Dua tahun menikah, letih, suami ingin cerai

Salam sejahtera dalam Yesus…

Romo, saya dari Medan. Mohon pencerahan bagi keutuhan rumahtangga saya,baik saya sebagai isteri dan suami saya.
Romo,kami menikah desember 2008. Kami berasal dari keluarga katolik.Penikahan secara Katolik, adat dan sipil.Romo, diawal pernikahan kami dulu kami tinggal di jakarta. Sering terjadi pertengkaran karena masing2 ego, rasa capek sepulang kerja sehingga emosi tinggi dan merasa kurang diperhatikan.Jujur Romo, dana saya sudah mengakui pengakuan dosa dan mohon sakramen tobat dari pastor paroki. Kesalahan saya yang terbesar dulu saya hampir mencoba mengakhiri hidup saya dan merasa putus asa minta cerai dari suami. Pada saat itu memang hati dan mata saya tertutup dan merasa sendiri tanpa pendamping.Saya sudah mohon ampun kepada Tuhan dan mohon maaf secara khusus kepada suami bahkan saya sampai memeluk dan mencium kakinya untuk memohon maaf darinya.Saya lakukan semuanya untuk memperbaiki hati saya dan suami sehingga rumahtangga kami dapat lebih harminis lagi di dalam Tuhan. Tapi suami menghempaskan kakinya dan belum mau memaafkan saya. Saat ini,suami ingin mengajukan perceraian secara katolik.Romo, terakhir kali suami pernah mengatakan bahwa dia mulai tertarik dengan wanita lain dan sering pulang malam. Alasannya selalu di warnet (internetan).Romo, sejak suami saya mengatakan hal itu, hancur hati saya dan sering sekali saya tidak percaya padanya.
Romo, mohon pencerahannya agar Tuhan dan Roh Kudus bekerja di dalam rumahtangga kami. Apa yang harus saya lakukan Romo?
Mohon doanya Romo…

Pipin

12 Responses to “Dua tahun menikah, letih, suami ingin cerai”

  1. Pertama yang perlu diingat adalah bahwa Pernikahan yang sah di dalam Gereja Katolik dan sudah disempurnakan melalui hubungan suami isteri tidak bisa diceraikan.. tidak ada dasar sama sekali dalam cerita anda, bahwa pernikahan kalian bisa dibatalkan.

    Saya melihat anda dan suami anda satu sama lain perlu membuka diri apabila keduanya menginginkan menyelamatkan pernikahan ini. membuka diri juga berarti mau berkomitmen untuk melakukan perubahan. anda berdua membutuhkan seorang konselor untuk menjembatani komunikasi yang rusak karena kemarahan dan rasa tidak percaya satu sama lain. Proses konseling untuk membangun kembali jembatan komunikasi di antara kalian berdua, sehingga dua individu kembali menjadi satu.

    Dalam proses menuju ke arah itu, kamu bisa memulai suatu perubahan dari diri sendiri. Belajarlah untuk menemani suami, memperhatikan kebutuhannya. hal-hal kecil seperti menyiapkan segala keperluannya sebelum ia berangkat ke kantor, mengantarnya ia pergi, memeluk dan mencium pipinya dan mengucapkan kata-kata perhatian seperti “hati-hati di jalan ya, Pa” atau “Tuhan melindungimu”.. menelpon atau mengirimkan text mengingatkan ia untuk makan siang, atau makan malam bila ia terlambat pulang. bahkan bila pelayananmu tidak diacuhkan oleh suamimu, dan ketika muncul rasa marah atau kecewa, berdoalah semoga Allah menggerakkan hati suamimu dan mohon kekuatan untuk tetap melayaninya dengan kasih. Ajak suami ke Gereja bersama, dan berdoalah secara rutin untuk keselamatan dan keutuhan pernikahan kalian. janganlah pekerjaan kantor menenggelamkan dirimu dalam kesibukan, sehingga mengurangi waktumu melakukan pelayanan dan memberi perhatian sebagai seorang isteri kepada suaminya. Jangan membawa stress kantor ke rumah.. apa yang terjadi di kantor biarkan itu tinggal di kantor.

    Kamu tahu bahwa pertengkaran lahir dari ego kalian yang tidak bisa berbagi, maka mulailah belajar untuk lebih memberi daripada menerima. setiap kali muncul egomu yang berasal dari rasa curiga, tidak percaya, cemburu, atau kemarahan, segeralah mohon kekuatan dari Allah, juga mintalah bantuan dari orang-orang kudus, bunda Maria dan santa Monika… Doa orang benar besar kuasanya.. jadi berusahalah menjadi orang benar di hadapan Allah. Allah pasti membantumu…

    Pernikahan kalian bisa diselamatkan bila keduanya mau melakukan perubahan dengan sukarela, dan hal itu bisa dilakukan dimulai dari dirimu terlebih dahulu dan dengan rahmat Allah yang maha pengasih, semoga hati suamimu pun tergerak oleh kasih yang kamu berikan kepadanya dan mau pula melakukan perubahan.

    May God bless your steps..

  2. Saya juga mengalami hal yang hampir sama dengan pengalaman sdri pipin…sudah hampir 1 thn terakhir, suami saya ingin berpisah, namun saya masih terus ingin mempertahankan, mengingat janji suci yang pernah kami ucapkan dihadapan Tuhan…

    yang ingin saya tanyakan, apabila dari pihak suami tidak ada usaha untuk memperbaiki dan terus menerus ingin pisah, apa yang harus saya lakukan…?
    selama ini saya berusaha memperbaiki diri, melayani kebutuhan suami dan terus mendoakan suami, tapi saya tidak pernah dianggap, seolah-olah di rumah tidak ada saya….

    Mohon masukan, apa yang harus saya, atau orang yang mengalami hal yang mirip dengan kejadian sdri pipin, lakukan….

    terima kasih

  3. @Nana:

    Kalau suami tidak menunjukkan upaya untuk memperbaiki, Anda sendiri tidak perlu memaksa dia untuk memperbaiki atau untuk berubah. Kalau Anda melakukan itu, situasinya barangkali akan menjadi lebih buruk.

    Pertama-tama olahlah batin Anda agar Anda mampu melampaui berbagai suasana batin yang menekan: jengkel, marah, sedih, tidak sabar, sikap menuntut, tidak mau terima, takut, dst.

    Ambilah waktu untuk menarik diri sebentar dari kesibukan sehari-hari untuk melakukan retret. Ada banyak model retret. Carilah bentuk retret yang sesuai untuk mengolah hidup batin Anda.

    Kalau Anda bisa mengolah batin Anda dan hidup dengan batin yang bebas setiap kali Anda mengolahnya, maka Anda akan tahu bagaimana hubungan yang benar dengan suami bisa dilangsungkan. Anda lalu bisa menjadi cermin yang jernih bagi suami untuk mengaca diri dan dengan mengenal diri sendiri ada kemungkinan suami akan berbuah tanpa Anda memaksa suami untuk berubah.
    js

  4. @Nana,
    Boleh tau, mengapa suamimu ingin pisah darimu?
    Kelihatannya kalian mesti menggali akar masalahnya deh.
    Apakah ada perempuan lain di luar sana sehingga sebagus apapun anda memperbaiki diri dan melayani dia tapi dia tetap kekeuh marekeuh pengen pisah?
    Selesaikan dulu masalahnya, baru kita bisa tau mesti bagaimana.

    Salam dan doa, rin

  5. @ Bpk Sudrijanta (maaf, Bpk atau Romo ya, saya bukan dari Paroki St Anna)terima kasih untuk masukannya…saya akan terus berusaha memperbaiki diri saya…

    @ Ibu Ibnurini (maaf juga, kalau salah menyebut) : pada awalnya ini adalah salah saya, karena setahun yang lalu suami saya baru mengetahui bahwa sebelum menikah saya sempat menyukai orang lain, namun dengan banyak pertimbangan saya lebih memilih suami saya sekarang. Kejadian itu rupanya sangat menyakiti hati suami saya, sehingga apapun yang saya lakukan selalu salah di matanya.

    Saya sudah menjelaskan kalau itu hanya bagian dari masa lalu saya, saya sudah minta maaf, saya sudah mengaku dosa tapi semua itu tidak merubah sikap suami saya. Bahkan sejak orangtuanya ikut campur, kebenciannya pada saya semakin menjadi jadi. Dia tidak pernah melakukan kekerasan pada saya, tapi saya tidak pernah dianggap, seolah olah tidak ada saya di rumah.

    Saya menyadari kesalahan saya, maka saya berusaha menerima sikap buruk suami saya, tapi akhir2 ini dia sering mengatakan bahwa ia ingin berpisah dari saya. Saya sudah membicarakan ini dengan keluarga saya, dan semua cuma bisa bilang, bahwa saya harus berpikir positif dan terus berusaha mempertahankan rumah tangga saya, karena dalam Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin…Tuhan selalu mampu merubah hati umatNya….dan saya percaya itu

    Saya bingung, apa yang harus saya lakukan kalau suami saya benar2 ingin berpisah (selama ini hanya sejauh omongan, tapi belum melakukan langkah2 untuk ke arah perpisahan).

    Terima kasih atas perhatiannya….

  6. Bu Nana,
    saya memuji kehendak baik ibu untuk mempertahankan perkawinan ibu. Proficiat!

    Jadi masalahnya ibu pernah menyukai orang lain sebelum kalian menikah. Secara obyektif, sebetulnya ya OK saja karena toh itu sebelum perkawinan. Kecuali kalau yang namanya menyukai adalah berzinah, ya dapat dimengerti bila dia merasa tertipu, misalnya.

    Tapi hidup ini kan soal masa kini dan masa depan. Bukan lekat pada masa lalu. Menyesali masa lalu pun tidak berguna, selain untuk diambil hikmahnya. Toh karena anda pernah menyukai orang itu akhirnya anda tau bahwa pilihan anda adalah suami anda sekarang.

    Usulan saya:
    1. Ajak suami memahami mengapa anda memilih dia sebagai suami dan bukan lelaki lain itu.
    2. Ceritakan bagaimana anda bersyukur atas dia sebagai suami, apa lagi kalau dia dengan senang hati mau menerima anda sebagai istri. Itu artinya sebaiknya sing wis yo wis, berhenti mengungkit apa lagi mau bercerai hanya karena masalah itu.
    3. Ceritakan upaya anda untuk taat kepada Tuhan dalam hal perkawinan dan ajak dia untuk juga taat kepada Tuhan.
    4. Minta dia percaya bahwa anda akan taat kepada Tuhan, itu artinya tidak akan selingkuh.

    Berdoalah sebelum bicara, minta agar Tuhan melembutkan hatinya.

    Silakan mencoba, kalau masih masalah, silakan katakan.

    Salam berkat Tuhan, rin

  7. Salam Romo,

    Romo, saya mohon bantuannya,,saya dan pasangan sudah pacaran 11 tahun, dan kami hendak menikah, namun dari orang tua saya sepertinya tidak pernah peduli dengan pilihan saya, mereka seperti tidak menganggap pacar saya, mereka selalu membanding-bandingkan dengan pasangan adik adik saya yang sudah mapan,sukses dalam karir, tp sedangkan pasangan saya orang biasa dengan penghasilan yg biasa jg,
    saya bertahan terhadap pasangan saya krn dia orang yg baik dan dari keluarga baik baik,sabar, tanggung jawab, walaupun mungkin tidak seperti orang orang yg sudah pada mapan..sekarang yg membuat sedih adalah ketika orang tua dari pasangan saya selalu menanyakan kapan kami akan menikah, sedangkan orang tua saya tidak peduli dengan masalah saya,
    ketika adik adik saya menikah, saya mengalah tidak apa apa klo mereka ingin menikah terlebih dahulu, namun dengan kejadian sprt ini orang tua bukannya mendukung saya, namun suka menyindir bahwa saya harus bisa cari pasangan seperti adik adik saya, dan mereka selalu membanggakan adik adik saya, mereka selalu bilang bahwa adik adik saya adalah anak anak penurut, taat, tidak pernah melawan orang tua makanya mereka dapat pasangan yg hebat,,sedih rasanya setiap mendengar hal itu, sampe mereka pun suka menjodohkan saya dengan orang lain meskipun mereka berbeda keyakinan dengan saya..mereka marah krn mendengar dari orang lain bahwa pasangan saya pernah mengatakan bahwa saya dibeda2kan oleh orang tua saya, padahal bahwa yang sesungguhnya pasangan saya bukan mengatakan seperti itu,,dan itu dilaporkan ke adik saya dan dilaporkan ke orangtua saja,sedangkan itu kejadian sdh 10 tahun yang lalu ketika kami masih sama2 muda, dan pasangan sdh meminta maaf atas kejadian tersebut,,tp pada saat itu orang tua sdh memaafkan, namun entah kenapa mereka mengungkit kembali kejadian 10 tahun lalu, yg saat itu sdh saling memaafkan tapi di timbulkan kembali tanpa ada sebabnya..sedih rasanya Mo, apalagi ketika kami sudah memutuskan untuk menikah.
    Mo,terkadang saya suka berpikir apa saya menikah tanpa restu orang tua saja,,tp saya selalu ketakutan dengan setiap sindiran orang tua, saya takut disebut anak tidak berbakti.
    apa saya salah Mo, ketika saya memilih pasangan yang sudah satu iman dengan saya, hanya krn dia orang biasa dgn pekerjaan & penghasilan yang biasa biasa saja, jujur saya tidak akan menemukan lelaki seperti pasangan saya, yg bgt sabar menghadapi segala cemoohan dari keluarga saya, krn ksh sayang dia yg besar bwt saya, terkadang saya sedih klo melihat perbedaan yg ada di keluarga saya yg selalu mengukur segala sesuatu nya dengan harta, materi, gelar, jabatan..sedangkan keluarga pasangan selalu menerima baik setiap orang dan menganggap keluarga, tanpa memandang hal2 sprt di keluarga saya.
    saya bingung dengan keadaan ini, disisi satu adalah keluarga saya, namun disisi lain adalah pacar yg sudah bersedia mendampingi saya ketika byk mslh, namun hy kpd pacar saya bisa menceritakan segalanya..saya hy kasihan kepada pacar, hrs brp lama lg dia bersabar thdp semua mslh ini..mohon bantuan Mo. terima kasi

  8. Dear mbak Agatha,

    Pertama berdoalah mohon pertolongan St Antonius Padua agar ketemu jalannya supaya perkawinan anda lancar.

    Kedua, anda toh dewasa dan berhak menentukan sendiri pasangan. Jadi anda memang boleh menikah dengan pasangan yang anda rasa sudah cocok dari sudut mana pun kecuali dari sudut keluarga anda. Apakah kalian berdua memang sudah berani lepas dari keluarga anda? Kalau ya, coba ajak bicara orang tua yang dihormati ayah ibu tapi mendukung rencana anda. Misal, pakde atau eyang. Kalau tidak ada ya mungkin ketua lingkungan atau romo yang disegani ortu. Ajak beliau untuk bicara dengan orang tua mbak. Katakan bahwa mbak mau bekti terhadap orang tua tapi juga berhak memperoleh apa yang mbak angankan.

    Semoga berhasil ya!

    Salam berkah Dalem, rin

  9. @ ibu rin Yth…

    kami sudah membicarakan (lagi) masalah kami, dan kali ini ada pihak ke 3 sebagai penengah. Suami tetep pada pendiriannya untuk pisah, dan suami memutuskan agar kami pisah rumah.

    Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, dan kemungkinan besar kami memang akan berpisah karena suami sudah tidak ada keinginan untuk memperbaiki…saya hanya percaya, Tuhan punya rencana indah untuk saya…

    Mohon doanya…terima kasih

  10. Bu Nana terkasih,

    saya berdoa untuk anda.

    Saya memuji anda untuk percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita smeua. Tabahlah bu. Kosongkan diri anda, mohon agar Tuhan memenuhi diri anda agar anda dapat menjalani hidup ini sesuai rencanaNya.

    Satu hal, jangan pernah mengajukan perceraian. Kalau suami mengajukan perceraian ke PN, jujur saja kepada hakim bahwa anda TIDAK menghendaki perceraian.

    Selain itu bersikaplah bersahabat dengan suami dan biarlah dia melihat bahwa anda sungguh baik. Seharusnya dia tau bahwa dia beruntung punya istri anda. Jangan marah, melainkan ramah bersahabat. Toh marah juga dia tetap pergi, buat apa marah? Kalau anda bisa tetap ramah bersahabat dengannya, mungkin dia masih pikir pikir lagi. Kalau toh dia tetap pergi, Tuhan besertamu.

    Berdoalah Rosario terutama peristiwa Terang agar hati kalian dipenuhi Terang Roh Kudus.

    Salam berkat Tuhan, rin

  11. Buat Bu Nana:

    St. Monika

    Doa dan Air Mata selama 20 Tahun

    Pernahkah kalian berdoa memohon sesuatu dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, tetapi tampaknya Tuhan belum mengabulkan doa kalian. Kemudian kalian berdoa lagi dengan sungguh-sungguh dan berdoa lagi dan berdoa lagi, tetapi tampaknya belum juga ada tanda-tanda bahwa Tuhan mengabulkan doa kalian. Jika kalian pernah mengalami hal seperti itu, janganlah berputus asa, bersandarlah tetap kepada Tuhan Allah-mu seperti yang dilakukan oleh Santa Monika. Dua puluh tahun lamanya ia berdoa barulah ia melihat bahwa Tuhan menjawab doanya. Jadi janganlah berputus asa, karena Ia punya suatu rencana yang indah untukmu.

    Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia.

    Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang anak: Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara). Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah membantah ataupun bertengkar dengan suaminya.Tak henti-hentinya ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan menerima Kristus.

    Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia bertobat dan minta di baptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis. Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen. Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan, Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus dengan setiap kali air mata mengalir dari kedua matanya. Tuhan mendengarkan keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi. Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya. Pemuda itu bertanya, “Mengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis setiap hari?” Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan melihat kebinasaan Agustinus, puteranya. Maka pemuda itu mengajak Monika untuk melihat dengan seksama. Segeralah terlihat oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar. Kata pemuda itu, “Di mana engkau berada, ia pun berada.”

    Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus datang kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak dengan air mata bercucuran supapa Uskup mau menengok dan menasehati Agustinus. Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan kehilangan kesabarannya, sehingga ia berkata, “Pergilah, jangan menggangguku; demi hidupmu tak mungkinlah binasa anak sekian banyak air mata itu!” Monika amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa.

    Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya, hendak berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju karena waktu itu Roma buruk peradabannya. Di pantai menjelang keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke Italia. Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang diri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara ia dan Alypius berlayar ke Italia.

    Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia. Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya sesampainya di Italia.

    Monika bersahabat baik dengan St. Ambroius, Uskup kota Milan. Agustinus mulai tertarik dengan khotbah dan ajaran-ajaran Uskup Ambrosius hingga akhirnya dibaptis.

    Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387 Agustinus, Alypius & Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus berdua saja berdiri bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti apa kiranya kehidupan para kudus di surga. Diliputi rasa bahagia yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus, “Anakku, bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini. Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini? Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal saja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Kristen Katolik sebelum aku mati. Keinginanku sudah dikabulkan sevara berlimpah dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: kulihat kau sudah sampai meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba-Nya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?”

    Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua puteranya, Agustinus dan Navigius, Monika berpesan, “Yang kuminta kepada kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan di mana saja kalian berada.” Hanya supaya ia diingat di altar-Mu, itulah keinginannya. Sebab ia telah melayani altar itu tanpa melewati satu hari pun. Pada hari yang kesembilan Monika wafat dalam usia 56 tahun.

    Santa Monika dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus.

    “Allah yang berbelas kasih, hiburlah mereka yang menderita,
    air mata Santa Monika menggerakkan belas kasih-Mu untuk menobatkan puteranya, Santo Agustinus, kepada iman akan Kristus.
    Dengan bantuan doa mereka, bantulah kami berbalik dari dosa-dosa kami dan memperoleh pengampunan-Mu yang penuh belas kasih. Amin.”

    Sumber: 1. “Augustinus: Pengakuan-Pengakuan”; Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia; 2. berbagai sumber

    ====

    Bu Nana,
    bicara tentang St Monika biasanya adalah bicara tentang putranya St Agustinus. Tapi jangan lupa St Monika juga terus mendoakan suaminya: Patrisius, hingga akhirnya suaminya itu bertobat.

    Dalam hal masalah suami ibu, mungkin baik bila ibu berdoa juga mohon pertolongan St Monika. Menjadi taat kepada kehendak Tuhan untuk tidak bercerai kan juga suatu pertobatan.

    Salam, rin

  12. @ Ibu Rin…

    Terima kasih untuk dukungan doa dan semangatnya…

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>