Istri boros, suami takut miskin, tidak merasa bahagia
Kami sdh menikah selama 17 tahun, pernah hidup bahagia dan berada, tetapi di tahun ke 10 perkawinan ekonomi kami hancur dan berantakan karena istri sy melakukan korupsi di kantornya dan saya sebagai suami harus membayar hasil korupsi istri saya dengan tanah, mobil dan uang pesangon saya. sampai sekarang sy tdk tahu uang sebesar 400jt hasil korupsi lari kemana. lalu saya mulai hidup baru dan saya memutuskan utk berwiraswasta, merangkak dari nol dengan memulai sebagai sopir taksi lalu sekarang membuka usaha komputer dan lumayan maju.
PERMASALAHAN KAMI SELAMA INI
hidup tidak pernah merasa bahagia selalu di hantui ketakutan kemiskinan karena kebiasaan istri yg sering menghutang dan boros padahal di rumah kami tidak memiliki apa2 hanya motor dan rumah. biaya hidup yg berat tidak pernah mau di mengerti istri, istri hanya meminta jatah uang harian yang harus ada antara 90rb – 100rb tiap hari hanya untuk makan sj. biaya hidup lainnya sy yg harus pikirkan, sering sampai pagi hari jam 2 baru pulang dari toko.
Romo, ingin rasanya saya sudahi pernikahan ini karena sy tidak merasa bahagia dan katanya istri saya juga tidak merasa bahagia. kalaupun harus berjalan terus demi anak2 kami harus bagaimana cara mendidik istri.
terima kasih sebelum dan sesudahnya, kalau boleh saya dan istri konsultasi ke romo.
salam damai,
Gnw







Pak Gnw, lama hidup bersama pasangan bukan berarti kita telah mengenal pasangan hidup dengan baik. Dari penuturan Bpk, agaknya antara Bpk dan istri tidak ada komunikasi yang baik. Contohnya, Bpk tidak tau ke mana larinya uang yang dikorupsi istri. Bpk pun tidak berani meminta istri berhemat belanja sehari-hari, mengingat penghasilan Bpk sekarang tidak seperti dulu.
Jika alasan Bpk mempertahankan pernikahan karena anak2 dan ingin mendidik istri, maka Bpk harus berani membuka komunikasi, bicara dari hati ke hati dengan istri, agar istri ikut mendukung pekerjaan Bpk saat ini. Beban hidup tidak terasa berat bila ditanggung bersama, itulah fungsi keluarga.
Takut miskin adalah perasaan yang manusiawi, apalagi Bpk pernah mengenyam hidup berkecukupan sebelumnya. Tetapi, bukankah Yesus mengajarkan agar anak-anakNya memandang dunia dengan cara berbeda? Ingat perumpamaan orang kaya yang menimbun harta, namun malaikat maut menjemput tanpa ia bisa menikmati kekayaannya? “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena ialah yang empunya Kerajaan Surga.” Artinya, jangan gantungkan kebahagiaan kita pada harta duniawi yang dapat dimakan ngengat dan habis, tetapi bersyukur dan berserah selalu kepada kemurahan dan kebaikan Tuhan, pasti akan terbuka jalan bagi orang yang menaruh harapan kepadaNya.
Menyudahi pernikahan di saat krisis seperti yang Bpk tengah alami adalah cara pelarian yang paling mudah. Apakah perceraian akan menyelesaikan masalah? Cobalah tenangkan diri, jangan mengambil keputusan penting ketika emosi menguasai kita. Lihatlah alasan Bpk membina rumah tangga dengan pasangan Bpk 17 tahun yang lalu. Ajaklah istri berdialog, mengutarakan isi hati masing-masing tanpa amarah, namun dengan tujuan memperbaiki relasi, menjalani tantangan hidup saat ini bersama, dan mempercayakan masa depan ke dalam tangan Tuhan melalui doa bersama. Semoga ada pencerahan dan kedamaian dalam keluarga Bpk.
jadi memang intinya adalah komunikasi.. saya tidak tahu apakah anda menanyakan sebelum membantu isteri anda, apakah isteri anda sungguh-sungguh mengambil uang tersebut dan dimanakah uang itu berada. Anda sebagai kepala keluarga, seorang suami dan seorang ayah, berhak menanyakan hal ini kepadanya.
Dan sekarang pun setelah anda melunasi hutang isteri anda, dan membebaskan isteri anda dari tuntutan hukum, anda masih memiliki hak itu. Anda pun perlu tahu untuk apa saja isteri anda berhutang dan kepada siapa saja ia berhutang. Jika itu untuk kebutuhan RT termasuk kebutuhan sekolah dan kesejahteraan anak, ini harus didiskusikan bersama. Mana yang perlu dihemat, mana yang perlu diperhatikan, apa yang harus dikurangi, termasuk kebutuhan pribadi individu orang tua, misal kegemaran tertentu, atau kebiasaan tertentu yang membutuhkan biaya. Perlu ada prioritas.
Jika isteri anda tetap diam, atau malah marah ketika ditanya. Maka terjadi kebuntuan komunikasi. anda dan isteir anda membutuhkan seorang perantara, entah romo atau seorang konselor pernikahan.
Jadi masalah ini harus diatasi bersama-sama bukan sendiri-sendiri. Isteri tidak boleh menyembunyikan rahasia sekecil apapun jika itu sudah menyangkut baik langsung atau tidak langsung dengan kehidupan RT-nya.
Sebaiknya anda mulai menyisihkan tabungan untuk dana darurat dan biaya pendidikan anak-anak anda, dan jangan diganggu gugat. Jika isteri anda memintanya, maka anda berhak mengetahui untuk apa uang darurat tersebut ingin digunakan.
Masalah keluarga perlu diatasi bersama, jika tidak akan sulit.
sekilas membaca masih ada jalan keluar yang baik, terlebih saya tidak membaca ada hal yang perlu dicemaskan dari sikap atau perbuatan isteri anda terhadap anak-anak anda.
Saya belum bisa mengambil kesimpulan lebih jauh lagi, menurut saya kini waktunya bagi anda mencari jalan keluarnya di dunia nyata. Silahkan berkonsultasi dengan romo paroki atau konselor pernikahan.
May God bless your steps and protect your children