersama-sama untuk masalah yang dihadapi dalam keluarga, saling membantu dan mendukung... 

jadi sebaiknya bicarakan kembali masalah itu dengan isterimu.. isterimu tentunya mengerti alasanmu, tetapi kamu pun harus membantunya supaya tidak terkurung oleh masalah keluarganya. Isterimu pun perlu mengerti bahwa saat ini pun ia sudah memiliki keluarga, seorang suami dan seorang anak.. tentunya keputusannya harus mempertimbangkan semua itu.. orang tua isterinya pun perlu diberi pengertian bila keputusannnya tidak bisa 100% seperti yagn diharapkan.. saya pikir orangtuanya pun pasti mengerti.. saya optimis dan percaya masih ada jalan keluar terbaik yang bisa dilakukan untuk memecahkan masalah ini.. 

May God bless your steps..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1. apakah kamu pernah memberi masukan atau solusi terkait dengan krisis keuangan keluarganya.. saya lihat isteri kamu ingin bekerja dan membantu orang tuanya. bisakah kamu membuat isteri anda tidak bekerja tetapi tetap dapat membantunya, misal dengan menyisihkan sebagian dari uangmu untuk diberikan kepada isteri.. atau</p>
<p>bisakah isterimu bekerja di kota yang sama dimana kamu bekerja ? sehingga keluarga tetap utuh dalam satu rumah. mengenai anak, bisa dibantu dengan menyewa baby sitter dan diawasi oleh mama kamu..</p>
<p>Intinya harus ada jalan keluar yang terbaik.. jika kamu dalam posisinya tentunya kamu mengharapkan pengertian dan dukungan darinya, bukan ?<br />
Mengapa kamu mengancamnya ? ini sama sekali bukan ajaran iman Katolik.. bagaimana perasaanmu mengikuti kehendak orang lain dibawah ancaman ?</p>
<p>Isterimu saat ini pikirannya sedang bingung, di satu sisi ia tahu kewajibannya sebagai isteri dan sebagai ibu.. ia menyayangi keluarganya, no doubt.. tetapi di sisi lain, ia ingin membantu orang tuanya.. di saat ia membutuhkan seseorang untuk membantunya, terutama dari dirimu, sebagai suaminya, justru yang ia dapatkan adalah ancaman.. menurutmu bagaimana kondisi psikis-nya hari ini ? bagaimana ia menjalani hari-harinya dengan kondisi demikian ? </p>
<p>Dalam kehidupan suami isteri seharusnya anda dan isteri anda harus saling memahami satu sama lain, mencari jalan keluar bersama-sama untuk masalah yang dihadapi dalam keluarga, saling membantu dan mendukung&#8230; </p>
<p>jadi sebaiknya bicarakan kembali masalah itu dengan isterimu.. isterimu tentunya mengerti alasanmu, tetapi kamu pun harus membantunya supaya tidak terkurung oleh masalah keluarganya. Isterimu pun perlu mengerti bahwa saat ini pun ia sudah memiliki keluarga, seorang suami dan seorang anak.. tentunya keputusannya harus mempertimbangkan semua itu.. orang tua isterinya pun perlu diberi pengertian bila keputusannnya tidak bisa 100% seperti yagn diharapkan.. saya pikir orangtuanya pun pasti mengerti.. saya optimis dan percaya masih ada jalan keluar terbaik yang bisa dilakukan untuk memecahkan masalah ini.. </p>
<p>May God bless your steps..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/istri-ingin-bantu-orang-tua-suami-tidak-setuju/comment-page-1/#comment-2892</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 03:18:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1498#comment-2892</guid>
		<description>Dear AD,

pertama tama, saya kira kita tidak perlu judgement: siapa yang egois.  Lupakan itu.  kalo kita sudah mulai dengan judgement maka ya akibatnya sulit untuk ada sinergy karena jawabannya tinggal siapa menang.

Sebelum menjawab pertanyaan yang lainnya, saya ingin menjawab dulu soal akibat hukum dari perceraian.
1. Sejauh anak masih balita dan istri mandiri (punya penghasilan) maka PN akan cenderung memutuskan anak untuk ikut ibunya, kecuali dapat dibuktikan bahwa ibunya tidak dapat dipercaya memelihara anak.
2. Atas anak di bawah 17 tahun pun, untuk kepentingan psikologis hakim cenderung untuk mengabulkan agar anak ikut ibu, sejauh ibu mandiri dan dapat dipercaya memelihara anak, apa bila ibu mengajukan permohonan hak perwalian.
3. Anak di atas 17 tahun sudah dewasa, maka tidak ada keputusan untuk itu.
4. Dengan bercerai maka:
a. walaupun di atas kertas keputusan Hakim mengatakan bahwa anda berhak mengunjungi anak anda, tapi karena hubungan anda dan istri anda terputus maka ada banyak kemungkinan anda tidak lagi bertemu dengan anak anda dalam hal misalnya kemudian dia pindah ke suatu tempat yang entah dimana bersama suami barunya.
b. bila anda menikah menurut hukum Katolik, karena anda bercerai maka anda tidak dapat menikah lagi secara hukum Katolik.   

Sekarang silakan memikirkan dulu akibat dari perceraian.  

Setelah itu marilah kita membicarakan masalah soal keuangan.  Anda adalah pemimpin keluarga, maka silakan mengambil sikap kepala keluarga Katolik yang sejati.  Sebagai pemimpin keluarga, maka anda memiliki kewajiban:

Efesus  5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

Maka pertama tama dari keluar dari masalah kalian adakah anda harus terlebih dulu mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi umatNya.  Lihatlah bagaimana Yesus sampai mati di kayu salib dalam mengasihi umatNya, itulah yang harus dilakukan seorang suami.  Dalam aplikasinya, itu artinya anda harus bisa mendengar dengan empati segala masalah istri, bisa mengambil keputusan bijaksana, bisa berkorban. Bila anda melakukan kewajiban tersebut, maka istri pasti tidak punya pilihan lain selain harus melakukan kewajibannya untuk patuh kepada anda.

Dalam upaya untuk keluar dari masalah kalian, ajak istri untuk bicara bersama tentang Kekuatan yang kalian miliki, dampak yang akan harus dihadapi bila mengambil suatu keputusan, dll.  Coba pikirkan berbagai solusi yang bersinergy, misal silakan istri membantu keuangan ortu dengan jalan bekerja/bisnis yang dijalankan dengan tetap serumah dengan suami.  Misalnya pun tetap ikut berbisnis dengan anda, maka atur keuangan sedemikian sehingga istri memperoleh penghasilan yang dapat dikirim kepada ortunya.  Jagalah supaya istri tidak harus memilih anda atau ortu supaya keputusannya tidak jadi fatal.

Akhirnya, berdoalah bersama dan tetap rukun supaya Tuhan semakin berbelas kasih kepada kalian.  Minta tolong St Antonius Padua agar kalian bisa MENEMUKAN jalan yang terbaik bagi kesulitan kalian dan Bunda Maria untuk selalu mendoakan kalian.

Salam berkat Tuhan, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear AD,</p>
<p>pertama tama, saya kira kita tidak perlu judgement: siapa yang egois.  Lupakan itu.  kalo kita sudah mulai dengan judgement maka ya akibatnya sulit untuk ada sinergy karena jawabannya tinggal siapa menang.</p>
<p>Sebelum menjawab pertanyaan yang lainnya, saya ingin menjawab dulu soal akibat hukum dari perceraian.<br />
1. Sejauh anak masih balita dan istri mandiri (punya penghasilan) maka PN akan cenderung memutuskan anak untuk ikut ibunya, kecuali dapat dibuktikan bahwa ibunya tidak dapat dipercaya memelihara anak.<br />
2. Atas anak di bawah 17 tahun pun, untuk kepentingan psikologis hakim cenderung untuk mengabulkan agar anak ikut ibu, sejauh ibu mandiri dan dapat dipercaya memelihara anak, apa bila ibu mengajukan permohonan hak perwalian.<br />
3. Anak di atas 17 tahun sudah dewasa, maka tidak ada keputusan untuk itu.<br />
4. Dengan bercerai maka:<br />
a. walaupun di atas kertas keputusan Hakim mengatakan bahwa anda berhak mengunjungi anak anda, tapi karena hubungan anda dan istri anda terputus maka ada banyak kemungkinan anda tidak lagi bertemu dengan anak anda dalam hal misalnya kemudian dia pindah ke suatu tempat yang entah dimana bersama suami barunya.<br />
b. bila anda menikah menurut hukum Katolik, karena anda bercerai maka anda tidak dapat menikah lagi secara hukum Katolik.   </p>
<p>Sekarang silakan memikirkan dulu akibat dari perceraian.  </p>
<p>Setelah itu marilah kita membicarakan masalah soal keuangan.  Anda adalah pemimpin keluarga, maka silakan mengambil sikap kepala keluarga Katolik yang sejati.  Sebagai pemimpin keluarga, maka anda memiliki kewajiban:</p>
<p>Efesus  5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya</p>
<p>Maka pertama tama dari keluar dari masalah kalian adakah anda harus terlebih dulu mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi umatNya.  Lihatlah bagaimana Yesus sampai mati di kayu salib dalam mengasihi umatNya, itulah yang harus dilakukan seorang suami.  Dalam aplikasinya, itu artinya anda harus bisa mendengar dengan empati segala masalah istri, bisa mengambil keputusan bijaksana, bisa berkorban. Bila anda melakukan kewajiban tersebut, maka istri pasti tidak punya pilihan lain selain harus melakukan kewajibannya untuk patuh kepada anda.</p>
<p>Dalam upaya untuk keluar dari masalah kalian, ajak istri untuk bicara bersama tentang Kekuatan yang kalian miliki, dampak yang akan harus dihadapi bila mengambil suatu keputusan, dll.  Coba pikirkan berbagai solusi yang bersinergy, misal silakan istri membantu keuangan ortu dengan jalan bekerja/bisnis yang dijalankan dengan tetap serumah dengan suami.  Misalnya pun tetap ikut berbisnis dengan anda, maka atur keuangan sedemikian sehingga istri memperoleh penghasilan yang dapat dikirim kepada ortunya.  Jagalah supaya istri tidak harus memilih anda atau ortu supaya keputusannya tidak jadi fatal.</p>
<p>Akhirnya, berdoalah bersama dan tetap rukun supaya Tuhan semakin berbelas kasih kepada kalian.  Minta tolong St Antonius Padua agar kalian bisa MENEMUKAN jalan yang terbaik bagi kesulitan kalian dan Bunda Maria untuk selalu mendoakan kalian.</p>
<p>Salam berkat Tuhan, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
