Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga – dari Homili
Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga Minggu malam di St. Anna dimeriahkan dengan dilantunkannya lagu “Tak Gendong’-nya Mbah Surip oleh Romo Sudri. Homili beliau yang selalu menarik itu diawali dengan pemahaman rasa indah. Indahnya suasana sore, indahnya hidup berkeluarga, indahnya duduk tenang di Gereja. Bisa merasakan indah itu hanya bila hati kita sederhana, tidak ruwet. Sama sama duduk di gereja orang yang hatinya ruwet ya tidak bisa merasakan indahnya duduk bersama Tuhan. Bunda Maria bisa merasakan suka cita luar biasa oleh sentuhan Tuhan, Sang Keindahan Sejati, oleh karena hatinya yang sederhana. Kini, hanya mereka yang memiliki hati yang sederhana seperti Bunda Maria yang bisa merasakan sentuhan Sang Indah dalam hidupnya.
Lagu Tak Gendong itu indah. Tapi, sesungguhnya orang yang bisa
merasakan indahnya sentuhan Tuhan itu justru Digendong kemana mana oleh Tuhan. Maka, di akhir homili, mo Sudri melantunkan “Digendong kemana mana… Digendong kemana mana… manteb to, enak to!”
Bagus to… manteb to!
Kataku mo, orang yang bisa merasakan indahnya Digendong Tuhan itulah
yang bisa Menggendong dengan indah. Maka setelah menyanyikan “Digendong kemana mana..” ya memang Side B-nya adalah “Tak Gendong kemana mana…” Sebab seorang yang berhenti pada menikmati indahnya Digendong tanpa mau Menggendong kan berarti mandul, tak berbuah, mati.
Sedangkan orang yang tidak pernah merasakan indahnya Digendong ya sulit untuk Menggendong secara indah. Mungkin aja menggendong karena
terpaksa, ato ada pamrih yang tidak indah.
Ayo mo, tak gendong! Hahahahaaa…..
Salam I love you full!
rin







Leave a Reply