Dua Pendekatan Menghadapi Masalah Kehidupan
Kehidupan ini penuh dengan masalah baik masalah bersama maupun pribadi. Setiap orang mencari penyelesaian masalah dengan berbagai cara. Namun masalah tetap tinggal sebagai masalah dan tidak ada jawaban. Adakah jalan yang mampu menghantar kita bebas dari masalah sehari-hari? Mungkinkan menjalani kehidupan tanpa masalah sedikitpun?
Pikiran yang mencari Solusi Masalah adalah Masalahnya
Kita sudah terbiasa menggunakan pikiran untuk menghadapi masalah. Ketika masalah datang, kita menganalisa, membanding-bandingkan, mencari sebab-musabnya, menilai, dan menarik kesimpulan. Kenyataannya, jawaban intelek terhadap masalah tidak menyelesaikan masalah. Meskipun kita canggih secara intelektual, kita menyaksikan tiada hari tanpa deraan masalah. Hidup harian menjadi kisah perjuangan yang melelahkan dan tak bermakna kecuali hanya untuk bertahan hidup.
Orang bisa berganti-ganti ideologi atau agama, tetapi masalah tetap ada. Orang bisa memperbanyak doa, merenungkan Kitab Suci, menjalani ritual dan laku amal, namun masalah tetap bercokol. Orang lari kepada guru-guru spiritual atau dukun dan berpikir mereka bisa melenyapkan masalah. Selama semua itu hanya menjadi pelarian dari fakta-fakta kehidupan, bebasnya diri dari masalah hanya tinggal sebagai impian kosong.
Sistem pemikiran apapun tidak mampu menuntaskan masalah, namun orang terus menggunakan pikiran untuk memecahkan masalah. Pikiran buruk yang datang biasanya dilawan dengan pikiran yang baik. Orang suka menghafal dan mengingat-ingat teori-teori tertentu, nasehat-nasehat bijak, teks-teks suci atau rumus-rumus doa tertentu. Namun itu semua tidak membuat orang bebas dari masalah.
Orang tahu bahwa menyakiti orang lain itu jahat, namun orang tetap saja melakukannya. Orang tahu mencuri itu tindakan yang buruk, namun orang tidak berhenti mencuri. Orang tahu kegelisahan dan kekawatiran itu tidak ada gunanya, tetapi pengetahuan itu tidak mampu mengenyahkan kekhawatiran dan kegelisahan. Pengetahuan atau pikiran yang baik barangkali bisa mengurangi beban yang ditimbulkan oleh masalah, namun tidak mempunyai kekuatan untuk menghabisi akar masalahnya.
Masalah muncul karena adanya gerak pikiran. Pikiran sebaik apapun juga tidak akan membebaskan diri dari masalah karena gerak pikiran adalah akar masalahnya. Di sana ada ketakutan terhadap fakta kehidupan, keserakahan, pengejaran, keakuan, harapan, keinginan atau ambisi, pelarian, dst. Semua itu adalah gerak pikiran yang adalah gerak keakuan itu sendiri. Jadi pengetahuan atau pikiran secanggih apapun tidak akan mampu memberi solusi masalah dan gerak mencari solusi masalah menciptakan masalah baru.
Upaya untuk keluar dari masalah dengan cara apapun menimbulkan masalah baru. Alih-alih mencari solusi masalah, lebih bermakna memahami masalahnya apa adanya. Lebih membantu membongkar setiap pertanyaan dan menyelidikinya tanpa ambisi mencari jawaban atas masalah.
Jawaban atas Masalah sudah Ada dalam Masalahnya
Untuk memahami masalah, mutlak perlu mengenal diri karena diri adalah akar segala masalah. Apa yang disebut diri? Diri adalah akumulasi dari pengetahuan, pengalaman, pikiran, perasaan, rekasi-reaksi batin, kesadaran, kenikmatan, kesenangan, kepahitan, ketakutan, kegelisahan, kemalasan, keragu-raguan, rasa memiliki, ketakutan, kemelekatan, pelarian, dst. Selama diri ada, di sana ada masalah. Setiap gerak batin adalah bagian dari keakuan dan itu adalah akar masalahnya. Kalau diri berakhir, maka masalah juga akan berakhir dengan sendirinya. Dan tidak ada jalan untuk membiarkan diri ini berakhir kecuali lewat pengamatan terhadap gerak diri terus-menerus apa adanya.
Diri kita ini terkondisi. Semua pikiran untuk memahami keterkondisian ini selalu tidak lengkap karena pikiran tidak berbeda dari diri yang terkondisi. Pikiran baik tidak mampu menghabisi kelekatan diri terhadap keburukan atau kebaikan. Upaya untuk tidak melekat pada sesuatu adalah gerak yang sama untuk melekat pada sesuatu yang lain. Gerak keakuan yang mengingini dan mengejar sesuatu masih tetap ada.
Kita selalu berfungsi di dalam lingkup batin yang terkondisi. Namun pengamatan atau kesadaran terus-menerus atas keterkondisian kita membuat kita bebas. Kesadaran murni membuat masalah yang akarnya adalah diri ini berhenti. Dalam beberapa detik atau menit, kita mengalami kebebasan. Di sana tidak ada lagi keakuan, kelekatan, keinginan, dst. Setelah itu gerak pikiran datang lagi. Kalau kita sadari saat itu pula, maka pikiran berhenti. Begitulah kita mengalami kebebasaan sesaat yang disusul oleh gerak pikiran; ketika pikiran disadari pada saat kemunculannya, pikiran berhenti. Demikian proses ini terus berlanjut.
Pikiran kita ini licin bagaikan belut dan cerdik bagaikan ular. Ia mudah membawa kita berlari dari fakta-fakta kehidupan. Kesedihan, luka, kenikmatan, kepahitan, dst bukanlah masalah melainkan fakta kehidupan yang kita kenal. Saat pikiran bergerak untuk mendorong kita menolak atau menerima, melekat atau lari daripadanya, fakta kehidupan itu berubah menjadi masalah. Pikiran menciptakan masalah dan dengan pikiran yang sama kita mencari penyelesaian masalah.
”Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” (Markus 13:33) Nasehat ini berguna sekedar sebagai pengingat bahwa bukan hanya pikiran kita ini licin dan cerdik tetapi juga pikiran dan setiap gerak masalah bisa dipecahkan dengan pemahaman total akan masalahnya.
Kesadaran murni adalah seperti jurang yang dalam. Di dalamnya, seluruh gerak keakuan dan segala masalah yang ditimbulkan berhenti dan tak lagi punya tempat untuk berpijak. Ia juga berfungsi bagaikan jembatan yang menghubungkan diri yang bebas dari keakuan dengan Yang Tak-Dikenal. Ia datang dengan sendirinya tanpa kita duga. ”Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Matius 24:44)*







M: Terimakasih romo, siang hari ini saya disuguhkan makan siang yang sangat spesial, ketika membuka topik tulisan ini, saya sungguh gembira…alasannya saya sedang menghadapi berbagai masalah cukup pelik yang cukup menguras tenaga dan pikiran, dan saya diberikan solusi bagaimana menghadapi masalah itu. Tetapi Romo saya belum bisa melepaskan pikiran dari DIRI. Pikiran saya masih tetap terkondisi kepada kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan, bisakah aku menyelesaikannya? Menurut Romo bagaimana caranya supaya saya bisa lepas dari masalah-masalah saya? Saya menyadari ketika bermeditasi pikiran-pikiran itu bisa berhenti, ketika sudah berada dikehidupan keseharian semua pikiran-pikiran itu kembali, dan keakuan muncul lagi, segala akumulasi Diri muncul seperti kesenangan, kemalasan, kemelekatan, keragu-raguan…….Susah sekali untuk melepaskannya ya Romo? Setelah mengikuti meditasi selama 3 bulan ini banyak dampak positif yang saya dapatkan……..Terimakasih Romo untuk bimbingan rohaninya lewat meditasi dan wacana-wacana yang membantu saya…….GBU
S: Amati saja gerak diri anda yang adalah pikiran, kesenangan, kemalasan, dst. Dengan mengamati terus-menerus, diri berhenti. Menurut hemat saya, pikiran bukan bagian dari diri tetapi adalah diri itu sendiri. Anda sudah mengalami berhentinya pikiran/diri saat meditasi. Sekarang bawalah meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah “caranya”. Merasa susah? Yang merasa susah juga musti berhenti. Merasa susah karena masih ada keinginan dan harapan.
Lc: Terima kasih untuk kiriman tulisan ini. … Dalam beberapa tulisan terakhir, sepertinya Romo sedang melakukan pengamatan, entah observasi kepada siapa itu tidak penting bukan? Menurut saya tulisan seperti ini bagus untuk saya dan teman-teman, supaya mata hati dan pikiran terbuka dan sadar akan kehidupan yang Maha luas. Tetapi maaf, this reply bukan untuk tanggapan/komentar ya! Saya mau menjadi pengamat lebih dulu – seperti Romo mengamati kami – mengamati komentar/reaksi teman-teman sambil bertanya kepada Yesus.
S: Pengamat adalah yang diamati. Saya menulis dari apa yang saya amati yang adalah diri saya sendiri. Amatilah diri anda sendiri dan kita akan menemukan anda dan saya tiada beda.
La: Mo, pikiran kan gak mungkin kita hentikan (bahkan saat kita tidurpun pikiran masih suka jalan kan?). Kalaupun berhenti mungkin hanya beberapa saat aja. Jadi maksudnya ego dan segala keinginan kita yg kita hentikan kah? Keinginan untuk keluar dr masalah yg justru menambah beban masalah?
S: Mengapa anda memisahkan ego dan keinginan dari pikiran? Apakah sungguh berbeda? Bukankah ego dan keinginan adalah pikiran itu sendiri? Pikiran memang tidak bisa dipaksa berhenti, tapi bisa berhenti dengan sendirinya kalau disadari. Ada jeda antar pikiran setiap saat. Di situlah ada kebebasan, bebas dari ego, pikiran, keinginan. Saat tidur tidak ada kesadaran. Maka pikiran yang bergerak saat tidur juga tidak bisa pada saat yang sama dibiarkan berhenti melalui keadaan sadar. Anda tahu tips supaya bisa tidur pulas? Sebelum tidur, anda perlu berjaga atau sadar dan biarkan pikiran itu berhenti. Yang mengatakan ”pikiran gak mungkin kita hentikan” juga musti berhenti. Kalau tidak, pikiran yang tidak disadari bisa terus bergerak juga saat kita tidur.
My: Thanks utk tulisannya, adakah suatu tips untuk memperpanjang kebebasan sesaat yang biasanya sangat singkat selain sering banyak berlatih? Karena bila dilakukan gerak pikiran akan menjadi suatu pengejaran merupakan gerak keakuan yang menginginkan dan mengejar sesuatu sehingga menjadi tidak bebas lagi.
S: Tidak ada cara tertentu mencapai kebebasan kecuali menyadari fakta ketidakbebasan yang kita alami sampai tuntas. Betul, upaya untuk memperpanjang ”saat” kebebasan hanya gerak pikiran dan itu menjadi penghalang terlahirnya kebebasan.
Arus dunia memang dasyat: ia tidak saja menyeret orang yang tidak menjalani latihan-latihan rohani, ia bahkan membenamkan orang-orang yang melakukan olah rohani pada kepalsuan, kebusukan hati yang dilakukan dengan santun.
Belum lama ini saya terlibat dalam percakapan dengan peniti jalan spiritual, namanya Dewa. Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya bahkan sempat menahan nafas beberapa kali. Dewa tidak memberi saya kesempatan untuk mengerti duduk perkara, Dewa tidak memberi saya kesempatan untuk berbicara, dia dengan santun dan lemah lembut secara sepihak memvonis saya atas nama beberapa temannya bahkan mengambil kesimpulan dengan menyebut sikap seorang tokoh. Yang dapat saya lakukan hanya melihat, buka mata dan melihat. Saya tidak berusaha menarik kesimpulan, saya tidak berusaha melakukan segala sesuatu. Tuhan, apakah yang sedang terjadi? Dari rangkaian kata-kata Dewa, meski bicaranya sepenggal-sepenggal, dalam diam muncul sesuatu yang diluar dugaan. Saat kesadaran muncul rasanya seperti terhubung dan ada dalam kesatuan dengan semuanya, segala sesuatu, apa adanya; pemahaman dari dalam muncul dengan sendirinya. O begitu, pikir saya. Saya seperti menelan pil pahit. Saya tidak punya motif tidak punya tujuan, sempat termangu dengan kesimpulan secara sepihak yang dinyatakan Dewa. Pikiran saya sederhana sekali. Saya tidak sehebat Dewa dkk yang merasa bisa mengetahui segala sesuatu mengerti segala hal dari hasil olah rohani. Saya biasa-biasa saja, tidak bisa “menerawang” seperti Dewa cs.
Saya berusaha melepas pikiran itu berhari-hari. Ketika saya melepas pikiran itu, timbul kebebasan. Saya merasa bebas: tidak perlu berbicara basa-basi, tidak perlu berpura-pura manis, tidak perlu menganggap orang lain istimewa, tidak menganggap diri ini istimewa, tidak melekat pada apapun. Tidak ada kepalsuan yang adalah selimut indah khayalan. Saya pun tidak merasa kehilangan sesuatu. Mungkin Tuhan hendak menjawab pertanyaan atau permohonan saya sebelumnya: Aku memberi sesuatu yang baik bagimu tetapi kamu tidak menyadari, kini Aku berikan sesuatu yang terbaik bagimu dan kamu harus berpaling kepada-Ku mendengar Aku. Ya saya harus berpaling kepada Dia Sang Pemberi Hidup karena yang diberikan saat ini adalah yang terbaik untuk saya. Yang terbaik itu dengan tidak melekat kepada Dewa, mungkin dia bukan yang terbaik untuk saya. Setelah itu saya merasa apa yang selama ini menggayut menjadi lebih ringan. Saya bebas melangkah tanpa ikatan, tanpa keterpaksaan, tanpa keraguan. Ternyata, naluri ini tidak bisa dipungkiri. Beberapa bulan sebelumnya saya menangkap intrink-intrink kecil dari teman-teman Dewa.
Pengalaman ini membuat saya sadar. Alih-alih membangun tindakan karena cinta atau keindahan, orang atau kelompok yang merasa meniti jalan rohani menggiring dirinya atau kelompoknya masuk pada konflik. Orang cenderung menganalisa, membanding-bandingkan, mencari sebab-musababnya, menilai dan menarik kesimpulan (seperti Dewa dan teman-temannya). Contohnya telah diuraikan secara rapih, transparan, dalam tulisan Dua Jalan Menghadapi Masalah Kehidupan ini, termasuk beberapa lainnya dalam tulisan-tulisan terdahulu. Sebuah cermin kesadaran yang tinggi, luhur. Bravo Romo Sudrijanta!
Romo, saya mau mengirim anak saya menghadap Romo. Dia bekerja sampai dirumah tiap harinya jam 20.00, kalau Sabtu ada di rumah smp jam 11.00, Saya mohon waktu Romo kapan bisa menerima putra saya.
Terima kasih Mo.
Jane
Ly: Mo, aku seneng banget deh tanggapan Romo. Betul juga harus sadar dulu sebelum tidur untuk bisa tidur. Itu yg aku lupakan dan belum aku lakukan dg baik. Tapi memang susah loch, apalagi kalau masalah cukup berat n sangat mengganggu, baru sekejap disadari eh tiba2 dia masuk lagi dan terseret makin dalam. Tapi aku rasa latihan dan bimbingan Rm selama ini sangat membantu untuk kita setiap saat belajar menyadari pikiran2 yg datang. Trima kasih ya, Mo.
S: Ok. Teruskan saja.
PS: Terima kasih sekali atas kiriman artikelnya yang sangat menarik dan makin lama rasanya makin dalam saja isinya. Kalau boleh saya berikan sedikit komentar yang agak nyeleneh (tapi jangan marah ya Romo), tulisan Romo bisa disimpulkan (menyimpulkan saja sudah salah lagi ya Romo?)sebagai “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah!”, mirip-mirip slogannya Perum Pegadaian ya. Maaf ya Romo.
S: Ya, slogan selalu menyimpan cita-cita, ambisi dan kepentingan tersembunyi. Tidak ada bedanya slogan di pegadaian atau di gereja. Betapapun menariknya sebuah slogan, keadaan apapun tidak bisa diubah dengan slogan.
Ir: Ketika ‘masalah’ datang, saya amati yang sering sy lakukan adalah memikirkan masalah itu atau lari dari masalah. Dalam usaha mencari solusi, kadang hati dan pikiran tidak sejalan sehingga fisik terganggu (sakit kepala atau yg lain). Saat mencoba lari dari masalah, malah terbawa sampai ke alam mimpi. Saat berusaha menerima masalah sebagai fakta kehidupan, masalah itupun masih ada dalam pikiran. Dari 2 pendekatan yg Romo tulis, karena gerak pikiran/diri adalah akar masalah maka untuk menghadapi masalah itu kita perlu melepaskan pikiran? Kalau saat sy melakukan meditasi, masalah itu masih juga terpikir, artinya sy perlu terus berlatih ya romo.
S: Meditasi atau tidak meditasi pikiran selalu datang dan pergi. Berhentinya pikiran tidak bisa dilatihkan. Meditasi juga bukan alat untuk menghentikan pikiran. Sadar akan seluruh gerak pikiran, itulah meditasi. Si ”aku” yang berambisi untuk menghentikan pikiran juga perlu disadari.
Rg: ROMO…:Meditasi yang Engkau Hidupi, Memang Benar-benar..”HIDUP”.
S: “Benar-benar hidup” itu apa ya maksudnya?
Terima kasih, romo karena topik di sini”Dua pendekatan menghadapi masalah kehidupan” dimana semua orang tentunya-tidak pernah jauh dari masalah/baik pribadi maupun kelompok. Buat saya, yang masih sangat jauh darisegala keterbatasan dan minim pengetahuan,kalau saja,tidak rajin-rajin berlatih meditasi,mungkinsetiap menghadapi masalah,atau mendapatkan masalah paling-paling berdoadan mohon petunjuk sebentar hilang, tapi tidak ada jalan penyelesaian nya.
Setelah mengenal meditasi yang di berikan Romo,sesungguh nya sangat-sangat bermanfaat /dari awaltidak bisa memahamisemakin kemarisemakindapat di mengerti. dari yang menghadapi setiap persoalan hidup ini teramat sulit dan bahkan terasa tidak ada jalan keluar nya. Sekarang dengan penuh pengamatan diri/pikiran/perasaan semakin memudahkan saya khusus nya,untuk bisa menerima apa adanya kehidupan ini.
walaupun,memang tidak mudah,menerima atau menolak masalah apalagi masalah itu yang sangatmenggangu kita dan bahkan menghancurkan diri kita sekalipun.
tetapi,dengan penyadaran yang sangat dalam dan sungguh-sungguh dilatih dan di lakukan itu semua menghasilkan, sehingga kehidupan ini terkadang terasa ada damai dan indah.
mengapa sayasebut meditasi yang di hidupi Romo,benar-benar “HIDUP”? itu semua karena saya alami,dan mungkin bagi sahabat-sahabat yang lain,juga mengalami demikian tapi semua itu dengan ada nya kemauan dan berlatih menerima semua nya itu dengan “APA ADANYA”.tanpa di kejar untuk mendapatkan ‘Hasil’ karena sesungguh nya ‘Hasil itu sudah ada pada kita’
salam
r.m
Mo, klo diladeni terus2an nanti lama2 Romo pusing loh hehehe…inget Mo, meditasi itu jg perlu makan. jgn lupa makan jg Mo biar agak ‘berisi’ dikit gitu loh (hehehe…maaf Romo klo sy kurang sopan, abisnya sdh banyak yg protes tuh hahaha…)
Dear all,
Pokoke ojo keblinger, titik. selalu ingat klo hidup sangat berarti. jgn sdh susah malah dibuat makin susah. dinikmati saja apa adanya.
Terima kasih,angela atas masukan nya. Sebenarnya tidak sampai keblinger ko.. Di sini kita-kita berlatih dan mengamati dan malahan mendapatkan masukan-masukan baik dari para pemeditasi. Apalagi hidup sudah susah, kalau tidak bisa menerima apa ada nya, bisa-bisa kita jadi morat-marit. Ujung-ujung nya putus asa. Bahkan makan saja tidak dapat kita nikmati karena dgn makan pikiran mengikuti nya kemana-mana sehingga yg di makan tdk menjadikan sari lagi buat tubuh kita, tapi dgn latihan yang di bimbing oleh romo Sudri, justru kita harus bisa menikmati setiap kita mulai makan, walaupun hanya makan dengan sepotong tempe misalkan tapi terasa nikmat dan mengenyangkan.
Sebagai.saudara dalam komunitas st anna, seperti nya angela cocok untuk bergabung dgn teman-teman di meditasi, mungkin juga bisa mengajak teman2 di mudika nya, untuk bersama-sama berlatih. Meditasi banyak manfaat dan berguna buat sebagian orang.
Apalagi permasalahan di muda-mudi pasti juga bervariasi ya?
Biar muda-mudi st anna semakin marak kembali dan mengenal satu dan lain nya, dan mungkin bisa semakin maju di segala bidang kepemudaan nya. “Ayo maju untuk Angela” . GBU
salam
r.m
Regina: Meditasi banyak manfaat dan berguna bagi sebagian orang.
Meditasi tentunya bermanfaat bagi semua orang bukan hanya sebagian orang. Kalau dianggap berguna bagi sebagian orang, apa yang dirasakan oleh sebagian lainnya? Tidak merasakan manfaatnya karena hanya ikut-ikutan meditasi atau sekedar memakai topeng kepalsuan? Disadari atau tidak meditasi tentu membawa perubahan dalam diri orang yang pernah ikut meditasi, a.l. menumbuhkan rasa jujur dan welas asih, perubahan akan segala tindakan yang terpuji bukan sekedar dalam perkataan atau slogan tetapi dari lubuk hati……..
Untuk saya yang jauh dari sempurna, manfaat yang saya rasakan secara fisik misalnya kesembuhan dari beberapa rasa sakit yang 2-3 tahun ini terasa mengganggu, membaca teks buku PS ukuran besar biasanya agak sulit sekarang mulai lancar, tidur pulas.. Pengalaman lain misalnya melihat apa adanya mendengar apa adanya merasakan apa adanya yang keseluruhan itu tanpa ingatan, pikiran, emosi masa lalu atau masa mendatang – mungkin untuk sebagian orang sulit dipahami.
Terima kasih.
Salam, NN.
Terima Kasih: saudara NN,atas balasan untuk tema ini,jika ada kata-kata saya yg mungkin tidak tepat,mohon dimakhlumi,karena saya,bergabung di meditasi ini baru 1tahun,..
penulisan saya,’untuk sebagian orang’,..karena..menurut saya,tidak semua orang ingin melakukan meditasi,karena orang yang mungkin pandai dalam..ilmu keagamaan atau sekolah teologi,..meditasi..yg di terapkan romo,..mungkin agak berbeda,
sedangkan saya,mengatakan dengan apa yang saya rasakan dan saya telah dapatkan selama mengikutinya,..dari pengalaman itulah,bisa saya tuangkan..
walau sesungguhnya..Meditasi itu sangat lah berguna,buat saya,mungkin teman-teman lainnya yang juga begabung.
jika,si pejalan rohani atau si pemeditasi,hanya sekedar ikut-ikutan,atau memakai topeng kepalsuan,itu akan sifat nya sementara,tidak akan lama..semua akan bisa terihat dan teramati..satu dengan lainnya,..
jika,kita mengharapkan,menjadikan diri ini welas asih,dan jujur,tidak bisa dipandang dari luar,karena itu terasa didalam,
karena didalam tidak bisa berubah,tapi di luar dapat berubah,
penilaian baik atau belum baik atau sedang menuju baik,adalah
“diri” ini yang bisa..di lihat oleh orang lain,bukan menilai diri sendiri.
di sini.di Meditasi baik saya maupun baik saudara NN,atau yang lainnya.jika..sudah..pernah mengalami perubahan baik,dari apa yang dilakukan dan terus berlatih,akan “Kesadaraan”,..dan menerima,melihat,memandang,merasakan,dan..melakukan,semua nya itu dengan pikiran.perasaan.pengamatan,..dengan APA ADA NYA’..semua nya itu,..tidak akan menjadikan kesulitan untuk menghadapi kehidupan ini sesungguhnya,walau tidak mudah..kalau tidak berlatih,tapi akan mudah jika,terus,terus diamati setiap gerak pikiran ini,mulai berjalan.
sesuatu yang luar biasa,buat saudara NN,yang begitu,banyak kemajuan dalam..mengikuti meditasi,sehingga perubahan-perubahan baik diperolehnya,sehingga sharring saudara,.bisa memberikan
semangat dan meyakinkan kepada banyak orang,kalau kita perlu meluangkan wkt didalam kehidupan kita ini,untuk Meditasi.
kesempurnaan,hanyalah milik NYA,tapi kelemahan diri manusia ini,
milik kita,..yang harus terus..di latih untuk menuju ‘Kesadaraan’
salam penuh kasih
r.m
K: saya jadi inget penitensi romo waktu saya ngaku dosa. terus terang saya orang yang sangat objective dan sangat ‘logika’…yang ga masuk logika..it’s non sense..
S: Iya, begitulah kecenderungan kita. Logika atau pikiran jadi segala-galanya. Padahal logika tidak mampu memecahkan masalah kehidupan.
K: hingga saat ini , pandangan saya mengenai masalah adalah ya masalah..yang akan datang selama kita masih diberi kesempatan menghirup udara yang ada di dunia ini ..
S: Betul. Tiada hidup tanpa masalah. Tapi kita memang jarang bertanya dengan serius, bagaimana mungkin kita bisa bebas dari masalah? Alih-alih setia menghadapi masalah, kebanyakan orang melarikan diri dari masalah dan mencari penghiburan.
K: ga perlu dihindari, masalah itu akan datang terus2an kok..secara sadar, saya percaya masalah akan terus datang dan ngga perlu dibendung2 apalagi dihentikan…biarlah masalah itu datang dan pergi..sikap yang diperlukan adalah bagaimana respon kita terhadap masalah itu..mau responsif atau apatis (masa bodoh)..
S: Masalah datang terus menerus itu fakta. Tidak perlu dipercaya. Seperti matahari terbit di pagi hari dan terbenam di sore hari. Itu fakta; tidak perlu kepercayaan. Masalah memang tidak perlu dibendung atau dihentikan. Tapi perlu untuk disadari terus-menerus. Sadar akan adanya masalah tidak sama dengan respon pikiran terhadap masalah. Kebanyakan dari kita tidak sadar akan masalah, tetapi berpikir tentang masalah. Itu dua hal yang tidak sama.
K: saya setuju dengan pendapat romo bahwa pikiran itu licin bagai belut dan licik bagai ular…tapi ada pertanyaan menggelitik yang muncul di pikiran saya? (lagi2 pikiran itu muncul lagi)…kira2 yang menginstall pikiran2 dengan segala ketakutan, kesenangan ,dsb sehingga si “pikiran” itu muncul sebagai sesuatu yang licin bagai belut dan licik bagai ular siapa ya?
S: Bagus, anda sadar akan geraknya pikiran dan anda bertanya siapa si pemikir itu? Adakah entitas lain di luar pikiran yang menggerakkan pikiran? Dalam meditasi, kita akan mampu melihat dengan jernih bahwa ternyata pemikir itu tidak berbeda dengan pikirannya. Itu fakta. Hanya pikiran suka membuat ilusi bahwa ada entitas subjek di luar pikiran. Terjadilah dualitas antara subjek dan objek. Itulah fungsi pertama pikiran, memisahkan si aku dengan pikiran. Lalu terciptalah berbagai masalah.
K: klo Tuhan, moso Dia install yang ga bener ya..
S: Lihat, betapa pikiran ini licin. Si pikiran/pemikir berspekulasi tentang Tuhan yang menginstall pikiran. Spekulasi tidak akan pernah membawa kita ke mana-mana. Mengapa tidak setia melihat gerak pikiran apa adanya?
K: ah, jadi mumet saya..but..thanks for this info…thanks for getting in this comment..sorry if my sentences rankling anyone who read this comment
S: Siapa dan mengapa jadi mumet (pusing)? Bukankah pikiran itu yang bikin pusing? Kalau anda amati saja gerak pikiran yang bikin pusing ini, maka pikiran berhenti dan pusing hilang seketika.
K: I still believe in Jesus…
S: Semoga anda berani melangkah lebih maju. Bukan hanya beriman pada Yesus, tetapi mengalami Yesus/Kristus/Roh Kudus/Tuhan secara aktuil setiap saat. Untuk mengalami itu, logika/pikiran musti berhenti–dibiarkan berhenti bukan dipaksa berhenti.
Bicara soal mudika emm…kayaknya kompleks deh. maunya sih ‘maju’ gitu, tp sulit bgt membangunkan raksasa tidurnya. klo ikut meditasi sih, mau. tp kendalanya waktu dan lokasi rumah sy yg lumayan. maklum, wilayah sy adl. wilayah paling ujung (timur, klo gak salah). membaca dialognya romo dan rekan2 yg lain sj, sy sdh bs belajar banyak.
Romo benar, membiarkan pikiran berhenti lebih mudah daripada memaksa untuk berhenti. masalahnya, sy belum terbiasa dengan memori yg tersimpan. masih perlu banyak berlatih mungkin ya…
salam hangat,
angela a.
Saya termasuk orang yang mencintai meditasi, mulai dari meditasi dg bdiam diri sampai dg meditasi dg mlakukan gerak…sejak setahun terakhir saya baru menyadari bahwa meditasi tidak hanya berarti “diam” tanpa bergerak, tetapi juga merupakan satu rangkaian kegiatan yang melibatkn rohani, jiwa dan jasmani.
Bdasarkan pengalaman meditasi yang pernah saya alami, meditasi akan terasa efeknya ketika saya mampu be-Rekonsiliasi di akhir proses meditasi, terutama rekonsiliasi dg diri saya sendiri karena diri saya sendiri lah yang mampu memunculkan ataupun men”Tiada”kan ssuatu (ssuatu dalam arti apa saja, masalah, memori…apa saja).
Pengalaman ketika saya kuliah d IPB, saya bersama tim pendamping IPB (asisten dosen agama katolik dbawah bimbingan rm mahasiswa), tbiasa melakukan meditasi bersama terutama ketika terjadi konflik di antara kami,bahkan dalam proses meditasi bersama tsb, kami malah berkesempatan utk saling mengenal dan menerima satu sama lain.berkat proses tersebut, kami,tim pendamping, semakin kompak dan akrab dalam bekerja dan berkarya sebagai tim pendamping (tim pendamping menjadi keluarga kedua bagi kami dg rm mahasiswa sbg kepala keluargany).
Meditasi bukan terutama pada kegiatanny saja tetapi juga Proses yg dialami sejak ptama kali akn dilakukan kegiatan meditasi sampai pada Proses yg dialami ketika kegiatan meditasi selesai dilakukan.
Bagi saya pribadi,meditasi adalah hidup dan hidup adalah meditasi.
Thanks to rm sudri atas semua tulisan dan renungannya yang telah “menyentil” saya utk kembali SADAR (sekarang kata SADAR menjadi motto dalam keluarga, selain Berserah pd Kuasa Allah dan Sabar)
Buat teman2 yg sedang menjalani meditasi, semoga teman2 mendapatkan ssuatu yg sdh lama dnanti di dalam proses meditasi yg sdg dlakukan
Jangan pernah bhenti berharap dan tetap semangat utk bjuang.
F.N.S
Saya membaca tulisan romo tentang dua pendekatan menghadapi masalah kehidupan. Sangat membantu sekali romo dalam menghadapi masalah yang saya hadapi. Dengan mengamati gerak pikiran dan membongkar setiap pertanyaan dan menyelidikinya tanpa ambisi untuk mencari solusi dari masalah, membuat masalah yang saya hadapi terurai dengan sendirinya. Dan hati saya menjadi lebih tenang. Terimakasih romo. Selamat natal.
Tuhan berkati
Oh… tulisan romo Sudri sungguh menjadi salah satu “medium” untuk menemukan kesadaran akan gerak dan kerja pikiran yang senantiasa liar, bahkan sulit untuk dihentikan. Keliaran pikiran senantiasa membawa kita pada entitas “aku” yang lemah dan sekaligus kuat. “Aku” yang lemah membiarkan “diri” dirasuki oleh masalah-masalah yang di-imagine-kan pikiran sehingga “aku” menjadi terbelenggu dan terjerembab didalamnya. Sementara “aku” yang kuat belajar bagaimana belajar menjalani hidup yang penuh dengan dinamika: besar-kecil, terang-gelap, hidup-mati, dst. Dualisme ini menuntut “aku” yang kuat pada kesadaran akan “AKU YANG ABSOLUT”, yang menciptakan semuanya “BAIK ADANYA.”
Salam hangat
Hermanus ketut
Wah ternyata dlm laku meditasinya pun pak Romo masih sanggup berpikir dgn keras, buktinya lahirlah artikel sebagus ini dr buah2 pemikiran Romo… proficiat Mo, anda menggunakan daya pikir anda yg luar biasa utk membuat hal2 ttg pencerahan2 hidup, bukan spt saya yg sering kali menggunakan daya pikir saya utk membuat masalah bagi diri saya sendiri dan bagi org lain…
Kagum saya, makasi pak Romo buat bimbinganya, saya akan mencoba menaati rambu2 yg anda berikan agar saya sampai di tujuan dgn selamat…
Peace Mo