Bisnis Sosial sebagai Jalan Alternatif terhadap Krisis Global

Krisis global seharusnya cukup mencelikkan mata kita dari kebutaan dan melihat “jalan lain” agar kita bisa hidup berkecukupan dan beradab. Saya melihat salah satu “jalan lain” itu ada dalam bisnis sosial. Di bawah ini saya rangkumkan apa itu bisnis sosial dan bagaimana bisnis sosial bisa kita ciptakan dimana saja mulai dari lingkungan pengaruh kita.

Apa itu Bisnis Sosial?
1. Bisnis Sosial adalah bisnis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan social, misalnya untuk mengurangi kemiskinan, menyediakan makanan bergizi bagi kaum miskin, asuransi kesehatan, pendidikan dan perumahan bagi warga menengah ke bawah, dst. Bisnis sosial bisa juga bergerak di segala bidang, misalnya dari property sampai financial, namun dimiliki oleh sesama anggota.
2. Seperti layaknya lembaga bisnis, seluruh biaya yang dikeluarkan harus diperhitungkan dan didanai dari mekanisme bisnis berjalan.
3. Digerakkan oleh cause-driven, bukan profit-driven.

Apa yang bukan bisnis sosial?
– Bukan lembaga karitatif: mencapai tujuan sosial tanpa memperhitungkan biaya yang dikeluarkan.
– Bukan NGO atau organisasi non-profit.
– Bukan Profit-maximizing- business yang hanya mengejar untung.
– Bukan semua social entrepreunership adalah bisnis sosial: lembaga yang dibentuk untuk tujuan membantu orang lain entah dalam hal ekonomi atau non-ekonomi, profit atau non-profit.

Bisnis Sosial seperti apa detailnya?
– Investor punya kewenangan penuh atas investasi.
– Manager dan staff pelaksana digaji tapi investor tidak mendapatkan dividen laba.
– Bisa dimiliki lebih dari satu orang atau kelompok atau lembaga karitatif atau pemerintah atau kombinasi dari semua itu.
– Tidak boleh rugi. Keuntungan tetap penting supaya (1) bisa membayar kembali investasi dari investor dan (2) mencapai tujuan sosial jangka panjang. Tujuan sosial jangka panjang itu misalnya: memperluas jangkauan pelayanan, meningkatkan kualitas produk barang dan jasa, memperkuat dengan penelitian, meningkatkan efisiensi, menggunakan teknologi baru, inovasi dalam pemasaran dan pemberian pelayanan, dst.
– Keuntungan tidak diambil investor tapi diinvestasikan kembali dalam bisnis demi keuntungan kelompok yang dilayani seperti harga yang menjadi lebih murah, pelayanan menjadi lebih baik dan kemudahan akses, termasuk untuk kemungkinan ’ekspansi’.
– Kapan investasi kembali? Bisa 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun tergantung pada ancangan waktu dan tujuan sosial yang ingin dicapai.
– Investasi di bisnis sosial berbeda dengan filantropi karena bisnis sosial (1) berkelanjutan dan tumbuh berkembang dengan sendirinya tanpa tergantung pada kucuran dana setiap tahun. (2) investor pada bisnis sosial tidak kehilangan uangnya karena uangnya yang diinvestasikan akan kembali. Mereka bisa menginvestasikan kembali dalam bisnis sosial yang sama atau bisnis sosial yang berbeda. (3) Bisnis sosial menarik karena mendorong pebisnis untuk meningkatkan keahlian dan kreatifitas mereka untuk menjawab masalah-masalah sosial. Para investor tetap menjadi pemilik dari perusahaan itu dan ikut menentukan masa depannya.

Siapa kompetitornya?
(1) bisnis profit, (2) bisnis sosial lainnya (kualitas produk dan pelayanan menjadi faktor penentu); (3) antar investor: bukan keuntungan finansial tapi keuntungan sosial (sejauh mana perusahaan menjawab kebutuhan sosial) sebagai dasar investasi. Kompetisi bisnis sosial bukan berkaitan dengan mengejar keuntungan tetapi berkaitan dengan cara efektif dan profesional mencapai tujuan sosial.

Model bisnis sosial:
o Model 1: Perusahaan yang berorientasi pada penyediaan pelayanan sosial, bukan mencari keuntungan bagi pemilik atau investor, dan dimiliki oleh investor untuk tujuan sosial seperti pengurangan kemiskinan, kesehatan bagi kaum miskin, pendidikan, keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan hidup dan seterusnya.
o Model 2: Bisnis profit yang dimiliki oleh kaum miskin. Keuntungan perusahaan dikembalikan untuk kesejahteraan kaum miskin.
o Perbedaan model 1 dan 2: Pada model 1, barang, jasa dan system yang bekerja menciptakan keuntungan sosial. Pada model 2, barang dan jasa yang diproduksi bisa menciptakan atau tidak menciptakan keuntungan sosial. Keuntungan sosial terletak pada kepemilikan oleh kaum miskin. Keuntungan finanasial dikembalikan kepada mereka yang membutuhkan. Bisnis sosial juga bisa gabungan kedua model itu: perusahaan yang menciptakan keuntungan sosial dan sekaligus dimiliki oleh kaum miskin.

Bisakah gabungan bisnis profit dan bisnis sosial? Teorinya bisa. Misalnya keuntungan dibagi, misalnya 60% untuk tujuan sosial dan 40% untuk tujuan keuntungan pribadi atau sebaliknya. Pada prakteknya sangat sulit karena tujuannya saling berlawanan satu dengan yang lain. Management akan lebih realistik mengelola perusahan bisnis sosial murni atau bisnis profit murni.

Sekedar menyebut beberapa nama sebagai contoh: Grameen Bank dan perusahaan-perusaha an lain yang berafiliasi dg Grameen (dalam kurun waktu kurang dari 3 dekade Grameen sudah memiliki 24 perusahaan dan semua adalah bisnis sosial model 1, 2 dan campuran keduanya), Credit Union yang mulai pada abad 19 di German dan mengglobal sampai masuk ke kampung-kampung nusantara. Bina Swadaya yang menyandang nama NGO terbesar pada tahun 70/80-an kini sudah memiliki beberapa (sebuah sumber menyebut belasan) perusahaan bisnis sosial.

Darimana datangnya Bisnis Sosial?
– Perusahaan-perusaha an yang ada yang ingin menggerakkan bisnis sosial. Mereka bisa mengalokasikan sebagian keuntungan untuk bisnis sosial sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility atau dengan menciptakan bisnis sosial sendiri atau bekerja-sama dengan perusahaan lain atau social business entrepreneurs tertentu.
– Yayasan-yayasan sosial karitatif, lembaga-lembaga keagamaan atau lembaga-lembaga karitatif menciptakan dana untuk bisnis sosial sambil tetap menjalankan proyek-proyek karitatif.
– Usahawan individual yang sukses dalam binis profit yang tertantang menggunakan kreatifitasnya untuk menciptakan bisnis sosial.
– Badan donor bilateral atau multilateral memberikan dukungan bisnis sosial kepada negara-negara penerima utang.
– Pemerintah nasional maupun lokal.
– Para pensiunan bisa menyisihkan sebagian dananya untuk investasi di bisnis sosial.
– Kaum muda yang masih sekolah atau yang sudah lulus bisa memilih untuk menciptakan bisnis sosial didorong oleh idealisme menciptakan kesejahteraan dan keadilan dan peluang untuk mengubah dunia.

Ayo kita mulai!!!

3 Responses to “Bisnis Sosial sebagai Jalan Alternatif terhadap Krisis Global”

  1. saya pribadi sepenuhnya setuju dengan tulisan yang diposting Romo Sudri…

    Saya, bersama rekan-rekan eks-seminari dan eks-pastor, saat ini sedang menggodog AD/ART untuk pendampingan masyarakat miskin. Semboyan kami adalah “option with the poor”, bukan lagi “for the poor”; karena yang dibutuhkan mereka saat ini adalah pendampingan.

    Sudah bukan rahasia lagi, bahwa segala kebijakan ekonomi dan politik di negara ini selalu berpihak pada kapitalis (yang mempunyai kapital/modal yang diuntungkan, lihat saja misalnya kebijakan konversi minyak tanah ke gas–yang amburadul itu), sehingga ekonomi mikro kocar-kacir, tidak ada yang mempedulikan.

    Hanya ada sekelompok kecil yang peduli dengan Pengembangan Ekonomi Mikro ini. Baru-baru ini, di Yogyakarta diadakan bazar dan seminar tentang Pengembangan Ekonomi Mikro, yang dibuka oleh Sri Sultan sendiri.

    Intinya bahwa masyakat miskin harus bisa mandiri, tidak menggantungkan pada situasi global. Sudah banyak contoh, para kapitalis yang menggantungkan pada situasi global , begitu ekonomi global terpuruk, maka para buruh juga yang terkena dampaknya. Misalnya industri otomotif, garmen, eksportis, dst.

    Namun, sebagai warga Gereja, secara jujur, saya merasa sangat prihatin. Bukan bermaksud primordial, tetapi ini kenyataan, bahwa yang aktif dan “masuk” dalam pendampingan dan pengembangan ekonomi mikro ini adalah saudara-saudara kita dari golongan Muslim. Mereka mempunyai networking yang rapi-jali dan manajemen yang kuat. Sedangkan Gereja?

    Memang ada KARINA (KARITAS INDONESIA), tetapi saya kira masih kalah gaungnya dengan jaringan saudara-saudara Muslim, melalui ibu-ibu pengajian dan lewat Partai PKS-nya. Pointnya adalah mengedukasi masyarakat miskin agar tidak tergantung kepada situasi global. Proyek Nasional Pengembangan Mandiri (PNPM) masih di menara gading, belum sampai ke akar rumput.

    Ini hanya sebuah contoh kecil yang konkrit mengatasi kristis global. Sebuah Gereja Kristen di bilangan Pondok Hijau Jakarta “mendampingi” (with the poor) warga miskin di Kuningan, Jawa Barat. Majelis Gereja itu memberikan dana ‘cuma’ 21 juta dan dibelikan kambing etawa sebanyak 12 ekor dan sepetak sawah, agar dikelola warga miskin di Kuningan itu. Belum genap 1 tahun, kambing etawa itu sudah beranak-pinak menjadi 42 ekor; dan sawah yang dikelola bersama itu telah menghasilkan padi untuk mereka makan selama setahun.

    Dalam keprihatinan semacam ini, kami sepakat untuk ‘option with the poor'; karena kebetulan kami mempunyai ekspertis yang telah malang-melintang dalam Pengembangan Ekonomi Mikro, pencarian donor, dan bergerilya di LSM. Namanya Bpk. Haryasumarta. Apabila Gereja Santa Anna menghendaki menghadirkan beliau untuk sekedar sharing, saya akan coba jajaki kemungkinannya; karena waktu beliau sangat padat; jadi harus dijadwal jauh-jauh hari.

    Salam hangat,
    AH

    PS
    Mas Harya Sumarta, mohon maaf, namamu saya “bajak” demi saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

  2. Ya benar bisnis sosial tersebut harus dilakukan sebagai suatu usaha nyata kita membantu mereka . Saya bersama dengan 6 orang teman melakukannya membuat sebuah koperasi wanita dalam rangka pembinaan terhadap UKM. Koperasi wanita ‘Kusuma”ini kami dirikan tanggal 21 April tahun lalu terinspirasi dari kurangnya pengetahuan para UKM dalam melakukan bisnis baik dalam pemodalan, proses produksi, sanitasi/higinitas sampai pada pemasarannya dan rasanya kami merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu bukan untuk untuk mencari profit Kebetulan kami bertujuh semuanya Food Techonologist/Scientist, yah juga sudah cukup ibaratnya untuk hidup layak dan saat itu merasa koq belum berkontribusi nyata dengan apa yang dimiliki. Berbekal sedikit idealisme , pembinaan/pelatihan kami berikan kepada mereka yang memerlukan , bahkan mereka juga bisa menggunakan merk Kusuma untuk produk mereka asal sudah lolos team screaning dari team kami, kebetulan saya sebagai Ketua Bidang Komersil. Kami tidak meminta royalty atau apapun tapi untuk lolos bukan hal yang mudah karena kami menjaga image nama koperasi kami, . Pembinaan kepada UKM kami lakukan lebih kepada rasa keprihatinan dan kepedulian dan kebetulan teman-teman pejabat baik dari Dep Perindustrian, Perdagangan maupun Dirjen POM , Dept UKM, teman-teman sesama alumni sehingga agak mudah dan mereka support sekali. Kami juga bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti IPB, Central Agro Business dan UGM, GAPMMI untuk menjembati hasil penelitian mereka dengan dunia swasta, karena hasil-hasil penelitian tersebut banyak tidak tersosialisasikan dengan baik dan juga masih jauh dari requirement yg dibutuhkan swasta.

    Yah cuma itu Romo, karena semua kami volunteer dan ini hanya lebih pada suatu usaha sosial sehingga cuma bisa ketemu sebulan sekali dengan segudang permasalahan dan kami sudah memperkerjakan 1 orang full operation namun lebih kepada administration/officer, keputusan yah selalu diambil dalam pertemuan bulanan tersebut.Proses pembinaan/training kami berikan sesuai dengan waktu kami yang ada ditengah-tengah kesibukan sesuai siapa yang sempat dan kebutuhannya bidang apa.

    Bagi kami rasanya mendapatkan suatu kepuasan dan kelegaan melihat beberapa binaan UKM kami bisa membuat produk dengan baik, paling tidak mereka mengenal GMP ( Good Manufacturing Practice) yang sederhana, kemasan yang baik dlsb dan bisa dipasarkan,bahkan ada yang kami bantu dengan ekspor ke Jepang seperti juice mengkudu dll.

    Ini diluar koperasi……Hari Kamis minggu lalu, hari itu salah satu client saya ingin ketemu, pagi-pagi sebelum meeting, pulang dr Misa pagi , saya dapat sms dr CEO nya,….”Bu saya sedih karena harus layoff karyawan saya, hati saya ngga tega karena mereka punya tanggungan keluarga, ada yang masih studi dll, tapi harus dilakukan” Saya bilang nanti kita bicara. Jam 10 .00 saya ketemu mereka , saya berusaha memberikan masukan dari berbagai aspek dan lebih melakukan pendekatan dengan nurani ( kebetulan CEO nya juga Katolik) kalo bisa ditunda sampai mereka mendapatkan pekerjaan ditempat lain/siap dgn PHK ini, karena sebagian dari mereka juga tenaga skill dan sudah berkontribusi selama ini bagi perusahaan dan akhirnya disetujui untuk diberi kesempatan 3 bulan, tadinya per akhir bulan ini dan di postpone sd 31 Maret 2009, harapan saya semoga mereka bisa mencari ditempat lain, jangan sampai jobless. Hari itu saya lega sekali.

    Yah, saat ini ada sedikit kecemasan dalam hati saya kalau-kalau ada sms berikutnya lagi yang berisi hal yang sama………..

    OK Romo saya harus berangkat , ada janji meeting jam 11 siang ini, selamat beraktifitas.

    Salam,
    Mary

  3. Pagi Romo, sekedar sharing saja. “Terhadap Krisis Global”, kata-kata ‘Ayo kita mulai’ mesti nya sudah disadari dari bulan maret 2008 yg lalu. Di st anna ada Program Credit union (CU). Cukup baik salah satu nya untuk tema ini. Selain berinvestasi, menabung, namun ada unsur sosial nya disini.

    Saya awalnya tdk mengerti Credit Union itu. Setelah bertanya-tanya, mencari informasi, akhirnya saya sedikit mengerti. Dgn berinvestasi dengan bermodal Rp2.325.000, kita seakan2 sdh mendirikan suatu usaha/kantor di CU. …. Karena saya tdk memiliki dana cash/tunai, diberikan jalan keluarnya. Saya ambil kapitalisasi alias menabung dengan mengangsur.

    Ibu rumah tangga bisa menyisihkan uang belanjanya, mungkin Rp 4500 perhari, ayo kita menabung di CU. Para remaja yg uang saku nya lebih dari 25 rb, kenapa tidak juga ikutan. Hitung2 nabung sekaligus berinvestasi dan bersosial. Para bapak, jangan ditanya, ya sisihkan saja Rp 5000….

    Kalau kita tidak memulai dari sekarang kapan lagi?
    “AYO KITA MULAI”

    GBU
    r.m

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>