Ingin cerai, tapi luluh lihat anak

Langsung saja,

Orangtua saya cerai di tahun 2003, lalu ayah menikah kembali dan memiliki seorang anak. Sedangkan ibu saya telah banyak menjalin hubungan dengan laki-laki lain sebelumnya. Saya tidak paham siapa yang bersalah, hingga mereka memutuskan bercerai, hal ini karena saya sejak SMA sudah tidak peduli lagi dengan keluarga dan asik dengan narkoba & obat2an terlarang. Tapi akhirnya saya berhenti total sejak 1997, karena hasrat yang kuat ingin menyelesaikan study saya.

Saya menikah di tahun 2005, saat itu usia saya 30th dan istri 31th. Kami juga melalui proses persiapan perkawinan yg diselenggarakan oleh gereja. Hubungan kami singkat sekali, 3 bulan pacaran lalu menikah. Ini karena sebenarnya kami sudah saling kenal sejak tahun 1993 (teman 1 kampus). Namun seperti kebanyakan cerita usang, perbedaan dalam pernikahan adalah wajar, sehingga saya ambil posisi untuk mengerti dan mempelajari karakterpasangan saya.

Saat mengandung anak 1, karena kondisi ekonomi, kami memutuskan untuk melaksanakan proses kelahiran di kota kelahiran saya. Setelah buah hati kami lahir, istri saya sarankan dengan ibu. Namun beberapa bulan kemudian mereka ribut dan istri saya meninggalkan rumah ibu tanpa pamit, dia tinggal dengan kakaknya yang kebetulan 1 kota dengan ibu saya.

Keluarga istri banyak yang tinggal di kota kelahiran saya. Sampai akhirnya mereka punya cerita bahwa ibu saya pernah berpacaran (selingkuh) dengan salah 1 anggota keluarga besar mereka. Singkatnya ibu saya tidak ada harganya di mata istri. Tetapi istri lebih sayang kepada ayah saya, karena menurut cerita yang ia dapat, ayah saya adalah korban dari ibu.

Karier saya naik turun, hingga pernah menganggur 6 bulan tanpa hasil saat anak saya berusia 6 bulan. Lalu istri memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi dalam jarak jauh. Hingga akhirnya istri pernah (mungkin terlalu emosi) berkata bahwa ibu saya: LONTHE, JAHAT, DAN PELIT. Hancur lebur hati saya, saya tau orangtua kami bermasalah tetapi perkataan tersebut sungguh diluar nalar saya. Saya sudah ingin menceraikannya saat itu juga, tapi masukan dari kakaknya membuat saya mengurungkan niat tersebut.

Perjalanan karier saya yg naik turun terus saja berjalan, kerja 1 tahun lalu dipecat, kerja kembali diluar pulau juga tdk diperpanjang kontraknya. Saya selalu berikan 100% gaji saya pada istri, karena saya tahu diri dengan kondisi karier saya. Walaupun punya sedikit tabungan, saat saya tanpa pekerjaan di kota lain dan tanpa uang sepeserpun istri tidak mau mengirim, alasannya kebutuhan gizi anak kami tidak bisa di-stop. Saya terima alasannya. Saya bekerja sebagai pembatu tukang batu, pokoknya asal cukup buat diri sendiri.

Satu tahun yang lalu saya bekerja di perusahaan (atas rekomendasi mertua kepada salah satu saudaranya), dan posisi saya cukup bagus, dengan gaji yang baik. Karena posisi tersebut saya jadi sering mendapatkan tambahan. Dalam 1 tahun tersebut kami mampu membeli tanah, motor, dan bahkan mobil
tua.

Tapi saat saya tanpa pekerjaan seperti sekarang, saat dirumah raut muka istri saya cemberut, dan saya selalu disuruh pergi dari rumah, karena dia malu punya suami pengangguran. Akhirnya saya pun pergi untuk mencari pekerjaan kembali. Sebenarnya saya sudah tidak respect thd istri, namun jika ingat putri kami yang sehat dan pandai serta melihat mereka berdua tidur lelap saat malam saya jadi luluh.

Saat ini saya ingin melihat anak, karena sudah 1 bulan lebih tidak dirumah. Ada catatan tambahan, bahwa saya pernah bekerja di tambang batubara dengan jadwal 4-2 (4 bulan on site, 2 minggu libur). Jadi saat putri kami berusia 3 tahun saat ini, saya tidak lebih dari 6 bulan bersamanya.

Namun saat saya telpon istri untuk pulang, dia sudah menanyakan kapan saya akan balik lagi mencari kerja di kota saya saat ini. Saya pernah tinggal dirumah mertua selama +/- 1,5 bulan tanpa kerja, tetapi saya tetap membantu melakukan pekerjaan rumah dirumah mertua (cuci piring, cuci baju orang serumah, dll), serta menjadi loper koran.

Saya merasa berat sekali jika ingat anak, tetapi hasrat untuk menceraikan istri semakin hari semakin mengerucut. Saya bingung romo. Mohon bisa diberi nasehat.

Terimakasih
CAM

7 Responses to “Ingin cerai, tapi luluh lihat anak”

  1. CAM,

    1. apa yang terjadi dengan pekerjaan yang membuatmu hidup lebih baik selama 1 tahun itu ? anda di pecat atau anda mengundurkan diri ?

    2. apa alasan kamu menceraikan isterimu ? lalu apa yang kamu harapkan setelah bercerai terjadi pada anakmu ?

  2. Sdr. CAM,

    Saya ingin menelusuri alur cerita Anda yang banyak menimbulkan pertanyaan.
    Penjelasan Anda yang tidak lengkap mengandaikan bahwa Anda bukan dari keluarga Katolik, begitu juga pernikahan Anda juga belum tentu di gereja Katolik.

    Anda sudah saling kenal dengan isteri sejak tahun 1993 (teman 1 kampus). Nampaknya Anda termasuk anak yang pandai karena dalam umur18 tahun sudah kuliah (th.2005 berumur 30 thn), walaupun waktu SMA terlibat narkoba, dan cukup bijaksana dengan kalimat…saya ambil posisi untuk mengerti dan mempelajari karakter pasangan saya.

    Selanjutnya menunjukkan kemungkinan bahwa sebetulnya karakter Anda kurang baik.
    ….. kerja 1 tahun lalu dipecat, kerja kembali diluar pulau juga tdk diperpanjang kontraknya.
    ….. saat saya tanpa pekerjaan di kota lain dan tanpa uang sepeserpun istri tidak mau mengirim
    ….. saya bekerja sebagai pembantu tukang batu ….

    Satu tahun yang lalu saya bekerja di perusahaan (atas rekomendasi mertua kepada salah satu saudaranya), … Dalam 1 tahun tersebut kami mampu membeli tanah, motor, dan bahkan mobil
    tua….tetapi sekarang tanpa pekerjaan.

    Anda mengatakan bahwa … pernah menganggur 6 bulan tanpa hasil saat anak saya berusia 6 bulan. Berarti selama Anda bekerja di tambang batubara Anda tidak pernah pulang walaupun tiap 4 bulan libur 2 minggu.

    …saya pernah bekerja di tambang batubara dengan jadwal 4-2 (4 bulan on site, 2 minggu libur). Jadi saat putri kami berusia 3 tahun saat ini, saya tidak lebih dari 6 bulan bersamanya…
    Dari kalimat ini saya tarik kesimpulan bahwa kalau dalam 4 bulan Anda hanya bertemu 2 minggu dengan putri Anda, maka untuk bisa bertemu anak dengan total waktu 6 bulan Anda harus bekerja 4 (empat) tahun.

    Ini tidak konsisten dengan cerita Anda, atau sampai berapa lama sebetulnya Anda bekerja di tambang batubara?

    Sebenarnya saya sudah tidak respect thd istri … Akh Anda bercanda. Seharusnya Anda mampu bangkit, sebagaimana pernah bangkit dari narkoba. Tunjukkan bahwa Anda mampu bertindak sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya.

    Soal menceraikan istri…minta ampunlah kepada Tuhan untuk niat kuang baik Anda, dan jangan sekali-kali dipikirkan lagi.

    Yang penting : bangkit – bangkit dan bangkit. Semoga Tuhan menguatkan kehendak Anda.
    Maaf kalau tulisan saya terlalu vulgar.

  3. Dear CAM,
    penderitaan anda memang berat, pasti.
    Tapi toh anda tau bahwa karena anda menikah secara Katolik maka anda tidak dapat bercerai dalam Hukum Kanonik. Oleh karenanya, saran saya BEKERJALAH!
    kelihatannya asalkan anda bekerja dengan baik dan mempunyai penghasilan yang cukup maka persoalannya bisa selesai, dalam arti istri anda akan bisa terima anda lagi, kalian bisa kumpul sekeluarga di 1 rumah, bisa makan bisa tidur, anak bisa sekolah. Beres kan?

    Soal istri berantem, istri omong kasar, istri benci ibu anda… saya kira itu hanya karena dia tertekan oleh karena kurang uang. Bekerjalah supaya anda punya harga diri. Nanti kan istri anda bisa diatur. Buktinya tadinya kan dia juga patuh kepada anda, mau disuruh tinggal di rumah ibu anda, mau disuruh ngurus anak. Lain halnya kalo masalahnya istri tidak patuh karena memang dia suka selingkuh dll.

    Jangan pikir pikir mau cerai karena cerai itu bukan penyelesaian yang baik. Coba pikir, anda mau cerai dimana? Pengadilan Negeri? Itu perlu ongkos, waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dari pada disiasia untukmengurus hal sia sia begitu ya mending cari kerja yang baik. Toh anak dan istri sudah biasa pisah dari anda, ya anda punya kesempatan kerja keras banting tulang.

    Hal yang lain berbaiklah dengan istri anda. Jangan kasar. Saya kenal ex napi yang dipenjara bertahun tahun. Istrinya sudah ikut orang tuanya lagi dan seluruh keluarga besar mereka sudah menolak si ex-napi. Tapi ex-napi ini bisa bicara baik baik dengan istrinya untuk sabar. Istrinya tetap di rumah ortunya dan si ex-napi usaha kerja. Ya sulit, tapi akhirnya mereka bisa baik lagi. Yang penting ada komunikasi yang menyenangkan dan istri lihat bahwa suami sudah berusaha kerja.

    Jangan lupa rajin berdoa ya! Yang lebih mantab bila doa itu diucapkan berdua suami istri dalam keadaan rukun.

    salam, rin

  4. @ Sdr. Johan :

    1. apa yang terjadi dengan pekerjaan yang membuatmu hidup lebih baik selama 1 tahun itu ? anda di pecat atau anda mengundurkan diri ?

    2. apa alasan kamu menceraikan isterimu ? lalu apa yang kamu harapkan setelah bercerai terjadi pada anakmu ?

    Jawab :
    1. Saya bekerja di perusahaan pemasok alat teknik untuk perusahaan perminyakan.
    Dipecat. Pemilik mengatakan kalo teamwork saya kurang. Saya down +/- 1 bulan sebelum dipecat karena bonus yang dijanjikan tidak sesuai dengan yang diberikan.
    2. Tidak bisa tenang dalam menghadapi proses kehidupan, tidak ada rasa bersalah setelah mengatakan sesuatu tentang ibu saya, merasa dia & keluarganyalah yang paling benar, tidak bisa mengerti kondisi orang lain yg sedang bingung, selalu berkata yang menginginkan supaya saya segera pergi dari rumah.
    Anak? Saya selalu menghargai apa yang menjadi tanggung-jawab saya. Setelah kelak berpisah, saya sudah katakan pada istri bahwa saya akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan materialnya. Dan saya juga ingin bisa bertemu anak saya sewaktu-waktu.

    @ Sdr. Yohanes PR

    Respon terhadap :

    1. Saya ingin menelusuri alur cerita Anda yang banyak menimbulkan pertanyaan.
    Penjelasan Anda yang tidak lengkap mengandaikan bahwa Anda bukan dari keluarga Katolik, begitu juga pernikahan Anda juga belum tentu di gereja Katolik.

    >Mungkin benar jika cerita saya tidak terkonstruksi dengan baik dan terkesan campur-aduk, alurnya maju-mundur gak karuan.
    >Saya dari keluarga katholik tulen, keluarga ayah yang lebih variatif dalam beragama.
    Pernikahan saya resmi, kami kursus di Kathedral Bogor, dan melangsungkan pernikahan di Gereja Surabaya.

    2. Ini tidak konsisten dengan cerita Anda, atau sampai berapa lama sebetulnya Anda bekerja di tambang batubara?

    >2005-Agustus 2006 : PT A, resign
    >Agt 06-Jan 2007 : PT B, resign
    >Jan 07-Jul 2007 : Jobless
    >Agt 07-Agt 2008 : Batubara, selesai kontrak
    >Sept 08-okt 2009 : PT C, dipecat.

    >Saya juga sudah tau kalau saya orang yang sangat bermasalah.

    >Di PT B. Kerja di tambang 4 bulan setelah itu gaji dinaikkan tapi akhirnya dipecat.
    Untuk karier saat di tambang, saya diberi tahu dari mantan client perusahaan kami (kebetulan beliau yang bertanggung-jawab atas seluruh kinerja kontraktor), bahwa sebenarnya saya dicalonkan untuk menjadi Leader Bisnis perusahaan disana, tapi entah mengapa tiba-tiba semuanya berbalik. Mnrt beliau ada orang yg tidak suka. Tapi tidak saya gubris info itu, karena saya yakin kalo kerja saya bagus tidak ada satupun yg bisa membuat penilaian orang lain dan pimpinan goyah atas kinerja saya. Jika benar seperti cerita kawan saya tadi, ya harus diterima, bahwa tipe manusia lain2 dalam bekerja, dan saya memang harus diberhentikan karena tidak lihai mengolah suasana.

    >Di PT C, kerja belum setahun dapat bonus (tdk pernah dilakukan Bos PT C sebelumnya) tapi akhirnya dipecat juga. Info yang saya dpt juga seperti diatas, tp tetep gak saya gubris. Saya asumsikan memang bukan tempat yang baik buat karier saya. Banyak cerita konyol, tp biar jadi kekayaan alam pikiran saya saja.

    3. Soal menceraikan istri…minta ampunlah kepada Tuhan untuk niat kurang baik Anda, dan jangan sekali-kali dipikirkan lagi.

    >Saya sudah berpikir dalam kondisi emosi puncak dan hasilnya tetap sama. Saat lebih hening toleransi muncul kembali. Tp beberapa hari kemudian, ada saja ulah istri yang menjengkelkan.
    Rasanya koq lebih enak & enjoy jika kita pisah.
    Mengolah emosi memang sedang saya pelajari.

    4. Yang penting : bangkit – bangkit dan bangkit. Semoga Tuhan menguatkan kehendak Anda.
    Maaf kalau tulisan saya terlalu vulgar.

    >Terimakasih. Tidak vulgar koq, karena kritik = perhatian.

    @ Ibu Rini

    1. penderitaan anda memang berat, pasti.
    Tapi toh anda tau bahwa karena anda menikah secara Katolik maka anda tidak dapat bercerai dalam Hukum Kanonik. Oleh karenanya, saran saya BEKERJALAH!
    kelihatannya asalkan anda bekerja dengan baik dan mempunyai penghasilan yang cukup maka persoalannya bisa selesai, dalam arti istri anda akan bisa terima anda lagi, kalian bisa kumpul sekeluarga di 1 rumah, bisa makan bisa tidur, anak bisa sekolah. Beres kan?

    >Saya tidak pernah berpikir dan ingin menjadi pengangguran.
    Saya bekerja keras, jika dimungkinkan ada alat deteksi masa lalu beserta komentar teman sejawat, rasanya saya bersedia untuk cross-check untuk urusan ini.

    2. Soal istri berantem, istri omong kasar, istri benci ibu anda… saya kira itu hanya karena dia tertekan oleh karena kurang uang. Bekerjalah supaya anda punya harga diri. Nanti kan istri anda bisa diatur. Buktinya tadinya kan dia juga patuh kepada anda, mau disuruh tinggal di rumah ibu anda, mau disuruh ngurus anak. Lain halnya kalo masalahnya istri tidak patuh karena memang dia suka selingkuh dll.

    >Uang mungkin kurang bu. Namun jika diasumsikan uang untuk keluarga +/- 1,5juta/month saya kira pendapatan 2 tahun terakhir masih cukup
    untuk 1 tahun kedepan.
    >Untuk mengurus anak, itu pilihan dia, sejak pendekatan pribadi dia sudah lontarkan tidak mau kerja dan ingin fokus pada pendidikan anak.
    Saya suka sekali dengan ide dia tentang yang satu ini, karena ada kemungkinan saya menjadi “orang bermasalah” adalah karena tidak ada yang mengarahkan saat orangtua bekerja. Saya tidak pernah menyalahkan orangtua, tp ada beberapa hal yang tidak terkontrol saat menunggu kepulangan orangtua pulang dari bekerja. Point ini yang ingin saya coba perbaiki pada anak saya.
    >Tinggal dirumah ibu, ya berat memang untuk beradaptasi dengan oranglain walaupun itu adalah orangtua pasangan kita. Tapi dia tinggal dengan ibu saya tidak lebih dari 2 bulan. Dia meninggalkan rumah ibu saya karena tidak dibelikan “GUDHEG” makanan khas Jogja, padahal dia dengar pada pagi itu ibu saya menyuruh pembantu beli gudheg untuk sarapan, saat istri saya bangun tidur (ibu saya sudah berangkat ke kantor) dia tidak mendapati gudheg di meja makan. Dan setelah itu dia pergi membawa anak saya kerumah kakaknya tanpa pamit dengan orangtua saya. Hmmm… lelah bu.
    >Untuk selingkuh, brarti saya tinggal menunggu waktu untuk dia berselingkuh agar alasan saya semakin masuk akal ya bu (becanda bu). Tampaknya istri saya bukan tipe yang itu. Setau saya dia baik untuk urusan ini. Begitu juga saya, tidak pernah melakukan hubungan sex diluar nikah setelah menikah dengan istri saya (kecuali chatting dengan idola saya saat di SMP, maaf).

    3. Jangan pikir pikir mau cerai karena cerai itu bukan penyelesaian yang baik. Coba pikir, anda mau cerai dimana? Pengadilan Negeri? Itu perlu ongkos, waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dari pada disiasia untukmengurus hal sia sia begitu ya mending cari kerja yang baik. Toh anak dan istri sudah biasa pisah dari anda, ya anda punya kesempatan kerja keras banting tulang.

    >Sudah dilakukan bu. Menjadi pembantu tukang bangunan pernah saya lakukan +/- 2 bulan. Untuk catatan bu, kerja terakhir di bangunan selama +/- 4 hari, saya tertarik lowongan sebagai sales dengan sistem recruitment walk-interview. Besoknya saya sengaja tidak kerja. saat masuk kerja lagi, mandor tdk memperbolehkan dengan alasan belum kerja seminggu sudah bolos. Tapi saat diminta uang yang jadi hak saya, dibayar cuma 3 hari.
    Sebelum kejadian itu, saya pernah bekerja pada mandor lain, awalnya lancar, tp tiba2 pekerjaan dihentikan karena kerja-batu habis, dan dijanjikan upah dibayar besok. Sampai detik ini saya belum terima gaji 1 minggu terakhir tsb. Saya sempat mencari-cari rumah mandor itu, saat saya sampai dirumahnya dan melihat kondisi rumahnya, rencana nagih saya urungkan karena tidak tega. Tapi saya cuma tersenyum, mungkin biar tau kelicikan kehidupan diluar.
    Hal lain, saya juga tidak ingin menyia-nyiakan hasil study saya, kasihan orangtua saya yang telah mati-matian menyekolahkan saya jika tetap menekuni profesi diatas. Bukan ingin merendahkan profesi orang lain (maaf jika ada yang tersinggung), saya mau melakukan profesi diatas tapi untuk sementara saja. Saya juga tidak mau dianggap menimbun talenta dalam liang, setelah itu saya urug dan saya tinggal pergi.
    >Bukan sok ingin benar bu, tapi tolong bisa dihargai kerja keras saya (hal ini sudah saya katakan pada istri).
    Dia nurut, tp 1 minggu kemudian kambuh lagi usilnya.
    Saat ini saya bantu bisnis teman tanpa gaji, karena bagi saya yang terpenting bisa akses internet gratis agar bisa kirim lamaran on-line. Tidur dikantor temen, kalo perasaan sudah terasa gak enak saya tidur dimobil (1 buah mobil saya bawa) tapi jauh dari kantor temen tsb, dan kembali keesokan harinya.
    Masih kurang keras ya bu, kritikan anda saya terima, memang benar mungkin kurang dibanting lagi tulang ini.
    Karena mobil saya sudah laku (80% sudah saya kirim pada istri), minggu ini saya memutuskan pindah ke kota lain yang saya asumsikan lebih berpeluang. Semoga jd kenyataan asumsi saya tadi.

    4. Jangan lupa rajin berdoa ya! Yang lebih mantab bila doa itu diucapkan berdua suami istri dalam keadaan rukun.

    >Baik bu.

    To : All

    Bermanfaat bagi saya, dan benar kata orang bahwa : “Jadi orang katholik itu susah!!”
    Terimakasih atas masukannya.

  5. Dear CAM,

    Membaca penjelasanmu, 1 saja komentar saya: kelihatannya anda memang kurang focus. Ada banyak orang yang tahan kerja di 1 tempat hingga 30 tahun, tapi anda sebentar sebentar pindah, apapun alasannya. Sudah gitu punya istri baik gitu koq masih pengen cerai. Itu karena anda memang tidak focus. Coba latihan focus ya! Latihan bersyukur atas apa yang ada dan tidak melulu kurang ini itu. Punya ibu yang masih kerja kantor itu kan bagus untuk diteladani. Sudah sepuh tapi masih kerja. Ikutlah teladan ibu.

    salam, rin

  6. Saya ulangi sekali lagi tanggapan saya kepada Sdr. CAM karena ada beberapa kalimat yang hilang, sbb.:

    Sdr. CAM

    Membaca tanggapan Anda saya menilai bahwa Anda cukup berpikir panjang untuk bercerai dengan istri, tetapi kelihatannya sangat bersifat egosentris ..
    >Rasanya koq lebih enak & enjoy jika kita pisah.

    Kalau (kesan) egosentris itu memang merupakan sifat Anda, maka saya tidak heran kalau Anda tidak betah bekerja dengan orang lain, padahal sebetulnya yang tidak betah dengan Anda adalah orang-orang lain itu.

    Kesan egosentris itu menjadi lebih kuat ketika Anda menutup tanggapan Anda dengan kalimat…
    > …dan benar kata orang bahwa : “Jadi orang katholik itu susah!!”
    Mungkin Anda berpikir bahwa seandainya Anda bukan seorang katolik maka Anda tidak akan terjerat narkoba, orangtua tidak cerai, pekerjaan mudah didapat, istri nurut sekali dsb.dsb. Ini terlalu naif.

    Di lain pihak Anda mengatakan bahwa :
    >Saya dari keluarga katholik tulen, keluarga ayah yang lebih variatif dalam beragama.

    Dalam hal ini mungkin Anda perlu lebih introspeksi…betulkah pernyataan Anda itu ?
    Silahkan menjawab pertanyaan2 di bawah ini dengan jujur, secara pribadi, ciri-ciri seorang katolik yang dianggap tulen, (bukan karena sekedar terima baptisan – bahkan sejak bayi sekalipun) apakah Anda termasuk di dalamnya :
    1. berdoa sebelum dan sesudah makan/tidur
    2. mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan, wilayah atau paroki
    3. menerima sakramen tobat sebagai bentuk penyesalan dan kerendahan hati
    4. mengikuti misa hari minggu dengan tertib dan tekun (mis. tidak terbiasa terlambat)
    5. dalam keluarga katolik tulen tidak ada perceraian / perselingkuhan
    6. berusaha membiasakan diri untuk membaca Alkitab.
    7. sesekali mengikuti retret atau rekoleksi
    Spiritnya adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

    Saya anjurkan agar Anda latihan melakukan introspeksi atau pemeriksaan batin (yang oleh orang-orang katolik biasanya dilakukan sebelum tidur) hal-hal apa saja yang menyebabkan orang lain menilai negatif terhadap Anda, dan tanpa berusaha membela diri – mencoba menerima kenyataan itu (bahwa dinilai negatif) dan dengan rendah hati mencoba mengubah diri dengan memenuhi “tuntutan” lingkungan itu sejauh tidak membahayakan keselamatan jiwa/iman.
    Apabila Anda melakukannya dengan tekun dan ikhlas sepenuh hati, berdamai dengan Tuhan dan semua orang, maka jalan yang mulus akan terbuka bagi Anda.
    Semoga Allah Bapa mengutus Roh-Nya untuk mengu

  7. CAM, menurut saya, daripada anda memikirkan perceraian, lebih baik kamu memikirkan bagaimana anda bisa menjadi orang yang lebih baik. Sebaiknya anda mencari bantuan jika anda sendiri tidak dapat melakukannya. Cari orang-orang yang dapat memotivasi dan inspirasi bagi diri anda.

    anda terkesan melulu menyalahkan entitas di luar diri anda, tidak pernah dalam cerita anda melakukan instropeksi diri. Apakah anda melakukan semua itu dengan gembira dan penuh syukur.

    contoh dari cerita anda : bonus kurang saja anda sudah mempengaruhi kinerja anda. itu berarti anda tidak memiliki motivasi yang kuat untuk menjalankan aktivitas anda. namanya juga bonus, besar kecil tidak jadi ukuran, karena itu adalah pemberian perusahaan yang diberikan berdasarkan pertimbangan dari prestasi kerja dan tidak terlepas dari kinerja perusahaan secara keseluruhan. jadi kalaupun kecil, bila dapat, harusnya disyukuri, bukan kecewa.

    Anda pernah menjadi loper koran, bukan ? tahukah anda, di lingkungan saya ada seorang loper koran, yang kemudian perlahan-lahan memiliki kios koran dan majalah kecil di pinggir jalan dan kemudian bisa mencicil motor untuk menjalankan pekerjaannya ?

    jadi again, sebaiknya anda memperbaiki diri anda menjadi orang yang lebih baik, daripada memikirkan perceraian. Perceraian hanya membuat anda mendapat nilai lebih buruk dari orang-orang di sekitar anda, karena dipandang sebagai kegagalan lain dalam hidup anda. salah satu caranya sudah saya sebutkan di atas. Setelah belajar mencari motivasi dan inspirasi, mulailah menggali potensi diri anda. Lalu mulailah hidup baru dimulai dari hal-hal kecil yang senantiasa anda syukuri. Syukur… ini adalah hal kecil yang bisa anda pelajari untuk anda lakukan setiap hari anda membuka mata di pagi hari dan menutupnya di malam hari..

    May God bless your steps..

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>