Ingin belajar agama
Salam. Saya Laurie. Ingn crht dan mnt solusi. Sy lahir dlm keluarga penganut kristen,tp tdk tahu pst jg. Krn pnddkn agma dlm klrga sngt krg. Mama papa tdk pnh mngjrkn scr khsus tt agma yg kami anut. Dan sy tdk pernah pduli akn hal itu. Hal itlh yg mmbuat sy jauh dr khdpn agma, sy jrg brbdat aplg k grja. Smp saat in pun sy jg blm phm psti dgn kyknan sy. Stlh lulus smp sy ikt keluarga tante sy yg pnganut katolik. Kta mama, krsten katolik it sma sja mkanya mama blg sy akn baik2 sj dgn tante. SjK it sy kalo k grj, grj ktolik. Nmun smpai saat ini sy msh srg bngng sndr kalo dtny agma sy apa. Sy bngng jg yg bnr itu katolik apa krsten yg hrs sy anut, dan bedanya apa kok pakai istlh agm krsten agm katolik krn sy tahunya sm2 mngkui yesus sprt kt mama sy. Tlg jwbnnya sy scptnya.
Laurie







singkatnya demikian, Gereja Katolik percaya bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus, yang dibangun di atas batu karang. Petrus, murid-Nya, adalah pemimpin pertamanya. Dan Paus Benediktus XVI, sekarang, adalah penerusnya.
Protestan lahir di abad ke-16, karena “pemberontakan” seorang pastor, bernama Martin Luther. Dan akhirnya Protestan terpecah-pecah menjadi ribuan denominasi yang tersebar di seluruh dunia.
walaupun mengakui, Kristus adalah penyelamat dunia, tetapi sebenarnya tidaklah sama. Contohnya saja Kitab Suci Gereja Katolik terdiri dari 72 Kitab (awalnya 73, tetapi konsili Trente menetapkan kitab ratapan sebagai bagian dari kitab nabi Yeremia), sedangkan Protestan hanya 66 Kitab. Martin Luther telah membuang 7 kitab dari perjanjian lama.
Ajarannya pun banyak yang berbeda dengan ajaran Gereja Katolik(catatan : bahwa masing-masing denominasi Protestan pun memiliki ajaran Kristen yang berbeda-beda), contohnya : mengenai baptis bayi (Katolik mengenal 7 Sakramen, yaitu sakramen baptis, sakramen Ekaristi, sakramen penguatan atau Krisma, sakramen tobat, sakramen perkawinan, sakramen Imamat dan sakramen pengurapan; sedangkan pada umumnya Protestan hanya 2 sakramen, yaitu baptis dan perjamuan kudus), ajaran mengenai api penyucian, doa melalui perantaraan Para Kudus, termasuk penghormatan kepada Bunda Maria, pemahaman mengenai perjamuan Kudus, dan masih banyak lagi. Tradisi Suci(“T” besar) merupakan juga pondasi iman Katolik, selain Kitab Suci dan Magisterium Gereja. Sedangkan Protestan hanya kepada Kitab Suci saja. Apa beda Tradisi Suci dengan tradisi (“t” kecil) ? Tradisi Suci merupakan ajaran Para Rasul baik lisan [ajaran para Rasul yang secara konstan dipelihara, dijalankan, dihayati dan dijaga oleh Gereja- bisa dilihat dari tulisan-tulisan Para Bapa Gereja dan keputusan Gereja baik konsili lokal maupun ekumenis] maupun tulisan.
Harta kekayaan iman Gereja Katolik sangaaaaaaaaaaaaaaat banyak.. jika kamu ingin tahu, kamu bisa bertanya langsung kepada Imam Katolik atau pengajar Iman Katolik atau bisa juga bertanya di sini atau di forum online Katolik seperti di http://www.ekaristi.org/forum..
untuk sementara itu dulu.. May God bless your steps..
betul sekali apa yg dikatakan oleh sdr. Johan mngenai Martin Luther yg adl “pemberontak”. Martin Luther “Memberontak” karena beberapa hal yakni:
1). menolak pemahaman katolik (roma) yg menyatakan bhwa keselamatan diperoleh krn prbuatan. menurut Luther keselamatan/pembenaran manusia hanya oleh anugerah Allah. selanjutnya, perbuatan baik merupakan usaha yg diperlukan sebagai wujud ungkapan syukur atas pembenaran tersebut. Luther mndasarkannya pada Rm. 1:16-17.
2). adanya penjualan “surat penghapusan siksa” di Wittenberg. makna surat itu ialah bahwa dengan membelinya jiwa seseorang yang sudah meninggal dapat dibebaskan dari api penyucian, walaupun ‘bukan’ dari neraka. “Begitu uang gemerincing dalam peti, jiwa melompat dari api penyucian”. tetapi rakyat biasa percaya bahwa dosanya bisa diampuni hanya dengan membeli surat itu. Luther marah besar. (Ia pasti lebih marah lagi sekiranya ia mengetahui bahwa uang dan surat-surat itu dipakai untuk membeli keuskupan agung baru lagi dari paus untuk Pangeran Albertus).
3). pajak-pajak yang harus dibayar oleh rakyat jerman kepada gereja roma.
4). kemunafikan para klerus dalam perbuatannya masing-masing. (ini dilihat Luther ketika ia berada di Roma).
5). gereja roma menjadikan “tradisi” sebagai otoritas yang setingkat dengan Alkitab (Firman Allah). padahal “tradisi” itu tidak lebih dari sekedar isapan jempol belaka, dongeng. pembodohan yang dikukuhkan oleh gereja roma untuk mempertahankan otoritasnya, tanpa ada bukti yang otentik.
6). Luther menolak jumlah sakramen gereja roma karena tidak memiliki dasar yang otentik dalam Alkitab sebagai perintah Tuhan Yesus.
7). Luther menolak 7 kitab dalam Perjanjian Lama (PL) krn kitab-kitab tersebut bukan disahkan oleh para seluruh rabi Yahudi di Konsili mereka tahun 90-100M di Jamnia. di samping itu, pada kenyataan yg sebenarnya, kitab-kitab tersebut ditambahkan oleh gereja roma untuk mendukung doktrin-doktrin (ajaran) yang telah mereka bentuk. sementara doktrin-doktrin tersebut sulit untuk dicari dasar alkitabiahnya dalam kitab PL yang diterima oleh Luther. tulisan-tulisan bapa gereja yang menjadi dasar gereja roma untuk mendukung pengesahan 7 kitab yg lain, tidak dapat menjadi alasan yg benar bagi Luther. sebab pengesahan (kanonisasi Alkitab PL-PB sudah selesai pada masa sebelumnya).
8). arogansi pada klerus atas dasar kebijakan paus yang tidak mengizinkan Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa masing-masing agar dapat dibaca dan dimengerti oleh umat Allah yang lainnya. (jd Alkitab yg anda baca dlm bahsa Indonesia itu tidak lebih dr usaha Luther pd msa lalu utk mereformasi ajaran dr gereja roma).
9). menolak paham infalibiltas paus (paus yg tidak dapat salah) dan mengklaim bhw paus adl “pengganti” Kristus (vicariat christo). toh, pd hakikatnya paus tdk lbh merupkan manusia biasa spt yg lainnya, tentu ia adl org brdosa dan dpt salah. (sejarah tlh membuktikan bhw paus adl inspirator utk perang salib 1-12 yg memakan bnyak korban jiwa, tentunya melalui perang dn pembunuhan. lalu adanya paus perempuan dahulu kala. selanjutnya keputusan-keputusan paus pd zaman Luther). hal ini hanya menyeret Luther kpd pandangan bhw paus adl anti-kristus yg mmbawa umat Allah kpd era kegelapan (baca kmbali buku-buku sejarah teologi secara obyektif).
10). DLL…
umat Reformasi mmg terpecah menjadi banyak aliran dn institutional oleh krn trdapat kebebasan di dlmnya utk memahami Firman Allah scr bersama-sama (kelompok). di dlm tubuhnya jg tidak ada tindakan otoriter yg akan mmbakar, menyiksa, dn membunuh scra sadis org2 yg dianggap bidat spt yg dilakukan greja trdahulu mlalui “inkuisisi”nya yg sangat trkenal, menyeramkan, biadab dn brtentangan dgn kehendak Allah yg suci. gereja-gereja yg berada di area reformasi lbh memilih utk mnggunakan cra2 damai spt yg dihendaki oleh Tuhan Yesus Kristus. di samping itu, walaupun brbeda-beda namun greja rformasi tetap satu jua (bhineka tunggal ika). kenapa..???krn gereja ini mengimani dan mengamini bhw scr institutional dn dogmatis (scr trlihat) mrk brbeda namun pd hakikatnya mrk adl anggota tubuh Kristus yg sama (scr tdk trlihat). bhkan gereja ini pd akhirnya mmandang gereja roma sndiri mrupakan bagian dr tubuh Kristus yg sama itu.
syukur kpd Allah, pd masa paus Yohanes Paulus III, gereja Katolik Roma mengambil manuver yg sangat mengejutkan dgn sikap inklusifnya yg menghormati prbedaan di antara agama-agama dn pd agama reformasi (protestan) yg diakui sbg “saudara-saudara jauh”. paus juga secara mengejutkan memperlihatkan sikap kepemimpinannya yg besar dgn mengakui segala kesalahan para pendahulunya dn institusinya. bahkan kami (yg berada di “kandang” reformasi/protestan)telah banyak belajar dari paus yg kami hormati ini mengenai banyak hal: sikap (integritas), kepemimpinannya, obyektif, sifat pmbawa damai, solidaritas terhadap sesama manusia, rela brkorban dn hamba Allah yg setia. serta membuang sifat picik dr tubuh Kristus yg brbeda.
jadi, untuk sdr. Ingin Belajar Agama, saya harap anda tindak mmandang postingan ini sebagai perdebatan agama. tapi mncoba utk lebih jernih dn obyektif mmandang sejarah dn doktrin. kami mendukung anda menjadi penganut Katolik krn bisa jadi Allah mnghendakinya dan menginginkan anda mengenal Kristus sebagai Tuhan dn Juruselamat anda dan brtumbuh dlm iman melalui gereja (kandang domba) yg ini. biarlah perbedaan tetap menjadi perbedaan. smoga dlm prbedaan kt tetap saling mnghormati dn mengasihi dlm Tuhan Yesus Kristus sbg Sang Kepala Gereja. salam damai.
hmm… saya merasa ada ketidaktulusan anda posting di sini, saya merasa anda punya alasan tersembunyi…dan hal itu tidak terlihat oleh Moderator.. jika ini terus berlanjut (posting tanpa filter yagn kuat) sayang sekali, kelak website ini akan banyak berisi dakwah agama seperti ini.
postingan anda seakan ingin menunjukkan kebenaran bahwa Luther memberontak karena kebenaran ?
Pehamaman anda tentang hal itu juga dangkal.. kita buktikan saja di sini, semoga bermanfaat bagi umat Katolik untuk membela iman KAtolik dari “Serangan” semacam ini.
1. Paham Sola Fide (Hanya iman) sendiri tidak alkitabiah. Luther dalam Kitab Suci terjemahan bahasa jerman-nya menambahkan kata “Hanya” di surat Paulus untuk umat di Roma.. dimanakan itu ? di Roma 3:28. Untuk apa ? supaya sejalan dengan doktrin-nya tentu saja.Padahal di surat Yakobus sudah ada kata “Hanya iman” yaitu di Yakobus 2:24… “You see that a man is justified by works and not by faith alone” Bahkan Luther hendak membakar Kitab Yakobus ini. [Luther 34:317]
2. what “surat penghapusan siksa” ? maksud ada “penghapusan dosa” (kebanyakan Protestan menyebutnya demikian) saya pernah menuliskan di sini mengenai hal tersebut..saya copas lagi di sini : Mengenai surat pengakuan dosa yang dijual. SEbenarnya lebih tepatnya mengenai surat indulgensi. Isu adanya surat penghapusan dosa dihembuskan oleh Protestan yang diawali oleh penolakan Martin Luther. Pada masa Martin Luther, Gereja sedang membutuhkan dana, yaitu untuk perang salib dan membangun BAsilika St. Petrus. Nah, itu sebabnya Gereja membutuhkan sumbangan dari umat. Umat yang ingin menunjukkan pertobatannya dapat memberikan sumbangan ini (walaupun juga ada cara-cara lain). Tetapi karena sedang membutuhkan dana, maka Gereja menggalakkan tobat dalam bentuk sumbangan. maka diterbitkanlah kertas indulgensi yang bisa dibeli. Saat itu ada seorang bernama Johann Tetzel yang diutus Roma untuk mengajar mengenai indulgensi di kota2 di Jerman. Tetzel sangat bersemangat dalam mengajar dan mem”promosi”kan lembar indulgensi sebagai sumbangan. Namun Luther tidak setuju terhadap ajaran indulgensi, apalagi keberadaan lembar indulgensi yang ditawarkan, karena menganggap merendahkan korban Kristus. maka ini juga menjadi alasan Luther memberontak dari Gereja Katolik. Ia mengeluarkan tuduhan serius kepada Tetzel dalam 75 tesis-nya dan juga diulang kembali dalam suratnya kepada uskup agung Albrecht bahwa Tetzel telah memberi pengajaran sesat mengenai Perawan Maria. Tetapi semua tuduhan itu tidak terbukti. Sama halnya dengan tidak berdasarnya sama sekali tuduhan bahwa pengampunan dosa-dosa dijual untuk uang mengesampingkan penyesalan atau bahwa absolusi dari dosa-dosa yang di-komit di masa depan dapat dibeli.
Nah saya jelaskan secara singkat mengenai indulgensi. Indulgensi itu sendiri bukan penghapusan dosa. Indulgensi diberikan untuk mengurangi hukuman karena dosa ringan atau luka-luka yang diakibatkan karena dosa berat. Indulgensi itu sendiri hanya terjadi apabila disertai dengan penyesalan sejati artinya niat yang tulus untuk tidak melakukan dosa, bahkan dosa ringan.
3. this is nonsense…Pada masa itu pemerintahan sekular melarang beredarnya surat indulgensi kecuali bila sebagian dari sumbangan umat itu masuk ke kantong mereka. Dan hal itu disalahgunakan, sehingga program Gereja itu dirasakan juga seperti pajak karena terlalu sering dimintakan. Banyak yang menentang hal ini, dan tak terkecuali yang memanfaatkan kondisi ini untuk juga menentang Gereja Katolik, salah satunya adalah Luther (dan tak lama sesudahnya Zwingli).
4. Itu bukan alasan Luther..jika ia melihat abuse dari para klerus, mengapa ia memberontak dari GEreja Katolik dengan membuat doktrin baru ?
5. “tradisi” (Dengan “t” kecil) ? tidakkah yang tidak memiliki bukti otentik adalah doktrin “sola fide” yang Luther ciptakan ? dan anda masih menganggapnya kebenaran hingga hari ini ? sungguh menggelikan.. silahkan anda tulis “tradisi” mana yang disebut sebagai dongeng, pembodohan dan tanpa bukti otentik itu ? kamu tahu Luther berdevosi kepada bunda Maria, dimana kebanyakan Protestan menanggap orang Katolik menyetarakan bunda Maria dengan Yesus ? Luther percaya akan Maria perawan tanpa noda dosa ? darimanakah iman ini jika bukan dari Gereja Katolik ? dan apakah semua itu tertulis di Kitab Suci ?
6. baiklah mari kita lihat satu persatu Sakramen itu.. Sakramen Pengampunan dosa (YOh 20:22-23), Sakramen Penguatan (Luke 4:18, Kis 8:14-17, Ef 19:1-6), Sakramen perkawinan (Mat 19:6 and Mark 10:9), Sakramen Imamat (Yoh 20:21-23, Luk 22:19, Mat 28:18, dan bahkan seluruh rangkaian liturgi Ekaristi memiliki dasar bible yang jelas), Sakramen perminyakan orang sakit (Mark 6:13, Yak 5:14-15). Kesombongan Luther juga membutakan mata hatinya untuk melihat bahwa Tradisi ini sudah dipelihara oleh Gereja melalui para RAsul dan murid-muridnya yang diturunkan kepada murid-muridnya, dst. Luther hanya tidak setuju karena pada dasarnya ia ingin membangun agama baru karena kesombongannya (tahukah kamu ia bahkan menolak undangan Paus yang mau mendengarkan kebaratannya)
7. Alasan yang tidak masuk akal, Konsili para rabi YAhudi di Yamnia itu tidak ada kaitannya dengan para pengikut Kristus dan juga Konsili mereka juga menolak Injil sebagai Sabda Allah. 7 kitab itu sangat masuk akal diterima karena kitab-kitab itu ada dalam kitab septuagint, versi Yunani, yang digunakan para RAsul dalam mengajar. 2/3 dari kitab perjanjian lama yang dikutip di perjanjian baru adalah berasal dari septuagint. Tidak pernah tertulis dimanapun bahwa para rasul menolak 7 buku ini dari septuagint atau meminta umat yang mereka baptis menolaknya. Jadi alasan Luther justru yang tidak mendasar. Silahkan kamu kutip keberatan Luther tentang doktrin gereja yang tidak alkitabiah yang kamu maksud itu. sEbaliknya justru ajaran Luther hanya iman dan hanya Kitab Suci tidak alkitabiah.
8. That is nonsense. Kitab Suci sudah pernah diterjemahkan dalam banyak bahasa seperti bahasa Prancis, Itali, Denmark, Spanyol, Norwegia, Bohemia, Hungaria jauh sebelum terjemahan Luther. Bahkan sudah 5 edisi komplit folio dicetak sebelum tahun 1477, 9 dari antara 1477 sampai 1522, 4 dalam bahasa jerman barat (low german).
9. Tulisan yang datang dari orang yang tidak mengerti arti infalibilitas (kuasa tidak dapat salah). Infalibilitas bukan berarti Paus tidak dapat salah atau berdosa.
Infalibilitas Paus adalah dalam pengajaran iman dan moral, yaitu bila apa yang ia ajarkan merupakan ajaran yang secara konsisten terus menerus dipelihara oleh Magisteriun Gereja, atau dalam keputusan konsili ekumenis atau ex-cathedra. Namun ironis sekali bila ini dijadikan alasan, karena Luther pun sebenarnya mengakui infallibilitas, namun terhadap dirinya sendiri… inilah perkataan Luther : “Therefore, I now let you know that from now on I shall no longer do you the honor of allowing you – or even an angel from heaven- to judge my teaching or to examine it. For there has been enough foolish humility now for the third time at Worms, and it has not helped. Instead, I shall let myself be heard and, as St. Peter teaches, give explanation and defense of my teaching to all the world [1 Pet. 3:15]. I shall not have it judged by any man, not even by any angel.
For since I am certain of it, I shall be your judge and even the angels’ judge through this teaching (as St. Paul says [1 Cor. 6:3]) so that whoever does not accept my teaching may not be saved – for it is God’s teaching and not mine.”Therefore, my judgment is also not mine but God’s.”
Paus perempuan ? in your imagination coba deh kutip di sini darimana pengetahuan itu kamu peroleh. TErimalah saran saya, Jangan permalukan diri anda dengan terus menuliskan hal ini bila tidak tahu sejarah.
Paus adalah Vicar of Christ atau dalam bahasa latin Vicarius Christi. Terjemahannya bukan pengganti Kristus, melainkan wakil Kristus. Dasar biblis-nya adalah dari Yoh 21:16-17, Perkataan Yesus kepada Petrus (yang adalah Paus pertama Gereja Katolik) untuk mewujudkan janji Kristus di Mat 16:18-19. Dan perkataan itu ditujukan kepada Paus yang adalah pemimpin Gereja Katolik di dunia,sehingga bukan saja Petrus melainkan penerusnya, adalah wakil Kristus.
Umat Protestan yang terpecah menjadi banyak denominasi dengan ajaran yang berbeda-beda adalah hukuman Allah karena pemberontakan Luther. Dan kengacoan yang kamu sebarkan di website ini menunjukan betapa bodohnya dirimu yang percaya dongeng mengenai inkuisisi, dan bahkan cenderung menjadi fitnah yang keji yang seharusnya tidak keluar dari seorang Kristen. Tidak ada pembunuhan, pembakaran bahkan siksa keji yang dibenarkan oleh Gereja Katolik karena hal itu tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Silahkan kamu pelajari lagi sejarah mengenai inkuisisi.
Cara-cara damai ? anda benar-benar tidak tahu sejarahkah ? begitu banyak perang agama, bahkan Luther pun member kesaksian kejahatan yang dihasilkan dari ajaran-nya (Janssen, “History of the German People”, Eng. tr., vol. V, London and St. Louis, 1908, 27-83, dimana setiap kutipan didokumentasikan dari referensi karya-karya Luther yang dipublikasi oleh de Wette).
Beato Yohanes Paulus II tidak pernah meminta maaf bahwa Gereja Katolik melakukan kesalahan. Silahkan anda kutip darimana dan berikan sumber Katoliknya.
Dan Mengasihi sesama adalah ajaran Tuhan sendiri, termasuk mereka yang berbeda agama. Gereja Katolik tidak pernah meninggalkan ajaran utama ini, karena Gereja Katolik adalah Tubuh Kristus, dimana Kristus sendiri adalah Kepala-Nya. Itu sebabnya saya bangga menjadi umat Katolik.
Semoga Allah menyentuh hati nurani anda, supaya anda mencari dan melihat kebenaran sejati…
Saudara Renra, ini jaman internet bung. Umat Katolik tidak bisa disuguhi propaganda-propaganda protestan murahan yang selama bertahun-tahun dengan sukses telah mengambil jiwa-jiwa Katolik dan menyesatkan mereka untuk mengikuti para pengajar-pengajar palsu yang menyelewengkan kebenaran dengan propaganda-propaganda murahan tersebut, dimana sebagai hukumannya adalah kehancuran(2 Pet 2:1-3).
Saudara Johan dengan telak telah menyajikan fakta-fakta yang membongkar propaganda murahan ala para pengajar palsu protestan.
Sekarang saya akan membongkar bobroknya si Luther dan gerakan pemberontakan DEFORMASI (bukan reformasi) yang disponsorinya yang menghasilkan para pengajar palsu dan menyesatkan banyak jiwa.
I. LUTHER MENGIJINKAN POLYGAMY
Jangan kira hanya Islam yang memperbolehkan polygamy, PROTESTANT JUGA MEMPERBOLEHKAN POLYGAMY. Bahkan sang pelopor protestantisme sendiri, Martin Luther-lah, yang mengajarkan polygamy.
Salah seorang yang mensponsori pemberontakan DEFORMASI adalah pangeran Philip of Hesse. Si pangeran telah menikah tapi terus melaukan perbuatan zinah dan meminta ijin kepada Luther untuk mengambil istri lain. Meskipun ketika itu di Jerman polygamy adalah kejahatan dengan hukuman mati tetap saja dalam sebuah dokumen yang ditulis Phili Melanchthon (tangan kana Luther) yang ditandatangani ENAM protestant lain termasuk Luther dan Martin Bucer, si pangeran diberi ijin. Di dokumen tersebut tertulis: “Dibawah sumpah kami menyatakan bahwa hal ini (maksudnya pernikahan polygamy Philip) harus dilakukan secara rahasia … bukanlah sesuatu yang tak-biasa bagi para pangeran uhtuk memiliki selir-selir … dan cara hidup sederhana ini akan lebih menyenangkan daripada perzinahan” (Dokumen tertanggal 10-12-1539 / Luther’s Letters, De Wette — Seidemann, Berlin, 1828, vol. 6, 255-265)
Di tempat lain Luther malah berkata: “Saya tidak dapat melarang seseorang untuk menikahi beberapa istri, karena hal tersebut tidak bertentangan dengan Alkitab.” (De Wette, vol. 2, 459).
Sumber: http://socrates58.blogspot.com/2004/05/orthodox-vs-heterodox-luther.html
II. LUTHER MENGAJARKAN BAHWA BERBOHONG ITU BOLEH
Iman tradisional Kristen mengajarkan bahwa tidak adanya yang namanya “bohong putih.” Semua bohong adalah dosa (sementara beratnya tergantung dari situasi). Ini adalah ajaran kuno yang diimani para bapa Gereja seperti Santo Agustinus yang menjadi patokan umat Kristen.
Namun dalam ketika kasus polygamy dari Pangeran Philip of Hesse menjadi publik Luther membela diri dengan berkata: “Sebuah kata ‘ya’ harus tetap menjadi kata ‘tidak’ secara publik dan sebaliknya” – (De Wette, vol. 6, 263); dan Luther juga berkata, “Apakah permasalahannya kalau bagi kebaikan yang lebih besar dan bagi Gereja Kristen, seseorang mengatakan sebuah kebohongan yang gamblang dan bagus?”
Sumbernya sama dari link blog Dave Armstrong diatas.
III. LUTHER MENGAJARKAN BAHWA SAH UNTUK MENGHUKUM MATI ANABAPTIST (SEKTE PROTESTANT LAIN) KARENA PERBEDAAN DOKTRIN DAN MEMECAH DIRI
Sungguh ironis bahwa sang pelopor protestantisme yang memulai gerakannya dengan mengajarkan doktrin yang berbeda dan memecah diri dari Gereja Katolik malahan mengajarkan agar mereka sekte lain yang berbeda pendapat dan memisahkan diri dihukum mati. Berikut tulisan Luther sendiri:
“Kenyataan bahwa artikel-artikel doktrin yang menimbulkan perpecahan tersebut harus dihukum dengan pedang adalah kenyataan yang tidak membutuhkan bukti lebih lanjut. Dalam hal lainnya, para Anabaptist meyakini kepercayaan-kepercayaa berkenaan dengan baptisan bayi, dosa asal, dan ilham [atas Alkitab] yang tidak ada hubungannya dengan Firman Allah, dan bahkan kepercayaan mereka tersebut bertentangan dengan Alkitab … Otoritas sekuler terikat untuk mengekang dan menghukum dengan tegas doktrin-doktrin palsu … sebab pikirkanlah bahaya apa yang akan terjadi bila anak-anak tidak dibaptis? … Disamping itu kelompok Anabaptist ini memisahkan diri mereka dari gereja-gereja .. dan mereka mendirikan pelayanan dan jemaat sendiri-sendiri, dimana ini berlawanan dengan perintah Allah. Atas semua ini sudah jelas bahwa otoritas sekuler terikat … untuk memberikan hukuman mati bagi para pelanggar tersebut … Dan juga, berkenaan dengan meyakini beberapa kepercayaan seperti baptisan bayi, dosa asal, dan perpecahan yang tidak perlu, maka … kami berkesimpulan bahwa … para sekte yang keras kepala itu harus dihukum mati.” – (Martin Luther: pamphlet tahun 1536; di Sejarah Bangsa Jerman Dari Masa YAng Dekat Dengan Jaman Pertengahan, Johannes Janssen, 16 volume, diterjemahkan oleh A.M. Christie, St. Louis: B. Herder, 1910 [orig. 1891]; Vol. X, 222-223).
Sumber: http://socrates58.blogspot.com/2004/02/luther-death-penalty-for-anabaptists.html
IV. LUTHER MENYOMBONGKAN AJARANNYa
Dimabil dari terjemahan di ekaristi.org (http://ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=63940#63940) yang sumber aslinya dari blog Dave Armstrong juga (http://socrates58.blogspot.com/2006/09/martin-luther-super-pope-and-de-facto.html)
“Kristus . . . adalah Guru dari ajaranku . . . [ajaranku] bukanlah dariku, tapi injil murniNya sendiri.” – (Henry O’Connor, Luther’s Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 20 / Against the Falsely So-Called Spiritual Estate of the Pope and Bishops, July 1522)
“Keputusanku adalah dalam waktu bersamaan milik Tuhan dan bukan dariku.” – (Henry O’Connor, Luther’s Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 20 / Against the Falsely So-Called Spiritual Estate of the Pope and Bishops, July 1522)
“Sebanyak yang aku tahu pasti bahwa aku benar, aku akan menghakimi diatas kamu dan diatas semua malaikat, seperti yang dikatakan St. Paulus [1Kor 6:1-6], bahwa siapapun yang tidak menerima ajaranku tidak bisa diselamatkan. Karena itu (ajaranku) adalah ajaran Allah, dan bukan ajaranku.” – (Johannes Janssen, History of the German People From the Close of the Middle Ages, 16 vols., tr. A.M. Christie, St. Louis: B. Herder, 1910; orig. 1891, vol. 3, 269-272 / Against the Falsely So-Called Spiritual Estate of the Pope and Bishops, July 1522)
“Aku tidak mengakui bahwa ajaranku bisa dihakimi oleh siapapun, bahkan oleh malaikat-malaikat. Dia yang tidak menerima ajaranku tidak bisa diselamatkan.” – (in Will Durant, The Reformation, New York: Simon & Schuster, 1957, 422, from Werke {Erlangen}, XXVIII, 144; also in Jacques Maritain, Three Reformers: Luther-Descartes-Rousseau, London, 1950, 15 – obviously also from Against the Falsely So-Called Spiritual Estate of the Pope and Bishops, July 1522, though Durant doesn’t mention it in his footnotes)
Luther membela penulisan “hanya iman” di Roma 3:28 [Luther menambah kata "hanya" di Rom 3:28] di Kitab Suci [berbahasa Jerman-nya]:
Jika kalian Papist [Papist adalah sebutan ejekan bagi pengikut Paus] membuat keributan yang tidak perlu atas kata tersebut (Sola, hanya), katakanlah langsung kepadanya [ie. kepada para Papist], Dr. Martin Luther akan membuatnya [ie. membuat Rom 3:28] demikian, dan katakanlah, Papist dan keledai adalah satu yang sama. Karenanya aku akan membuatnya [ie. membuat kata "hanya" tetap ada di Kitab Jermannya), karenanya aku memerintahkannya, kehendakku adalah alasan yang cukup . . . Dr. Luther akan menghendakinya demikian, dan . . . dia adalah Doktor diatas segala Doktor dari seluruh kepausan.
(Henry O'Connor, Luther's Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 25 / Letter to Wenceslaus Link, 1530)
"Aku yakin bahwa aku mendapatkan ajaranku dari surga." - (Henry O'Connor, Luther's Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 19 / Against Henry VIII, King of England, 1522)
"Ajaranku akan berdiri tegak, dan Paus akan jatuh." - (Henry O'Connor, Luther's Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 19-20 / Against Henry VIII, King of England, 1522)
"Siapapun yang mengajarkan yang berbeda dari apa yang aku ajarkan saat ini, atau yang mengutukku karenanya, dia mengutuk Allah, dan pastilah seorang anak dari Neraka." - (Henry O'Connor, Luther's Own Statements, New York: Benziger Bros., 3rd ed., 1884, 15 / Against Henry VIII, King of England, 1522)
V. KEBERINGASAN GERAKAN DEFORMASI ALIAS PROTESTANTISME TERHADAP UMAT KATOLIK BAHKAN KEPADA JASAD DAN RELIKUI PARA KUDUS KATOLIK
Seperti diatas, terjemahan diambil dari ekaristi.org (http://ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=86148#86148) dan sumber asli adalah dari blog Dave Armstrong (http://socrates58.blogspot.com/2004/07/calvin-calvinism-and-violent.html dan http://socrates58.blogspot.com/2007/05/lutheran-josh-s-attempts-to-rationalize.html).
Sejarahwan Gereja Warren H. Carroll mendeskripsikan kerusuhan para iconoclastik Calvinist di Negara-Negara Bawah pada 1556:
"[P]ada 20 Agustus datanglah ‘murka Calvinist’ di Antwerp. Hampir semua gambaran-gambaran (patung, ukir-ukiran, pahatan etc) dan lukisan-lukisan di 42 Gereja di Antwerp di hancurkan oleh berandalan-berandalan yang melakukannya siang dan malam, tanpa ada perlawanan [dari orang-orang]. Tindakan penghancuran ikon ini (ie. Iconoclasm) direncanakan oleh para pemimpin Calvinist dan dilakukan oleh orang-orang muda yang kebanyakan dibayar oleh mereka atau pendukung mereka … biara-biara dan rumah-rumah tarekat religius dijarah dan perpustakaannya dibakar…”
“Kemurkaan tersebut menyebar bagai api. Tiga hari atau empat hari setelah itu lebih dari 400 Gereja, biara-biara, dan rumah-rumah tarekat religius diserang. Tabernakel dibuka paksa, Hosti-hosti diambil dan diinjak, dan tulang-tulang para kudus dikeluarkan dari tempat persemayanan dan digeret melalui tanah…”
“Di Amsterdam, walikota dan dewan kota mencoba melawan para iconoclast, tapi mereka kewalahan. Di Utrecht ’sejumlah besar harta karun seni dan jubah-jubah, termasuk seluruh perpustakaan para Franciscan, dibakar.’ Di Delft, gerakan Iconoclasm diarahkan oleh Adrian Menninck, seorang pengusaha ternama, yang juga mengarahkan gerakan yang sama di The Hague. (Bukti-bukti sangatlah kuat bahwa serangan para iconoclast terorganisasi dan terkoordinasi rapi.) Count dari Culemborg memotong altar di kapelnya sendiri dengan sebuah kapak, [dia juga] memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membawa meja-meja ke Gereja yang sudah dirusak [lalu dia kemudian] duduk makan malam di Gereja rusak tersebut dan memakankan Hosti-Hosti yang telah dikonsekrasi dari ciborium kepada seekor burung nuri yang hinggap di lengannya. …”
“… para Calvinist mendpatkan peluang baru dan mereka mengambil peluang itu dengan mengambil kendali kota-kota utama Flanders — Antwerp, Ghent dan Bruges — pada musim semi 1578. Di Hari Perayaan Tubuh Kristus [ie. Corpus Christi] pada Juni, para Calvinist menyerang prosesi religius Katolik di Brussels dan Liege, men-desekrasi Sakramen Maha Kudus, membanting salib-salib dan gambaran-gambaran (patung, ukir-ukiran, pahat-pahatan), dan membunuh banyak umat. Pada 10 Juni ada pemberontakan Calvinist di Utrecht dengan lebih banyak tindakan Iconoclasm; pada 28 Juni enam religius Katolik dibakar sampai mati di Ghent.” – (The Cleaving of Christendom, vol. 4 of A History of Christendom, Front Royal, VA: Christendom Press, 2000, 323, 380)
Selanjutnya…
“96. Dan lagi, si BURNET yang berdarah dingin dan tidak punya malu memiliki kelancangan untuk berkata, bahwa “orang seperti Henry VIII diperlukan untuk membawa Reformasi!” Maksudnya tentunya adalah, bahwa langkah-langkah yang diambil Henry merupakan langkah-langkah yang perlu; dan kalau langkah-langkah tersebut perlu, apa yang menjadi hakekat dan kecenderungan dari “Reformasi” tersebut?”
“97. Karya berdarah sekarang telah dimulai. Dan karya itu dilakukan dengan tahapan yang stabil. Semua yang menolak untuk mengambil sumpah supremasi [ie. sumpah bahwa Raja Inggris punya supremasi dalam hal keagamaan di Inggris]; yaitu, semua yang menolak untuk menjadi murtad dianggap dan diperlakukan sebagai pengkhianat-pengkhianat. Dan mereka dibuat mati menderita dengan segala kekejian dan ketidakhormatan yang mungkin dilakukan. Sebagai contoh dari karya si reformator [ie. si Henry VIII] yang menurut BURNET diperlukan, dan supaya pembaca tidak dijenuhkan oleh pengulangan atas masalah ini, marilah kita lihat perlakuan terhadap JOHN HOUGHTON, Prior dari Charter-house di London, yang pada saat itu adalah sebuah rumah tarekat religius rahib-rahib Chartusian. Prior ini, karena menolak mengambil sumpah yang tidak bisa dia ambil karena hal itu berarti melakukan kebohongan, digantung di TYBURN. Dia belumlah tampak tergantung diam ketika tali gantungan dipotong, dan dia masih hidup ketika [terjatuh] ke tanah. Baju-bajunya kemudian ditanggalkan; isi perutnya dirobek; jantung dan ususnya dipisahkan dari tubuhnya dan dilemparkan kedalam api; kepalanya dipenggal dari tubuhnya; tubuh itu kemudian dibagi menjadi beberapa bagian dan dimasak setengah matang; bagian-bagian tubuhnya kemudian dipecah-pecah lagi dan digantung di tempat-tempat berbeda di dalam kota; satu lengan dipakukan di tembok atas pintu masuk rumah tarekat!”
“98. Itulah cara-cara, yang kata BURNET diperlukan untuk memperkenalkan agama Protestant ke INggris. Bagaimana berbedanya semua itu dengan cara-cara yang dilakukan agama Katolik [ke Inggris] sebagaimana dilakukan oleh PAUS GREGORIUS dan Santo AUSTIN! Penjagalan yang mengerikan ini dilakukan, ingat, dibawah kekuasaan Martir agung-nya Fox, [yaitu] si CRANMER, dan dengan bantuan aktif oleh petualang lain bernama THOMAS CROMWELL, yang kita segera lihat [bagaimana dia] berbagi dengan CRANMER karya-karya perampokannya, dan [bagaimana dia] kemudian juga berbagi [dengan CRANMER] akhir hidup yang memalukan.” – A History of the Protestant Reformation in England and Ireland (1826), oleh reformator sosial non-Katolik William Cobbett (1763-1835).
Masih banyak yang lainnya.
Makanya saudara renra, segeralah tinggalkan propaganda basi tersebut. Sudah tidak laku lagi di jaman internet. Introspeksilah. Protestant ini bukan pengikutnya Yesus.
Silahkan juga membaca SEJARAH TERJADINYA PROTESTANTISME di ekaristi.org (http://ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=6411) supaya terbebas dari propaganda murahan protestan.
hahahaha….^_^ terima kasih saudara Johan. kl dipancing dgn argumen basi saya, biasanya seorg Katolik yg pny pngetahuan akademis akan mnjwab spt yg anda posting. mgkn kt bs diskusi scra akademis di darat dgn referensi yg ilmiah, bkn dgn referensi web. krn saya pny argumen pnyanggah utk pendapat anda barusan ^_^. krn kasihan dgn nn. Lucie nnt, bknny mkn jelas, tp mkn mmbingungkn jdnya. lgpula saya khwatir kt jd debat kusir dn sya dibnnd admin. salam kenal sdr. Johan.
utk saudara Sugeng, jujur saja saya agak trkejut mmbaca pemaparan anda. Luar biasa. Sya harap anda maklum, krn saya sdh trlalu tua dn ketinggalan informasi mngenai hal trsebut. (sya jg pnya referensi buku, bkn referensi web yg mmbongkar kbusukan sejarah Katolik dn Protestan, Islam, Yahudi, dsbnya pd masa lalu jika anda mau, tp bkn dsni tmptnya sdr. Sugeng)lgpula, mgkn trlalu bnyak buku yg dicetak, jd buku yg mnjadi referensi anda luput dr prhatian saya. Jika anda sudi, saya meminta referensi buku tersebut secara lengkap (Nama pengarang, Judul buku, Tahun penerbitan, Nama tempat penerbitan dan perusahaan penerbit) krn ada beberapa bagian yg tdk lengkap dr referensi buku yg anda kutip (mungkin krn dikutip dr internet, bkn dibaca dan dikutip dr bukunya langsng). sehingga saya dapat melihat ltar belakang penulis, mmpelajari sudut pandang yg digunakan, substansinya, sumber yg digunakan beliau, guna diperbandingkan dengan referensi lainnya. dan, terima kasih untuk statement bahwa “Protestan bkn bukan pengikutnya Yesus” (baru kali ini sya mlihat/mndgrnya lgsg). Syalom allecheim.
Saya sangat setuju dengan renra, sebaiknya referensi adalah buku cetak bukan link sana dan link sini apalagi kalau ditambah embel2 silahkan dipelajari.
@Renra.. argumen anda bukan saja basi, tetapi tidak bermutu. Dan kemudian saya akhirnya paham mengapa demikian.. karena anda hanya memiliki banyak referensi tentang kebusukan, tetapi bukan kebenaran.
Saya bukan terpancing, tetapi memberikan pembelaan… ini adalah website Katolik, posting model seperti yang anda buat adalah salah satu bentuk serangan kepada iman Katolik. [pembelaan kesalahan-kesalahan Luther sama saja mengatakan bahwa apa yang dipahami dan didoktrinkannya [yang bertentangan dengan iman Katolik] adalah kebenaran…
sadarlah.. bahwa telah dikatakan bahwa Gereja adalah pengantin Kristus.. dan pengantin Kristus hanya satu dan itu adalah Gereja Katolik.
“Inquire not simply where the Lord’s house is, for the sects of the profane also make an attempt to call their own dens the houses of the Lord; nor inquire merely where the church is, but where the Catholic Church is. For this is the peculiar name of this Holy Body, the Mother of all, which is the Spouse of Our Lord Jesus Christ” (St. Cyril of Jerusalem, Catecheses, xviii, 26)
Semoga dengan ini, iman para pembaca KAtolik di website ini semakin dikuatkan… Alleluya, Amin..
Saudara renra, di jaman internet ini tidak ada bedanya antara referensi buku atau referensi internet. Yang pentingnya sumber dari referensi tersebut (wikipedia adalah sumber yang sangat dipertanyakan, kecuali catatan kakinya mengacu ke sumber yang lebih kredibel). Fakta-fakta yang saya tunjukkan diatas berasal dari buku-buku yang banyak digunakan pelajar Kristen maupun Protestan, sebagaimana dilihat dari sumber referensinya.
Buku-buku yang katanya “membongkar” sejarah kebusukan Katolik paling ya itu-itu saja. Buku-buku yang keluar jaman propaganda Protestant macam Fox’s Book of Martyrs atau buku Loraine Boetneer (buku suci Protestant anti-Katolik) atau yang gila macam tulisan Jack Chick dan temannya Alberto Rivera atau dari sekte aneh Adventist tulisan Ellen Gould White, yang terbaru macam Hitler’s Pope (yang pengarangnya terpaksa harus menujilat ludahnya sendiri). Atau mungkin buku-buku lain karangan penganut teori konspirasi yang gila otaknya.
Pertama-tama kita harus sadar bahwa Yesus makan bersama para pemungut cukai (Markus 2:15-17) dan berkata bahwa orang sakit perlu dokter. Gereja adalah tempat bagi orang kudus dan pendosa. Jadi jangan heran kalau di institusi yang didirikan Allah sendiri (yaitu Gereja) ada orang-orang yang berlaku jahat. Bahkan dari 12 murid Yesus sendiri, ada satu yang berbuat jahat.
Kedua, dan ini sangat penting, kebenaran suatu agama tidak bisa dinilai dari tingkah laku para penganutnya yang bertindak tidak sesuai dengan ajaran agama tersebut. Ada anggota Gereja Katolik (termasuk Romo, Uskup atau Paus) yang membunuh, mencuri, memperkosa. Lalu… apakah Gereja Katolik mengajarkan untuk membunuh, mencuri dan memperkosa? Tidak. Justru anggota Gereja tersebut melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Gereja. Jadi tidak bisa menyalahkan Gerejanya. Kecuali Gereja Katolik memang mengajarkan untuk membunuh, mencuri, memperkosa dan lain-lain.
Nah, mengenai buku-buku yang menjadi sumber referensi saya, sebenarnya saya mendapatkannya dari tempat lain, bukan langsung ke bukunya sendiri. Judul, nama pengarang, penerbit sudah disertakan diatas (coba dibaca sekali lagi, sudah dituliskan sumbernya). Namun untuk sekedar memperjelas akan saya berikan link langsung ke buku-bukunya (ada yang bisa dibaca gratis, ada yang harus beli) serta sedikit informasi tambahan. Akan saya tunjukkan bahwa sumber-sumber saya adalah akademisi yang kredibel (bukan profesor nyentrik yang suka teori konspirasi) dan menjadi sumber referensi akademisi lain.
I.
Sumber pertama saya berasal dari tulisan Wilhelm Martin Leberecht de Wette. Teolog Protestan Jerman ini menulis enam volume buku yang merupakan kompilasi dari berbagai tulisan Luther yang berjudul “Surat-Surat, Surat-Surat Terbuka, dan pertimbangan-pertimbangan.” Kredibilitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Akademisi-akademisi mengacu ke buku-bukunya. Bukunya mengenai surat-surat Luther tersebut menjadi referensi karena mengkompilasi langsung sumber-sumber primer (yaitu tulisan Luther sendiri).
Kalau anda, saudara renra, bisa bahasa Jerman dan mau membaca sendiri tulisan de Wette, anda bisa check di link wikipedia-nya (ada gambar de Wette juga) dan lihat dibawagian agak bawah dimana telah ada link ke googlebooks untuk enam volume buku de Wette yang sekarang telah habis hak ciptanya(yang saya tampilkan cuma dari Vol. 2 dan Vol 6).
http://en.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Martin_Leberecht_de_Wette
II.
Sumber saya berikutnya adalah pamflet tulisan Luther sendiri yang dikutip di buku tulisan dari Johannes Janssen (seorang Romo Katolik dan sejarahwan Jerman yang menolak ketika ditawari jabatan diplomat Vatikan dan jabatan Kardinal demi lebih konsentrasi terhadap orang miskin, anak-anak terlantar dan orang sakit) berjudul: “Geschichte des deutschen Volkes seit dem Ausgang des Mittelalters” alias “Sejarah Bangsa Jerman Dari Masa Yang Dekat Dengan Jaman Pertengahan”. Namun sumber yang saya kutip bukan yang asli bahasa Jerman, tapi yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh M. A. Mitchell dan A. M. Christie.
Untuk membaca 16 Volume dari terjemahan Inggris buku tersebut silahkan ke link ini:
http://readinghall.org/Western-Civilization-Jewels/German-People.html
Kalau ingin yang bahasa Jerman aslinya ada di archieve.org. bisa di klik disini
III.
Sumber ketiga dari seorang Romo Jesuit, Henry O’Connor S.J. berjudul “Luther’s own statements concerning his teaching and its results, taken exclusively from the earliest and best editions of Luther’s German and Latin works” (1885). Alias, “Pernyataan-pernyataan Luther sendiri mengenai ajarannya dan akibatnya, diambil eksklusif dari edisi-edisi paling awal dan paling baik dari karya-karya Jerman dan Latin oleh Luther”.
Memang harus diakui bahwa Henry O’Connor punya pandangan yang sangat negatif terhadap Luther. Namun tetap saja dia menyajikan apa yang ditulis Luther sendiri.
Buku dari sang Yesuit bisa dibaca di:
http://www.archive.org/details/cu31924029256687
IV.
Berikutnya dari William Durant, seorang sejarahwan Katolik dan filsuf terkenal, di bukunya “The Story of Civilization: The Reformation” (“Kisah Peradaban: Reformasi”). Sebagaimana terlihat “The Story of Reformation” adalah bagian dari buku sebelas Volume berjudul “The Story of Civilization”. Buku 11 volume ini dikerjakan bersama istrinya, Ariel Durant, dan atas buku tersebut mereka mendapatkan hadiah Pulitzer untuk kategori karya non-fiksi umum pada tahun 1968. Dan berkat karya itu pula mereka mendapatkan Presidential Medal of Freedom pada 1977, yang merupakan medali tertinggi yang diberikan pemerintah Amerika kepada masyarakat sipil di negara tersebut.
Buku ini tidak tersedia gratis di internet. Jadi harus beli. Salah satunya disini:
http://www.goodreads.com/book/show/78159.The_Story_of_Civilization
Untungnya saya menemukan CD gratisnya di archive.org (belum saya check isinya). Bisa di download disini:
http://www.archive.org/details/Story_of_Civ_CD
V.
Sumber yang mengisahkan keberingasan gerakan deformasi berasal dari sejarahwan Katolik Dr. William H. Caroll yang baru-baru ini dipanggil ke sisi Bapa di surga pada usia 79 tahun (17 Juli 2011). Pendiri Christendom College (www.christendum.edu) ini pada awalnya adalah seorang sekularis yang bahkan bukan seorang Kristen. Namun berkat pengaruh istrinya dia menjadi seorang Katolik pada 1968 dan terus melayani Gereja sejak itu.
Buku-bukunya tidak tersedia gratis di internet. Buku-buku tersebut bisa dibeli disini:
http://www.fraternitypublications.com/the-history-of-christendom-series.html
VI.
Terakhir adalah “A History of the Protestant Reformation in England and Ireland” (1826). Alias “Sebuah Sejarah Reformasi Protestan di Inggris dan Irlandia”. Buku ini ditulis oleh William Cobbett yang non-Katolik meskipun dia adalah pendukung Emansipasi Katolik di Inggris (dimana umat Katolik ditindas kala itu). William Cobbett adalah seorang penulis kritikan-kritikan terhadap pemerintahan Inggris dan seorang jurnalis.
Bukunya diatas bisa dibaca secara gratis di googlebooks:
http://books.google.com/books/about/A_history_of_the_Protestant_reformation.html?id=D7c9AAAAYAAJ
Saudara renra, itulah buku-buku yang saya referensikan.
Sebelum saya tinggalkan anda untuk mengecheck sendiri saya akan share sesuatu
Anda sebelumnya berkata, “sya jg pnya referensi buku, bkn referensi web yg mmbongkar kbusukan sejarah Katolik dn Protestan, Islam, Yahudi, dsbnya pd masa lalu jika anda mau, tp bkn dsni tmptnya sdr. Sugeng“. Sering saya mendengar orang yang berkata demikian. Orang yang membaca “kebusukan-kebusukan” dari kaum-kaum yang “sok suci, sok benar”.
Pada kenyataannya, saudara renra, mereka-mereka yang suka mencari “kebusukan-kebusukan” tersebut melakukannya untuk memcari pembenaran atas kebusukan mereka sendiri. Sehingga ketika ada orang yang menegur tindakan mereka, mereka bisa menjawab “ah, rohaniwan dan ulama juga pada busuk semua, saya punya data-datanya” lalu ditambah “jangan munafik deh, negur begini atau begitu. Lihat dahulu pimpinan-pimpinan agamamu yang bertindak busuk“. Dengan begini mereka menutup mulut orang yang sok menegur sambil tetap melakukan tindakan busuk mereka sendiri.
Para pencari “kebusukan” sejarah tersebut juga merasa bahwa pengetahuan mereka akan “kebusukan-kebusukan” tersebut membuat mereka LEBIH PANDAI dari orang-orang lain yang TERTIPU oleh sikap “sok suci dan sok benar” para pimpinan agama. Jadi meski mereka mengkritik para pemimpin agama sebagai orang yang “sok”, sebenarnya mereka sendirilah yang “sok”.
Mereka-mereka ini harus disadarkan bahwa kebenaran ajaran agama tidak dinilai dari tindakan para penganutnya yang malahan berlaku tidak sesuai dengan ajaran agama tersebut. Mereka-mereka ini juga harus disadarkan bahwa sebuah uangkapan yang benar (atau ajaran yang benar, atau nasehat yang benar) tetap merupakan sesuatu yang benar terlepas dari siapa yang mengatakannya (nasehat pencuri kepada anaknya agar tidak mencuri adalah nasehat yang benar meskipun si bapak sendiri adalah seorang pencuri, begitu pula nasehat jangan merokok seorang ayah yang perokok kepada anaknya adalah nasehat yang benar meskipun si ayah sendiri merokok 2 pak per hari).
Oh, hampir lupa. Saudara renra, Protestan memang bukan pengikut Yesus. Pengikut Yesus sejati mengikuti segala hal yang diajarkan Yesus (lihat Matius 28:20, “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu“). Sementara Protestan tidak mengikuti banyak ajaran Yesus dan memberontak dari Gereja yang didirikan Yesus (Protestan lahir pada abad ke-16 sementara Yesus sudah bangkit pada abad pertama, Gereja Katolik-lah yang sudah ada sejak abad pertama karena itulah yang didirikan Yesus).