Calon pasangan tidak disetujui orang-tua
Selamat pagi Romo, perkenalkan nama saya SDA.
Romo, saya memiliki calon pasangan hidup yang seiman dengan saya tetapi sampai sekarang masih dilarang oleh orang tua saya berhubungan dengan Dia. Calon pasangan saya bernama “O”. Sebenarnya akar permasalahan kedua orang tua saya menolak dia adalah karena masa lalunya yang pernah depresi. Romo, saya sudah melakukan pendekatan dengan dia, keluarganya dan juga dokter. Dari segi medis, sebenarnya dia sudah tidak depresi karena dia memiliki semangat hidup yang tinggi untuk bangkit bahkan sekarang dia sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bahkan otaknya setelah di rontgen tidak ada gangguan apapun. Ibu saya berpikir orang depresi tidak bisa berpikir secara sehat.
Romo, selama saya menjalani masa pacaran dengan dia justru saya melihat pemikiran dan perasaannya sungguh luar biasa. Dia dapat berpikir tentang masa depan dan keimanannya pada Tuhan Yesus sangat tinggi. Saya juga kagum pada ibunya yang memiliki keimanan dan kesetiaan yang tinggi meskipun sudah ditinggalkan suaminya sejak anaknya masih kecil. Ayah calon pasangan hidup saya adalah seorang pilot yang gugur dalam pertempuran Timor Timur tahun 1977. Ayah saya selalu melarang saya melakukan sesuatu yang saya mau, bahkan dia selalu mengikuti saya dari belakang kemanapun saya pergi. Kedua orang tua saya selalu tidak mau mendengarkan penjelasan saya dan selalu menyalahkan saya saat saya menjelaskan kepribadian calon pasangan hidup saya. Kedua orang tua saya selalu menganggap diri mereka selalu benar, tapi mereka bukan tipe orang yang dapat dikritik.
Romo, saya adalah seorang guru dan dosen bahasa Inggris. Kedua orang tua saya berusaha untuk selalu memantau dan kalo perlu mengatur jadwal ngajar saya sesuai dengan keinginan mereka. Romo, saya juga seorang mahasiswa. Saya sebenarnya sudah siap hidup mandiri tanpa bergantung orang tua, tetapi orang tua selalu berpikir perlu mengawasi dan mengatur saya sampai mereka pikir saya siap. Saya selalu mengalah dan menuruti keinginan kedua orang tua, tapi kedua orang tua selalu egois mementingkan diri mereka sendiri. Romo, saya minta bantuannya untuk menyelesaikan masalah saya. Saya hanya ingin hidup bahagia dengan calon pasangan pilihan hati saya sendiri dan saya hanya ingin hidup mandiri serta membahagiakan kedua orang tua dengan usaha dan kerja keras saya sendiri.
Terima kasih Romo.







saya pikir, orang tua anda butuh waktu untuk percaya bahwa masa lalu pasangan kamu tidak menjadi batu sandungan dalam pernikahan kalian kelak. Dan hal ini hanya bisa dibuktikan dalam kebersamaan.
Jadi mintalah waktu dan kesempatan kepada orang tua anda untuk mengenal teman laki-lakimu itu dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama. Buat teman laki-lakimu ini anggap saja sebagai suatu ujian keseriusan dia menjalin hubungan dengan anda.
Jika hal ini sulit dimintakan, karena kekerasan hati orang tuamu. Maka anda membutuhkan pertolongan dari orang-orang yang dihormati oleh orang tuamu. bisa saja anggota keluarga yang dituakan atau romo. TEtapi tentu saja, ia yang engkau minta tolong pun butuh mengenal teman laki-laki-mu bukan saja dari cerita anda. Jadi perjuangan anda rasanya masih cukup panjang.
di satu sisi, memang anda sudah dapat memutuskan apa yang hendak anda lakukan. tetapi keputusan ini sebaiknya diambil dengan bijaksana dan dewasa, jangan melulu emosional. Setelah mantap anda boleh melangkah ke depan, apa yang hendak kamu lakukan bersamanya. Gereja Katolik tidak mempermasalahkan anda menikah dengan pasangan anda tanpa restu kedua orang tua anda. Tetapi romo paroki bisa saja menundanya, dengan pertimbanga-pertimbangan tertentu, namun pada akhirnya anda bisa memutuskan, but without regrets…
jangan berhenti berdoa.. doa orang benar besar kuasanya…
May God bless your steps…
Selamat malam Romo,
Terima kasih atas penjelasan dan sarannya. Sebenarnya saya sudah melakukan yang disarankan Romo. Tahun lalu, kami berdua mengupayakan dengan pendekatan salah satu anggota keluarga. Saya juga melibatkan Paman saya dr keluarga Bapak sebagai penengah, tetapi ternyata belum berhasil. Bahkan pada awal tahun ini kami sudah berkonsultasi dengan Romo di salah satu Gereja. Kami sudah mengupayakan berbagai pendekatan dengan orang tua saya. Tetapi, pasangan saya diusir, bahkan ortu saya mengancam tidak mau membukakan pintu saat dia ingin bertemu mereka. Romo, sebenarnya kami berdua sudah bertekad bulat ingin menikah sehingga kami bersepakat mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di salah satu Gereja kawasan Jakarta Barat. Tapi, ortu saya menghambat lagi dengan mengunci saya di rumah saat saya akan berangkat ke KPP tersebut.Ortu saya membatalkan secara sepihak tanpa persetujuan saya dengan cara menghubungi panitia KPP untuk mencoret nama saya. Saya lalu mengajak ortu saya berkonsultasi dengan salah satu Romo (yang dulu pernah berkonsultasi dgn sy dan pasangan). Pd pertemuan tsb, ternyata ortu masih bersikeras menolak hubungan kami dan mereka menyalahkan saya. Romo, ortu saya berpikir saya diguna2 (pakai ilmu hitam)dan diancam utk menikah oleh psgan saya. Pdhal saya tdk merasa spt itu sama sekali, justru kehadiran psgan saya dr awal smp skrg selalu diiringi dgn Doa. Romo, sy tdk mau kehilangan psgan saya krn bg sy selalu merasakan kedamaian dan kebahagiaan saat bersama dia. Romo, bgmn menyeleraskan kesamaan persepsi saya dengan ortu agar mereka dapat menerima pilihan hati saya? Saya sekarang hanya bs menangis terus dan mempasrahkan semua masalah ini pada Tuhan Yesus. Romo, sebenarnya setiap saya ke Gereja saya selalu ingin menghdp Bunda Maria utk menangis tp belakangan ini Mama saya melarang saya mencurahkan isi hati saya kpd Bunda Maria apalagi menangis didpn Bunda Maria. Saya agak tertekan dgn kondisi ini. Romo, mohon saya didoakan agar bs menyelesaikan masalah ini dgn baik.
Terima kasih Romo.