Dionisius Berziarah
Setelah beberapa tahun Lingkungan Dionosius (Wilayah Pondok Kopi I) tidak pernah mengadakan Ziarah bersama ke luar kota, maka tahun ini kami mempunyai kesempatan untuk berziarah ke beberapa tempat ziarah yang berada di Jogyakarta dan sekitarnya sekaligus tak lupa juga berekreasi.
Perjalanan ini merupakan jawaban atas kerinduan yang selama ini dirasakan oleh sebagian besar keluarga di lingkungan ini. Kami rindu untuk mendatangi rumah Tuhan dan berdoa menyam¬paikan ujud-ujud doa.
Rombongan lingkungan berangkat pada hari Kamis, 19 Juni 2008 pada pukul 5.30 pagi. Perjalanan ini akan berlangsung selama 4 hari dan tiba kembali di Jakarta pada hari Minggu. Pada kesempatan ziarah ini jumlah peserta yang ikut hanya 24 orang sehingga bus yang berkapasitas 44 orang menjadi lebih nyaman bagi peserta. Sebenarnya dalam rencana sebelumnya, jumlah peserta yang ikut lebih banyak namun menjelang hari keberangkatan beberapa peserta mengundurkan diri karena faktor kesehatan. The trip must go on! Maka dengan jumlah peserta yang ada, kami tetap melakukan perjalanan. Selama perjalanan kami tak lupa berdoa dan melak¬sa¬na¬kan ibadat di dalam bus.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, sekitar 11 jam, kami sampai pada tempat tujuan pertama, yaitu pemakaman Girisonta. Kami mengunjungi tempat itu karena merupakan pemakaman para pastor SJ yang telah mengabdi bagi Tuhan dan melayani umat-Nya. Kesetiaan dan pengorbanan mereka telah memberikan semangat dan penghormatan dari kami sebagai umat Tuhan. Secara khusus kami berdoa bagi Pastur Al. Setiawan Gani, SJ dan Pastor A. Van Den Braak, SJ yang pernah mengabdi dan melayani cukup lama di paroki Santa Anna.
Perjalanan dilanjutkan menuju tempat pertapaan Rawaseneng untuk sekalian bermalam di sana. Karena kami sampai sudah malam, maka setibanya disana kami langsung mengikuti ibadat malam. Ternyata ibadat yang dilaksanakan oleh para trapis berbeda dengan ibadat biasanya, baik dalam Lagu-lagu dan mazmur yang digunakan, namun tetap menyentuh hati. Kami merasakan suasana yang berbeda ketika berada di tempat pertapaan itu. Suasana yang begitu hening dan khusyuk makin membuat kita dekat dengan Tuhan dan mensyukuri anugerah yang telah diberikan. Ternyata selain sebagai tempat pertapaan, para trapis yang tinggal disana juga mengusahakan peternakan sapi dan olahannya. Mereka mempunyai banyak sekali sapi perah untuk diambil susunya yang kemudian diolah menjadi berbagai macam olahan, seperti susu sapi, keju, serta kue-kue. Maka tak heran dia akhir kunjungan para ibu memborong hasil olahan tersebut yang terbukti enak.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur untuk sekalian berekreasi yang kemudian menuju Goa Maria Sendangsono. Di Goa Maria Sendangsono kami memanjatkan doa permohonan secara pribadi. Mungkin bagi beberapa orang Goa Maria Sendangsono sudah tidak asing lagi. Tetapi, di depan goa Maria, kami masing-masing duduk bersungkur mengucap syukur dan memohon ujud doa. Sejenak kami meninggalkan segala aktivitas duniawi untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan Bunda Maria. Tak lupa kami juga mengambil air suci untuk dibawa pulang.
Selanjutnya perjalanan menuju kota Jogyakarta untuk bermalam dan beristirahat agar bisa melanjutkan perjalanan esok harinya. Karena jadwal cukup padat, keesokannya kami berangkat pagi dari hotel menuju Goa Maria Tritis yang jaraknya cukup jauh. Sesampainya di goa Maria, kami langsung mempersiapkan diri untuk melakukan jalan salib. Perjalanan selama jalan salib ternyata cukup jauh dengan medan yang mendaki dan menurun dikelilingi hutan belantara. Perjalanan jalan salib terasa melelahkan namun semangat salah satu peserta yang sudah cukup lanjut usia memberikan dorongan bagi kami yang lebih muda untuk mengikuti jalan salib dengan khidmat. Setelah menempuh jalan salib yang cukup jauh, yaitu sekitarsatu jam, akhirnya kami sampai pada akhir perjalanan yaitu goa Maria. Kelelahan tak lagi terasa saat melihat keindahan goa Maria. Di situ kami menyadari akan betapa besarnya kuasa Tuhan atas semesta alam sehingga menganugerahkna kita dengan goa alam yang begitu indah. Maka kami pun melengkapi doa jalan salib dengan doa pribadi di dalam goa Maria sambil mempersembahkan lilin di hadapan Bunda Maria.
Seusai berziarah ke Goa Maria Tritis, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi paroki Wonosari tempat Romo V. Suryatma Suryawiyata, SJ tercinta melayani umat barunya setelah mengabdi cukup lama di paroki kita. Ya, kami memang memasukkan acara kunjungan ke Romo Suryo ke dalam rencana perjalanan ziarah kami. Setelah setahun ditinggal kami ingin melepas kangen sambil mengobrol bersama Romo Suryo. Setibanya kami disana, kami disambut hangat oleh Romo Suryo yang ternyata sosoknya tidak berubah. Perbincangan kami dilanjutkan dengan melihat gereja, susteran dan pastoran yang baru selesai dibangun. Melalui kunjungan tersebut kami juga memberikan bantuan pakaian layak pakai yang diharapkan berguna bagi warga sekitar di paroki Wonosari.
Pada kesempatan itu juga, kami mendapatkan kehormatan karena dapat mengikuti misa kudus hari minggu yang khusus dibawakan oleh Romo Suryo. Di dalam homilinya, Romo Suryo menceritakan kehidupan barunya di tempat yang baru itu. Ia menceritakan tugas dan kegiatan apa saja yang harus dilakukannya untuk membangun paroki barunya itu yang sempat hancur saat gempa lalu melanda Jogyakarta. Ia juga berterima kasih atas perhatian dan kunjungan kami serta tak lupa juga renungan bacaan pada hari itu. Sehabis misa, kami melanjutkan mengobrol dan bertukar cerita. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat dan kami pun harus pamit karena Romo juga harus mempersiapkan diri untuk mengadakan misa di Gereja.
Kunjungan ke paroki tempat Romo Suryo berada merupakan jadwal terakhir di dalam perjalanan ziarah kali ini. Malam harinya kami kembali ke Jogyakarta dan kemudian menghabiskan hari untuk berekreasi sambil berbelanja di Malioboro. Waktu mengalir sangat cepat dan besok tibalah waktu untuk kembali pulang ke Jakarta. Perjalanan pulang pun berjalan lancar dan kami sampai dengan selamat pada hari minggu malam. Terima kasih untuk kinerja panitia yang telah mempersiapkan perjalanan ini hingga begitu berarti bagi semua peserta. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang Engkau berikan bagi kami untuk dapat sejenak meninggalkan rutinitas harian dan mendekatkan diri dengan Tuhan untuk menjawab kerinduan kami selama ini. God Bless You…
-Angela Clarissa-
Mudika Lingkungan Dionisius







Leave a Reply