Cinta dan Perkawinan

Orang menikah dan hidup berkeluarga karena cinta dan karenanya menemukan keindahan di dalamnya. Namun jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan orang menikah dan hidup berkeluarga tanpa cinta, sekalipun memiliki banyak anak.

Kita tidak perlu statistik untuk membuktikan kebenaran pernyataan itu. Anda jangan menerimanya begitu saja sebagai kebenaran atau menolaknya. Mari kita melihat bersama-sama kenyataan ini.

Apakah cinta itu menurut anda? Cinta yang kita rumuskan bukanlah cinta. Cinta adalah sesuatu yang tidak kita kenal dan yang kita kenal bukanlah cinta. Setiap kali ada cinta yang anda kenal, di situ ada rasa cemburu, rasa lekat, rasa memiliki, rasa takut, rasa aman, rasa membutuhkan atau dibutuhkan, rasa melindungi atau terlindungi dan berbagai rasa-perasaan lain kebalikannya. Di situ ada rasa kesepian, rasa tidak aman, rasa kurang, rasa tidak lengkap, dst. Apakah cinta yang kita kenal dengan lapisan-lapisan rasa-perasaan seperti itu adalah cinta?

Cinta yang kita kenal selalu punya motif. Aku mencintai engkau karena engkau menarik bagiku, karena engkau memuaskan keinginanku. Ketika engkau tidak lagi menarik dan tidak lagi memuaskan keinginanku, aku tidak lagi mencintaimu. Apakah cinta karena suka dan tidak suka disebut cinta?

Cinta yang diketahui bersumber dari batin dan tidak ada batin di luar pikiran dan rasa-perasaan. Maka yang kita kenal tidak lebih sebagai cinta verbal, cinta emosional, cinta sentimental, cinta romantis, cinta erotik, dst. Ketika kita bergairah secara emosional dan berkata, “Sayang, aku mencintaimu”, di sana tidak ada cinta.

Selama masih ada diri, maka tidak ada cinta. Diri tidak berbeda dari pikiran dan rasa-perasaan itu. Ketika cinta tiada, maka dalam setiap hubungan ada penyesuaian diri, hitung-hitungan, konflik, dominasi, kekerasan, eksploitasi. Selama diri anda mencinta, maka anda melukai orang yang anda cintai. Dan dengan melukai orang lain, anda juga melukai diri sendiri.

Cinta yang kita kenal juga memiliki objek tertentu. Aku jatuh cinta pada seseorang, pada gagasan tertentu, pada ajaran tertentu, pada lukisan, pada musik, pada seni, dst. Seseorang atau sesuatu kita cintai karena menarik. Ketika tidak lagi menarik, apakah cinta masih ada? Bukankah cinta yang kita kenal tertuju pada objek tertentu dan cinta semacam itu terkondisi?

Objek cinta yang paling memukau adalah Tuhan. Siapa yang sesungguhnya yang anda cintai, Tuhan atau diri anda sendiri? Ketika anda mencintai Tuhan bukankah anda mencintai diri sendiri, bukan mencintai Tuhan yang sesungguhnya? Lihatlah hubungan anda dengan Tuhan. Bukankah anda memiliki begitu banyak motif ketika anda berhubungan dengan Tuhan? Bagaimana mungkin Tuhan bisa dicintai dengan dengan motif tertentu? Bukankah hanya Tuhan sendiri yang mampu mencintai diriNya dalam diri anda sehingga bukan lagi anda yang mencintaiNya? Jadi yang mencintai dan dicintai tidak berbeda. Itu hanya mungkin anda lihat dan pahami barangkali kalau diri anda berakhir.

Cinta yang sesungguhnya tidak kenal diri dan tidak kenal objek dari diri. Tidak ada cinta kepada seseorang atau sesuatu. Cinta adalah seperti nafas. Ia ada begitu saja tanpa anda inginkan. Bukankah aneh kalau kita berkata, ”Aku ingin bernafas bagimu saja”? Ketika engkau tidak ada, apakah anda mau berhenti bernafas?

Kalau kita berada dalam keadaan-cinta, bukan jatuh cinta, maka cinta punya ketertiban atau inteligensinya sendiri. Cinta adalah anda sendiri ketika diri anda berakhir dan anda adalah seperti energi yang memiliki gelombang radiasi. Cinta sejati yang mekar dalam seorang pribadi pasti memancar dan menjangkau orang lain di sekitarnya.

Sepasang suami istri yang menyamakan cinta dengan rasa-perasaan akan mudah terjebak dalam kebingungan. Saat rasa cinta itu ada, orang merasa bahagia. Saat rasa cinta itu lenyap, orang tidak lagi menemukan kebahagiaan. Lalu apa yang dilakukan? Memutus tali perkawinan? Berupaya dengan berbagai cara untuk menghidupkan kembali rasa cinta itu?

Sekalipun anda berjuang untuk menghidupkan cinta, anda tidak akan menemukannya. Cinta yang sejati bukanlah rasa-perasaan emosional yang bisa dipupuk, bukan hasil dari pencarian, bukan pula hasil dari pergulatan. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa anda ciptakan atau bisa diberikan oleh orang lain. Ia bukan milik anda, bukan milik orang lain. Ia tidak bisa diikat oleh janji perkawinan atau janji selibat yang bisa diperbaharui. Cinta tidak bisa diperbaharui karena ia selalu baru. Ia bukan kelanjutan dari yang lama. Ia bukan kenangan dari ingatan masa lampau atau impian masa depan.

Kebanyakan orang menikah dan hidup berkeluarga tidak lebih untuk saling memenuhi kebutuhan manusiawi. Meskipun hal-hal manusiawi seperti kebutuhan makan-minum dan beranak-pinak adalah hal yang wajar, tidak banyak pasangan hidup yang melampaui kebutuhan manusiawi dan karenanya tidak memahami cinta sejati.

Orang berpikir dengan memiliki pasangan hidup, orang akan memiliki teman dan kesepian atau kekosongan akan terobati. Bukankah hadirnya suami, istri atau anak-anak tidak pernah bisa mengusir rasa kesepian atau kekosongan? Sekalipun memiliki teman dan menikah, anda tidak akan lolos dari kesepian.

Kesepian atau kekosongan hidup musti dialami sampai tuntas. Barangkali di sanalah orang akan melihat cinta yang sesungguhnya saat kesepian tertembus. Cinta seperti ini akan mekar dalam pribadi dan memancar dalam hidup perkawinan. Di dalamnya ada ketertiban, keindahan, welas asih, pengampunan, kebaikan. Perkawinan menjadi bermakna kalau menjadi ekspresi dari cinta dan bukan sebaliknya. Maka janganlah menikah untuk menikmati cinta, tapi temukanlah cinta itu lebih dahulu baru menikah.

Berbagai masalah dalam kehidupan keluarga gampang muncul karena tidak ada cinta. Hubungan pribadi hanya didasarkan atas rasa suka dan tidak suka. Masing-masing pasangan hidup dalam dunianya sendiri dan bertemu hanya di tempat tidur. Seks menjadi masalah besar antar pasangan dan urusan ekonomi rumah tangga menjadi segala-galanya.

Kalau hidup perkawinan tak tertahankan lagi, apa yang musti diperbuat? Anda mencoba tetap bertahan, apalagi karena sudah memiliki anak? Atau anda ingin memutus tali perkawinan demi anak-anak? Mungkinkah anda hidup dalam keadaan-cinta, bukan cinta kepada anak-anak atau pasangan hidup, tetapi hidup dalam keadaan-cinta? Mungkinkah cinta mekar dalam diri anda sebelum anda memutus tali perkawinan?

Cinta dan perkawinan ádalah dua hal yang berbeda. Orang bisa tidak menikah atau tidak lagi menikah tetapi penuh cinta dan orang lain menikah dan hidup berkeluarga bisa tanpa cinta. Tetapi perkawinan dan hidup berkeluarga tanpa cinta menjadi aneh, menggelikan. Ketika cinta tiada, maka perkawinan atau hidup keluarga menjadi penjara. Tetapi institusi perkawinan tidak pernah bisa memenjarakan cinta. Andalah yang memenjarakan cinta.

Kalau diri tiada, maka ada cinta. Maka cinta perlu didekati bukan secara positif, tetapi secara negatif. Batin musti sepenuhnya diam, berada dalam keadaan-bebas. Batin yang diam, yang bebas, tidak tertambat pada apa yang dikenal. Maka cinta yang kita kenal dengan lapisan-lapisan rasa-perasaan itu perlu disadari dan ditransendensikan. Barulah cinta yang sesungguhnya yang tidak dikenal itu barangkali akan terpahami dan mekar.*

10 Responses to “Cinta dan Perkawinan”

  1. Met malam Rm,

    Bicara tentang cinta rasanya ngga habis, ada begitu banyak definisi, tafsiran,makna, hakekat, arti dan lain sebagainya.Manusia adalah ujud cinta kasih Allah sehingga cinta kasih merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah menjadi kodratnya dan dalam mewujudkannya ada dua cara yang khas untuk mencintai yakni pernikahan dan keperawanan/selibat. Keduanya merupakan perwujudan nyata kebenaran tentang cinta kasih Allah kepada manusia.Dalam sebuah perkawinan seksualitas yang merupakan upaya saling menyerahkan diri bagi suami isteri, sama sekali tidak meluluh bersifat biologis melainkan kenyataan pribadi manusiawi yang paling inti dan merupakan unsur integral dalam cinta kasih bila suami isteri saling menyerahkan diri sepenuhnya seumur hidup.
    Perkawinan sebagai sakramen perjanjian antara suami dan isteri adalah suatu rahasia besar karena menyatakan cinta kasih Kristus kepada GerejaNya, Bila saat cinta kasih suami isteri tidak lagi indah,luntur atau kering karena egosime, maka suami isteri harus kembali menimba rakhmat dan kekuatan dari sumberNya. Cinta tidak ada kelekatan dan menerima apa adanya.
    Sebuah illustrasi tentang sepasang suami isteri yang baru menikah beberapa bulan, lalu sang isteri mengajak suaminya menuliskan kekurangan pasangan masing-masing di kertas dengan tujuan supaya bisa memperkuat tali pernikahan mereka, lalu keesokan harinya sang isteri membacakan daftar kekurangan suaminya sebanyak 3 halaman dan ia memperhatikan bahwa air matanya suaminya mulai mengalir dan isterinya bertanya, maaf apakah saya harus berhenti?, oh teruskan kata suaminya,nah setelah selesai isterinya bilang sekarang gantian, engkau yang bacakan kekurangan saya. Dengan suara perlahan sang suami berkata, aku tidak mencatat sesuatu di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna untukku dan aku tidak ingin mengubahmu, engkau adalah dirimu sendiri, engkau cantik dan baik bagiku dan bagiku tidak ada yang kurang. Isterinya tersentak dan tersentuh dengan pernyataan dan ungkapan cinta isi hati suaminya bahwa suaminya menerimanya APA ADANYA….si isteri menunduk dan menangis! Itulah sebuah ilustrasi cinta dr sang suami yang menerima cinta apa adanya.
    Dalam relasi suami isteri, sering mengalami kekecewaan, depresi, sakit hati dsbnya dan sesungguhnya kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk hal tersebut. Hidup ini penuh sukacita, keindahan dan pengharapan dan kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan melupakan yang buruk, betul ngga Romo?
    Nah Rm, gitu aja sedikit ulasan saya,
    Good night

    salam,
    mary

    rgds,
    mary

  2. Kebanyakan orang mengalami penderitaan karena mereka tidak menerima momen ‘disini pada saat ini’ sebagaimana adanya. Mereka tidak menyadari gerak batin atau gerak pikiran. Mereka memberi nama cinta tetapi yang sesungguhnya sesuatu entah apa yang sarat muatan keinginan: entah itu keinginan untuk memiliki, menguasai, mengharapkan sesuatu atau hubungan timbal balik, atau apapun. Cinta atau rasa perasaan ingin memiliki ingin berbagi dst ini lalu bergerak liar seperti gerak batin atau pikiran yang tidak disadari dan berubah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi. Harus? Ya, harus dipenuhi segera atau tidak… mulai dari tuntutan atau keinginan secara halus (anda bisa melihat dalam diri anda sendiri) sampai pada titik kasar yakni perselisihan, pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga, dan puncaknya bisa dilihat dari keinginan untuk pisah rumah, perceraian, pembatalan pernikahan dst.

    Untuk seorang suhu, perkawinan dan hidup berkeluarga tanpa cinta menjadi aneh, kebanyakan orang ingin menghindar atau mencoba lari dari hidup berkeluarga tanpa cinta. Bisakah kita menolaknya? Mana bisa…
    Survey membuktikan bahwa saat rasa perasaan paksa, kendali, konflik dst muncul, cinta mati. Orang yang menyerah pada tekanan, paksaan atau kondisi apapun, akan merusak kemampuan kodratnya untuk mencintai maka dalam hidup berkeluarga yang terkondisi itu timbullah keinginan untuk bercerai dst.
    Mungkin ketika anda dan pasangan anda menyatu dengan kehidupan perkawinan tanpa cinta itu, anda tahu apa yang harus anda lakukan, karena pada saat itu Ego lenyap, sirna. Saat ego sirna muncullah kebebasan, kedamaian, ketenangan, kegembiraan, dan tak ada sukacita tanpa dibarengi oleh cinta kasih.

    Cinta yang diuraikan dalam tulisan renungan ini dan juga diuraikan dalam homili misa minggu sore 16.30 bukanlah cinta yang ada dalam rentang waktu. Karena itu adalah baik bagi orang yang akan memasuki gerbang perkawinan atau mencantumkan perkawinan dalam agenda kehidupannya untuk menemukan cinta itu lebih dahulu.. sedia payung sebelum hujan ya MO, kan sekarang mulai turun hujan.. artinya, masukilah institusi perkawinan dengan cinta yang sesungguhnya bukan sekedar update status dari lajang menjadi menikah..

    Kalau hidup perkawinan tak tertahankan, mungkin pasangan yang mengalaminya perlu melepaskan diri masing-masing agar perubahan terjadi, melepaskan diri bukan berarti melepas status perkawinan. Pasangan yang mengalami kehidupan rumahtangga seperti ini perlu mawas diri, melepas ego masing-masing, melepas kehendak diri relative yang liar tak terkendali. Sering kali ada dusta di antara kita… eehh, di antara anda dengan pasangan anda. Bukankah perubahan tak dapat dihindari, perubahan berarti rasa perasaan ‘hidup perkawinan yang tak tertahankan itu’ menjadi satu hal yang tidak dapat diandalkan. Segala sesuatunya berubah tidak pernah rutin tidak pernah tetap, begitu kedua belah pihak menyadari bahwa mereka berada dalam krisis perkawinan disana mungkin ada perubahan, pribadi demi pribadi dapat mulai merasakan bahwa mereka adalah perubahan itu sendiri yang membawa angin segar dalam perkawinan mereka. Pada saat anda menyadari bahwa anda kurang, Tuhan menambahkan kepada anda… benar kan MO..

    Cinta dan perkawinan ádalah dua hal yang berbeda. Ya jelas beda! Yang satu tulisannya c-i-n-t-a, yang satu lagi per-ka-win-an.. maaf Romo, pikiran kreatif ini bergerak dan maunya dikomunikasikan.. hehehe…

    Memang, batin mesti sepenuhnya diam, hening, tidak terombang ambing, agar segala sesuatu datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas pada batin. Bukankah dari batin yang hening segala sesuatu terlihat apa adanya, tanpa perlu konfirmasi… tidak salah kan, MO…

    God Bless You.

  3. Bagi saya cinta itu suatu perasaan yang timbul dari dasar hati yang paling dalam, Cinta tidak hanya dikatakan tetapi harus diwujudkan dengan perbuatan nyata misalnya karena saya cinta keluarga saya, maka saya melaksanakan kewajiban2 saya dengan sebaik baiknya dengan tulus tanpa perasaan terpaksa. Perkawinan yang didasarkan cinta tidak mudah runtuh karena cinta itu akan saling melengkapi, saling mengisi,saling memperhatikan dan saling membahagiakan.

  4. Cinta dan Perkawinan emang gak sama. Di dalam perkawinan mestinya ada cinta, ada kasih, ada sayang, ada persahabatan, ada tanggung jawab, ada kesetiaan, ada birahi, ada sex, ada macem macem lah mo.

    Pertanyaan nakal saya kali ini satu, mo:
    kalo ternyata perkawinan saya tidak didasarkan atas cinta, apakah saya berhat memperoleh annulment mo? heheheheee….

    salam, rin

  5. Nimbrung nih…., ya gak boleh lah ibu Rini….. Perkawinan Katolik kan tidak boleh bercerai , kan udah ditanya oleh Romo waktu penerimaan Sakramen pernikahan Apakah anda mencintai suami anda… dst…dst….kalau sudah di jawab ya.. ya tetap ya … gak bisa dibatalkan. ….. ikut2an jawab ya bu Rini , gak apa2kan… okey .. salam buat mas Nanang n anak2.

  6. Ibu Rini tadi sy baca buku hukum Kanonik, perkawinan dinyatakan tidak sah (bisa dibatalkan ) Bila :impotensi, terikat perkawinan sebelumnya,terbukti ada hubungan darah dlm garis keturunan keatas dan kebawah, karena paksaan atau ketakutan berat yg dikenakan dari luar. Benar nggak Romo ????

  7. Hwakakakakaaaaa… ketahuan mbak Irene!
    mati’ aku!!!

    salam juga ya mbak!

  8. Berbahagialah setiap orang yg diberikan kemampuan melihat-memandang-merasakan semua hal kebaikan-kebaikan,sebagaimana sdh terlihat&tertulis dari uraian-uraian yg terhantarkan..
    Cinta arti perluasan adalah Allah sendiri.
    Perkawinan adalah sepasang anak manusia yg memberikan keseluruhan hidupnya juga kepada Allah.

    Hiduplah dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah(kor1:17-lanjut20-24).

    Dianjurkan-diingatkan-disadari-disayangi semuanya baik adanya,
    hidup adalah sesungguhnya kebahagian,kalau semua itu blm kt temui.krn “ego”begitu kental didalam ‘diri’yg tak lain,penyadaraan akan sesuatu dari asal mula Allah berkenan kepada anak-anaknya yg IA kasihi.Tiada luka tiada derita tiada tangisan tiada penyesalan tiada kekerasan kalau Cinta “Sejati” sesungguhNya”Hadir”.

    Gimana?ko bicara mudah?menulis mudah?kalau kita sdh masuk dimensi terdalam kita,”bebas Batin”dari segala konflik&belenggu
    yg datang dari pikiran2 yg medistorsi tubuh kita,Lupa segalanya..Kalau kita semua laki-laki&wanita diciptakan sama.
    Dengan apa?menyadari ‘diri’ kita yg banyak-banyak keinginan/upaya/pengejaran/sehingga hadir yg melukai/meyakiti disitu tiada Cinta &tiada Allah.

    Berbahagialah kalian/kita/siapa saja yg diberikan Allah yg baik disaat ini.Sehingga senyum Nya melingkupi binaan didalam rumah tangga,sehingga kerajaan surgawi memang layak ditemui saat ini,mulai ini,kenapa bisa bilang spt itu?Kalau “batin kita terbebaskan,dengan “mati”ego kita/keinginan/kelekatan dsb.
    yang hadir-muncul adalah Cinta bersahaja yang adalah Allah sendiri berkenan didalamnya.Asalkan”mati ego” setiap detik dalam kehidupan kita semua.

    Diberikannya kita semua dari NYA mata luar&mata hati untuk melihat yg mana hanya kasihNya.Diberikan telinga untuk mendengarkan siapa saja yg berkenan sehingga telinga Allah yg berkenan yg kt gunakan pula.Tangan kita untuk menopang siapapun sekalipun bukan pasangan,apalagi pasangan yg diberi Allah kpd semua org,Untuk mengapai kehendak bagai uluran tangan kasihNya pula.

    Berbahagilah yg hendak memasuki binaan rumah tangga “baru”sangat baik kalau Cinta sejati lebih dulu ada didalam hati,sehingga cinta sesaat cinta emosional cinta sentimentil dapat diikat oleh Cinta yg luhur yaitu cinta kesejatian,sehingga maligai perkawinan yg benar serta tulus menghantarkan pasangan sampai ke depan altar dengan janji suci yang tak ternodai lagi.
    Rintangan apapun didunia ini bisa dihadapi dengan Kasih nan tulus karena..penyadaran yg tinggi dari kedalamn hati kita yaitu Cinta Allah yg benar.

    Berbahagialah pula orang2 yg sangat berkenan kepada Allah,sebagai hamba melayani panggilan suciNya tiada ikatan perkawinan,Karena sdh demikian adanya,”diri” terbebaskan-Cinta luhur sudah ada padanya,”ego”dilenyapkan.Itu juga jalan-jalan Nya bagi banyak umat manusia dibumi ini.Tetap dalam Kasih Nya
    karena Hidup adalah keadaan seperti waktu dipanggil Allah.

    Terimakasih tulisan indah boleh kami lihat untuk menyadari kami kembali,kalau Cinta & perkawinan agar bisa seiring&sejalan..GBU

  9. Baiknya memang tiap pasangan sama-sama berlatih mengolah batin. Baik yang belum atau-pun sudah menikah, tidak ada salahnya memang dicoba.

    Kalau salah satu belum tertarik, ditunggu sejenak. Sampai… akhirnya mau dengan sendirinya. Tanpa ada kata ‘paksa’. Kalau sudah begitu, lumayan juga seperti ada lintasan baru bersama. Harapan-nya bisa saling mengingatkan.

    Sesudah itu ke gereja bersama, agar … tidak sesat & berdosa.

    :)

  10. saya tidak akan membahas tentang kehidupan perkawinan, saya hanya ingin mengungkapkan sesuatu tentang CINTA.

    CINTA, seperti yang dikemukakan dalam renungan adalah seperti nafas kehidupan datang tanpa kita inginkan dan hanyalah hidup untuk cinta, bukan untuk mendapatkan balasan dicintai bahkan bukan untuk diri sendiri.

    CINTA adalah pengorbanan, kesabaran, kelemah lembutan dan membebaskan, walaupun setiap orang yang mencintai dan dicintai akan merasa terperangkap oleh cinta itu sendiri, tapi dengan keindahan cinta, maka tiada lagi diri sendiri yang ada hanyalah cinta.

    Gambaran tentang cinta, saya mendapatkan dari renungan ini, Injil dan puisi Kahlil Gibran. Namun sesungguhnya cinta tidak dapat didefinisikan karena cinta melampaui segala definisi yang ada tentang cinta itu sendiri.

    Terimakasih.
    Irin

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>