Ingin istri kembali

Selamat pagi romo,

Saya ingin pencerahan dari romo mengenai permasalahan rumah tangga saya! Saya dan isteri sama2 katolik! masalahnya adalah: saya sudah memulangkan isteri saya bulan desember (desember 2010) kemarin kepada orang tuanya dengan diwakilkan oleh ibu saya dan saya pun sempat tidak menganggap dia sebagai isteri saya lagi…

Namun berjalan dua bulan ini, saya benar2 begitu menyesal telah melakukan itu semua..dan ingin kembali melanjutkan perjalanan rumah tangga kami! pertanyaan saya:

1. jika saya atau bahkan saya minta agar ibu saya kembali mewakilkan saya untuk meminta kembali isteri saya yang sudah saya pulangkan…apakah saya membuat aib dan ibu saya juga keluarga saya malu dihadapan isteri saya juga orangtuanya?
2. apakah saya berdosa terhadap ibu saya atau keluarga saya termasuk juga ayah serta adik2 saya?
3. saya harus bagaimana menjelaskannya kembali kepada ibu saya atau keluarga saya termasuk ayah saya mengenai keinginan saya untuk membina dan melanjutkan perjalanan rumah tangga kami tanpa membuat mereka kecewa bahkan marah kepada saya juga membuang saya?
4. selama berpisah sementara kurang lebih dua bulan ini..apakah isteri saya bisa di anggap sudah bercerai dengan saya sehingga dia bebas berhubungan cukup serius dengan pria lain sekalipun bukan yang katolik?
5. apakah bisa dibilang isteri saya telah melakukan perselingkuhan atau selingkuh?

Sementara ini dulu pertanyaan saya…kapan waktu saya lanjutkan kembali setelah ada pencerahan dari mohon mengenai permasalahan saya ini.

terima kasih romo,
JCI

3 Responses to “Ingin istri kembali”

  1. sayangnya anda tidak menceritakan mengapa anda mengambil keputusan itu dan ibu anda yang memulangkan isteri anda kepada orang tuanya, sehingga cerita di atas tidak utuh. berikut jawaban dari pertanyaan anda :

    1. jika saya atau bahkan saya minta agar ibu saya kembali mewakilkan saya untuk meminta kembali isteri saya yang sudah saya pulangkan…apakah saya membuat aib dan ibu saya juga keluarga saya malu dihadapan isteri saya juga orangtuanya?

    JAWAB : bukankah aib dan malu itu dirasakan lebih dulu oleh isteri anda dan orang tuanya, saat ibu anda membawa isteri anda pulang kepada orang tuanya ? (dan bukan anda sendiri yang mengantar). Jangan pikir hal itu untuk memulai suatu rekonsiliasi. Dan sudah sepantasnya dan selayaknya, untuk menunjukkan keinginan dan penyesalan yang tulus, anda-lah yang datang menjemput isteri dan bertemu dengan orang tuanya, bukan hanya ibu anda.

    2. apakah saya berdosa terhadap ibu saya atau keluarga saya termasuk juga ayah serta adik2 saya?

    JAWAB : saya kurang paham maksud hal ini. Jika anda melukai kasih kepada Allah dalam kasus ini dengan melanggar janji pernikahan, melukai kasih kepada sesama, termasuk kepada isteri anda dan keluarganya, maka ini adalah sebuah dosa. Tetapi kehendak untuk rekonsiliasi dengan sang isteri, bukanlah sebuah dosa.

    3. saya harus bagaimana menjelaskannya kembali kepada ibu saya atau keluarga saya termasuk ayah saya mengenai keinginan saya untuk membina dan melanjutkan perjalanan rumah tangga kami tanpa membuat mereka kecewa bahkan marah kepada saya juga membuang saya?

    JAWAB : katakan bahwa hal ini adalah suatu kehendak yang dipuji oleh Gereja, yaitu mengampuni dan melakukan rekonsiliasi dengan sang isteri. Ini adalah kehendak Allah. Kamu tidak perlu khawatirkan hal lain termasuk kemarahan keluarga, karena menjalankan perintah Tuhan itu jauh lebih berarti dan mulia dibandingkan mentaati kehendak daging manusia.

    4. selama berpisah sementara kurang lebih dua bulan ini..apakah isteri saya bisa di anggap sudah bercerai dengan saya sehingga dia bebas berhubungan cukup serius dengan pria lain sekalipun bukan yang katolik?

    JAWAB : Pernikahan yang dikukuhkan oleh GEreja KAtolik dan disempurnakan oleh hubungan intim suami isteri adalah sebuah pernikahan yang tidak terceraikan. Jangankan 2 bulan, hanya maut yang bisa memisahkan kalian sebagai pasangan suami dan isteri.

    5. apakah bisa dibilang isteri saya telah melakukan perselingkuhan atau selingkuh?

    JAWAB : ini tidak jelas, karena cerita anda tidak lengkap…Menurut saya, jika ia berhubungan dengan pria lain, tidak bisa dikatakan perselingkuhan, kecuali hubungan itu sudah mengarah kepada komunikasi atau kontak fisik yang tidak wajar dan sepantasnya. Sebaiknya kamu tidak memikirkan hal ini terlalu jauh jika ingin mengusahakan rekonsiliasi dengan isterimu, karena pikiran ini justru bisa menjadi batu sandungan bagimu. rekonsiliasi itu bisa terjadi, apabila baik dirimu dan isterimu, sama-sama menginginkannya, sama-sama ingin berdamai dari permasalahan, sama-sama memperbaiki diri, sama-sama mau berkomunikasi dengan baik, sama-sama memperbaharui janji pernikahan dan menjalaninya dengan ketulusan.

    May God bless your steps..

  2. Yth. Pak JCI,

    waaaahhhh…. yang pasti bapak harus datang ke istri untuk minta maaf dan mengajak berbaikan, menjalin kembali hubungan perkawinan yang penuh kasih seturut kehendak Tuhan. Jangan apa apa diurus ibunya bapak dong! Kalo bapak lagi berantem, bapak minta ibunya bapak untuk mengantar pulang istri. Kalo bapak lagi ada maunya, minta lagi ibunya bapak menjemput…. wah! Jangan gitulah pak! tangan mencencang bahu memikul. Bertanggung jawablah.

    Soal kemudian ibunya bapak datang lagi ke keluarga mertua bapak sih ya monggo untuk tali silaturahmi. Tapi pertama-tama bapak harus memperlihatkan tanggung jawab bapak atas semua keputusan dalam rumah tangga.

    Soal istri jadi punya kesempatan pacaran lagi sih itu resiko bapak laaaah…. kenapa juga istri pake dipulangin segala? Sekarang malah dia di atas angin. Yang penting sekarang datanglah ke istri. Mintalah maaf atas ketidaknyamanan. Bicarakan pokok masalah di antara kalian berdua yang menyebabkan kalian berselisih, carilah solusi. Ajaklah untuk patuh kepada Tuhan. Semoga keluarga kalian sungguh menjadi keluarga kudus.

    Salam berkat Tuhan, rin

  3. Ytc Pak JCI,

    Saya hanya mau sharing bahwa apa yang anda alami ini juga dialami pasangan Katolik lain dan banyak yang berhasil. Ini saya temui ketika mengikuti retret pasutri sebulan lalu. Oleh karena itu mulai saja proses rekonsiliasi dengan tulus. Pastor pembimbing hanya berpesan selalu : ” fokuslah pada membesarkan gandum dan abaikan ilalang” yang artinya fokuslah pada perbuatan baik dan jangan memikirkan hal-hal yang menyakitkan. Kita semua pendosa, namun Tuhan Maha pengampun.

    Tuhan Memberkati.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>