Ingin pisah, suami tidak mau

Saya ingin berkonsultasi masalah saya yang menurut saya sangat-sangat membebani kehidupan saya.

Saya menikan di tahun 99, secara katolik, kami dikaruniai seorang anak 3 th kemudian. Saat ini umur pernikahan kami sudah 10 tahun, anak kami sekarang sudah berumur 7 tahun.

Dari awal pernikahan kami suami saya memang selalu kesulitan pekerjaan. pernah bekerja bersama keluarga saya tapi kemudian menganggur lagi. Pada usia pernikahan kami menginjak 5 atau 6 tahun mulailah kemelut rumah tangga kami. Di saat saya harus bekerja mencari nafkah, suami seringkali meminta uang kepada saya tanpa alasan jelas untuk apa, apabila saya tidak memberi dia akan marah marah sampai membanting mainan anak kami. dan seringkali pergi dengan teman-temannya tanpa alasan yang jelas sampai tidak pulang ke rumah. Sampai pada akhirnya saya menemukan bukti bukti bahwa suami saya berselingkuh dengan temannya, dan saya mengetahui bahwa selama ini dia sering menginap dengan teman wanitanya itu. Singkat kata saya pergi meninggalkan rumah dengan membawa anak saya ke rumah kakak saya karena saya sudah merasa tidak tahan dengan keadaan seperti ini.

Kakak kami berusaha menengahi kami, yang pada akhirnya setelah suami saya meminta maaf, kami memutuskan untuk pindah ke jakarta dan suami saya diberi pekerjaan oleh kakak saya. Dan diberi kemudahan dengan dibelikannya kami rumah, dan kami menyicil kepada kakak saya tanpa bunga semampu kami.

Tapi entah kenapa, sikap suami saya yang sangat temperamental mulai muncul kembali, dan sikapnya sangat2 tidak menghormati, tidak ada perhatian sama sekali dengan keluarganya. Dia sering tidak pulang lagi dengan alasan pergi dengan teman-temannya. Sampai suatu saat saya ditegur oleh seseorang karena dia melihat chating antara suami saya dg teman wanitanya di face book dengan bahasa yang sangat vulgar tidak layak dibaca oleh khalayak umum. Saya sangat marah sekali, dan dia pun sudah mengakuinya. tetapi dengan janjinya bahwa dia tidak akan mengulang lagi saya mengampuninya, dan saya minta dia untuk minta maaf kepada kakak dan keluarga besar.

Tapi entah kenapa hanya selang beberapa bulan (+/- 2 bulan) suami saya mengulangi lagi, berselingkuh lagi, dengan wanita yang sama. Bahkan bahasa di facebook lebih vulgar dari yang sebelumnya. Karena saya sudah tidak tahan lagi saya minta dia keluar dari rumah. Tapi suami saya sangat pandai memakai anak sebagai alat untuk dia kembali lagi ke rumah. karena saya juga memikirkan kondisi psikologi anak akhirnya suami saya kembali kerumah.

Beberapa bulan suami saya bersikap sangat baik, sampai kemudian kira kira 3 bulan kemudian sikap aslinya mulai muncul kembali, sikap pemarah, sering memerintah istri seperti pembantu, menyetir mobil sering ugal ugalan sehingga sangat membahayakan nyawa saya dan anak. Saya benar benar sudah sangat tidak tahan dengan sikapnya. Akhirnya saya memutuskan untuk berpisah saja. Disaat saya akan menyampaikan niat untuk pisah, saya sedang membuka flashdisk suami saya untuk mencari data pekerjaan karena kami bekerja satu perusahaan family bisnis kepunyaan kakak saya, tapi tanpa diduga saya menemukan file foto foto suami saya dengan wanita selingkuhannya dalam posisi yang sangat tidak layak dilihat oleh siapapun, sudah seperti gambar2 porno tingkat tinggi, entahlah X berapa.

Akhirnya saya membulatkan tekat untuk pisah. tapi saya bingung sekali karena suami saya tetap tidak mau pisah dengan alasan ingin berubah. Tapi saya sudah tidak dapat lagi hidup bersama orang yang sudah benar benar membuat hidup saya begitu menyakitkan. dan saya sangat mengkhawatirkan perkembangan anak saya bila melihat perilaku ayah yang sangat tidak mendidik.

Apa yg harus saya lakukan ? saya ingin pisah tetapi suami saya tidak mau keluar dari rumah kami. Apakah saya harus melalui proses hukum ?

Terima kasih atas segala sarannya.
mgy

One Response to “Ingin pisah, suami tidak mau”

  1. @Mgy..

    1. sebaiknya anda hidup terpisah dari suami anda.. dalam salah satu tulisan saya di rubrik konsultasi ini, saya pernah menyarankan untuk tidak mudah untuk luluh dan memaafkan suami. Tanpa menunjukkan itikad yang baik. Mungkin sulit melihat apakah sungguh suami memiliki itikad baik, salah satu trik-nya adalah mengajak dia pergi ke konselor pernikahan, atau sebagai start awal memintanya bersama anda berkonsultasi dengan romo paroki tentang perbuatan selingkuhnya dan mengakuinya di hadapan Allah dalam sakramen tobat. Jika hal ini tidak ingin dilakukan, sebaiknya janganlah menerima ia kembali. Hal itu perlu dilakukan melihat niatnya untuk kembali bersatu dengan keluarga, menanggalkan egoisme yang selama ini ia tunjukkan melebihi rasa kasih sayangnya. atau Misalnya dengan mendatangi psikolog untuk menggali penyebab sikap dan perbuatan negatifnya itu. Anda pun akan lebih memahami mengapa itu semua dilakukan oleh suami anda, dan menemukan cara yang lebih baik untuk “menyembuhkan” luka dalam keluarga anda ini. Intinya harus ada satu hal yang menunjukkan bahwa ia mau mengorbankan apa yang paling ia berharga dari dirinya (saya pikir saat ini yang paling berharga adalah ego-nya) demi bersatu dengan keluarganya, bukan cuma sekedar kata-kata. Jika anda terus melulu memaafkannya karena ucapan dan janji muluknya, maka ini membuat suami anda besar kepala dan merasa bisa selalu menipu anda.

    2. Jika ia menggunakan alasan anak, maka ini adalah argumen kontra-nya. Pertikaian demi pertikaian yang anda dan suami anda lakukan karena sikap dan perbuatan suami anda, perbuatan kasar dan emosional dari suami anda walaupun hanya kepada barang-barang di rumah, semua hal itu justru membahayakan tumbuh kembang anak, terutama secara psikis. Mungkin saat ini anak anda tidak tahu perbuatan zinah suami anda, tetapi bagaimana bila suatu ketika tanpa disengaja ia menemukannya seperti anda ? karena kasus seperti ini pernah saya temui, dimana anak seorang ibu menemukan gambar porno dari selingkuhan si ayah.
    Memang perpisahan tentunya membawa efek negatif bagi si anak, tetapi apa yang terjadi di dalam rumah anda saat ini juga tidak lebih baik, dan merupakan bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Jika perceraian dianggap bukan jalan terbaik namun solusi untuk menghindarinya membutuhkan pemikiran yang matang,hati-hati dan bijaksana dan perlu waktu relatif lama untuk dijalankan, maka setidaknya anda bisa mencegah bom waktu itu semakin memanas dan siap untuk meledak dan melukai anak anda, dengan memisahkan anak anda dari atmosfir yang tidak sehat bila suami anda masih berada di sekitarnya.

    3. Pernah ada yang mengusulkan untuk bertemu dengan selingkuhannya itu dan meminta ia menjauhi suami anda. Walaupun ini bukan usul yang completely salah, tetapi juga mengandung resiko yang belum tentu anda sendiri sanggup menerimanya. Jika perempuan selingkuhannya itu adalah perempuan yang memiliki moral yang benar, artinya ia tidak tahu bahwa laki-laki yang ia pacari adalah suami dari seorang istri dan memiliki seorang anak, hasilnya bisa menjadi baik. Sebaliknya anda bisa saja mendapatkan sikap cuek dari perempuan itu, yang membangkitkan emosi anda [sebaiknya anda ditemani oleh seseorang yang anda percayai dan bisa melindungi anda, setidaknya untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu yang tidak direncanakan atau bisa membantu anda mengendalikan diri anda apabila terbakar emosi]

    Sebenarnya masih ada cara lain yaitu dengan ancaman melaporkan perempuan itu ke pihak berwajib atas pasal KUHP tentang perbuatan zinah. Jika ancaman ini berhasil, maka perempuan itu tentunya akan menghilang dengan sendirinya. TEntu saja pelaksanaan dari ancaman ini pun perlu dipertimbangkan secara bijak, karena bila ancaman itu dibuktikan, maka juga akan menyeret suami anda, dan tentunya semakin sulit bila anda ingin melakukan rekonsiliasi dengan suami anda.

    Tetapi jika anda bertekad berpisah, maka ancaman jeratan hukum perzinahan dan apabila rumah anda bukan atas nama suami anda, maka mudah saja itu dilakukan. Tetapi saya pikir itu bukan cara yang halus dan hanya perlu dilakukan apabila sudah tidak ada lagi cara lain. Cara lain yang saya maksud antara lain, dengan melibatkan keluarganya. tetapi ini pun sebaiknya anda perlu lakukan secara hati-hati, mengingat emosi suami anda yang pemarah, bisa-bisa anda atau anak anda terluka. Jadi sebaiknya anda merencanakan hal itu dengan baik. Ada baiknya suami anda tidak mengetahui rencana ini hingga keluarganya datang menjemput atau memintanya keluar dari rumah itu. Cara ke-2, adalah anda dan anak andalah yang mengungsi, jangan meninggalkan barang berharga ketika pergi. Dan yang kelak memintanya pergi adalah keluarga anda atau keluarganya, tetapi bukan anda. Ini pun perlu dilakukan secara bijak, untuk menghindari pertikaian yang tidak diinginkan. Anda juga perlu memikirkan apakah tetap tinggal di rumah itu atau menjualnya, mengingat suami anda akan datang dan mengganggu anda dan mengancam ketentraman yang anda berusaha bangun untuk anak anda. Jika anda menjualnya, maka otomatis anda tidak perlu mengusirnya, hanya meminta dia untuk hidup terpisah dari anda dan anak anda untuk jangka waktu yang belum bisa dipastikan.

    mengenai perceraian, anda perlu mempertimbangkan beberapa hal, salah satunya adalah anda harus menyadari bahwa perceraian yang terjadi tidak membuat anda dapat menikah lagi dalam GEreja Katolik. Suami anda pun tidak akan berubah dan bahkan bisa jadi lebih parah. Saya pikir hidup terpisah adalah solusi terakhir yang bisa dilakukan saat ini.

    saat ini hidup terpisah, mintalah suami anda untuk melakukan yang saya sarankan di poin 1, dan tidak mengganggu kehidupan anda dan anak anda untuk beberapa waktu. Waktu itu andalah yang menentukan, bukan suami anda. Bila ia datang, jangan temui, jika ia telepon berbicara seperlunya dan dalam waktu singkat. selama masa perpisahan, hindarilah memikirkan kemelut dalam RT anda. Masa itu anda gunakan untuk mengembalikan diri anda seutuhnya, saat sebelum kemelut itu terjadi. Membangun semua yang hilang atau terkikis karena kemelut itu. Merencanakan apa yang anda ingin lakukan untuk kesejahteraan hidup anak anda. karenanya hindarilah apa pun yang membuat emosi anda terganggu karena masalah anda. Setelah anda pulih benar, kekuatan anda sudah kembali, anda sudah menjadi diri anda seutuhnya, anak anda pun sudah mulai beradaptasi. Maka yakinkan diri anda untuk siap menghadapi permasalahan itu. Bagaimanapun masalah itu perlu diselesaikan. Ingatlah tetap poin pertama. Jangan menemui suami anda seorang diri jika anda merasa tidak aman atau nyaman dan jangan memilih tempat yang private melainkan tempat publik. Biarkan ketidaknyamanan itu pindah ke suami anda saat ia harus berbicara dihadapan orang lain, tetapi ini adalah salah satu bentuk pengorbanan yang harus ia lakukan.

    untuk sementara itu dulu.. hope those helps..

    May God bless your steps and give you strength..May God protect you and your child..bring the light to your husband..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>