Empat Jalan Melepas Penderitaan
Penderitaan muncul dari keinginan dan keinginan selalu mempunyai objek. Objek ini bisa berupa segala sesuatu di alam rupa atau materi (tanah, air, angin, api); segala sesuatu di alam nafsu; segala sesuatu di alam surga tanpa wujud; segala sesuatu di alam tanpa wujud; segala sesuatu yang dilihat, yang didengar, yang dirasakan dengan indra, yang dikenali; segala paham keesaan, keanekaan, keseluruhan, pembebasan, kesatuan, pencerahan, kekosongan, keheningan, kesucian, keallahan, dst. Pendeknya, objek ini adalah segala sesuatu yang ada dalam kesadaran.
Melepas objek keinginan dan subjek yang berkeinginan akan membebaskan diri dari penderitaan. Maka ada empat jalan melepas penderitaan: melepas subjek tanpa melepas objek; melepas objek tanpa melepas subjek; melepas baik subjek maupun objek; melepas bukan subjek dan bukan objek.
Melepas Subjek dan Bukan Objek
Seorang ibu kehilangan ratusan juta rupiah di pasar saham. Ia tidak pernah mengalami kehilangan uang sebanyak itu dalam hidupnya. Ia bertanya kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga mengakibatkan kerugian tersebut.
Ia menderita pertama-tama bukan karena kehilangan uang ratusan juta rupiah, melainkan karena pikiran tentang kesalahan yang telah ia lakukan yang mungkin mengakibatkan kerugian tersebut. Pikirannya lebih banyak berperan sebagai penyebab penderitaan daripada hilangnya ratusan juta rupiah.
Ibu tersebut dipenjara oleh subjek. Bisa jadi ia memang melakukan kesalahan dalam membaca pergerakan indeks saham di pasar saham; bisa jadi ia tidak melakukan kesalahan. Anjloknya pasar saham secara global merupakan realita objektif yang mengakibatkan kerugian di pihak ibu tersebut. Baik subjek maupun objek berperan dalam menciptakan kesedihan.
Orang seperti ibu tersebut bisa dibantu untuk melepas subjek dan bukan objeknya. Pikiran orang menentukan realita. Saat orang sedang sedih, ia melihat seluruh dunia tampak suram; saat orang bahagia, ia memandang seluruh dunia tampak indah mempesona.
Realita objek perlu ditekankan: adalah wajar ada pergerakan naik dan turun, saling pengaruh global dan lokal. Pergerakan itu alamiah adanya seperti terbitnya matahari di pagi hari dan terbenamnya matahari di sore hari. Berharap matahari bersinar terus sepanjang hari merupakan harapan yang absurd.
Melepas Objek dan Bukan Subjek
Seorang pria setengah baya sedang dilanda krisis dalam hidup berumah tangga. Ia mudah jatuh hati pada seorang perempuan yang rupawan. Meskipun sudah mempunyai istri, ia masih memiliki wanita-wanita simpanan.
Pria tersebut didera oleh objek dalam wujud perempuan yang rupawan. Ia mengaku tidak tahan menahan gelora nafsu saat melihat perempuan yang rupawan. Ia bisa dibantu dengan melepas objek dan memberi penekanan pada peran subjek.
Perasaan akan objek tertentu merupakan manifestasi dari kesadaran. Segala sesuatu yang kita rasakan, yang kita sentuh, yang kita kenali, yang kita dengar bisa menguasai diri kita dan membuat kita menderita. Dengan melepas objek, kita kembali kepada kesadaran bahwa mereka semua bukan realita independent di luar diri kita. Subjek dan objek selalu saling terhubung dan saling berpengaruh.
Melepas Subjek dan Objek
Seorang bapak mengeluh karena setelah sekian tahun hidup berumah-tangga, ia tetap merasakan ada jarak antara dirinya dengan pasangan hidup dan anak-anaknya. Keluarga ini cukup mapan secara ekonomi. Tidak ada ketidakharmonisan hubungan antara suami-istri ataupun antara anak-anak dengan dirinya. Hubungan yang paling intim sekalipun masih tetap menyisakan jarak antara dirinya dengan yang lain. Ia meniti berbagai jalan kerohanian tapi ia merasa tetap sebagai orang asing yang terpisah dari orang lain, termasuk orang-orang yang ia cintai.
Orang seperti bapak tersebut bisa dibantu dengan melepas subjek dan objek sekaligus. Adanya subjek dan objek selalu menimbulkan jarak; adanya jarak selalu menciptakan ketegangan dan konflik.
Peganglah obor api di tangan kiri dan dekatkan tangan kanan anda ke obor api tersebut. Kalau terlalu dekat, tangan kanan anda bisa terbakar oleh obor api. Tangan anda bisa terbakar karena tangan anda bukanlah obor api dan obor api bukanlah tangan anda. Tangan kanan anda tidak akan terbakar meskipun dilekatkan dengan obor api kalau tangan kanan anda adalah juga obor api. Persoalan terjadi karena ada jarak antara tangan kanan anda dan obor api, antara subjek dan objek.
Ketika menyaksikan pergerakan gelombang besar dari lautan dan menghantam hampir seluruh kawasan pesisir Aceh pada 26 Desember 2004, orang-orang Aceh berpikir bahwa hari Kiamat sudah tiba. Bumi akan segera runtuh. Dalam sekejap, mereka melihat kampung mereka dan kampung-kampung tetangga mereka habis disapu gelombang air. Mereka melihat tidak ada lagi kampung tersisa, baik kampung mereka maupun kampung tetangga. Kehidupan seolah terhenti dan segala hubungan terputus.
Terlepasnya entitas subjek dan objek serta pudarnya hubungan subjek dan objek adalah seperti hilangnya kampung-kampung karena disapu gelombang Tsunami dan pudarnya hubungan antar kampung. Terlepasnya subjek sekaligus objek secara permanen tentu tidak menguntungkan dalam gerak kehidupan sehari-hari seperti halnya hilangnya kampung-kampung dan terputusnya hubungan antar kampung. Namun moment terlepasnya subjek sekaligus membuka perspektif baru dalam melihat realita.
Melepas Bukan Subjek dan Bukan Objek
Pada sore hari pada hari pertama setelah Tsunami, orang-orang Aceh melihat dari kejauhan asap membubung dari antara pepohonan. Orang-orang melihat ternyata masih ada kehidupan di kampung tetangga. Mereka kemudian mencari jalan untuk berhubungan kembali dengan kampung tetangga yang sempat terputus.
Setelah subjek dan objek terlepas, orang kembali kepada realita kehidupan secara nyata, kembali ke alam dualitas subjek dan objek. Namun demikian ia bebas dari penjara subjek, bebas dari penjara objek, bebas dari penjara tiada subjek dan tiada objek, bebas dari penjara subjek sekaligus objek. Ia kembali berelasi dengan anak dan pasangan hidup, uang dan barang-barang, alam yang berwujud dan tak berwujud, dan seterusnya dengan perspektif yang baru.
Orang biasa yang tidak menjalani latihan-latihan rohani cenderung dipenjara oleh objek sementara pejalan rohani cenderung dipenjara oleh subjek. Lebih mudah melepas objek pikiran daripada pikiran itu sendiri. Lebih mudah melepas objek keinginan daripada keinginan itu sendiri. Orang takut melepas pikiran atau keinginannya karena pandangan bahwa dengan melepas pikiran atau keinginan hanya akan meninggalkan kehampaan; tidak akan ada sesuatu yang dirasakan, disentuh, didengar, dilihat, dicapai, diperoleh, dst. Terlepasnya pikiran dan objek pikiran bukan membawa kepada kehampaan, melainkan pada realita yang sesungguhnya.*







Ketika saya baca tulisan ini jadi ingat beberapa waktu lalu ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa saya harus kalah dengan keadaan politik hukum di Indonesia bahwa dengan uang semua bisa dihalalkan, dari pengalaman ini saya mengetahui bahwa benar hukum di negara kita ini sudah bobrok dan kedua saya melepas objek dan subjek dari pikiran saya agar gerak perjalanan hidup terus maju walaupun saya sempat jengkel, marah, sedih, senang campur aduk dalam proses untuk melepas. Dari hari kehari dengan olah rohani membantu saya untuk melihat dengan jelas ini adalah sebuah relitas hidup yang harus dilalui. Saya selalu percaya bukan doa yang tidak dikabulkan tapi keserakahan dan kesombongan manusia yang mau menjadi tuhan dalam pengaruh lingkungannya dengan materi yang dia punya. (CL)
Sy sungguh berterimakasih untuk renungan ini, ada 4 jalan melepas penderitaan, yakni : Melepas Subjek dan Bukan Objek, Melepas Objek dan Bukan Subjek, Melepas Subjek dan Objek, Melepas Bukan Subjek dan Bukan Objek. Tetapi Romo, sy masih sulit untuk melepaskan subjek, seperi illustrasi si ibu yang kehilangan ratusan juta rupiah..Karena sy juga pernah melakukan kesalahan dalam berinvestasi, dan pikiran itu selalu menghantui sy, hal ini ditambah dengan komentar – komentar miring dari keluarga yang menyudutkan yg akhirnya selalu dipikirkan. Namun pagi ini sy mendapatkan pencerahan dari Romo, sy harus melatih diri untuk melepaskan subjek itu, agar sy bisa terbebas dari penderitaan.. Thank,s ya Romo……..sy mau melanjutkan perjalanan sy bersepeda bersama Yesus, krn sy baru mendapatkan hadiah yang begitu saya perlukan dan bisa sy bagi-bagikan untuk orang-orang yang membutuhkan di tengah krisis global ini……….GBU (MM)
Romo, alih-alih lepasnya pikiran dan objek pikiran, yang ditakutkan pejalan rohani adalah sesuatu yang belum pernah dialami: terhubungnya subjek dan objek, saling bergantung dan tidak berdiri sendiri secara absolut. Perhaps.
Dear LF,
Ketakutan selalu punya objek. Namun mungkinkah objek itu adalah sesuatu yang belum dialami atau tak dikenal? Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak kita kenal membuat kita takut? Bukankah kita hanya takut akan sesuatu yang kita kenal? Anda mungkin takut dengan ular berbisa. Kalau anda jalan-jalan di tepian hutan dan anda tidak melihat ular atau gambaran ular tidak ada dalam kesadaran anda, bagaimana mungkin anda takut? Tapi kalau anda melihat sebatang ranting atau pohon di pinggir jalan anda pikir itu adalah luar, maka anda menjadi takut meskipun itu sebenarnya bukan ular. Jadi, mungkinkan pejalan rohani takut akan sesuatu yang belum pernah dialami? (S)
Iyaa… terima kasih.