Ibu pindah agama, anak tidak rela
Mohon bantuan..
saya berasal dari keluarga Buddhis keturunan Tionghoa, tapi sekarang sedang menjalani katekumen. saya sedang menghadapi suatu masalah yang menurut saya berat. 2 tahun terakhir ini, keluarga saya jatuh ke keadaan pailit. tapi Puji Tuhan, sekarang sudah mulai membaik. Masalahnya adalah Ibu saya, yang dulu seorang Buddhis taat, sekarang mulai mendalami agama Islam. Bahkan ia sudah sholat dan sudah nikah siri dengan seorang Haji (sebagai istri ke-2), tanpa sepengetahuan kami anak2nya.
saya anak sulung dari 4 bersaudara. anak ke-2 adalah wanita, dan anak ke-3 dan ke-4 adalah laki2. semua adik saya sudah menjadi Katholik. adik saya yang wanita sudah menikah, terkesan tidak mau terlibat masalah ini lagi, walaupun masih berhubungan baik. kedua adik laki2 saya juga terkesan membiarkan ibu saya dengan pilihannya itu (menjadi seorang muslim dan menjadi istri ke-2)
fyi..ayah dan ibu saya bercerai tahun 1998 yl. semua anak ikut ibu saya. ayah saya sepertinya sudah menikah lagi, tapi tidak secara terbuka.
apa yang harus saya lakukan, Romo?
saya tidak rela Ibu saya menjadi seorang muslim, karena menurut saya, ini ia lakukan karena ia frustasi dan karena pengaruh haji itu. saya juga sedih, karena saya hanya sendiri menghadapi keadaan ini, sementara adik2 saya cuek.
Mohon saran Romo. Terima kasih banyak Romo.
Sht







Yang perlu kamu lakukan adalah menjadi seorang anak untuk ibu kamu..
kamu tidak perlu setuju dengan ia menjadi Islam dan menikah siri untuk mengasihi ibumu.
Saya tidak tahu kedekatan-mu dengan ibu-mu, saya juga tidak mau berasumsi mengapa ia menjadi seorang muslim, faktor apa yang membuat ia mau menikah siri dengan seorang haji. Apakah mungkin faktor ekonomi ? atau faktor lain yang lebih ke psikologis ?
Jadi saya pikir kamu pun harus melepaskan pikiranmu dari asumsi-asumsi itu dan mulai mencari tahu kebenaran dan melihat fakta. Jika ada yang tidak kamu ketahui, maka tanyakan, bila kesempatan untuk bertanya itu masih ada.
Pernahkah kamu menanyakan, mengapa ia menjadi seorang muslim ?
mengapa ia menikahi pria yang sekarang disebut sebagai suaminya menurut agama Islam, padahal ibumu tahu bahwa pria itu sudah menjadi suami dari seorang isteri ?
Apakah isteri pertama pria tahu ibumu menjadi isteri ke-2 pria itu ?
Bagaimana perasaan anak-anak dari isteri pria itu ketika tahu ayah mereka menikah lagi dengan ibumu ?
Tujuannya sebenarnya memberitahukan ibumu, bahwa masih ada seorang anak yang memperhatikannya dan peduli akan dirinya.
Jika pun pertanyaan itu tidak dijawab atau terjawab, maka berusahalah sebisa mungkin untuk menjalankan kewajibanmu sebagai seorang anak yang mengasihi orang tuanya, selama hal itu pun tidak bertentangan dengan iman Katolik yang kamu dalami saat ini.
Dan janganlah lupa berdoa, Doakanlah ibumu, doa orang benar besar kuasanya.. Percayalah..
May God bless your steps..
Dear Pak Johan,
Terima kasih banyak atas advice yang bapak berikan.
Saya sudah pernah menanyakan tentang hal2 yang bapak sarankan :
(walau melalui pertengkaran hebat)
1. Mengapa Ibu saya menjadi seorang muslim
Karena ia merasa tertarik dan cocok dgn ajarannya
2. Mengapa Ibu saya menikahi orang itu
Karena ia merasa cocok dengan orang itu, dan terutama..orang itu kebetulan ada saat kami sedang kesulitan (walo hanya memberikan saran dan janji2 tanpa bukti)
3. Apakah istri pertama orang itu tahu ttg pernikahan mereka
Istri pertama tahu ttg hal ini..dan menurut Ibu saya, istri pertamanya itu menerima keadaan ini
4. Bagaimana perasaan anak2 orang itu bila tahu ttg pernikahan mereka.
Anak perempuan tertua orang itu tahu dan menerima keadaan ini.
Kalau saya boleh berasumsi, keluarga orang itu mungkin menerima keadaan ini sebagai konsekuensi dari agama Islam, yaitu seorang laki2 boleh berpoligami, dengan alasan menikahi dan selama dapat bersikap adil.
Tapi, itu tidak penting. Bagi saya, yang terpenting adalah saya mendapatkan kembali Ibu saya seutuhnya, seperti dahulu.
karena saya menyayangi Ibu saya…
Dan mungkin benar yang bapak sampaikan…saya kurang berdoa.
Semoga ke depannya, saya semakin dapat memasrahkan keadaan ini kepada Tuhan Yesus.
Doakanlah kami, Pak.
Terima kasih banyak atas tanggapan Bapak.
Tuhan berkati ….