Dialog tentang Meditasi Hari ke-8, 16 September 2010
1.Tentang “perubahan dalam apa adanya”: Sampai pada hari ke-4 saya merasa datar, kering, sepi dan berat. Dua hari kemudian saya tiba-tiba menangis tanpa saya tahu penyebabnya. Setelah itu saya merasakan ada kejernihan dalam melihat persoalan hidup yang saya hadapi. Saya dibebaskan dari masalah yang membelenggu begitu saja. Meskipun meditasi ini pada awalnya terasa sepi, tetapi mempunyai efek yang lebih mendalam, mendasar, fundamental.
Kita seringkali sadar ketika muncul konflik atau ketegangan. Ketika ada “daya-upaya”, di situ si aku sudah menyusup. Ketika ada pergulatan “menjadi” yang menjauh dari “fakta”, si aku sudah menyusup. Ketika “daya-upaya” dan “proses menjadi” disadari saat kemunculannya, maka konflik atau pergulatan berakhir.
Anda melihat sekarang bahwa mengubah realita dengan digerakkan oleh si aku justru menimbulkan konflik atau ketegangan. Yang kita butuhkan adalah kejernihan melihat, melihat fakta atau realita “apa adanya”. Perubahan sudah ada dalam realita apa adanya itu. Energi perubahan itu sudah ada dalam fakta. Jadi yang kita butuhkan adalah melihat tanpa daya-upaya realita apa adanya. Realita apa adanya itu seringkali tidak terlihat karena diselubungi oleh ilusi. Kalau kita menganggap ilusi itu kenyataan, maka kita masih hidup dalam kegelapan atau ketidaktahuan (ignorance). Ilusi inilah yang perlu disadari. Ketika ilusi yang disadari itu runtuh, maka muncul “kebenaran”, “pembebasan”, “pemurnian”, “pencerahan”, “keheningan”, dst.
2. Tentang “runtuhnya ketenangan dan kejernihan melihat”: Dua hari yang lalu saya mengalamai apa yang disebut kekosongan. Dalam kekosongan itu ada energy yang mahaluas. Dalam beberapa lama ada ketenangan yang sangat intens. Entah saya duduk atau berjalan, energy itu tetap ada di situ. Dari tadi malam hingga hari ini, saya tidak lagi mengalami energy yang mahaluas itu. Bedanya, sekarang segala sesuatunya terlihat jernih. Setiap kali ada pikiran masuk, tubuh saya merinding. Ada kepekaan luar biasa. Saya terbantu dengan penjelasan “melihat tanpa daya-upaya”.
Ketika si aku lenyap, muncul ketenangan yang intens. Tetapi si aku kembali bisa menyusup dengan merasakan atau menikmati ketenangan itu sendiri. Barangkali Anda melihat si penikmat atau si pengalam tidak muncul pada moment itu, tetapi “rasa tenang yang intens” itu sendiri bisa juga masih merupakan bagian dari si aku yang halus. “Kejernihan melihat” terjadi ketika batin dibebaskan dari “sensasi ketenangan”. Ketika “sensasi ketenangan” ini runtuh, muncul kejernihan melihat. Kejernihan melihat “tanpa daya-upaya” inilah yang membuat segala sesuatu terpahami dan membebaskan.*







Romo Sudri, terima kasih atas “oleh-oleh” dari Retret Meditasi. Serial tulisan yang komprehensif ini menarik untuk disimak, menggugah pemahaman, membawa pencerahan. Serasa seperti ikut Retret, meski secara fisik tidak hadir. Semoga demikian pula yang dialami para peserta Retret dan pembaca tulisan ini. GBU
Romo Sudri, minta ijin untuk ‘copas’ tulisan2 romo yang mencerahkan, kedalam website http://www.parokiku.org terima kasih, gbu.
==========
Silahkan Pak Andreas. Tentang testimoni peserta retret, bisa Anda lihat di rubrik ‘kesaksian’.
js