Cinta dalam Kebenaran
Paus Benedictus XVI baru saja mengeluarkan ensiklik terbaru yang bertanggal 29 Juni 2009. Judulnya Caritas in Veritate (Cinta dalam Kebenaran). Dokumen ini kontekstual dengan kondisi sosial, ekonomi, politik global sekarang dan situasi Indonesia tentunya. Kita yang berada di lapangan barangkali bisa mengambil manfaat dari dokumen ini untuk refleksi dan aksi kita di lingkungan-lingkungan. Berikut ini saya tampilkan dialog Rm Mardi BS dan Rm Ismartono tentang Ensiklik tersebut.
Naskah terjemahan dalam Bahasa Indonesia belum tersedia. Naskah dalam bahasa Inggris bisa diunduh di sini:
(http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/encyclicals/documents/hf_ben-xvi_enc_20090629_caritas-in-veritate_en.html).
===========
Inilah perbincangan mereka:
Romo Is: Mardi yang baik, menurutmu, apakah yang betul-betul baru di dalam ensiklik ini?
Romo Mardi:
Is, pertanyaan itu memikat: ‘apa ada hal baru sih di bawah mentari?’ – apa lagi yang baru yang mau diajukan Paus ini?
Is, saya menangkap beberapa butir menarik dalam Ensiklik Caritas in Veritate ini, ensiklik ketiga Paus Benedictus XVI ini. Yang baru apa?
•1. Ensiklik ini menjadi jelas kalau dibaca dalam kaitan dengan 3 tulisan Paus ini yaitu ‘Deus Caritas Est’, ‘Spes salvi’ dan ‘Yesus dari Nasaret’.
•2. Kata-kata yang dipakai agak lugas: ia bilang, bahwa ‘cinta tanpa kebenaran akan jadi sentimentil’, sedang ‘kebenaran tanpa cinta jadi dingin dan penuh perhitungan sehingga akhirnya kayak dagang’.
•3. Tanpa Tuhan, cinta jadi serba itung-itungan karena terus menerus berbatas. Disitu Logos yaitu Tuhan meluaskan cakrawala cinta;
•4. Di situ Paus mendekatkan ‘etika sosial’ dengan ‘etika hidup’: ‘yang baik dari sudut kehidupan manusia’ itu mempunyai nilai terhadap kebersamaan sehingga ‘yang buruk terhadap hidup’ juga merusak hidup sosial. Itulah dasarnya mengapa baginya aborsi merusak sikap dasar manusia terhadap sesama.
•5. Selain itu, ensiklik ini secara konkret menyentuh beberapa butir modern seperti keuangan mikro sebagai unsur mendasar hidup bersama masyarakat; hak milik intelektual sebagai bentuk nyata penghargaan martabat manusia; globalisasi dengan potensi baik maupun kemungkinnya membahayakanmartabat manusia, khususnya di negara miskin; pembaharuan faham tentang ‘option for the poor’ dengan menekankan kesediaan tiap orang katoliki untuk menyediakan miliknya bagi sesama yang ‘kurang berada’. Mengapa? Karena semua yang ada pada kita diberikan secara gratis maka kita harus memberikan secara bebas juga. Sebab semua datang karena cinta Allah.
Mengapa Populorum Progressio diulangi lagi di dalamnya?
Is menanyakan kaitan ensiklik ini dengan Populorum Progressio (PP), yaitu ensiklik Paulus VI tentang perkembangan. Ensiklik ini memang diterbitkan untuk memperingati 40 tahunnya Populorum Progressio. Ensiklik ini memandang tema perkembangan PP dalam kaitan dengan Ensiklik lain yang kontroversial yaitu ‘Humanae Vitae’. Dikatakannya bahwa di mata Paulus VI, hidup perlu dijunjung tinggi pada tahap mana pun. Progress atau development yang benar tak pernah bisa difahami tanpa kaitan dengan si manusia. Development yang membuat manusia rusak itu bukan ‘real progress’. Maka ekonomi yang mengakibatkan manusia saling membunuh atau suatu suku bangsa merosot, itu bukan ekonomi. Sebab di situ hidup manusia tidak dihargai. Nilai suatu model perkembangan ekonomi terletak pada jawab atas pertanyaan ‘apakah di dalamnya si manusia dihargai lebih daripada modal atau negara?’ Suatu masyarakat yang memandang rendah hidup manusia dalam tahap apa pun juga akan melecehkan manusia pada lapisan apa pun; bahkan ia akan meremehkan segala yang hidup. Itulah sebabnya mengapa ia melihat juga kaitan erat sekali antara sikap dasar ini dengan ekologi, yakni hormat terhadap segala yang hidup, bahkan pada seluruh alam semesta. Di situ ia menunjukkan kegagalan kebudayaan dunia masa kini yang mau menghancurkan hidupnya sendiri habis-habisan dengan melecehkan HAM, hidup manusia pada lapisan apa pun dan segala hidup di alam ini. Itulah sumber segala duka derita budaya, politis, ekonomis, medis dan pribadi banyak manusia masa kini. Ilmu pengetahuan sudah memberi peringatan pada kita mengenai keterbatasan manusia ini. Maka cinta pada manusia dan segala yang hidup erat berkaitan dengan pencarian kebenaran ilmiah yang paling dalam.
Hal baru lain dalam Ensiklik ini adalah penegasan Paus yang menunjukkan kaitan erat antara logika kontrak ekonomis (‘do ut des’: aku beri supaya kau beri) dengan logika koalisi politis (‘aku beri karena kepentingan politis mewajibkan aku memberimu’) dengan menambahkan sikap batin cintakasih (‘aku beri karena aku mencintaimu dan baiklah bahwa aku memberimu’). Dengan kata lain,keuntungan ekonomis dan keuntungan politis tidak memadai untuk membangun persaudaraan manusiawi kalau tidak dilengkapi dengan persaudaraan rohani: karena dasar cinta; dan cinta itu mempunyai implikasi dalam kebenaran-kebenaran ekonomis dan politis.
Karena kaitan itu maka Paus mendukung sekali pengorganisasian buruh agar logika kontrak ekonomi maupun logika koalisi politis diatasi secara struktural melalui proses perundingan konstruktif. Hal itu menuntut bahwa managemen perusahaan dan pemilik modal mewujudkan rasa tanggungjawabnya dalam mengintegrasikan pekerja di seluruh proses pengambilan keputusan hal-hal yang menyangkut hidup buruh.
Paus juga meneruskan, bahwa pemikiran di atas menuntut kerjasama lintas negara: sebab sekarang ini tidak ada urusan ekonomi dan politis serta ekologis yang seluruhnya dapat diselesaikan tanpa kerjasama internasional. Kerjasama itu tidak mungkin tanpa hubungan tulus dan terbuka. Caritas internasional erat terkait dengan kebenaran internasional: bukan kucing-kucingan. Kerjasama ekonomi dan politik serta kebudayaan internasional dinilai dari sudut: ‘sejauh manakah mengembangkan kemanusiaan dan sejauh mana tidak malah menyebabkan semakin banyaknya kematian, pelecehan hak azasi manusia, penghancuran ekonomi rakyat miskin serta pemburukan sikap dasar terhadap kesehatan dan hidup manusia.
Jadi ensiklik ini menegaskan isi PP dan juga membaharuinya. Ia ingin menunjukkan, betapa nilai-nilai rohani mendasari perkembangan sejati ekonomi dan politik serta budaya manusia, juga masa kini dan mendatang. Bila tidak, ekonomi, politik, dan kebudayaan tidak memperkaya manusia dan tidak layak bagi manusia. Paus ingin melihat bahwa caritas itu lebih dari pada sekedar memberi kepada si miskin tetapi yang lebih mendasar lagi: mengakui bahwa semua datang dari cinta Allah. Itulah kebenaran yang terdalam. Jadi ini memang refleksi teologis tentang Keadilan Sosial: mendahulukan si Kecil itu memang bagian dari keharusan ekonomis, hal mutlak dalam kewajiban politis, unsur hakiki dalam kebudayaan tetapi yang terdalam adalah bahwa itu bagian tak terpisahkan dari pengakuan kita atas iman “Kita diciptakan oleh cinta Allah yang serba murah hati dan bahkan ditebus kembali kendati egoisme manusia”. Tampak sekali usaha memadukan iman, refleksi teologis dengan kenyataan empirik di dunia ekonomi, politis, internasional dan budaya.
Sekian dulu ya.
(Mirifica/Kiriman dari I.Ismartono SJ) http://mirifica.net/printPage.php?aid=5848







Persaudaraan rohani : CINTA, ini yg sepertinya sdh sangat minim kita miliki. Belajar dr konflik yg sering terjadi di tempat kerja sy. Di satu sisi pimpinan menyadari kewajibannya akan kesejahteraan karyawannya namun kasih yg seharusnya mendasari setiap hati tenggelam oleh ego dan harga diri, maka kewajiban yg mestinya diterima para karyawan yg telah mengabdikan diri bagi perusahaan jadi terabaikan. Sementara terprovokasi oleh ego dan tekanan ekonomi yg makin konsumtif, karyawan yg seharusnya berdialog dg kasih juga tidak mampu merangkul para pimpinan perusahaan. Maka konflik semakin berkepanjangan dan menimbulkan perang yg semakin menyakitkan. Andai kita semua menyadari kemurahan Kasih Allah, setiap saat dlm setiap nafas hidup kita….. Betapa damainya dunia.
Ya Allah Yang bertahta didalam kerajaan surga&dibumi..
Perisai-perisai IndahMu hadir disetiap kalbu,terhantarkan dengan buah-buah Roh Cinta kasih MU,Nan Agung&Bersahaja.Kembali kami ini anak-anakmu dipersatukan didalam Tubuh&DarahMu yg Kudus.Boleh kami santap&Kau kenyangkan dengan renungan-renungan Mu yg “Hidup”.Cinta Kebenaran adalah bagai Cinta bukan kepalsuan/terbelenggu/sesaat.Tetapi Cinta yg tumbuh terus menerus di dalam batin kami ini.Sehingga Surat ini yg tertuang diatas ini,menghantarkan dari keseluruhan”diri”ini,untuk kembali dalam-dalam menyadari,Kalau Allah yg Kudus sudah mengubah kt semua dengan sikap&laku kt.Terutama kepada orang2 sekeliling/terdekat/sahabat/kerabat/orang tua/anak/pasangan.Dan begitu juga kepada semua orang tak terkecuali siapapun ia&bagaimana adanya.
Tumbuhkan Cinta&KasihNYA sehingga Figur kebaikan Allah Tuhan kt tinggal pada kt,tak sedikitpun kt jauh/menjauhinya.Kesatuan yg begitu hangat-mesra-seutuhnya Allah perkenankan Putra Nya yg Tunggal datang ke dunia,sehingga rupa-rupanya adalah rupa kita sendiri.Karena CintaNya yg begitu mendalam kepada kt semua.Dihantarkannya sebuah cerminan-cerminan yg Kudus boleh kita tiru bahkan serupa dengan NYA.Itulah yg Allah inginkan untuk kt semua umat yg IA Kasihi.
Jauhilah&sadari lah yg membelenggu kt semua mulai saat ini,simbol,buku,hafalan,bacaan,yg masih membatasi ‘diri’ ini kepadaNYA.Sentuh lah IA didalam batin yg sungguh-sungguh bersih,Karena batin yg bersih menghasilkan yg benar&baik adanya.
Tulisan ini boleh tergores diweb ini,karena kami di sentuh/diingatkan/dipahami/dicintai karena boleh kami nikmati 1 hari ini,sampai perjamuan yg Kudus boleh kami santap,’Roti kehidupan’,renungan yg juga ‘menghidupi’-dihantarkan kami2 ini anak-anak yg lemah untuk bersatu/menyatuh dari pada NYA,tak terpisahkannya lagi sadarilah mulai saat ini,sehingga Cinta yg Mekar ada di kalbu saya/anda/kalian yg sangat2 memahami suatu misteri Indah di dalam perjamuan kudus.
Terima kasih Romo,suatu keindahaan boleh kami terima didalam misa kudus yg dipimpinnya.
Terhantar…Ubi Caritas et amor Deus ibi est…3x..tak terbatas.
(Dimana ada Cinta&Kasih disana ada Tuhan)
cheers