<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Cinta dan Kelekatan</title>
	<atom:link href="http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/</link>
	<description>Situs Resmi Gereja St. Anna - Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 21:35:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: angela a.</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2472</link>
		<dc:creator>angela a.</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 00:54:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2472</guid>
		<description>wuih! itu bahasa &#039;dewa&#039;, Mo hehe... tapi... jd teringat seketika, beberapa hari lalu, ada momen (persisnya momen apa, sy sdh lupa^_^) ketika tiba- tiba batin seperti &#039;dipaksa&#039; untuk melihat bahwa memang tidak ada yang dapat dilakukan jika &#039;teror&#039; itu datang dan ... ya sudah, selesai semuanya. 

&#039;apa bedanya satu hari dengan seribu hari? apa bedanya sekarang atau nanti? lalu sebenarnya siapa yang dapat mengisi kekosongan itu?&#039;

trima kasih tulisannya, Romo.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wuih! itu bahasa &#8216;dewa&#8217;, Mo hehe&#8230; tapi&#8230; jd teringat seketika, beberapa hari lalu, ada momen (persisnya momen apa, sy sdh lupa^_^) ketika tiba- tiba batin seperti &#8216;dipaksa&#8217; untuk melihat bahwa memang tidak ada yang dapat dilakukan jika &#8216;teror&#8217; itu datang dan &#8230; ya sudah, selesai semuanya. </p>
<p>&#8216;apa bedanya satu hari dengan seribu hari? apa bedanya sekarang atau nanti? lalu sebenarnya siapa yang dapat mengisi kekosongan itu?&#8217;</p>
<p>trima kasih tulisannya, Romo.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: scg</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2450</link>
		<dc:creator>scg</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 18:29:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2450</guid>
		<description>Terima kasih Romo, tulisan mengenai Cinta dan Kelekatan ini sudah lama saya tunggu dan meskipun secara teori sudah lama saya pahami bahwa Cinta yang murni tidak boleh dikotori oleh kelekatan namun pada dasarnya manusia sulit menghindari kelekatan karena Ego nya.

Dalam bersahabat secara jelas Ego melalui keinginan untuk memiliki, menguasai atau mengatur sang sahabat menunjukkan kelekatan, tetapi secara halus kelekatan juga muncul melalui keinginan untuk dicintai, dihargai, diperhatikan atau bahkan berada didekat sang sahabat, kalau itu semua tidak terpenuhi maka kita menderita, sedih, kecewa dan takut. 

Dengan menyadari kelekatan itu secara manusiawi pula kita kemudian berusaha melepaskan diri dari kelekatan itu dengan berbagai cara, dengan menjaga jarak, dengan menjauhi, melupakan atau berbagai hal lain yang tanpa disadari menjadi kelekatan baru, teror terus mengikuti kita, dalam bersahabat kita dihantui ketakutan untuk melekat, usaha-usaha untuk tidak melekat malah menjadi teror baru menghalangi kebebasan mencintai sang sahabat.

Romo membuka wawasan kita bahwa kita tidak dapat menolak, menjauhi atau berlari dari kelekatan karena itu akan menjadi kelekatan juga, kita harus tinggal, diam bersama kelekatan (yang manusiawi itu) dan menyadarinya setiap kali teror itu muncul, terus dan terus sehingga suatu saat akan berakhir dengan sendirinya.

salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Romo, tulisan mengenai Cinta dan Kelekatan ini sudah lama saya tunggu dan meskipun secara teori sudah lama saya pahami bahwa Cinta yang murni tidak boleh dikotori oleh kelekatan namun pada dasarnya manusia sulit menghindari kelekatan karena Ego nya.</p>
<p>Dalam bersahabat secara jelas Ego melalui keinginan untuk memiliki, menguasai atau mengatur sang sahabat menunjukkan kelekatan, tetapi secara halus kelekatan juga muncul melalui keinginan untuk dicintai, dihargai, diperhatikan atau bahkan berada didekat sang sahabat, kalau itu semua tidak terpenuhi maka kita menderita, sedih, kecewa dan takut. </p>
<p>Dengan menyadari kelekatan itu secara manusiawi pula kita kemudian berusaha melepaskan diri dari kelekatan itu dengan berbagai cara, dengan menjaga jarak, dengan menjauhi, melupakan atau berbagai hal lain yang tanpa disadari menjadi kelekatan baru, teror terus mengikuti kita, dalam bersahabat kita dihantui ketakutan untuk melekat, usaha-usaha untuk tidak melekat malah menjadi teror baru menghalangi kebebasan mencintai sang sahabat.</p>
<p>Romo membuka wawasan kita bahwa kita tidak dapat menolak, menjauhi atau berlari dari kelekatan karena itu akan menjadi kelekatan juga, kita harus tinggal, diam bersama kelekatan (yang manusiawi itu) dan menyadarinya setiap kali teror itu muncul, terus dan terus sehingga suatu saat akan berakhir dengan sendirinya.</p>
<p>salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: luci</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2430</link>
		<dc:creator>luci</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 16:28:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2430</guid>
		<description>@ Kris: anda tentu akan mengusahakan kebaikan bagi pasangan anda, untuk itu berikanlah kebebasan bagi pasangan anda untuk berkarir atau mengembangkan bakat dan keterampilannya.  Bila anda mengikatnya misalnya dengan larangan ini dan itu anda bukan memberinya cinta melainkan memberi rantai yg hanya akan mengikat anda berdua.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Kris: anda tentu akan mengusahakan kebaikan bagi pasangan anda, untuk itu berikanlah kebebasan bagi pasangan anda untuk berkarir atau mengembangkan bakat dan keterampilannya.  Bila anda mengikatnya misalnya dengan larangan ini dan itu anda bukan memberinya cinta melainkan memberi rantai yg hanya akan mengikat anda berdua.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: luci</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2429</link>
		<dc:creator>luci</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 16:17:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2429</guid>
		<description></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bunga mempunyai anugerah yg tidak kita miliki yakni bunga puas menjadi dirinya yg ada.  Bunga tidak seperti manusia, ‘dari sana’nya bunga tidak dibuat tumbuh untuk tidak puas thd dirinya.  Bunga hidup dalam rahmat dan keindahan tanpa ketakutan, keinginan utk menonjolkan diri dan hasrat utk menyenangkan yg merupakan ciri khas manusia.  Sebagai manusia kita bisa belajar dari bunga yg tidak pernah melekat pada tumbuhan disekitarnya, tidak memiliki masalah psikologis.</p>
<p>Kelekatan bisa hadir dalam Cinta, sementara dalam Cinta ada penderitaan bila ada kelekatan.  Dimana ada kelekatan disitu ada kenikmatan dan penderitaan.  Yg pasti kelekatan bukan kenyataan ya mo.  </p>
<p>Kelekatan bisa sekedar numpang lewat, dalam hitungan detik-menit-jam, 24 jam atau mendekam lebih lama tergantung berapa lama kelekatan itu terprogram dalam hard disk memori atau tertanam dalam benak melalui keyakinan dan gagasan … kalau kelekatan mendekam forever gawat dong!  </p>
<p>Bila keyakinan itu tidak ada maka anda akan mencintai segala sesuatu dan menikmatinya dengan dasar tidak melekat…hmm… asyik <img src='http://gerejastanna.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />    Bukankah cinta hanya dapat tumbuh dalam kebebasan ?</p>
<p>Selamat malam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: lily</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2425</link>
		<dc:creator>lily</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 11:44:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2425</guid>
		<description>Dear Romo,

 Many thanks for yesterday&#039;s encouraging &quot;Cinta dan Kelekatan&quot;
 So meaningful , so helpful....
 Penyakit lama sy lg kambuh ,krn News akhir2 ini,disemua mass me
 dia,batin ini terusik, mk muncullah&quot;penderitaan,prihatin yg ex
 trem,dll&quot; Stlh.baca n menyimak tulisan diatas,lebih2 2 paragraf
 Terakhir,spontan Eling lah sy, lalu bs melangkah n hidup &quot;apa-
 adanya&quot;lg..Bathin yg semula &quot;pepet/ stuck&quot;...jadilah lega,kemba
 li....menyadari, mengamati....tdk berupaya,apalg berlari.Cukup.

 Once again thanks,karena artikel ini universal,tdk hanya mengenai relasi2 dlm keluarga , relasi dg teman / sahabat2, tp
 lebih luas dr pd itu...inilah yg sy tangkap.

 Nuwun,..ly</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Romo,</p>
<p> Many thanks for yesterday&#8217;s encouraging &#8220;Cinta dan Kelekatan&#8221;<br />
 So meaningful , so helpful&#8230;.<br />
 Penyakit lama sy lg kambuh ,krn News akhir2 ini,disemua mass me<br />
 dia,batin ini terusik, mk muncullah&#8221;penderitaan,prihatin yg ex<br />
 trem,dll&#8221; Stlh.baca n menyimak tulisan diatas,lebih2 2 paragraf<br />
 Terakhir,spontan Eling lah sy, lalu bs melangkah n hidup &#8220;apa-<br />
 adanya&#8221;lg..Bathin yg semula &#8220;pepet/ stuck&#8221;&#8230;jadilah lega,kemba<br />
 li&#8230;.menyadari, mengamati&#8230;.tdk berupaya,apalg berlari.Cukup.</p>
<p> Once again thanks,karena artikel ini universal,tdk hanya mengenai relasi2 dlm keluarga , relasi dg teman / sahabat2, tp<br />
 lebih luas dr pd itu&#8230;inilah yg sy tangkap.</p>
<p> Nuwun,..ly</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2417</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 02:25:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2417</guid>
		<description>Dear Kris,

Kelekatan itu gini:
&quot;Kamu milikku&quot;
&quot;You are belong to me&quot;
Akibatnya apa?
Pokoke gimana pun juga kamu gak boleh nglirik nglirik cewek/cowok lain.  Kamu HARUS cuma sama aku.
Itu bukan cinta.

Caranya supaya berubah dari kelekatan ke cinta?
Ya ubah paradigmamu.  Ubah pikiran &quot;Kamu milikku&quot; ke &quot;Kita milik Tuhan dan kita bahagia bersama&quot;.  Rasakan akibat dari perubahan itu.  dan rasakan cinta: &quot;aku mencintaimu dan ingin kamu bahagia&quot;.

Sebagai sharing,
Sejak sebelum menikah, kami sudah membicarakan &quot;Siapa saya&quot; dan &quot;siapa kamu bagiku&quot;.  Dari pembicaraan pembicaraan itu kami menyadari sungguh bahwa:
&quot;Saya adalah seorang yang ...... (deskripsi jujur mengenai pribadi masing masing)&quot; yang kemudian menjadi perhatian pasangan apa benar begitu.
Misal, saya menyebutkan bahwa saya adalah seorang yang tidak pandai masak.  Kemudian pacar saya waktu itu memperhatikan apa betul begitu dan membuat pertimbangkan apakah dia dapat menerima hidup dengan istri yang tidak dapat memasak.  Ini misal dari 1000 hal yang saya deskripsikan dan harus dia pertimbangkan baik baik.
Kemudian dalam &quot;siapa kamu bagiku&quot; saya merumuskan bahwa suami saya adalah milik Tuhan yang akan berbahagia bersama saya dalam ikatan perkawinan.
Karena dia milik Tuhan maka saya tidak dapat mengambil milik Tuhan itu menjadi milik saya.
oleh karena dia bukan milik saya maka saya tidak dapat lekat kepadanya.
Dia pribadi yang bebas sebagaimana adanya Tuhan menjadikannya.
Saya sadar bahwa saya hanya DIPERBOLEHKAN menikmati hidup ini bersamanya dan tidak untuk mengatur dia, lengket lekat ke dia.

So, setelah segala kesadaran tersebut, segalanya kami serahkan saja kepada urusan Tuhan.  Kalau kami memang jodoh ya kami akan kawin, nyatanya segala sesuatu dimudahkan Tuhan.  Tidak ada kesulitan apapun.  Ini beda dari pengalaman kami dengan pacar pacar kami sebelumnya, yang adaaaa aja sandungannya.  Maka semakin yakinlah saya bahwa dia memang milik Tuhan bukan milik saya.  

Dalam perkawinan kami, dia memang memimpin keluarga kami, tapi dia juga memberikan kebebasan kepada saya untuk berkembang, untuk berbahagia menikmati hidup saya.  Demikian juga sebaliknya saya terhadap dia. Tidak saling memberikan batasan, harus begini harus begitu.  Dia mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya kepada Tuhan, bukan kepada saya.  Saya juga begitu. Dia membahagiakan saya karena saya dihadiahkan Tuhan kepadanya dengan hak untuk menikmati hidup bahagia, bukan hak milik.  Demikian juga saya senang membahagiakan dia.

Karena sudah biasa tidak lekat maka kami mandiri sebagai pribadi yang mencintai pasangan.  Seperti halnya sebuah rumah (perkawinan) type A dengan dua kamar (pribadi) yang punya pintu dan mempersilakan orang (pribadi pasdangan) di kamar sebelah untuk masuk kamar sini dan bersenang-senang bersama.  
Bukan sebuah rumah type B yang kamarnya hanya satu sehingga malah sumpek karena 4L loe lagi loe lagi. 
Naaa... yang paling cilaka adalah rumah type C yang kamarnya 2 tapi gak ada pintunya.  Sudah terikat dalam perkawinan tapi masing masing pribadi kekeuh marekeuh kepala batu dengan maunya masing masing.  Lalu buat apa kawin?!

Dalam rumah/perkawinan type A, para pribadi dipersatukan dalam perkawinan tapi tetap mandiri.  Masing masing mampu say I love you dan berbuat sesuatu yang membahagiakan pasangannya.
Sedang dalam rumah/perkawinan type B, para pribadi dipersatukan dalam perkawinan lalu tiap pribadi jadi tidak mandiri karena kelekatan.  Kamu kan milikku, jangan gini jangan gitu, harus begono harus begene.  Lalu dimana kebebasan?  Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan diberi kehendak bebas justru supaya manusia dapat mencintai Tuhan.  Tuhan saja memberi manusia kehendak bebas, masa&#039; hanya karena kawin sama saya maka suamiku kehilangan Hak untuk bebasnya?!  Jangan dong! Nanti dia cuma jadi robot dan bukan lagi manusia.  Dari pada punya suami robot kan enakan punya suami manusia.

Salam berkah Dalem, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Kris,</p>
<p>Kelekatan itu gini:<br />
&#8220;Kamu milikku&#8221;<br />
&#8220;You are belong to me&#8221;<br />
Akibatnya apa?<br />
Pokoke gimana pun juga kamu gak boleh nglirik nglirik cewek/cowok lain.  Kamu HARUS cuma sama aku.<br />
Itu bukan cinta.</p>
<p>Caranya supaya berubah dari kelekatan ke cinta?<br />
Ya ubah paradigmamu.  Ubah pikiran &#8220;Kamu milikku&#8221; ke &#8220;Kita milik Tuhan dan kita bahagia bersama&#8221;.  Rasakan akibat dari perubahan itu.  dan rasakan cinta: &#8220;aku mencintaimu dan ingin kamu bahagia&#8221;.</p>
<p>Sebagai sharing,<br />
Sejak sebelum menikah, kami sudah membicarakan &#8220;Siapa saya&#8221; dan &#8220;siapa kamu bagiku&#8221;.  Dari pembicaraan pembicaraan itu kami menyadari sungguh bahwa:<br />
&#8220;Saya adalah seorang yang &#8230;&#8230; (deskripsi jujur mengenai pribadi masing masing)&#8221; yang kemudian menjadi perhatian pasangan apa benar begitu.<br />
Misal, saya menyebutkan bahwa saya adalah seorang yang tidak pandai masak.  Kemudian pacar saya waktu itu memperhatikan apa betul begitu dan membuat pertimbangkan apakah dia dapat menerima hidup dengan istri yang tidak dapat memasak.  Ini misal dari 1000 hal yang saya deskripsikan dan harus dia pertimbangkan baik baik.<br />
Kemudian dalam &#8220;siapa kamu bagiku&#8221; saya merumuskan bahwa suami saya adalah milik Tuhan yang akan berbahagia bersama saya dalam ikatan perkawinan.<br />
Karena dia milik Tuhan maka saya tidak dapat mengambil milik Tuhan itu menjadi milik saya.<br />
oleh karena dia bukan milik saya maka saya tidak dapat lekat kepadanya.<br />
Dia pribadi yang bebas sebagaimana adanya Tuhan menjadikannya.<br />
Saya sadar bahwa saya hanya DIPERBOLEHKAN menikmati hidup ini bersamanya dan tidak untuk mengatur dia, lengket lekat ke dia.</p>
<p>So, setelah segala kesadaran tersebut, segalanya kami serahkan saja kepada urusan Tuhan.  Kalau kami memang jodoh ya kami akan kawin, nyatanya segala sesuatu dimudahkan Tuhan.  Tidak ada kesulitan apapun.  Ini beda dari pengalaman kami dengan pacar pacar kami sebelumnya, yang adaaaa aja sandungannya.  Maka semakin yakinlah saya bahwa dia memang milik Tuhan bukan milik saya.  </p>
<p>Dalam perkawinan kami, dia memang memimpin keluarga kami, tapi dia juga memberikan kebebasan kepada saya untuk berkembang, untuk berbahagia menikmati hidup saya.  Demikian juga sebaliknya saya terhadap dia. Tidak saling memberikan batasan, harus begini harus begitu.  Dia mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya kepada Tuhan, bukan kepada saya.  Saya juga begitu. Dia membahagiakan saya karena saya dihadiahkan Tuhan kepadanya dengan hak untuk menikmati hidup bahagia, bukan hak milik.  Demikian juga saya senang membahagiakan dia.</p>
<p>Karena sudah biasa tidak lekat maka kami mandiri sebagai pribadi yang mencintai pasangan.  Seperti halnya sebuah rumah (perkawinan) type A dengan dua kamar (pribadi) yang punya pintu dan mempersilakan orang (pribadi pasdangan) di kamar sebelah untuk masuk kamar sini dan bersenang-senang bersama.<br />
Bukan sebuah rumah type B yang kamarnya hanya satu sehingga malah sumpek karena 4L loe lagi loe lagi.<br />
Naaa&#8230; yang paling cilaka adalah rumah type C yang kamarnya 2 tapi gak ada pintunya.  Sudah terikat dalam perkawinan tapi masing masing pribadi kekeuh marekeuh kepala batu dengan maunya masing masing.  Lalu buat apa kawin?!</p>
<p>Dalam rumah/perkawinan type A, para pribadi dipersatukan dalam perkawinan tapi tetap mandiri.  Masing masing mampu say I love you dan berbuat sesuatu yang membahagiakan pasangannya.<br />
Sedang dalam rumah/perkawinan type B, para pribadi dipersatukan dalam perkawinan lalu tiap pribadi jadi tidak mandiri karena kelekatan.  Kamu kan milikku, jangan gini jangan gitu, harus begono harus begene.  Lalu dimana kebebasan?  Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan diberi kehendak bebas justru supaya manusia dapat mencintai Tuhan.  Tuhan saja memberi manusia kehendak bebas, masa&#8217; hanya karena kawin sama saya maka suamiku kehilangan Hak untuk bebasnya?!  Jangan dong! Nanti dia cuma jadi robot dan bukan lagi manusia.  Dari pada punya suami robot kan enakan punya suami manusia.</p>
<p>Salam berkah Dalem, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lia</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2413</link>
		<dc:creator>Lia</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 17:37:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2413</guid>
		<description>secara manusiawi, cinta biasanya diikuti oleh kelekatan, bukan?
asalkan tdk ada keinginan memiliki, menguasai, apa kelekatan  akan membawa derita?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>secara manusiawi, cinta biasanya diikuti oleh kelekatan, bukan?<br />
asalkan tdk ada keinginan memiliki, menguasai, apa kelekatan  akan membawa derita?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kris</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2411</link>
		<dc:creator>kris</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 11:42:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2411</guid>
		<description>berkah dalem romo,

...
apakah dalam hal pernikahan, kita juga harus melepas kelekatan?
utk kami yang baru saja menjalin keluarga yang baru...hal seperti itu sangatlah sulit..
klo tidak berkeberatan,langkah2 yang bisa diambil apa saja ya mo?
sederek2 yang lain mungkin bisa membantu juga..

nuwun</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>berkah dalem romo,</p>
<p>&#8230;<br />
apakah dalam hal pernikahan, kita juga harus melepas kelekatan?<br />
utk kami yang baru saja menjalin keluarga yang baru&#8230;hal seperti itu sangatlah sulit..<br />
klo tidak berkeberatan,langkah2 yang bisa diambil apa saja ya mo?<br />
sederek2 yang lain mungkin bisa membantu juga..</p>
<p>nuwun</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ibnurini</title>
		<link>http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/comment-page-1/#comment-2410</link>
		<dc:creator>ibnurini</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 11:07:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://gerejastanna.org/?p=1205#comment-2410</guid>
		<description>Cinta Kasih dan kelekatan memang beda, mo.
Dalam mencintai kita ikhlas bahwa apa atau siapa yang kita cintai berkembang, berbahagia sungguhpun itu artinya dia menjadi jauh dari kita.
Dalam kelekatan, yang penting bahwa apa atau siapa itu ada dalam rengkuhan kita, tidak peduli apakah dia jadi layu atau sedih.  Kalaupun dia jadi sedih ya dibujuk bujuk tapi judulnya tetap sama: terus ditempeeelll terus seperti perangko.... hehehehe....

Kalau lihat dari ajaran Tuhan kita Yesus, tentu Cinta Kasih yang dikehendaki-Nya.  Tapi ada orang orang tertentu yang tidak bisa bahagia karena diberi kebebasan untuk berkembang.  Dia ingin dibelenggu karena demikianlah kultur yang dialaminya sejak kecil dalam keluarganya terdahulu.  Ketika dia dicintai, malah dia bingung, merasa tidak diinginkan.  

Cinta Kasih itu biasanya dapat berkembang manakala kita sadar betapa besar Kasih Tuhan kepada kita.  Orang yang punya pengalaman dicinta dengan cara benar biasanya akan lebih mudah bersyukur dan mengasihi sesamanya dengan keinginan untuk orang yang dicintainya bahagia. 
&quot;Gpp aja anakku jauh secara fisik dariku, kalau itu memang membuatnya berkembang.  Toh aku bahagia.&quot;
Dia dekat denganku, aku bahagia.
Dia jauh dariku, aku bahagia. 

Begitu juga dalam perkawinan, bercinta itu ya memang tidak cemburu seperti kata Paulus dalam surat kepada umat di Korintus.  Cemburu itu akibat dari kelekatan.  Konsep &quot;dia milikku&quot; mengakibatkan orang tidak rela akan perkembangan yang terjadi dalam diri pada orang yang dilekatinya.  Perkembangan itu kan bisa apa saja: misal, dia makin maju karirnya, dia dekat dalam relasi dengan orang lain, dll.

Tanpa intervensi pikiran untuk menghalangi kemajuan/kedekatan pasangan kita dengan orang lain, maka bercinta jadi lebih mengasyikkan.  Bercinta, bercinta dan bercinta!  Dunia jadi lebih menarik untuk dinikmati, sendiri atau bersama.  Apa lagi kalau ada bumbunya berahi.... Ups!

Salam berkah Dalem, rin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta Kasih dan kelekatan memang beda, mo.<br />
Dalam mencintai kita ikhlas bahwa apa atau siapa yang kita cintai berkembang, berbahagia sungguhpun itu artinya dia menjadi jauh dari kita.<br />
Dalam kelekatan, yang penting bahwa apa atau siapa itu ada dalam rengkuhan kita, tidak peduli apakah dia jadi layu atau sedih.  Kalaupun dia jadi sedih ya dibujuk bujuk tapi judulnya tetap sama: terus ditempeeelll terus seperti perangko&#8230;. hehehehe&#8230;.</p>
<p>Kalau lihat dari ajaran Tuhan kita Yesus, tentu Cinta Kasih yang dikehendaki-Nya.  Tapi ada orang orang tertentu yang tidak bisa bahagia karena diberi kebebasan untuk berkembang.  Dia ingin dibelenggu karena demikianlah kultur yang dialaminya sejak kecil dalam keluarganya terdahulu.  Ketika dia dicintai, malah dia bingung, merasa tidak diinginkan.  </p>
<p>Cinta Kasih itu biasanya dapat berkembang manakala kita sadar betapa besar Kasih Tuhan kepada kita.  Orang yang punya pengalaman dicinta dengan cara benar biasanya akan lebih mudah bersyukur dan mengasihi sesamanya dengan keinginan untuk orang yang dicintainya bahagia.<br />
&#8220;Gpp aja anakku jauh secara fisik dariku, kalau itu memang membuatnya berkembang.  Toh aku bahagia.&#8221;<br />
Dia dekat denganku, aku bahagia.<br />
Dia jauh dariku, aku bahagia. </p>
<p>Begitu juga dalam perkawinan, bercinta itu ya memang tidak cemburu seperti kata Paulus dalam surat kepada umat di Korintus.  Cemburu itu akibat dari kelekatan.  Konsep &#8220;dia milikku&#8221; mengakibatkan orang tidak rela akan perkembangan yang terjadi dalam diri pada orang yang dilekatinya.  Perkembangan itu kan bisa apa saja: misal, dia makin maju karirnya, dia dekat dalam relasi dengan orang lain, dll.</p>
<p>Tanpa intervensi pikiran untuk menghalangi kemajuan/kedekatan pasangan kita dengan orang lain, maka bercinta jadi lebih mengasyikkan.  Bercinta, bercinta dan bercinta!  Dunia jadi lebih menarik untuk dinikmati, sendiri atau bersama.  Apa lagi kalau ada bumbunya berahi&#8230;. Ups!</p>
<p>Salam berkah Dalem, rin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
