“Hidup dengan seorang yang paling saya takuti”
Saya seorang Ibu muda yg baru menikah sekitar 5th lalu karena MBA. Saya menikah secara katolik, ayah anak saya agamanya ikut saya. Kita menikah secara katolik. Saat itu ayah anak saya blm memiliki pekerjaan, untungnya kami masih tinggal di rumah mertua hingga detik ini. Saya tidak pernah terlalu mempermasalahkan soal materi di dalam kehidupan keluarga kami. Krn ortu saya masih bs membantu.
Sekarang keadaan saya dan ayah anak saya tidak harmonis. Dulu dia membohongi saya yang katanya pergi kuliah ternyata tidak selama 1 semester, pdhl kuliahnya dicicil setiap bulan oleh ortu saya. saya juga gak tau uangnya untuk apa. alasannya dia terlalu capai krn kerja, memang kantornya sangat jauh sekali dr rumah kami sedangkan kampus cukup dekat dgn rumah. Saya masih memaafkan dia walo sakit rasanya dibohongi slm 1 smester itu. krn kami b2 masih sangat muda.
Sering terjadi pertengkaran dlm RT kami. bahkan hampir setiap minggu. Kadang keluar kata2 kasar dr mulut kami. Suatu hari saya mengucapkan kata kasar kepada ayah anak saya. Dia tidak terima lalu dia melemparkan kain pembersih ke muka saya sebanyak 3x. Rasanya tidak sakit memang, tetapi itu menghilangkan kepercayaan saya. Karena yg saya tau, kalo seseorg sudah berani main fisik dia bisa melakukannya lg suatu saat. itu terjadi setelah 3th lbh usia pernikahan. saya memangs alah sdh berkata kasar, tapi apa iya bs diterima bgitu saja dia bersikap kasar bgitu. padahal dia juga pernah berkata kasar sama saya. saya masih bisa memaafkan dia, dgn penuh penyesalan dia meminta maaf sama saya.
Namun tidak sampai disitu saja. dia sering mengirimkan uang utk ayahnya secara diam2. saya mengetahuinya krn ayahnya selalu SMS saya setiap habis menerima uang pemberiannya. Gaji suami saya tidaklah besar bs dibilang kurang. saya harus menjaga keuangannya utk membayar asuransi anak dan kebutuhan lainnya. memang memberi bukan dari kelebihan tp dari kekurangan. hanya saja ayahnya memang sering memanfaatkan keadaan anak2nya. ada yg membuat saya dgn kakak2nya berat memberikan uang utk ayahnya (yg tidak perlu saya ceritakan dsini) belum lagi dia judi bola utk kesenangannya. sempat ketahuan sama saya, dia janji ga akan mengulangi dan ternyata masih dia lakukan ketahuan lg sama saya. saya memang suka belanja ol dan itupun bukan barang mahal, harganya hanya berkisar 50-80rb. itupun tidak sering saya lakukan. dan saya berbelanja pakai uang jajan saya yg saya dpt dr ortu (krn saya masih kuliah dan baru lulus sekitar awal th lalu) ayah anak saya malah membelanjakan uangnya utk mmbeli benda2 kesukaannya yg harganya bisa hampir 1/2 dr gajinya. pdhl dia melarang saya berbelanja benda2 yg saya sukai seharga puluhan ribu. dan saya belanja pun dia tau, sdgkan dia belanja saya tidak tahu. bahan dia suka berbohong mengenai harganya.
Dia masih suka bermain bersama teman2nya, pdhl waktu kami hanya sabtu-minggu. tapi dia lbh senang menghabiskan wkt bersama tmn2nya dhari itu. walo tidak sering. bahkan pulang kerja dia bs menyempatkan diri untuk kmpl bersama teman2nya hingga jam 12 malam. sedangkan saat saya ajak bicara kalo dia plg kerja, dia bisa lgsg tinggal tidur. dia ga betah kalo saya ajak bicara. malas mendengarkan saya. saat saya mengeluh br diterima kerja dkantor baru dgn suasana yg saya blm terbiasa, dia malah memarahi saya. Ktnya jgn kerja kl memang ga bs kerja, pdhl saya hanya menyampaikan uneg2. krn dia org yg menurut saya bs memberikan saya semangat. tapi nyatanya hampir nangis saya dbuatnya saat saya baca smsnya, alasannya dia tdk suka mendengar org mengeluh. pdhl wkt dia kerja, dia pernah hampir kena pasal2 krn kecerobohannya. dia minta saya doakan, dan saya mendoakan pagi siang sore malam. sampai akhirnya masalahnya selesai dia bbs dr masalah itu, dia mulai cuek lg sm saya.
saat dia ada masalh dan butuh dukungan dia pasti mencari saya. lalu kl dia sdh bbs dr masalah itu dia akan meninggalkan saya. saya suka ajak dia berdoa sblm tidur, tp keliatan sangat berat buat dia berdoa malam. akhirnya dia suka pura2 tidur kl liat saya berdoa. teman2nya selalu tau soal dia lbh dulu dbanding saya, dan memang hrs saya yg tanyakan dulu br dia mau cerita. semakin kesini saya merasa tidak dianggap. Dia tidak perhatian dan kl kita beradu mulut seringkali dia mengancam akan memukul saya. saya sering bertanya sama dia apa salah saya, dia sll blg “pikirin aja sendiri”
Belakangan saya baru tau ktnya krn saya kurang maksimal dlm menjalankan peran sbg istri, saya terlalu dominan, saya ga bisa masak. tapi apa iya cara dia begitu? dan saya mulai mencari perhatian kepada laki2 lain. dan hubungan itu berakhir akhir th lalu. namun, ayah anak saya masih curiga kl saya msh berhubungan dgn pria itu. terserah dia mau blg apa. Dia berakting menjadi gila, diam2 mengikuti saya d tmpt kerja, mengintip diam2 bila saya di depan komputer, melarang saya utk bepergian. Pria yg sempat dkt dgn saya itu hanyalah ngobrol lwt chat, kami mmg smpt bertemu sebanyak 4x, tp kami hanya sekedar mengobrol. dan kami bertemu di depan org banyak bkn bertemu berdua saja. tapi itu sdh masa lalu, dia sdh tidak ada dan saya sdh melupakannya.
Dua kali kami ke pastor utk konsul. dia rajin berdoa, dia lbh perhatian sm saya dan anak kita. tapi dia melakukan semata2 krn ingin mencari perhatian saya lagi, ingin mendapatkan kasih sayang lagi. krn rasa sayang dan percaya saya hilang 100% krn dibohongi dan disakiti. habis konsultasi terakhir ke pastor, dia sempat ajak saya bicara. krn saya tidak mau berdebat dgn dia d depan anak saya. saya akhirnya mengerjakan tugas freelance saya. dia msh ttp kekeh mo ajak saya bicara tp saya tidak dengarkan, akhirnya dia emosi. dia ambil hp yg saya pegang dgn paksa dan berteriak. saya blg sama dia, kl dia kasar bgitu tangan saya sakit dan akhirnya dia berteriak kl dia bs melakukan lbh dr itu. dia mencekik saya hingga 2x dan meninggalkan bekas luka krn terkena kukunya di leher sebelah kiri. ada memar di leher saya. anak saya melihat kejadian itu. dan itu membuat dia ketakutan.
Saya tidak menyadari leher saya berdarah. dia sempat menyruuh saya blg sm org2 kl itu terkena sayatan pisau. di depan sodara saya dia mengakui kl salah, tp di depan saya dia blg itu akal2an saya spy org2 simpati sama saya. berulang2 dia blg bgitu sm saya, tp bilang k org lain kl dia memang bersalah. dia membanjiri saya dgn hadiah2 yg tidak biasa dia lakukan, utk menarik perhatian saya, tp saya bkn cewe matre. itu smua tidak berarti buat saya. saya tidur tiba2 dia menumpangkan tgnnya di atas saya sampai saya terbangun. dia blg saya berbicara sendiri, padahal saya hanya menggigau. saya lihat dia jd seperti kehilangan akal sehat. say ablg, percuma kalau kmu berdoa dan sering membicarakan isi alkitab tp ternyata selalu berpikiran negatif. anak kami sempat melihat kami berbicara berdua, dan stl ayahnya pergi dia memeriksa diri saya. saya tanya sm dia mencari apa. dia blg “aku cuma mau tau, mama berdarah atau tidak. kan tadi abis ngobrol sm papa” dalam hati saya “Ya Tuhan, apa iya dia akan mengingat kejadian itu trs menerus?” tapi saya tenangkan dia bahwa kejadian wkt itu ayahnya tidak sengaja.
Intinya, saya hanya ingin berpisah dr ayah anak saya itu. Saya merasa jadi beban kl harus berpura2 baik2 saja d depan org2 banyak. kepercayaan saya kepada org yg 1-1nya harapan saya bs melindungi saya sdh hilang sama skali. Smenjak kejadian saya dicekik oleh dia, saya takut kl harus bersentuhan dgn dia. Skrg kami tidur pisah kamar, sayalah yg memilih tidak sekamar lg dgn dia. Saya tidak perduli uang bulanan yg tdk pernah dia berikan, yg penting anak kita msh dia mau tanggung biayanya. kami msh tinggal di rmh ortu saya hingga detik ini. Apakah bisa kalau saya minta perceraian? Saya bertahan hanya krn ortu saya yg gengsi bila tetangga atau keluarga besar saya tahu kalo kami sampai bercerai. Mungkin memang banayk diluar sana yg masalahnya lbh berat dr saya. Tapi saya hanya manusia biasa yg punya banyak kekurangan dan kelebihan. Saya tidak mau kl harus mengalami kejadian ini lagi. Tidak hanya secara fisik saya merasa terbebani tp secara mental pun saya menjadi beban. Ancaman2nya slm bbrp th yg tdk pernah dilakukan akhirnya bs dilakukan jg oleh ayah anak saya. Skrg saya hidup bersama org yg paling saya takuti.
Apakah bisa saya mengajukan perceraian secara katolik karena KDRT? walo kejadiannya sdh 3bln lalu.
Maaf bila terlalu berbelit2 cerita saya. Saya bingung harus cerita dan share kemana.
Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.
EMN







@EMN.. sebenarnya dasar pernikahan anda mengandung cacat yaitu pernikahan yang tidak didasari cinta melainkan karena terpaksa sebagai akibat hamil di luar nikah.
Pernikahan yang didasari oleh alasan ini, sering kali berujung pada keretakan rumah tangga. Hal itu dikarenakan ketidaksiapan salah satu atau keduanya dalam membangun RT, baik secara moral maupun materi.
KDRT dalam pernikahan Katolik tidak bisa menjadi alasan untuk mengajukan pembatalan.
Namun saya sarankan kepada anda untuk datang ke romo paroki dan mendiskusikan untuk pengajuan pembatalan tersebut. Jika cerita anda benar, maka masih ada kemungkinan membatalkannya, karena dasar pernikahan anda yang cacat tersebut. Keputusan dikabulkannya atau tidak hanya dapat diberikan oleh tribunal Gereja, yaitu dari keuskupan setempat. Bagaimana pun keputusan untuk berpisah harus dipertimbangkan secara bijaksana, terlebih anda telah memiliki anak.
Untuk sementara saya sarankan anda sebaiknya dengan sepengetahuan romo paroki, meminta hidup terpisah dari suami anda, hal ini untuk menghindari kekerasan fisik maupun psikis yang lebih parah. Carilah perlindungan dalam keluarga anda. setidaknya dengan demikian untuk sementara waktu anda dan anak anda terlindung dari kekerasan suami anda dan pengaruh buruknya terhadap anak anda.
Hal ini anda perlu lakukan untuk memulihkan jiwa anda kembali sehingga anda dapat kembali beraktifitas dengan normal, dapat berkonsentrasi kembali tanpa merasakan tekanan. Hal ini penting, bagi diri anda, terutama untuk mengumpulkan kembali kekuatan, keberanian dan tekad untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah anda. Lakukanlah ini demi anda, dan juga demi anak anda.
Anda bisa membaca-baca di forum konsultasi di website ini dengan topik tentang pernikahan dan perceraian dalam Gereja Katolik.
again, bertemulah romo paroki, minta sakramen tobat, secara rutin menerima sakramen ekaristi, berdialog untuk mencari solusi yang tepat dari saran-saran yang anda terima termasuk saran saya di atas, dan terakhir dan juga sama pentingnya, berdoalah, doa orang benar besar kuasanya.
May God bless your steps..
apa yang kau tabur itulah yg akan anda tuai, memang berat jika anda memulai sesuatu dengan tidak ada damai sejahtera akan sulit untuk mempertahankannya,…
pikirkan anak anda, jadikan dia sebagai motivasi anda, karena bagaimanapun caranya anak anda akan sangat terganggu jiwanya jika anda salah dalam melangkah,, ingat janji Tuhan “semua indah pada waktunya”,
Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup kita selalu bahagia, tapi yang dia janjikan adalah penyertaan setiap saat,, god bless