Cinta dan Penderitaan
Cinta yang kita kenal selalu ditunggangi oleh berbagai motif. Ada keinginan untuk memiliki, mendominasi, cemburu, khawatir, gelisah, benci, takut kehilangan, bergantung, melekat, mencari dan melanggengkan kesenangan atau kepuasan. Dalam cinta yang kita kenal seperti ini, kita melihat, selalu menciptakan keterpecahan, konflik dan penderitaan batin.
Kebanyakan orang tidak bahagia karena kurang cinta. Setelah merasa memiliki cinta, orang justru menderita karenanya. Kita menderita bukan hanya ketika kita mencintai orang lain dan orang lain menolaknya atau ketika kita dikhianati atau ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Kita menderita juga ketika kita menemukan seseorang atau sesuatu yang kita cintai dan melekatinya. Semakin kuat kita melekat, semakin kuat pula kita menderita.
Kalau cinta tidak lebih dari kesenangan, maka kita akan terus menderita dan kalau kita menderita kita tidak bisa sungguh-sungguh mencinta. Untuk itu kita perlu memahami penderitaan kita dan tidak membiarkan berlanjut setiap kali kita mengolahnya.
Apakah penderitaan datang dari luar?
Ada penderitaan fisik seperti kalau Anda tidak memiliki cukup sandang, pangan, papan, terkena penyakit, kecelakaan. Ada penderitaan psikologis seperti ketika Anda mengalami kesepian, ketakutan, kecemasan, kegelisahan, kehilangan, merasa tidak berguna, ditolak, dst.
Penderitaan fisik tidak serta-merta menciptakan penderitaan psikologis. Ketika Anda mengalami sakit secara fisik, tantangannya adalah bisakah rasa sakit fisik itu tidak berlanjut menjadi rasa sakit psikologis? Kalau Anda berbuat kesalahan dan dengan sadar meminta orang lain menampar Anda supaya Anda tidak jatuh dalam kesalahan yang sama, apakah tamparan teman Anda membuat Anda menderita secara psikologis? Bukankah Anda tidak menderita?
Sekarang lihatlah kasus ini. Kalau Anda berselisih paham dengan rekan kerja dan tiba-tiba dia datang dan memukul Anda, bukankah Anda menderita secara psikologis? Apa yang membuat rasa sakit fisik berlanjut menjadi rasa sakit psikologis? Muka Anda ditampar. Pikiran Anda menilai itu merupakan kekerasan, tindakan pelecehan, penghinaan, perendahan martabat. Anda memiliki gambaran tentang diri sebagai yang bermartabat. Anda merasa diri sebagai korban. Lalu Anda ingin balas dendam. Jadi apa yang membuat Anda menderita secara psikologis? Bukankah pikiran yang menamai, mencatat, menilai, membuat penderitaan fisik itu berlanjut menjadi penderitaan psikologis?
Penderitaan tidak pernah diciptakan oleh orang lain atau situasi-situasi di luar. Penderitaan muncul ketika kita merepons tantangan menurut keinginan, ketakutan, penilaian, gambaran, tafsiran kita. Mengapa Anda merasa terhina, terluka atau menderita, ketika orang lain menjelek-jelekan Anda dan menyebut Anda tolol? Bukankah karena Anda memiliki gambaran tentang diri Anda bahwa Anda bukan orang tolol? Bukankah penderitaan muncul bukan karena Anda dikatakan tolol, tetapi dari kebiasaan Anda menamai sesuatu yang tidak Anda inginkan? Kalau Anda tidak memiliki gambaran sebagai orang tolol atau bukan tolol, bukankah Anda tidak menderita?
Apakah penderitaan tak-terelakkan?
Kebanyakan orang hidup dalam penderitaan dan jarang orang bertanya bagi dirinya sendiri bisakah penderitaan berakhir secara total? Kalau kita mengatakan bahwa penderitaan itu tak-terelakkan, tak ada kemungkinan bebas total dari penderitaan, maka pencarian kita tidak ada artinya dan kita terus hidup di tengah kegelapan. Kita tidak mungkin bebas dari sakit atau penderitaan fisik. Tetapi tidak mungkinkah kita bebas total dari penderitaan psikologis?
Sekalipun orang beranggapan bahwa penderitaan itu tak-terelakkan, kebanyakan orang lari ketika penderitaan datang. Ada banyak modus pelarian diri. Orang tidak menerima penderitaan lalu bertanya mengapa menderita. Orang menganalisa, mencari sebab-sebab penderitaan, mencari cara untuk mengatasinya. Secara intelektuil Anda tahu penderitaan Anda tetapi pemahaman intelektuil tidak membuat Anda bebas.
Bukankah semua itu adalah pelarian dan semua pelarian hanya memboroskan energi? Setiap pelarian menciptakan ketakutan dan ketakutan melanggengkan penderitaan. Kalau kita melihat semua pelarian tidak ada gunanya, maka kita tidak perlu berlari menjauh tetapi diam bersamanya. Bisakah diam bersama penderitaan tanpa menolaknya, tidak membenarkannya, tidak membanding-bandingkan, tidak menilai, tidak menganalisa, tidak menafsirkan?
Setiap gerak pikiran yang mencatat, menamai, menilai, menafsirkan menjauhkan kita dari penderitaan itu sendiri dan kita tidak memahaminya. Kalau kita berada bersama penderitaan tanpa jarak, maka kita menemukan bahwa “aku” yang menderita tidak berbeda dari penderitaan itu sendiri. Di titik itu tidak ada lagi si aku yang menderita, atau si aku yang memiliki penderitaan, tetapi “aku adalah penderitaan itu”, “Anda adalah penderitaan itu”. Ketika Anda melihat penderitaan tanpa jarak, bukankah tidak ada lagi “aku yang menderita” dan penderitaan berakhir?
Apakah penderitaan itu perlu?
Tubuh kita memiliki inteligensinya sendiri. Kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh, maka tubuh memberikan signal yang kita tangkap sebagai rasa sakit. Maka rasa sakit berguna untuk memberitahu ada sesuatu yang perlu dilihat pada tubuh kita.
Ada seorang penderita kusta di perkampungan orang kusta di Tangerang. Kedua kakinya tidak berasa. Suatu hari ia mencangkul kebun di belakang rumahnya dari pagi hingga sore. Ketika senja tiba, ia berhenti mencangkul dan masuk ke beranda rumahnya. Setelah duduk, baru ia merasa sangat lelah disertai panas-dingin. Ia mencoba membuka sepatu boatnya. Tidak seperti biasanya, kali ini sulit sekali sepatu dibuka. Setelah dilihat-lihat, sepatu kanannya penuh darah yang mengucur dari kakinya. Ia melihat ternyata ada tonggak bambu yang menembus sepatu dan menancap ke kakinya. Darah mengucur tetapi ia tidak berasa. Kemudian ia dilarikan ke rumah sakit dan untunglah jiwanya masih tertolong.
Seandainya ia merasakan sakit ketika tonggak bambu itu merobek kakinya, maka ia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk bertindak. Karena tidak merasa sakit, maka ia justru berada dalam bahaya. Kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh tetapi tubuh tidak memberikan signal sakit, maka kita seperti berada dalam bahaya tetapi tidak sadar akan bahaya tersebut. Situasi seperti itu jauh lebih berbahaya daripada datangnya bahaya itu sendiri.
Seperti halnya sakit fisik, apakah ada perlunya sakit psikologis atau penderitaan psikologis itu? Penderitaan itu berfungsi seperti signal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan batin kita. Penderitaan adalah goncangan bagi batin yang merasa aman. Selama batin hidup dalam cangkang diri, ia merasa aman. Tetapi batin yang merasa aman terus terancam oleh goncangan penderitaan.
Anda secara psikologis merasa aman karena memiliki uang dalam jumlah tertentu dan takut akan masa depan, merasa bahagia karena memiliki sahabat atau pasangan hidup dan takut kehilangan mereka, menemukan kepastian dalam ide atau kepercayaan tertentu dan melekatinya. Batin yang demikian adalah batin yang tidur. Batin yang tidur adalah batin yang merasa aman hidup di bawah pengkondisian. Begitu kondisi-kondisi itu diruntuhkan, maka batin tergoncang, batin menderita. Semakin Anda bahagia dan melekati apa saja yang mendatangkan kebahagiaan, sebenarnya Anda sudah hidup dalam penderitaan. Tetapi kebanyakan orang menganggap penderitaan seperti ini sebagai kebahagiaan.
Penderitaan karenanya berguna agar batin kita bangun, agar melihat kebenaran dan sadar bahwa penderitaan tidak ada gunanya lagi. Ketika penderitaan berakhir, barangkali cinta dan welas asih terlahir. Bisakah kita tinggal bersama penderitaan itu secara total setiap kali penderitaan itu muncul dan membiarkan penderitaan setiap kali berakhir?*







Dear Rm Sudri,
Dalam tulisan diatas saya menangkap bahwa penderitaan itu perlu untuk membangunkan batin yang tidur, namun kelihatannya dalam kehidupan itu kebahagiaan dan penderitaan akan silih berganti bahkan seperti spiral yang bergulir terus dan Rm apakah benar pada akhirnya kita menerima semua itu sebagai suatu siklus kehidupan yang senantiasa bergulir dan itu sesuatu yang kita terima apa adanya?Sehingga kebahagiaan dan penderitaan itu sendiri akan datang dan pergi , tergantung bagaimana kita memaknainya,gimana Rm?
Thanks auntuk sharing dipagi hari ini
Rgds,
mary
romo…ga cukup skali novi mbaca tulisan romo kali ini krn memang sulit untuk menangkap makna menggunakan logika…
Akhirnya novi pun mrenungkan judulnya saja, kenapa ya cinta dsandingkan dg pnderitaan (mgunakan dan bukan atau) padahal realita khidupan manusia sering mengartikan cinta dengan yang indah2 saja…
Tnyata cinta dan pnderitaan tak mungkin diartikan mnggunakan kata2 ataupun logika…pjalanan hidup pun tak pernah lepas dr cinta dan penderitaan trutama dkala cinta dselami dg sgt mdalam maka dsitu pula hadir pnderitaan dmikian juga sbaliknya ktika pnderitaan dialami dg ksetiaan maka dsitu hadir cinta yang tak trkira…
barangkali peristiwa ini pula yg mnjadi landasan bagi orang tua novi yg slalu mengajak kami anak2nya untk tetap setia dalam cinta trutama dlm pnderitaan……
Terima ksh romo karena lagi2 telah membuat tulisan yang dpt mngajak novi masuk dlm pmenungan ktika menjalani khidupan sbagai manusia…
Ada banyak sebab orang menderita. Salah satunya bernama cinta, cinta apa saja yang kita kenal. Cinta yang kita kenal tidak membuat orang bahagia, tapi malah menderita. Kalaupun orang merasa bahagia, kebahagiaan di sini memiliki sisi lawannya. Maka pengalaman kebahagiaan disini pada hakekatnya adalah penderitaan.
Apakah ada kebahagiaan yang bukan lawan dari penderitaan? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu memahami apa itu penderitaan, bukan apa itu kebahagiaan. Karena kebahagiaan yang lain, yang sesungguhnya, adalah akhir dari penderitaan. Ketika penderitaan berakhir, batin keluar dari dualitas cinta-benci, bahagia-menderita.
Apakah dualitas itu kita terima sebagai alamiah, tak-terelakkan? Kalau ya, maka selamanya kita tidak keluar dari kegelapan penderitaan, bukan? Sekalipun kita berjuang untuk setia di tengah penderitaan, sekalipun kita belajar memaknai penderitaan, tetap saja kita tidak keluar dari penjara penderitaan. Upaya-upaya seperti itu justru membuat penderitaan tidak terpahami secara total.
yup romo…betul skali^^
awalnya ksetiaan kami rasakan sangat menyiksa krn kami bjuang ktika mnjalani ksetiaan tsb…namun lambat laun, kami bersama saling mnguatkan tuk mnjalani khidupan mngalir sperti apa adanya hingga tak ada bedanya lagi antara susah dg senang, kaya dg miskin atau benci dg suka/cinta…
Heh…penjara penderitaan…mmm, kata yg menarik…dapat dkatakan bahwa keadaan kluarga kami sejak smula sudah mnderita namun kami tetap dapat tertawa, bahkan pnderitaan itu kini sering mnjadi bahan candaan kami ktika bkumpul bsama kluarga besar…
Novi tak dapat jelaskan knapa bisa tjadi sperti itu, tetapi begitulah adanya khidupan yang novi alami bersama kluarga hingga saat ini…dahulu sungguh sangat menyiksa, tetapi kini smuanya menjadi sangat berbeda……
Terima kasih Romo,krn mengungatkan saya kembali..
Penderitaan dan kebahagiaan mmg datang silih berganti. Sedih dan menderita krn meninggalnya mama mertua,tidak berapa lama lg,kebahagiaan atas pernikahan adik, 1 minggu kmdn,meninggalnya om saya.
Jd diri ini sempat naik turun..sebentar sedih,kmdn bahagia,kmdn sedih lg. Sempat ketika om saya meninggal,sy kembali drop baik fisik n psikologis. krn batin dan pikiran menilai dan merespon.mk diri jd drop kmbali.
om sy tdk pernah mengeluhkan sakitnya. Ketika sakit mendera,yg dia lakukn menyanyi lagu2 rohani,dia tdk mengeluh.Biarpun hidup om saya penuh dgn penderitaan,dgn sakitnya namun ttp terpancar kbahagiaan dr wajahnya yg pucat.Saya jg salut pd tante sy yg telah mengurus om,tnp mengeluh. shg dgn kepergian om saya,tdk ada penyesaln,krn tlh bertahun2 mengurus sakitnya om sy. Shg ketika dokter memvonis umur om sy hny tnggl 4bln,tante sy berserah kpd Tuhan,agar memberikn yg terbaik buat om sy,dan trnyt waktunya tdk smp 1 bulan.
Apakah ini yg dimaksud Romo,bhw sakit fisik,cukup disadari,namun batin tdk ikut sakit. Tp sy kadang2 msh ikut sakit scr psikologis,jk fisik sakit.Krn kata2 Jangan2 yg keluar,yaitu pikirn yg brjalan dan negatif pula. Hehehe..Jd sakit n menderita sendiri. Mmg jk orang merasakn penderitaan yg cukup lama,mk dpt membentuk pribadi orang tsb, utk berserah,tegar dan terlihat bahagia.
Thanks Mo.
hm.. ya,mba Aida. Ada kata-kata begini, “Di dalam kematian, ada kehidupan & kebahagiaan. Namun di dalam kehidupan, belum tentu ada kehidupan.” Itulah sebabnya banyak orang yg sedang stres, memilih untuk mati supaya bisa bahagia. Padahal, kematian tidak perlu dikejar – kejar.
Biar bagaimanapun, otak tetap menyimpan memori banyak hal tentang kematian. Namun, kalau perbandingannya adalah cinta dan penderitaan, sepertinya memang apa itu penderitaan, akan membuat seseorang mengalami cinta. Bukankah begitu?
Romo, sebentar lagi akan ada yang secara resmi “mati” namun semoga dengan kematian itu, ada banyak yang “tumbuh” hehehe…
Terima kasih tulisannya, Romo.
Mba Nooov… jangan lupa oleh2nya yaa…. (dari jateng gituu^_^)
Romo Sudri……
Semangkin membaca dan mempraktekkan artikel2 Romo di web ini, semangkin bingung dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kenapa dan bagaimana ini bisa terjadi ya MO ? Apakah yang disampaikan Romo dalam artikel2 nya bukan suatu ide, cara atau metode juga ?
Jadi benarkah artikel2 itu ?
Salam Damai Selalu
Romo… artikelnya mengingatkan saya pada…
Rom 5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Rom 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
Rom 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
Rom 5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Rom 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Kalau saya ganti kata ‘kesengsaraan’ dengan ‘penderitaan’ dan kata ‘kasih’ dengan ‘cinta’ maka:
…karena kita tahu, bahwa penderitaan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena cinta Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Amen.
Thanks atas pencerahannya untuk hari ini Romo!
Regards,
Yohan.
Mas,
Maksudmu artikel artikel itu malah membuatmu bingung?
Gini,
kalo baca artikelnya mo Sudri, coba dibuat versi sederhananya gimana. Ntar nyambung juga koq. Ato buat contoh aplikasinya aja, biar MAK BYAAR jelas gitu looohh….
Contohnya gini:
cinta sejati itu gak cocok dengan penderitaan.
cinta sejati itu menghasilkan kebahagiaan.
contohnya: saya seorang ibu mencintai anakku. Maka cinta yang benar itu mendorong dia maju, tidak koq malah melarang dia ini itu hanya karena takut ini itu. Cinta itu tidak cemburu maka kalau dia disayangi oleh orang lain tentu saya bahagia, bukan koq malah takut kehilangan dia.
“takut kehilangan dia” adalah penderitaan yang menunjukkan bahwa sebetulnya saya tidak mencintai dia melainkan ingin memiliki dia secara egois.
Apakah penderitaan itu berguna? Ya, untuk parameter bahwa ada yang tidak benar dalam cinta kita.
Tapi apa perlu penderitaan itu? Kalo bisa tidak menderita kenapa mesti menderita?! Tapi untuk sampai ke keadaan tanpa penderitaan itu pasti ada masa masa ketika kita menderita. Gpp, itu kan jalan untuk belajar mencintai. Yang penting teruslah belajar mencintai!
heheheheheheheeeeee….. itu sejauh saya bisa mengerti mo Sudri lho ya!
Selamat berusaha memahami romo yang baik itu.
Salam berkah Dalem, rin
Mbak Rini…. tulisan Romo Sudri mempunyai arti yang sangat dalam dan memang sulit dimengerti oleh orang awam , tapi kalau kita bisa menjalankannya …hidup ini akan menjadi indah sekali. hidup ini akan menjadi ringan tanpa beban, lepas,bebas.disitulah mungkin kita menemukan suatu kebahagiaan atau kepuasan yang sesungguhnya. mungkin bisa kita pahami kalau kita bermeditasi. aku sudah mencoba belajar meditasi tapi belum bisa..pikiranku gak mau berhenti… diam.. membuat aku melamun yg akhirnya membuat suatu kekuatiran atau kegelisahan , diam juga kadang membuat aku mengantuk.
@Andreas: Anda bingung karena agaknya Anda mencari teori tertentu untuk Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan-tulisan di rubrik ini jangan dijadikan teori, ide, teknik atau metode untuk mengejar apapun. Alih-alih pakailah tulisan-tulisan ini sebagai cermin untuk melihat dan memahami secara langsung gerak batin Anda sendiri. Kalau Anda sudah bisa melihat langsung gerak batin Anda, cermin itu tidak ada gunanya lagi.
Romo, membaca tulisan ini saya jadi ingat ketika mengalami satu masa yg panjang dengan membawa penderitaan karena tidak sesuai dengan kebahagian menurut pikiran saya. ketika pikiran-pikiran penderitaan itu datang saya mencoba untuk membuang dan tidak mau mengingatnya lagi. saya berkata dalam hati bahwa saya telah memaafkan org yg menyakiti saya, tapi itu hanya ada dipikiran dan tidak benar-benar merubah apapun masih ada konflik terus dan mendera. namun saya bersyukur ketika saya mengenal meditasi yang Romo kenalkan tahun 2007 saya mau masuk dan menerima penderitaan itu setiap saat dia datang saya sadar dan dibawa masuk lebih dalam di setiap saat, masuk dan menembus itu semua. Saat momen itu terjadi hanya sepersekian detik dan seketika itu juga ada kebebasan didalam batin, maaf keluar dari hati dengan tulus dan bersyukur untuk semua yang saya alami. sejak itu ketika memori datang sesekali tidak lagi mendera tapi itu bagian dari perjalanan hidup saya dan saya bersyukur boleh mengalami warna-warna dari kehidupan dan berdamai dengan diri saya sendiri.
Salam hangat.
Cinta bersumber pd kesadaran ketika sy melihat seseorang sebagaimana adanya saat itu. Cinta itu begitu saja ada, tumbuh dlm hati melalui kontak dg yg nyata, dan yg ada adl realitas cinta kpd sosok yg terbujur kaku dihadapanku beberapa waktu yl. Saat memasuki rumah duka sy langsung melangkah menuju ruang tempat jenasah dibaringkan dlm peti. Ternyata pemahaman ttg cinta tdk ada rumusannya karena tdk dpt diuraikan dg kata2. Rasanya spt masuk ke dalam wilayah yg tak terjamahkan meski saat itu ada banyak orang didalam rumah, segalanya sunyi… & didalam kesunyian itu sy melihat cinta & penderitaaan yg melampaui segala rumusan yg ada. Mataku nyaris berkaca-kaca menghadapi kenyataan itu sebelum kelekatan dan ketakutan runtuh. Penderitaan tak bisa lagi dirumuskan dg kata2, siang malam tdk bisa istirahat atau tidur nyenyak, berdoa tdk bisa dg kata2. Hanya keheningan yg saya alami & saya lihat sampai hari ke 8 berpulangnya bpk ke pangkuan ibu pertiwi. Rasanya spt ada perubahan yg aneh dlm diri ini yg semakin lama semakin nyata, spt orang yg baru menghirup udara segar setelah beberapa saat terikat dg tali yg erat.
Hari ini saya kembali melangkahkan kaki, meski sesekali menoleh & tertegun memandang putaran memori menyadari kelekatanku akan pengalaman yg telah menjadi bagian dari masa lalu, melakukan sgl kegiatan dg senang hati demi kegiatan itu sendiri.
cinta atau penderitaan sama saja, melalui /melewati penderitaan aku jadi bisa memahami apa itu cinta, dan sebaliknya setelah mengalami dan merasakan yang namanya cinta, aku menjadi paham apa itu penderitaan
keduanya adalah jalan menuju kedewasaan,’toek bisa melangkah bijak