<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Energi Kreatif Kehidupan</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 21:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Mencari pekerjaan &#171; Mencari Pekerjaan</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-1483</link>
		<dc:creator>Mencari pekerjaan &#171; Mencari Pekerjaan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:37:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-1483</guid>
		<description>[...] Menyampaikan rasa keinginan dalam bentuk tulisan yang menarik, menghormati dan berusaha keras untuk lebih mendalami bisnis perusahaan yang kita tuju. Disini kita [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Menyampaikan rasa keinginan dalam bentuk tulisan yang menarik, menghormati dan berusaha keras untuk lebih mendalami bisnis perusahaan yang kita tuju. Disini kita [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-1193</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 05:27:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-1193</guid>
		<description>Keinginan sebagai kotoran batin?
Agak sulit bagiku untuk mengerti ini.  Yang lain, OK-lah...

Dulu aku sekolah yang murah karena sebagian besar biaya sekolah dibayar rakyat.  Waktu itu Rp. 15.000/semester ketika Atamajaya mencapai angka ratusan ribu hingga jutaan.  Lalu aku kerja di swasta dan seluruh penghasilan adalah untuk kesejahteraan aku sendiri dan keluarga.  Dulu aku pikir,&quot;Tentu aku berhasil sekolah di sini, kan aku pinter gitu....&quot; Tapi, di satu titik aku pikir,&quot;Sungguh tidak punya hati!  Rakyat menyekolahkanku tapi ketika berhasil, aku tidak berbuat banyak untuk mereka.  Rini, kamu penipu rakyat?&quot;
Maka timbul KEINGINAN untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat

Bertahun tahun aku lewat penjara Cipinang dan tidak pernah pikir apa apa selain,&quot;Itu penjara.&quot;  Tapi di satu titik aku sampai di pemikiran,&quot;Tuhanku, kapan ya aku bisa berbuat sesuatu bagi mereka yang di dalam sana?  Aku cukup beruntung tidak touch dengan mereka, tapi.... apa memang aku beruntung?  Jangan jangan yang beruntung adalah orang yang justru touch dengan mereka.&quot;
Maka timbul KEINGINAN untuk melayani mereka.

Sejak adanya KEINGINAN itu hingga aku mulai pelayanan tidaklah lama.  Kedengarannya sebagai apa yang ada di batinku didengar Tuhan.  Tapi, sebetulnya apa yang ada di batinku dihidupkan oleh Tuhan.  Seandaianya Tuhan tidak menghidupkannya, aku kira aku masih lebih pilih leyeh leyeh di rumah dari pada panas panas Misa di penjara.  Karena keinginan itu terus saja mengetuk ngetuk batinku, minta dipenuhi.

Keheningan batinku membuatku sadar bahwa yang aku lakukan adalah pelayanan.  Artinya, aku harus tetap menomorsatukan keluarga.  Dan, pelayanan punya banyak resiko, aku sadar itu.  

Tidak lagi sebagai hutang budi kepada rakyat.  Tidak lagi sebagai hutang kepada Tuhan.  Tapi semua aku lakukan karena kecintaan.

Kukira, keinginan baik bukanlah kotoran batin.  Batin yang hening mendengar panggilan dan mendorong keinginan untuk melakukan.  Kalo batinku tidak hening maka aku tidak mendengar panggilan itu, atau kalaupun mendengar akan mengabaikannya alias tidak ada keinginan untuk melakukan apa apa.

Naaa... tapi, kalo keinginan punya baju bagus 2 truk + emas 10kg memang bisa bikin batin tidak hening.  Masku 68kg aja bisa bikin aku gak hening.... huehehehheheee.... 

aku salah mengerti?

salam, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Keinginan sebagai kotoran batin?<br />
Agak sulit bagiku untuk mengerti ini.  Yang lain, OK-lah&#8230;</p>
<p>Dulu aku sekolah yang murah karena sebagian besar biaya sekolah dibayar rakyat.  Waktu itu Rp. 15.000/semester ketika Atamajaya mencapai angka ratusan ribu hingga jutaan.  Lalu aku kerja di swasta dan seluruh penghasilan adalah untuk kesejahteraan aku sendiri dan keluarga.  Dulu aku pikir,&#8221;Tentu aku berhasil sekolah di sini, kan aku pinter gitu&#8230;.&#8221; Tapi, di satu titik aku pikir,&#8221;Sungguh tidak punya hati!  Rakyat menyekolahkanku tapi ketika berhasil, aku tidak berbuat banyak untuk mereka.  Rini, kamu penipu rakyat?&#8221;<br />
Maka timbul KEINGINAN untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat</p>
<p>Bertahun tahun aku lewat penjara Cipinang dan tidak pernah pikir apa apa selain,&#8221;Itu penjara.&#8221;  Tapi di satu titik aku sampai di pemikiran,&#8221;Tuhanku, kapan ya aku bisa berbuat sesuatu bagi mereka yang di dalam sana?  Aku cukup beruntung tidak touch dengan mereka, tapi&#8230;. apa memang aku beruntung?  Jangan jangan yang beruntung adalah orang yang justru touch dengan mereka.&#8221;<br />
Maka timbul KEINGINAN untuk melayani mereka.</p>
<p>Sejak adanya KEINGINAN itu hingga aku mulai pelayanan tidaklah lama.  Kedengarannya sebagai apa yang ada di batinku didengar Tuhan.  Tapi, sebetulnya apa yang ada di batinku dihidupkan oleh Tuhan.  Seandaianya Tuhan tidak menghidupkannya, aku kira aku masih lebih pilih leyeh leyeh di rumah dari pada panas panas Misa di penjara.  Karena keinginan itu terus saja mengetuk ngetuk batinku, minta dipenuhi.</p>
<p>Keheningan batinku membuatku sadar bahwa yang aku lakukan adalah pelayanan.  Artinya, aku harus tetap menomorsatukan keluarga.  Dan, pelayanan punya banyak resiko, aku sadar itu.  </p>
<p>Tidak lagi sebagai hutang budi kepada rakyat.  Tidak lagi sebagai hutang kepada Tuhan.  Tapi semua aku lakukan karena kecintaan.</p>
<p>Kukira, keinginan baik bukanlah kotoran batin.  Batin yang hening mendengar panggilan dan mendorong keinginan untuk melakukan.  Kalo batinku tidak hening maka aku tidak mendengar panggilan itu, atau kalaupun mendengar akan mengabaikannya alias tidak ada keinginan untuk melakukan apa apa.</p>
<p>Naaa&#8230; tapi, kalo keinginan punya baju bagus 2 truk + emas 10kg memang bisa bikin batin tidak hening.  Masku 68kg aja bisa bikin aku gak hening&#8230;. huehehehheheee&#8230;. </p>
<p>aku salah mengerti?</p>
<p>salam, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: regina.mary</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-1190</link>
		<dc:creator>regina.mary</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 16:10:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-1190</guid>
		<description>Hanya sebuah tulisan??? mampuhkah kt memahami suatu tulisan.Kalau kebeningan jiwa/hati kt sdh ada.Tulisan apapun yang baik bisa meng&#039;hidupi&#039;iman kita.Contohnya sy kembali di tulisan ini&quot;Energi kreatif kehidupan&quot;.

Sepulang dari suatu pertemuan,banyak keindahaan disetiap umat yg hadir di tempat itu,walau hy beberapa orang tetapi karena Kerendahaan hati mereka lah terucap kata-kata yg sangat bijak.Org yg sdh pensiunan mengolah batinnya dgn lbh bersabar menghadapi hariannya yg lbh banyak kegiatan diseputar tempat tinggal.Org yg berumah tangga muda mengolah kesabarannya dgn pengasuhan anaknya yg msh balita,seorang ayah teladan mengolah batinnya dengan menyadari disetiap masalah2 yg dihadapinya.

Energi Allah yg sdh tinggal lbh dahulu,sejak kt semua baru membuka mata kt di dunia ini,tetap ada sampai saat ini kalau nafas kehidupan msh terhembus.Kebeningan hati/jiwa yg sudah lbh dahulu kt sadari siapa yg menempati batin kt.Lahirlah semua kecintaan,kesadaraan tinggi,menetapkan,melakukan segalanya dgn tindakan-tindakan yg murni.

Barangkali kami2 yg tadi berkumpul bukanlah seorang yg cerdas dalam ilmu/intelektual dsb.Tapi kecerdasaan yg muncul begitu saja,spontanitas,berbelas rasa,bijaksana dalam bersikap,keluwesan dlm penyampaian,tdk mengadili,tdk memojoki,tdk melabel segala sesuatunya,Sehingga terciptanya keindahaan-keindahaan di setiap ucapan satu dengan lainnya.

Pulang tak lain,Memberi senyum ketulusan bagi orang-orang yg kt jumpai.Karena apa?karena Allah,Roh Kudus sdh menempati energi-energi kebaikan/kebeningan/kejernihan/kecerdasan di setiap hati.
Tiada lagi amarah terumbar&amp;tersimpan didalam batin,

Terima kasih jalan2 kehendakNYA,untuk mampir kembali di web yg baik ini.&#039;hidup&#039;didalam setiap tulisan-tulisannya.

syaloom</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya sebuah tulisan??? mampuhkah kt memahami suatu tulisan.Kalau kebeningan jiwa/hati kt sdh ada.Tulisan apapun yang baik bisa meng&#8217;hidupi&#8217;iman kita.Contohnya sy kembali di tulisan ini&#8221;Energi kreatif kehidupan&#8221;.</p>
<p>Sepulang dari suatu pertemuan,banyak keindahaan disetiap umat yg hadir di tempat itu,walau hy beberapa orang tetapi karena Kerendahaan hati mereka lah terucap kata-kata yg sangat bijak.Org yg sdh pensiunan mengolah batinnya dgn lbh bersabar menghadapi hariannya yg lbh banyak kegiatan diseputar tempat tinggal.Org yg berumah tangga muda mengolah kesabarannya dgn pengasuhan anaknya yg msh balita,seorang ayah teladan mengolah batinnya dengan menyadari disetiap masalah2 yg dihadapinya.</p>
<p>Energi Allah yg sdh tinggal lbh dahulu,sejak kt semua baru membuka mata kt di dunia ini,tetap ada sampai saat ini kalau nafas kehidupan msh terhembus.Kebeningan hati/jiwa yg sudah lbh dahulu kt sadari siapa yg menempati batin kt.Lahirlah semua kecintaan,kesadaraan tinggi,menetapkan,melakukan segalanya dgn tindakan-tindakan yg murni.</p>
<p>Barangkali kami2 yg tadi berkumpul bukanlah seorang yg cerdas dalam ilmu/intelektual dsb.Tapi kecerdasaan yg muncul begitu saja,spontanitas,berbelas rasa,bijaksana dalam bersikap,keluwesan dlm penyampaian,tdk mengadili,tdk memojoki,tdk melabel segala sesuatunya,Sehingga terciptanya keindahaan-keindahaan di setiap ucapan satu dengan lainnya.</p>
<p>Pulang tak lain,Memberi senyum ketulusan bagi orang-orang yg kt jumpai.Karena apa?karena Allah,Roh Kudus sdh menempati energi-energi kebaikan/kebeningan/kejernihan/kecerdasan di setiap hati.<br />
Tiada lagi amarah terumbar&amp;tersimpan didalam batin,</p>
<p>Terima kasih jalan2 kehendakNYA,untuk mampir kembali di web yg baik ini.&#8217;hidup&#8217;didalam setiap tulisan-tulisannya.</p>
<p>syaloom</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: angela asriarti</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-489</link>
		<dc:creator>angela asriarti</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 16:22:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-489</guid>
		<description>Romo, boleh sy bertanya? apakah konsistensi tindakan adl hsl dr batin yg hening dan religius? Angela
=========
Dari pengalaman saya, meskipun saya mengejar, memperjuangkan, mencoba bertahan untuk tetap konsisten, saya tetap melihat diri saya tidak-konsisten (in-konsisten). Alih-alih menyadari setiap ketidak-konsistensian (inkonsistensi) diri membuat konsistensi itu mungkin terlahirkan setiap saat. Batin yang hening adalah adalah batin yang sadar akan gerak inkonsistensi diri terus-menerus, termasuk daya upaya, perjuangan untuk menjadi konsisten. Jadi dengan menyadari inkonsistensi diri di sana mungkin ada konsistensi. S</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Romo, boleh sy bertanya? apakah konsistensi tindakan adl hsl dr batin yg hening dan religius? Angela<br />
=========<br />
Dari pengalaman saya, meskipun saya mengejar, memperjuangkan, mencoba bertahan untuk tetap konsisten, saya tetap melihat diri saya tidak-konsisten (in-konsisten). Alih-alih menyadari setiap ketidak-konsistensian (inkonsistensi) diri membuat konsistensi itu mungkin terlahirkan setiap saat. Batin yang hening adalah adalah batin yang sadar akan gerak inkonsistensi diri terus-menerus, termasuk daya upaya, perjuangan untuk menjadi konsisten. Jadi dengan menyadari inkonsistensi diri di sana mungkin ada konsistensi. S</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Martina</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-485</link>
		<dc:creator>Martina</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 09:28:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-485</guid>
		<description>Romo, ketika pikiran dan batin kita menyimpan konflik sungguh akan menghabiskan banyak energi, dan sungguh disayangkan kita menghambur-hamburkan energi itu secara percuma, dan saya melihat dan mengalami sendiri hal ini, ketika pikiranku semakin berkonflik, aku merasakan kelelahan luar biasa, Mohon maaf ya Romo, dengan jujur saya mau katakan kalau saya belum bisa jaga dan kontrol emosi saya dengan baik, namun hal ini sudah mulai mengalami banyak perubahan, baik yang saya sadari sendiri, baik ungkapan keluarga dan teman-temanku. Saya berterimakasih banyak pada Romo atas kebaikan dan kesetiaan Romo membantu dan senantiasa memberikan masukan-masukan yang sungguh membawa saya secara pribadi mulai mengalami perubahan..

Membaca tulisan Romo perihal 5 kotoran batin, saya sangat tertarik dengan kotoran batin yg pertama yaitu Keinginan. Menurut Romo Keinginan yang serakah dan juga keinginan yang lumrah, maupun keinginan yang paling kasar bahkan yang paling halus menjadi perintang kemajuan rohani, dan semua itu  sungguh saya sadari benar adanya. Ketika saya ingin berubah saya berharap saya bisa melepas segala keinginan itu.

Sekarang saya tidak memiliki keinginan dalam hidup, saat ini saya menjalani hidup apa adanya. Harta, keluarga dan segala yang Tuhan titipkan buat saya tidaklah abadi, saya sekarang sudah menyadari itu, bahkan keinginan terbesar dalam hidupku untuk memiliki anak sudah bisa saya sadari sebagai keinginan yang serakah. Saya mau memiliki batin yang diam dari segala keinginan dan juga bersih sehingga bisa dipakai untuk mengaca diri bukan seperti tulisan dibawah ini:
&quot;Batin yang penuh dengan keinginan adalah batin yang keruh. Ia seperti kolam yang permukaannya keruh. Permukaan kolam yang keruh tentu tidak bisa dipakai untuk mengaca diri. Ia mengotori persepsi murni dan memecah-mecah kesadaran.&quot;

Akhir kata tiada henti saya berterimakasih, karena Romo mau menanggapi unek-unek yang saya sampaikan lewat tulisan-tulisan ini ke Romo...Semoga Romo selalu dalam keadaan sehat sehingga bisa membantu dan menolong lebih banyak lagi orang yang masih membutuhkan banyak bimbingan dan masukan-masukan dalam perubahan hidup kami. GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Romo, ketika pikiran dan batin kita menyimpan konflik sungguh akan menghabiskan banyak energi, dan sungguh disayangkan kita menghambur-hamburkan energi itu secara percuma, dan saya melihat dan mengalami sendiri hal ini, ketika pikiranku semakin berkonflik, aku merasakan kelelahan luar biasa, Mohon maaf ya Romo, dengan jujur saya mau katakan kalau saya belum bisa jaga dan kontrol emosi saya dengan baik, namun hal ini sudah mulai mengalami banyak perubahan, baik yang saya sadari sendiri, baik ungkapan keluarga dan teman-temanku. Saya berterimakasih banyak pada Romo atas kebaikan dan kesetiaan Romo membantu dan senantiasa memberikan masukan-masukan yang sungguh membawa saya secara pribadi mulai mengalami perubahan..</p>
<p>Membaca tulisan Romo perihal 5 kotoran batin, saya sangat tertarik dengan kotoran batin yg pertama yaitu Keinginan. Menurut Romo Keinginan yang serakah dan juga keinginan yang lumrah, maupun keinginan yang paling kasar bahkan yang paling halus menjadi perintang kemajuan rohani, dan semua itu  sungguh saya sadari benar adanya. Ketika saya ingin berubah saya berharap saya bisa melepas segala keinginan itu.</p>
<p>Sekarang saya tidak memiliki keinginan dalam hidup, saat ini saya menjalani hidup apa adanya. Harta, keluarga dan segala yang Tuhan titipkan buat saya tidaklah abadi, saya sekarang sudah menyadari itu, bahkan keinginan terbesar dalam hidupku untuk memiliki anak sudah bisa saya sadari sebagai keinginan yang serakah. Saya mau memiliki batin yang diam dari segala keinginan dan juga bersih sehingga bisa dipakai untuk mengaca diri bukan seperti tulisan dibawah ini:<br />
&#8220;Batin yang penuh dengan keinginan adalah batin yang keruh. Ia seperti kolam yang permukaannya keruh. Permukaan kolam yang keruh tentu tidak bisa dipakai untuk mengaca diri. Ia mengotori persepsi murni dan memecah-mecah kesadaran.&#8221;</p>
<p>Akhir kata tiada henti saya berterimakasih, karena Romo mau menanggapi unek-unek yang saya sampaikan lewat tulisan-tulisan ini ke Romo&#8230;Semoga Romo selalu dalam keadaan sehat sehingga bisa membantu dan menolong lebih banyak lagi orang yang masih membutuhkan banyak bimbingan dan masukan-masukan dalam perubahan hidup kami. GBU</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Maryliedawita</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-481</link>
		<dc:creator>Maryliedawita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 05:56:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-481</guid>
		<description>Sharing yang luar biasa dan baik sekali, itu yang saya rasakan, bagaimana kita bisa senantiasa memelihara energi Kreatif ditengah kesibukan kita.

Membaca tulisan Romo saya ingin sharing tentang apa yang dulu saya pernah rasakan sehabis mengikuti pelatihan dan seminar &#039;Born to Win&quot;, full day selama 3 hari dan setelah mengikuti seminar tersebut memang banyak hasil positf yang diperoleh demikian juga team dikantor karena program seminar diwajibkan untuk semua karyawan mulai dari operator sampai dengan CEO, secara bergantian dan hasilnya memang positif, kinerja membaik, output/produktifitas meningkat, namun itu tidak lama, efektif sekitar untuk tahun berjalan, lama kelamaan impact dari seminar tersebut mulai sirna termakan oleh waktu, memang kita membuat motivation training yang lain utk menggali energi kreatif  senantiasa dipertahankan namun sekarang saya mulai sungguh memahami bahwa saat itu pikiran, keinginan lebih dominan dari kenyataan.Yah saat semua itu dilakukan lebih menggunakan mekanisme kerja kognisi &amp; afeksi yang semuanya itu terasa sangat miskin &amp; terbatas dan menjadi penghalang mekarnya energi kehidupan itu sendiri, demikian juga dalam hampir banyak kegiatan sehari-hari, pikiran, keinginan sering mendominasi tindakan, terjebak lagi karena hidup ditengah hutan belantara.
 
Saat saya membaca tulisan Romo ini dan semuanya menjawab apa yang sering kali saya ingin agar energi kreatif kehidupan itu senantiasa mekar ditengah kesibukan kita.

Dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saya belajar dan berlatih merasakan kebebasan dalam arti sesungguhnya, pengamatan total terus menerus agar masuk dalam batin yang hening, sungguh indah saat itu ada. Batin yang hening membuat kotoran batin hilang, tiada rasa marah, gelisah, malas, tidak, senang ragu-ragu, benci etc semuanya lenyap dan memandang semua baik dan positif, yang muncul rasa syukur dan kerendahan hati, sungguh luar biasa.Pemahaman saya menjadi lebih baik dengan semua tulisan yang pernah Romo berikan, much appreciated.
 
Ok gitu dulu, mau lanjut beraktifias and have a great day.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sharing yang luar biasa dan baik sekali, itu yang saya rasakan, bagaimana kita bisa senantiasa memelihara energi Kreatif ditengah kesibukan kita.</p>
<p>Membaca tulisan Romo saya ingin sharing tentang apa yang dulu saya pernah rasakan sehabis mengikuti pelatihan dan seminar &#8216;Born to Win&#8221;, full day selama 3 hari dan setelah mengikuti seminar tersebut memang banyak hasil positf yang diperoleh demikian juga team dikantor karena program seminar diwajibkan untuk semua karyawan mulai dari operator sampai dengan CEO, secara bergantian dan hasilnya memang positif, kinerja membaik, output/produktifitas meningkat, namun itu tidak lama, efektif sekitar untuk tahun berjalan, lama kelamaan impact dari seminar tersebut mulai sirna termakan oleh waktu, memang kita membuat motivation training yang lain utk menggali energi kreatif  senantiasa dipertahankan namun sekarang saya mulai sungguh memahami bahwa saat itu pikiran, keinginan lebih dominan dari kenyataan.Yah saat semua itu dilakukan lebih menggunakan mekanisme kerja kognisi &amp; afeksi yang semuanya itu terasa sangat miskin &amp; terbatas dan menjadi penghalang mekarnya energi kehidupan itu sendiri, demikian juga dalam hampir banyak kegiatan sehari-hari, pikiran, keinginan sering mendominasi tindakan, terjebak lagi karena hidup ditengah hutan belantara.</p>
<p>Saat saya membaca tulisan Romo ini dan semuanya menjawab apa yang sering kali saya ingin agar energi kreatif kehidupan itu senantiasa mekar ditengah kesibukan kita.</p>
<p>Dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saya belajar dan berlatih merasakan kebebasan dalam arti sesungguhnya, pengamatan total terus menerus agar masuk dalam batin yang hening, sungguh indah saat itu ada. Batin yang hening membuat kotoran batin hilang, tiada rasa marah, gelisah, malas, tidak, senang ragu-ragu, benci etc semuanya lenyap dan memandang semua baik dan positif, yang muncul rasa syukur dan kerendahan hati, sungguh luar biasa.Pemahaman saya menjadi lebih baik dengan semua tulisan yang pernah Romo berikan, much appreciated.</p>
<p>Ok gitu dulu, mau lanjut beraktifias and have a great day.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dessi</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-480</link>
		<dc:creator>Dessi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 05:54:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-480</guid>
		<description>Tulisan yang menarik romo. Memberi pemahaman baru tentang keinginan yang dapat membuat batin terjebak oleh  oleh rasa perasaan. Jadi teringat pernah mempunyai pengalaman yang meninggalkan bekas mendalam di dalam batin karena batin yang belum hening. Membiasakan diri hidup dengan batin yang hening?. Yang berarti melepaskan semua kotoran batin. Keinginan, keragu-raguan, rasa malas, bosan, tidak senang yang membuat batin terjebak, terbelenggu dan terikat hingga menutup kebebasan. Hmmm harus banyak latihan meditasi ya mo biar bisa terbiasa  hidup dengan batin yang hening.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan yang menarik romo. Memberi pemahaman baru tentang keinginan yang dapat membuat batin terjebak oleh  oleh rasa perasaan. Jadi teringat pernah mempunyai pengalaman yang meninggalkan bekas mendalam di dalam batin karena batin yang belum hening. Membiasakan diri hidup dengan batin yang hening?. Yang berarti melepaskan semua kotoran batin. Keinginan, keragu-raguan, rasa malas, bosan, tidak senang yang membuat batin terjebak, terbelenggu dan terikat hingga menutup kebebasan. Hmmm harus banyak latihan meditasi ya mo biar bisa terbiasa  hidup dengan batin yang hening.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lucia</title>
		<link>http://gerejastanna.org/energi-kreatif-kehidupan/comment-page-1/#comment-478</link>
		<dc:creator>Lucia</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 07:13:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=333#comment-478</guid>
		<description></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Romo,</p>
<p>Tulisan apa lagi ini yang membuat saya terperangah, ternyata batin saya dipenuhi kotoran yg tidak pernah saya sadari karena saya selalu beranggapan bahwa apa yang saya lakukan adalah baik adanya. </p>
<p>Belum lagi hilang rasa lelah apa maksud Romo dalam tulisan Membongkar dan Membangun, Romo memberi sarapan batin yang tidak kalah nikmat karena sulit dikunyah oleh akal sehat:  Konflik dan Rekonsiliasi.  Sekarang Romo seperti hendak meruntuhkan dinding keakuan diri ini dengan tulisan yang membuat saya tidak bergeming menatapnya, sampai nafas saya terhenti dengan sendirinya:  Energi Kreatif Kehidupan.  Apakah saya kurang kreatif sehingga teman saya sedikit.</p>
<p>Tidakkah Romo lihat batin ini bereaksi, bergerak, ingin dianggap terbesar dengan memberi tanggapan lebih awal.  Saya belum buka e-mail saya, mo, saya membaca tulisan Romo dari website dan duduk manis menyiapkan tanggapan ini.  Dengan duduk begini, saya tidak perlu membagi perhatian saya pada inbox yang tak habis-habisnya dipenuhi dengan berbagai berita dari teman-teman satu komunitas.  Dengan begini saya bisa lebih focus memakai energi saya, lepas bebas menulis tanpa terbelenggu apapun yang melintas.  Saya merasakan sekali seolah hendak berkata:  aku ini hamba yang hina dina, yang merasa tak layak untuk tengadah dan meneruskan kata-kata terjadilah padaku menurut kehendak Yang Tak Dikenal. Ya, Tak Dikenal, sebab saya tidak tahu apakah itu sungguh Tuhan atau utusan dari kayangan atau iblis yang menyamar menjadi malaikat.  Siapa yang pernah melihat Tuhan?</p>
<p>Saya bahkan tidak mengerti bagaimana Roh Kudus ada dalam diri ini, darimana datangnya dimana Ia berdiam.  Saya tidak tahu bahwa tubuh ini adalah bait Allah yang senantiasa harus dijaga kekudusannya. </p>
<p>Batinku tidak bening, bersih, jernih apa adanya seperti dasar laut kolam di bagian bumi ini yang bisa terlihat dari permukaan laut.  Batinku penuh dengan lumpur yang bergolak seperti air keruh yang menerjang tanggul Situ Gintung minggu lalu…. Ihhh… ngeri melihat luapan air itu: air kotor penuh dengan endapan lumpur, tanah merah dan material lainnya yang mengendap di dalam Situ menerjang apa saja yang ada dihadapannya.  Seperti itukah kotoran batin yang ada dalam diri saya? Tentunya lebih dasyat lagi karena aku ini ciptaan Tuhan yang paling tinggi, berkehendak dan akal budi, namun aku tidak pernah menyadari tujuan hidupku yang pasti.  Batin ini dangkal dan sempit, yang selalu mengejar apa yang aku anggap baik.  Jadilah dualitas yang ada dalam benakku:  like and dislike:  Kalau aku suka aku dekati, kalau aku tidak suka memandangpun aku tak sudi.  Ahhhh… alangkah sedihnya Yesus bila Ia ditolak seperti ini….</p>
<p>Belum usai aku memandangi tulisan Romo tentang Konflik &amp; Rekonsiliasi, diakhir tulisan Energi Kreatif Kehidupan ini terulang konflik dalam ingatan.</p>
<p>Mengapa manusia kerap tidak sadar, membawa dirinya memasuki konflik:  konflik dlm dirinya, konflik dengan sesama.  Mengapa mengaku saudara bila berambisi untuk mengalahkan orang lain dgn menghalalkan segala cara yang aku anggap baik:  menggelapkan uang, melakukan pengejaran, meniru-niru, menganggap orang lain lebih rendah drpd aku.  Bahkan menghakimi secara sepihak sehingga rohaniwan bingung dan terprovokasi!?  Semuanya itu aku lakukan tanpa sungguh-2 aku sadari krn aku selalu beranggapan apa yg aku lakukan adalah baik adanya. Apa artinya berbuat baik dgn berdiri diatas derita orang lain? Agar aku dianggap terhormat, bermartabat, aku menyumbang utk yaysn sosial tetapi yg aku sumbangkan sebagian merupakan milik orang lain yg tdk pernah tahu keberadaan miliknya, toh dia tdk tahu ini.   Ternyata aku bukan sekedar keliru, aku semakin jauh dari ketulusan hati &amp; kesadaran murni;  orang yg aku hadapi bukan sembarang orang yang marah besar ketika diberitahu hal itu. </p>
<p>Aduhh, aduh, aduh… saya belum mendapat jawaban yang pasti, Energi yang besar itu utk masalah praktis-teknologis, eksplorasi lebih dlm atas realitas konkritnya seperti apa. Ternyata jawabannya ada disini, itu pun belum sepenuhnya dipahami, karena pikiran ini bergerak lagi…………….</p>
<p>Terima kasih Romo, atas tulisan yang cerah ini.  Kemarin hati ini dipenuhi konflik, sampai teman saya terperangah karena w2w nya penuh dengan tulisan saya.  Konflik dari dalam diri yang berperang melawan gerak diri yang Tak Dikenal yang juga berasal dari dalam.</p>
<p>Take care of your self and always be aware. Hanya dengan awareness kita bisa melihat apa yang tidak kelihatan oleh mata biasa.</p>
<p>Salam<br />
Lc</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
