Cinta calon pasangan tapi penuh konflik
Salam dalam kasih Kristus,
saya ingin konsultasi mengenai pasangan hidup.
saya berpacaran lbh dari 2 tahun, saya dan pacar saya berencana untuk menikah. beberapa hal yg ingin saya tanyakan baik dari persiapan hati maupun rencana pelaksanaan pernikahan tersebut :
1. perasaan yg masih sering mengganjal adalah hub dg pacar saya, dia masih sering mengungkit tentang hub saya dengan pacar saya sebelumnya, dg alasan untuk tahu jelas apa yg saya alami, tapi jadinya menyakitkan karena kalo saya buat salah/keliru, langsung dibanding2kan dengan pacar saya sebelumnya. saya sudah byk kali berdiskusi dg dia, bahwa saya ingin menjalani hidup saat ini. saya berpacaran dulu masih dalam batas, maksudku tdk berbuat yg tdk benar, tapi kenapa sering diungkit2. permasalahan lagi, saya dan pacar saya dan mantan pacar separoki, jadi pasti sering bertemu, hal ini sering jadi pemicu untuk mengungkit/menggali lagi kehdpn saya sebelumnya. dia sering tanya saya dulu sering jalan kemana, hobi bersama apa, dan hal2 yang tdk perlu dibahas terus saja dibahas, yang membuat saya tidak nyaman. apakah itu pantas untuk selalu kami bahas, dia terus bertanya apakah itu sah2 saja? bagaimana sikap saya seharusnya? dari semuanya itu, saya sungguh mencintai dia, dia juga demikian tapi persoalan tadi masih muncul di antara kami. dalam hal lain dia menunjukkan keseriusannya dlm hub kami.
2. dalam rencana pernikahan kami kelak, ortu saya berkehendak agar pelaksanaan pernikahan supaya ada pesta di restoran dan sebelumnya ada acara pertunangan dulu. nah, pacar saya ingin agar kelak pernikahan kami yang sederhana saja, tidak perlu buat di restoran dan tidak perlu ada pertunangan. tapi ortu saya tetap bersikeras, dan kalo saya berdiskusi tentang hal itu justru kami yang konflik. sy sudah bicara baik2 dg ortu tapi belum sepakat. mereka tidak akan setuju tanpa rencana mereka. sya sungguh bingung…
mohon bantuannya.
terima kasih
Ade







Apa yang Anda kemukakan itu kontradiktif: bagaimana mungkin cinta bisa sejalan dengan konflik?
Kalau Anda melihat calon pasangan hidup Anda tidak cukup matang, pertimbangkan serius untuk menunda atau cari pasangan yang relatif lebih matang.
@ade: Kalau pasangan anda sungguh mencintai anda, mestinya dia menerima anda apa adanya dan perlu disadari sama anda berdua bahwa anda hidup pada saat ini bukan saat yang lalu, jadi apa yang terjadi dimasa lalu anda bersama mantan pacar anda sudah lewat dan tidak perlu menjadi konflik yang berkepanjangan. Apa enaknya nanti kalo sudah married masih ngebahas masalah anda dengan mantan pacar anda dulu, rasanya bisa membuat hubungan menjadi kurang harmonis.
Sampaikan dan bicarakan baik=baik dengan pasangan anda saat ini mengenai apa yang mengganjal anda saat ini supaya tidak dibahas lagi kedepannya dan semoga dia bisa mengerti and Tuhan memberkati anda berdua.
Logikanya, jika hubungan dgn mantan pacar berakhir, umumnya karena ada hal2 yang tak menyenangkan. Jika masih menyenangkan nggak akan bubar, lalu memulai dgn yang baru. Masa lalu yang tdk mengenakkan mestinya nggak perlu dibahas lagi, biarlah itu bagian dari masa lalu. Seorang kekasih baru yang baik, tak perlu membicarakan berulang ulang. Andaikan ada sesuatu perbuatan yang sudah terlanjur, dia harus mampu memaafkan itu, lalu menerima kekasihnya sebagaimana adanya.
Tentang rencana pesata di restaurant, yang dianggap mewah oleh kekasih, mestinya perlu dibicarakan baik2 dgn orang tua, agar mereka tdk kecewa, dan kekasih bisa memahami keinginan orang tua.
Untuk Ade,
Repotnya, pernikahan Katolik itu sekali seumur hidup. Dasar utama dalam pernikahan adalah saling percaya dan mengampuni. Kalau masih pacaran saja tetap memupuk sikap tidak mempercayai calon pasangannya, bagaimana nanti kalau sudah ‘terlanjur’ menikah. Kalau nanti PASTI TAHAN menghadapi hal-hal seperti ini, ya jalan terus, tetapi resiko harus ditanggung sendiri, jangan mencari-cari alasan untuk berpisah.
Ade mengatakan “saya sungguh mencintai dia, dia juga demikian”….betulkah? Mungkin perlu dikaji lebih dalam apa yang Ade maksud dengan ‘mencintai’ itu.
Bahkan orang yang saling mencintai itu tidak harus terikat dengan pernikahan, yang penting orang yang dicintai itu bahagia. Kalau merasa mencintai kemudian harus menikah, jangan-jangan hanya merupakan keinginan untuk menguasai pihak lain saja…pokoknya kamu menjadi milikku!
Kalau membaca kecemasanmu, sebaiknya rencana pernikahan ditunda dulu untuk waktu yang tidak ditentukan sampai betul-betul mantabh untuk menikah. Kalau semakin tidak mantab ya jangan ragu-ragu untuk dibatalkan rencana menikahnya.
Dalam hal ini ikut sertakanlah Roh Kudus agar menerangi jalan yang akan kamu tempuh.
Semoga Tuhan yang maha rahim akan ‘menyelamatkan’kamu dalam menentukan langkah selanjutnya. Gbu
Dear Ade,
Hiduplah hit et nunc: disini dan sekarang. Jangan hidup di masa lalu. Bilang pacarmu: hidup di masa lalu itu ciri khas kakek nenek. Coba aja, BANYAK kan kakek nenek yang senang membanggakan masa lalunya,”Dulu enak, gak seperti sekarang. Cabe murah!” heheheheheh…..
Hidup dengan orang yang orientasinya masa lalu dan kemudian dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang tidak apple to apple memang menyebalkan. Untuk itu ada beberapa saran untukmu:
1. Kalau anda memang cinta pacar anada, silakan develop pacar anda dengan jujur mengatakan bahwa anda tidak suka dengan caranya membanding-bandingkan itu. Yang lalu biarlah lalu. Kalo anda masih suka dengan pacar lama tentu buat apa pacaran dengan yang sekarang. Kalo anda sudah pilih pacar yang sekarang ya harap pacar yang sekarang bisa diajak membangun hidup untuk masa depan dan bukan tiap kali balik lagi ke masa lalu.
2. Development itu baik bagi anda dan pacar maka silakan melakukan bersama sama. Jadi semacam resolusi. Caranya SEKETIKA berhentilah omong masa lalu. Kalian berdua bisa saling mengingatkan bila salah satu lupa.
3. Kalo dia tetap begitu dan itu sangat mengganggu anda, silakan pergi dari dia supaya anda tidak seumur hidup menyesal.
4. Kalo anda bisa beradaptasi dengan caranya membandingkan dan mengungkit masa lalu, ya boleh juga sih nikah sama dia.
Saya beritahu sebuah cerita:
Suami saya sejak kami pacaran sering bilang,”Aku maunya kawin sama Desy Ratnasari. Abis Desy cantik sih!” Sekarang dia pindah ke Luna Maya,”Kalo aku disuruh milih dik rin apa Luna Maya, yaaa… biar bekas Ariel juga aku lebih pilih Luna Maya deh!”
Lebih 18 tahun dia begitu dan saya beradaptasi dengan baik karena saya tau betul dia bisanya kawin sama aku. Maksud saya menceritakan ini adalah bahwa tiap pasangan itu persoalan dan kemampuan adaptasinya memang beda.
Mungkin kalau anda menceritakan detail ungkitan apa yang dia katakan saya bisa bantu untuk melihat dari paradigma yang berbeda.
Soal pesta:
Bagaimana pun yang akan menikah adalah anda dan pacar. Maka kalian berdua bebas menentukan bagaimana cara kalian akan menikah dan bagaimana cara membiayainya. Bila ada pihak yang minta untuk ada pesta, silakan dia yang membiayai. Saya kira itu lebih fair.
Salam berkat Tuhan, rin