Hidup sebagai Doa
Dalam semua tradisi agama, orang melakukan praktek doa. Dalam kondisi apapun orang berdoa, entah sehat atau sakit, konflik atau damai, gagal atau sukses, gembira atau sedih. Doa bisa dilakukan secara pribadi atau bersama. Doa bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Sesungguhnya apa yang disebut dengan doa, mengapa dan bagaimana orang musti berdoa?
Efektifitas Doa
Doa tidak lain adalah sebuah komunikasi antara pendoa dengan Allah. Tidak ada yang bisa memberi jaminan bahwa apa yang didoakan pasti terkabul. Namun demikian ada beberapa factor yang membuat doa itu efektif.
Pertama, doa sangat ditentukan pada tingkat kedalamannya. Orang berdoa itu seperti orang berkomunikasi melalui telepon. Saat orang ingin berkontak langsung dengan orang lain dari jarak tertentu melalui telepon, saat itu pula kontak itu terjadi. Kontak dalam doa tidak membutuhkan satelit, rentang waktu dan ruang. Maka menempatkan Tuhan jauh di luar diri pendoa menjadikan doa kurang efektif. Kenyataannya, Tuhan begitu dekat dengan diri pendoa bahkan tak terpisahkan darinya. Tuhan dan pendoa tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Maka berdoa kepada Tuhan yang begitu dekat ini akan membuat doa menjadi lebih dalam.
Kedua, seperti halnya telepon membutuhkan energi listrik atau baterai supaya mesin telepon bisa dipakai, doa juga membutuhkan energi. Kekuatan energi doa tidak lain adalah iman, harapan dan kasih.
Pusat dari iman, harapan dan kasih adalah Tuhan sendiri. Berdoa dengan iman berarti berdoa dengan berpusat bukan pada diri sendiri tapi pada Tuhan. Kalau orang bisa menyadari kapan cinta diri, kehendak diri, kepentingan diri berhenti dan kapan cinta Allah, kehendak Allah, kepentingan Allah mulai menguasai dirinya, orang tahu secara actual apa artinya berdoa dengan iman.
Seorang ibu bercerita bahwa ia sudah lama menderita kanker payudara stadium empat. Berbagai cara penyembuhan sudah dicoba dan sudah banyak biaya sudah dikeluarkan. Doa juga tidak kurang dilakukan. Namun penyembuhan itu tak kunjung datang.
Suatu saat ia sampai pada suatu titik dimana rasa depresinya telah lewat. Dalam doa-doanya, ia lebih banyak diam dan berserah. Ia mengalami bahwa kesehatan tidak lebih bernilai daripada sakit. Tanpa tahu darimana datangnya, ia suatu saat merasakan dorongan batin untuk berdoa: “Tuhan Yesus Kristus, trimakasih Engkau telah menyembuhkan aku. Trimakasih.” Doa itu terus didaraskan berulang-ulang. Setelah sadar, rasa sakitnya tidak muncul lagi. Beberapa hari kemudian ia datang kepada dokter pribadinya dan dokter pribadinya heran bagaimana bisa kanker ibu ini bisa hilang 100%.
Ibu itu berdoa dengan penuh iman. Pada awalnya ia berdoa berpusat pada dirinya. Kemudian doanya maju lebih matang dengan berpusat pada Tuhan. Ia memahami kebenaran iman. Siapa mencari dirinya, akan kehilangan dirinya. Barangsiapa meniadakan dirinya, akan menemukan dirinya. (Bdk Mat 10:39)
Mengapa Orang Berdoa?
Doa itu bagaikan darah yang menghidupi seluruh tubuh. Doa tidak bisa dipisahkan dari gerak kehidupan umat manusia. Sadar atau tidak, manusia punya hasrat untuk menyentuh Realitas Terakhir. Dari sanalah ia berasal; di sanalah akar dan pusat hidupnya; ke sana juga ia akan kembali. Itulah mengapa manusia berdoa.
Orang punya berbagai kebutuhan untuk melangsungkan kehidupannya. Ia membutuhkan kesehatan, keberhasilan, relasi yang baik, rasa aman dan terlindungi, dst. Melalui doa, orang berharap mendapatkan apa yang dibutuhkan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.
Kadang orang berdoa untuk memohon sesuatu dan permohonannya dikabulkan dengan segera. Ada yang harus menunggu lama baru dikabulkan. Ada juga yang tidak dikabulkan meskipun orang sudah berdoa tak kunjung putus.
Doa bukan hanya ditujukan supaya orang mendapatkan sesuatu yang particular untuk survival hidup. Lebih jauh lagi, doa merupakan perjumpaan dengan Realitas Terakhir itu sendiri. Realitas ini dalam tradisi Teisme disebut Allah atau Tuhan.
Doa tak kunjung putus
Yesus menasehati para muridNya untuk berdoa tak jemu-jemu atau berdoa tak kunjung putus (Lukas 18:1). Doa atau komunikasi dengan yang Absolut tidak hanya bisa dilakukan beberapa menit atau jam tetapi terus-menerus.
Dalam tradisi berbagai tradisi, ada begitu banyak rumus doa. Orang bisa mendoakan atau mendaraskan doa-doa ini terus menerus di tengah kesibukan harian.
Ada juga banyak doa pendarasan yang diambil dari teks Kitab Suci. Misalnya, kaum Kristiani suka mendaraskan kata-kata ini: “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, kasihanilah kami yang berdosa ini.” Rumusan ini bisa disingkat dengan “Yesus” sehingga disebut “doa Yesus”. Setiap kali kita bernafas, kita bisa mendoakan doa Yesus ini. Kalau sehari kita bernapas ribuan kali, maka doa Yesus bisa kita doakan ribuan kali. Doa ini begitu sederhana, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.
Orang yang sudah lebih maju dalam doa, bisa merasa terganggu dengan kata sehingga ia lebih merasa cocok untuk berdoa dalam keheningan. Itulah yang disebut doa hening. Doa hening adalah doa yang diam dengan batin yang sungguh-sungguh hening. Segala bentuk aktivitas pikiran tidak terpakai. Dalam keheningan itu, orang menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya dan segala sesuatu. Doa hening juga bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.
Perjumpaan dengan Tuhan atau Yang Tak Dikenal
Doa yang mendalam dan tak kunjung putus membawa pendoa semakin bersatu dengan Tuhan. Kesatuan dengan Tuhan inilah barangkali tujuan dari perjalanan hidup kaum monoteis.
Pengalaman kesatuan diri dengan Tuhan itu bisa dicapai saat manusia masih hidup. Orang tidak perlu menunggu nanti kalau sudah meninggal. Bukan hanya kisah santo-santa membuktikan kebenaran ini tetapi juga banyak pendoa di antara orang-orang biasa di sekitar kita yang masih hidup.
Sebagian orang juga mengalami apa yang disebut dengan pasca-kesatuan mistik. Dalam pengalaman kesatuan mistik aku dan Tuhan, si aku atau diri masih ada. Diri ini bersatu dengan Allahnya seperti sekeping mata uang. Di sisi yang satu ada diri, di sisi yang lain ada Allahnya. Dalam pasca-kesatuan mistik, diri dan Allah sepenuhnya berakhir. Orang mengalami sesuatu di luar waktu, Kebenaran, Realita yang Tak Dikenal atau sesuatu yang tidak perlu diberi nama. Doa hening menghantar pendoa memasuki pengalaman pasca-kesatuan mistik ini.
Bagi para pendoa seperti itu, doa bukan hanya tindakan berkomunikasi dengan Tuhan pada ruang dan waktu tertentu, tetapi seluruh hidupnya menjadi doa itu sendiri. Mereka mengalami secara actual bahwa segala sesuatu ada dalam Allah atau mereka hidup dalam kepenuhan kebenaran.*







Adakah yang tidak kita ketahui tentang “Doa”?
Doa merupakan sarana pertumbuhan rohani. Dalam I Tesalonika 5:17 dikatakan: “Tetaplah berdoa.” Dalam kitab Kolose 3:14-17 tertulis: “Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah Perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
Doa Bersama secara resmi yakni Ibadah/Liturgi Gereja atau sakramen-sakramen yang penyelenggaraannya diatur oleh pimpinan tertinggi Gereja, berlaku bagi seluruh umat Gereja di seluruh dunia. Doa bersama secara resmi merupakan misteri kemuliaan Tuhan dan penyelamatan kepada manusia, dalam kesatuan dengan Imam Agung dalam kuasa Roh Allah. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29).
Kalau dalam “Seribu Pintu Menuju Kristus”, Romo Sudrijanta mengatakan “Tubuh seringkali dilecehkan, sering diperlakukan sebagai alat untuk mengejar kesenangan dan kepuasan”… ini sepenuhnya benar. Adalah cara berdoa spontan pribadi dengan bermacam sikap tubuh sebagai berikut: berlutut, bersujud, duduk, berdiri, bahkan berbaring di lantai dengan tangan terlentang seperti Yesus disalib, tersungkur … seperti yang pernah dilakukan oleh alm. Paus Yohanes Paulus II, menadahkan tangan dsb. sesuai dengan dorongan dari dalam hati.
Satu hal yang perlu anda ingat selamanya, meskipun anda berdoa spontan pribadi dengan doa meditasi atau doa hening, doa tanpa cinta adalah kosong, doa yang anda lakukan tanpa cinta tidak terpenuhi! Bila ada doa anda yang tidak terpenuhi, bisa jadi anda berdoa tanpa cinta.
Doa sesungguhnya merupakan suatu rahmat,karena Allah sendiri
lah yang berinisiatif dahulu sebelum kita menanggapinya
Jadi ini adalah sesuatu yang sangat berarti bagi kita …
bangunlah kesadaran ini … jangan biarkan tertidur…
Yang akhir nya muka ketemu muka
TUHAN SUMBER HIDUP&CINTA
Saya bersyukur,Engkau Menyirami hati ini,dengan
ROH CINTAMU…
Inilah penggalan Doa di kedalaman hati saya atau bahkan teman2 semua,karena HIDUP sebagai DOA,menjadikan kita sebagai pembawa Kasih,Pembawa Kabar gembira,dan terus Menghadirkan ALLAH BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS yg penuh CINTA&KASIH.
Berdoa berarti menyerahkan keseluruhan hidup kita,kepada Sang Pencipta,ketika bangun pagi Rasa syukur kembali terucap kalau
kita boleh membuka mata dengan kesegaraan&merasakan Dekup Jantung kita masih berdetak,sehingga 1 hari akan kita lalui bersama2NYA.sampai pada malam senja,tubuh ini perlu kembali beristrahat didalam hening nya malam,Roh Allah tetap menjagai kita setiap pribadi2.
Berdoa adalah juga mencinta,mencinta kepada Tuhan kita &kita berelasi kepadaNYA sangat mendalam,karena hanya didalam Allah Doa adalah Cinta.
sehingga rutinitas kita tidak pernah lepas dari DOA itu sendiri.
didalam Doa Hening,ketiadaan diri,melepas semua ‘ego’semua mengantarkan kesatuan&kedekatan Kepada NYA tak terpisahkan.
sehingga tiada kata2 terucap,hanya mampu bersama-sama dalam segala Ketekunan didalam Cinta NYA.
Semua sahabat2ku pasti mempunyai cara berdoa yang berbeda2,tapi yakinlah Doa kalian juga doa yg terarah kepada TUHAN ALLAH yg sama.sehingga doa juga mampu membebaskan batin kita untuk mengungkapkan sesuatu yg penuh Cinta&belas Kasih,karena ROH CINTAKASIH selalu mendiami Bait Allah yaitu Tubuh Rohani kita.
sehingga apa saja yg hendak kau urai IA MAHA TAHU SEGALANYA(1korintus3;16)
Cinta bagai doa yg Hidup terus menerus,hanya dalam keheningan
kita dihantarkan dengan cara berbeda tanpa mendaraskan kata2 panjang,Namun Allah Sumber Hidup kita,berada dalam satu kesatuan dengan NYA,dengan kasat mata tidak melakukan apa2,tapi semuanya itu mengiyakan,mendengarkan,merasakan,tanpa syarat apapunjuga.sehingga PENYERAHAAN DIRI SERTA SELURUH KEBERADAAN TANPA KATA.
dalam hiruk pikuk jaman masa kini,membuat orang tidak mampu menyempatkan berdoa,sehingga berdoa didalam batin sering terngiang2 sebagai ketenangan batin,namun Batin yg tiada’ego’menghilangkan perhatian pd diri sendiri,disitulah CINTA TERLAHIR,cinta kesejatian ketiadaan batas kepenuhan KasihNYA terus tinggal pada Batin kita,
sehingga doa permintaan tak lagi terucap karena kita menyadari
Hidup kita secara Realitas,namun mendatangkan Makna kehidupan itu sendiri adalah Berbagi Kasih&CintaNYA.dengan segala kesedian&kesiapan2 kita menghadapi segala penderitaan,karena dengan DOA yang kita hidupi adalah DOA CINTA KASIH yg adalah keseluruhan dari DOA2 yg kita tujuhkan kepadaNYA.
sehingga senyum kebaikan selalu tinggal didalam hati serta kehidupan kita,yg berdampingan dengan banyak umat yg berbeda Iman.
inilah ungkapan hati,setiap terlintas membaca tulisan penuh Arti
HIDUP SEBAGAI DOA,dengan penuh keheningan,penuh kecintaan,penuh Kerendahaan hati,kesemangatan tercipta,keceriaan terlahir,kesehatan terus dipulihkan,kedamaian terus diperoleh,pengampunan terus2 diberi,Senyum Kebaikan terus kudapati..semua ini untuk berbagi..buat sahabat2ku kalau kau tidak Sendiri karena saya&kamu tiada beda didalam setiap DOA(2korintus9;14)
Terima Kasih Romo Sudri,yang sudah memberi kami Pencerahan2 baiknya.
Di dalam suatu keheningan “Roh ALLAH berbicara kepada se org manusia” :
“Mengapakah Aku minta engkau utk ber’doa ?”, krn doa akan membuat rahmat bekerja…sama spt api yg menyalakan lilin. mengertikah engkau…tindakan pertama datang dr manusia dan barulah ALLAH datang !, selalu ada dlm kebersama’an, tdk pernah ALLAH sendiri, tdk pernah manusia sendiri,ttp suatu pekerjaan ber’dua !
Renungkanlah Hukum Kasih’Ku( Markus 12:29-31), Aku menuntut dr setiap pribadi umat cipta’an’Ku utk mengasihi’Ku dg segala yg ada pd mrk tanpa syarat…mengapa ?, krn Aku sudah lebih dulu mengasihi kalian semuanya(1 Yoh 4:10 ). jd Aku ingin kasih”Ku mendapatkan respon dr setiap pribadi anak-anak’Ku dg segenap perasaan mrk, hanya kepada’Ku,hanya untuk’Ku !
Tahukah kamu bahwa Adam, org pertama…sangat indah,dan penuh dg kebaikan…selalu harapkan ke datangan’Ku, utk keluarkan isi hatinya kepada’Ku. dan ia menemukan kepuasan jasmani dan rohani yg tak terkira dg percakapan bersama dg Aku,Bapa’Mu, pada hari2 pertama penciptaan…! Sama spt Musa di Bukit Sinai, para Nabi dan Anak Manusia dalam kesunyian’Nya, di waktu malam dan siang hari.
Bisakah kamu hidup tanpa Aku dan diluar Aku ?, kamu ada karena Aku ada…(Kis 17:28), Aku adalah segala’mu…(Roma 11:36). Berdoalah dg tak jemu-jemu(Lukas 18:6-7)!
Terkadang kamu hrs berjuang utk bisa ber’doa, masuk ke dalam suatu sikap yg tekun dan tabah dalam IMAN..seringkali kamu jd mudah kecewa dan putus asa, bila harapan2 dan doa2mu tdk terwujud..!
Ber’doa jg berarti mencari dan berpasrah kpd kehendak’Ku..ALLAH ‘mu, bukan kpd ke’inginan dan ke’mauan mu ! org yg berdoa adalah orang yg hidup dalam cahaya Roh’Ku, dan menggunakan cahaya Roh itu sebagai Penuntun hidup’nya ! Jadikanlah kehidupan rohani’mu sebagai RAJA, dan yg lain’nya sebagai Pelayanan’nya….
Hiduplah dg ber fokus kepada’Ku…kedalam rancangan2′Ku, kedalam kehendak’Ku..ALLAH’mu !
Terima Kasih Romo Sudri..!