Ingin menikah di KUA, baru di Gereja

Saya punya masalah yg mungkin banyak yg mengalaminya,

Gini saya punya pacar beda agama (saya katholik sedangkan pacar saya islam), dan kami sudah berpacaran selama kurang lebih 4 tahun, rencananya kita mau nikah dan saya sudah melakukan pendekatan dengan pihak keluarga pacar saya, mereka selalu welcome bila saya datang kerumah pacar saya, tetapi bila sudah menyangkut ke masalah penikahan mereka tidak setuju sampai kapanpun, padahal saya ingin menikah campur, merekapun tidak setuju kecuali saya ikut agama mereka, saya gak akan mau pindah agama hanya untuk menyenangkan keluarga pacar saya, akhirnya keluarga saya menyarankan agar kita mengalah dalam artian kami berdua menikah di KUA terlebih dahulu dan setelah itu baru pengukuhan di Gereja, sebenarnya saya sendiri tidak sreg bila harus menikah di KUA, tetapi saya sendiri tidak boleh egois karena bila hanya menikah di Gereja kan pastinya belum halal bagi mereka dan begitu juga sebaliknya. Yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya bila saya menikah di KUA dan setelah itu pengukuhan di gereja? apakah setelah saya menikah di KUA saya masih bisa mengikuti perayaan Ekaristi dan menerima Komuni? Apakah saya berdosa?? jujur saya sangat bingung akan masalah ini, dan saya butuh sekali pencerahan ataupun saran dari Romo.
Mohon saran dengan sangat yach Romo, terima kasih.

Thanks
Yudhi

11 Responses to “Ingin menikah di KUA, baru di Gereja”

  1. Dear mas Yudhi,

    Masalahnya, ini bukan soal adil: 2 orang dengan 2 agama maka melakukan perkawinan dalam 2 cara. Sama sekali bukan begitu.

    Dalam Islam: haram hukumnya perempuan Islam menikah dengan lelaki non-Islam. Karena lelaki adalah imam. Tapi kalau lelaki Islam menikahi perempuan non-Islam, itu halal.

    Apa yang terjadi bila mas menikah di KUA? Mas akan diminta terlebih dulu mengucapkan syahadat yang dengan demikian mas masuk Islam. Berdasarkan itulah, maka mas tidak bisa menerima ekaristi, toh sudah masuk Islam. Jadi tidak bisa lagi sakramen perkawinan di Gereja.

    Lalu apa yang terjadi bila setelah perkawinan di KUA mas melakukan sakramen tobat untuk bisa kembali ke Katolik? Persoalan mendasarnya adalah: ini adalah soal keyakinan kepada Tuhan. Janganlah mempermainkan aturan agama hanya untuk menghalalkan perbuatan. Dalam hal ini mas memang harus memilih. Patuh kepada keyakinan mas kepada Tuhan dengan cara Katolik, atau meninggalkannya demi seorang perempuan.

    Tentu sikap keluarga pacar mas itu baik, yakni untuk melindungi anak gadisnya agar tetap terjaga keimanannya. Baiklah mas menghargai sikap tersebut. Mas sendiri? Apakah akan tetap menjaga keimanan mas?

    Salam berkah Dalem, rin

  2. Terima kasih atas responnya,

    Nah itu dia yang membuat saya bingung, jujur saya sendiri tidak mau bila saya harus menikah di KUA ataupun dengan cara islam, tapi itu dia kalau memang begitu berarti tidak ada titik temunya donk? maksud dari keluarga saya begitu adalah biar ada solusinya karena kalau kedua belah pihak tidak mau mengalah yach pastinya akan buntu lagi, dan tidak ada solusinya. dan salah satu pemecahannya adalah saya harus putus dengan pacar saya bukan?
    tetapi apakah itu jalan ataupun keputusan yg harus ditempuh??
    Cinta memang terkadang terbentur dengan perbedaan agama, Tetapi bukannya perbedaan itu diciptakan oleh manusia itu sendiri.
    saya jg ingin menikah secara katolik, saya tidak ragu dan saya bangga menjadi seorang katholik.

  3. Sdr. Yudhi,

    Keluarga perempuan, calon pasanganmu, sudah menyatakan ketidaksetujuannya menerima kamu sebagai bagian dari keluarga mereka sampai kapan pun, kecuali kamu pindah agama. Selain itu, kamu juga merasa tidak sreg melakukan pernikahan di KUA lebih dulu, setelahnya baru di Gereja, seperti saran orangtuamu. Lalu, mengapa masih bimbang dalam memutuskan?

    Keputusan untuk menikah menyangkut rentang waktu yang panjang. Hidup berumah tangga bukanlah sekadar cinta romantis, perlu ketahanan bersama dalam melewati berbagai tantangan. Salah satu sahabat saya pernah menjalin kasih dengan muslimah, namun ditentang keras oleh orangtuanya. Sekarang ia mendapatkan kekasih seiman, akan segera menikah, dan tetap bersahabat dengan mantan kekasihnya. Cinta itu universal, tidak harus putus lantaran tak jadi menikah. Kamu dapat tetap mengasihinya sebagai sahabat (betul-betul sahabat, bukan selingkuhan lho..) Semoga cahaya Roh Kudus menerangi kamu saat akan mengambil keputusan penting ini.

  4. Terima kasih Fransisia,

    Mmmmm.. Jujur saya sampai saat ini belum bisa memutuskan apa langkah yg harus saya ambil dan apa yg harus saya lakukan, btw thanks atas sarannya,
    May God Bless Us..

  5. @Yudhi, kalo bangga menjadi Katolik dan ingin menikah secara Katolik, maka seharusnya kamu sudah dapat memutuskan apa yang harus kamu lakukan dengan masalahmu ini.. kecuali itu cuma sekedar kata-kata yang mudah ditulis di sini, tetapi pilih-pilih dalam mengimplementasikan, mana yang kamu suka, mana yang tidak. Jika seperti itu, maka itu sama saja menjadi seorang Katolik yang bukan Katolik.

    Jalan keluar terbaik dan bila kamu ingin sungguh mengimplementasikan perkataanmu itu, maka mintalah ijin ordinaris wilayah atau keuskupan untuk menikah secara Katolik di tempat lain (bukan di dalam gedung Gereja). Jika cara ini pun ditolak oleh keluarganya, maka silahkan kamu memutuskan dengan akal budi yang diberikan Allah, apakah kamu ingin mengkhianati imanmu (dan artinya kamu pun berbohong di sini) atau setia pada Yesus yang adalah Kepala dari Gereja Katolik.

    May God bless your steps

  6. Dear mas Yudhi,

    Proficiat!
    Saya kagum pada keinginan mas: saya jg ingin menikah secara katolik, saya tidak ragu dan saya bangga menjadi seorang katholik.

    Kalau begitu, ikutlah jalan yang benar bagi seorang katolik: menikahlah hanya di Gereja Katolik. Dengan siapa? Dengan perempuan yang memang mau menikah hanya di Gereja Katolik.

    Belajarlah dari St Yosef. Dia taat kepada Tuhan. Hasilnya? Keluarga Kudus.

    Sekarang mas pikir: apakah kalau mas membangun keluarga dengan pacar yang sekarang, mas akan bisa membangun keluarga kudus? Silakan melakukan pembicaraan dengan Tuhan, apa yang mesti mas lakukan dengan masa depan mas dalam berkeluarga. Serahkan masalah ini kepada Tuhan dan percayalah Tuhan yang akan mengubahnya menjadi anggur manis kehidupan. Untuk sementara jangan action apapun selain berdoa dan berserah kepada Tuhan lalu amati apa yang terjadi.

    Sebagai sebuah sharing, saya ceritakan pengalaman saya:
    Dulu ketika saya berpikir untuk membangun sebuah keluarga, saya mencari lelaki yang bisa memberitahu saya visinya tentang keluarga. Berkali-kali saya pacaran memang selalu ada masalah. Sampai suatu saat saya bertemu dengan seorang yang sederhana tapi bisa bilang bahwa teladannya adalah Keluarga Kudus. Lalu 1 tahun kami intensif berdiskusi mengenai bagaimana keluarga kudus itu dapat diaplikasi dalam keluarga kami. Selama 1 tahun itu saya mempelajari apakah saya memang bisa menyayangi dia dan hidup selamanya dengannya. Saya terus berserah kepada Tuhan dan mengamati bahwa ternyata bersamanyalah sama sekali tidak ada halangan. Sampai di menit menit terakhir, ada suatu halangan yang akan menguji apakah memang kami akan terpisahkan, yakni Romo yang akan menikahkan kami menentukan waktu perkawinan yang maju hanya 2 bulan dari rencana perkawinan karena beliau akan pergi sabatikal. Ternyata toh semua berjalan lancar. Itu menjadi tanda bagi kami bahwa perkawinan kami kelak akan baik.

    Nyatanya, puji syukur selama 18 tahun ini kami memang mengalami apa yang dituliskan dalam kisah perkawinan di Kana. Serahkan segalanya kepada Tuhan dan Yesus sendirilah yang akan mengubah itu menjadi anggur manis kehidupan. Tentu banyak hal terjadi dalam kehidupan rumah tangga kami, tapi puji syukur kami bisa semakin mengasihi.

    Terbukalah kepada Tuhan dan jangan memaksakan apa yang kita pikir baik. Mungkin itu bukan yang terbaik bagi kita.

    Salam, rin

  7. Thanks Johan,

    Tapi saya luruskan dulu disini, kenapa keluarga saya menyarankan agar saya menikah dulu di KUA lalu pengukuhan di gereja, keluarga saya ingin orang tua dari pacar saya menyetujui atau merestui pernikahan kita berdua (Pernikahan di KUA), karena mereka sangat tidak setuju bila saya menikah dengan anak mereka.
    Sebenarnya saya bisa saja menikah dispensasi di gereja, dalam artian kami menikah diam-diam (tanpa orang tua pacar saya mengetahui) tapi apakah itu baik??? nah maksud dari keluarga saya, saya menikah dulu di KUA lalu baru pengukuhan agar nanti didepannya tidak terjadi masalah dalam artian dengan keluarga pacar saya.
    Nah yang bikin bingung tuch disitu, keluarga saya dan saya sendiri ingin kita berdua menikah baik2 (minta restu dari keluarga pacar saya), sedangkan pacar saya menyarankan agar kita berdua menikah diam2 atau bahasa kerennya disebut kawin lari karena orang tua dari pacar saya tidak akan merestui bila saya tidak pindah agama.
    JBU

  8. @Adrianus, akal-akalan itu akan me-murtad-kan dirimu dari iman Katolik..

    jadi silahkan kamu renungkan lagi kata-katamu ini

    “saya jg ingin menikah secara katolik, saya tidak ragu dan saya bangga menjadi seorang katholik”

    apakah itu cuma kata-kata kosong, atau kamu siap membela imanmu dari bahaya yang dibuat manusia sendiri, dan manusia itu, tentu saja termasuk kamu, yang ingin menikah dengan pasangan beda agama…

    ke-2, jika benar ceritamu, maka saya menduga, akal-akalan itu bisa menjadi potensi masalah di kemudian hari, mengingat orangtuanya sebenarnya tidak menyetujui rencana pernikahan kalian. silahkan kamu baca-baca di ruang konsultasi ini tentang masalah perkawinan pasangan beda agama.. sebaiknya kamu pun menyadari resiko itu pun bisa terjadi dalam pernikahan kalian.

    Nah, jika keluarga pacarmu sebaliknya tidak keberatan jika anaknya menikah di dalam Gereja,bisa dikatakan bahwa resiko itu lebih kecil dibandingkan kamu terpaksa melakukan akal-akalan itu..

  9. …Mas Yudhi, mungkin ini agak menyimpang dikit, tetapi saya akan menanyakan terlebih dulu tentang persiapan pernikahan mas Yudhi benar2 sudah matang.?? atau belum, maksud saya disini juga menyangkut hal financieel ? karena perjalanan hidup setelah perkawinan itu sendiri masih sangat panjang dan penuh tantangan..klo sudah, maaf .. saran kawin lari .. di gereja lain ..itu salah satunya, karena pernikahan itu sendiri tidak berhenti hanya sampai pada pengesah an nya,klo segi materi belum siap, memang idealnya … tinggalkan pacar dan cari yg seiman walau tak mudah/tdk cepat…semua ini pasrahkan saja pada Nya … percayalah…suatu ketika mas Yudhi akan merasakan begitu Dia mencintai mu .. sungguh2 … GBU…

  10. Pro Mas Yudhi, saran kawan Johan dan kawan-kawan lain untuk anda sangat baik. Pilihan menjadi katolik memang bukan pilihan yang mudah. Banyak kesulitan yang harus kita hadapi untuk kebanggaan menjadi katolik.

    Tetapi mereka tidak berada dalam posisi anda sekarang. Konteks isu, masalah, dan tantangan yang mereka hadapi dan anda hadapi jelas berbeda. Terlebih bahwa tidak ada orang lain yang akan memahami relasi anda dengan calon istri selain anda berdua.

    Dalam kasus ini tidak ada orang tua bijak, tak ada orang yang berpengalaman, dan tak ada orang yang bisa memberikan pertimbangan yang valid. Dalam kasus ini anda SENDIRIAN.

    Anda dan calon istri harus memutuskan, apa yang terbaik bagi kalian, dan keluarga. Ingat,pernikahan bukan hanya menyatukan kalian berdua, tetapi juga dua keluarga.

  11. @Litya. anda harus tahu bahwa website ini adalah website Gereja Katolik. Sehingga yang terbaik yang harus disampaikan kepada Yudhi adalah mengikuti ajaran Katolik. Tulisan anda sangat tidak Katolik dan sekuler.
    Jadi sebaiknya jika anda ingin memberi saran seperti ini, silahkan ke website seperti kaskus atau forum umum lainnya.
    Jika kelak Yudhi dan pacarnya mengambil jalan yakni mengkhianati ajaran Yesus dan Gereja-Nya, maka anda pun turut bertanggungjawab atas keputusan yang ia anggap terbaik karena mengikuti saranmu ini.

    Yehezkiel 3:18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! –dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
    3:19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.
    3:20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
    3:21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu.”

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>