Berita Paroki 5 September 2010
05 September 2010
Hari Minggu Biasa XXIII
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
Keb 9:13-18 ; Flm 1:9b-10, 12-17 ; Luk 14:25-33
MINGGU KITAB SUCI NASIONAL
Saya yakin, siapapun yang melihat foto kedua anak yang sedang asyik memperbincangkan Kitab Suci di sebelah ini, akan senang. Inginkah anda melihat anak-anak andapun berbuat yang sama? Inginkah anda sendiri berbuat yang sama, membaca Kitab Suci bersama seluruh keluarga anda? Inilah yang dianjurkan dan sangat tepat dilaksanakan dalam Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2010 ini.
BKSN berawal dari Konsili Vatikan II. Dalam salah satu dokumennya, Dei Verbum (Sabda Allah), para bapa Konsili mengajak seluruh umat beriman bertekun membaca Kitab Suci. Sebelum konsili ini, sebenarnya Gereja Katolik Indonesia telah selesai menerjemahkan seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di Indonesiapun telah dimulai gerakan membaca Kitab Suci ini. Tetapi Konsili Vatikan II menganjurkan terjemahan Kitab Suci ekumenis, terjemahan bersama Gereja Katolik dan Protestan. Karena itu, Lembaga Biblika Indonesia, yaitu Lembaga dari Konferensi Wali-gereja Indonesia untuk kerasulan Kitab Suci, memulai kerjasama dengan Lembaga Alkitab Indonesia dan berusaha keras memasyarakatkan Kitab Suci dan sekaligus mengajak umat, agar lebih giat membaca Kitab Suci. Ini dilakukan antara lain dengan mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara Nasional. Pada tahun 1975 dalam rangka menyambut terbitnya Alkitab lengkap ekumenis, LBI menyarankan setiap paroki mengadakan Misa Syukur di bulan Agustus. Sedangkan untuk tahun 1976 Hari Minggu Kitab Suci ditetapkan tanggal 24/25 Juli 1976. Baru di sidang Majelis Agung Waligereja Indonesia 1977 para uskup menetapkan Hari Minggu Pertama September sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Selanjutnya ketika keinginan umat untuk membaca dan mendalami Kitab Suci semakin berkembang, kegiatan-kegiatan dilakukan sepanjang Bulan September dan akhirnya bulan ke-9 ini sampai sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional.
Mengapa perlu membaca Kitab Suci? Menafsirkan Kitab Suci ternyata tidak mudah. Kita tidak dapat hanya menggunakan pikiran sendiri saja. Kita perlu mendengarkan Sabda Tuhan sendiri. Dari manakah Sabda Tuhan itu kita peroleh? Pastilah antara lain dari Kitab Suci. Kita perlu membaca keseluruhannya agar dapat mengerti Kehendak Allah lebih baik lagi. Sebagai contoh, dalam Injil hari ini (Luk.14:25-33) Yesus menyampaikan syarat menjadi murid Yesus yang sangat berat: ““If anyone comes to me and does not hate his own father and mother and wife and children and brothers and sisters, yes, and even his own life, he cannot be my disciple.” Jikalau seorang datang kepada-Ku dan dia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.“Whoever does not bear his own cross and come after me cannot be my disciple.”” (Luk.14:26). Apakah maksud ayat ini? Ayat ini sukar dimengerti, tetapi dengan membaca bagian Kitab Suci lainnya, kita akan lebih mudah mengerti. Apa maksud Yesus dengan kata membenci? Bukankah kita tak boleh membenci? Dikatakan “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah pembunuh, dan kamu tahu bahwa pembunuh tidak memiliki hidup kekal dalam dirinya.” (1 Yoh. 3:15). “Jikalau seorang berkata,” Aku mengasihi Allah, “dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.”(1 Yoh. 4:20). “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat.22:39). Dari kutipan-kutipan Kitab Suci di atas, jelaslah yang dimaksud Yesus pasti bukan membenci, tetapi “Barangsiapa mengasihi ayahnya atau ibunya lebih dari pada-Ku, tidak layak bagi-Ku, dan siapa mencintai anak atau perempuan lebih dari pada-Ku tidak layak bagi-Ku” (Mat.10:37-38). When Jesus says whoever does not hate his family and self cannot be my disciple, he doesn’t mean that we should not love them in any sense. Membenci di sini bukan dalam arti tidak memperhatikan atau mengasihi, tetapi sesuai dengan gaya bicara orang Semit, kata “membenci” biasa dipakai untuk menggambarkan sikap tidak memihak. Begitu pula “mengasihi” dimaksudkan sama dengan berpihak. Jadi dalam mengikuti Yesus, orang diingatkan agar memihak Yesus sepenuhnya dan menjadi prioritas pertama. Dengan membaca keseluruhan Kitab Suci, kita dapat mengerti, bahwa berpihak kepada Yesus, tidak berarti harus membenci keluarganya dan tidak boleh mengasihi mereka dalam arti apapun. Of course we are to love them! Kita tetap harus mencintai mereka! Lihat bagaimana Paulus meminta umatnya sungguh mengasihi Onesimus dan tidak menganggapnya budak lagi!(Flm.9b-10,12-17)
Kita hanya akan mengenal Tuhan melalui SabdaNya dan bukan dengan pikiran kita sendiri. ”Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh KudusMu dari atas tidak Kauutus?” (Lihat Keb. 9: 13-18). Jadi apa yang hendaknya kita lakukan dalam Bulan Kitab Suci Nasional? Mari kita mencintai SabdaNya! Rasanya sangat pas, kita berusaha mengenal Tuhan dan kehendakNya melalui SabdaNya dalam Kitab Suci. (H.Hardi Tjandraatmadja)
12 September 2010
Hari Minggu Biasa XXIV
Kel 32:7-11, 13-14 ; 1Tim 1:12-17 ; Luk 15:1-32
September
13 Sn Pw S. Yohanes Krisostomus, UskPujG
14 Sl Pesta Salib Suci
15 Rb Pw SP. Maria Berdukacita
16 Km Pw S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, UskMrt
JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI
11-12 September 2010
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 11 September, Jam 17.30
Pen. Jwb : PDKK/ PDMKK
Koor : PDKK/ PDMKK
Hari : Minggu, 12 September, Jam 06.30
Pen. Jwb : Pondok Kopi II; Katharina
Koor : Gracia
Hari : Minggu, 12 September, Jam 08.30
Pen. Jwb : Bintara; Montini
Koor : SMA Budhaya
Hari : Minggu, 12 September, Jam 16.30
Pen. Jwb : Klender; Herman Bouwens
Koor : Klender
Hari : Minggu, 12 September, Jam 18.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Timur; Albertus Agung
Koor : Duren Sawit Timur
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 11 September Jam 18.30
Pen. Jwb : St. Timotius
Koor : Yopalex
Hari : Minggu, 12 September, Jam 08.00
Pen. Jwb : St. Dionisius
Koor : Wil. Malaka Jaya 2
PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman Pertama
Ferdinandus Sarwono Sutedjo Lk. St. Yohana
Virginia Emillia Kurniawan Prk. Antonius Padua
Pengumuman Kedua
Ignatius Louis Adhiguna Abdipradhana Lk. Martha
Yudith Christie Lk. Vincentius
Arnoldus Jefry Pieter Prk. Fransiskus Xaverius-Bali
Anasthasia Natalie Charisma Lk. Trinitas
Pengumuman Ketiga
Nitto Suwardi Prk. St. Yoseph
Ellyana Susanti Lk. Helena
FX. Haryanto Suwita Prk. St. Fransiskus Assisi-Bogor
Imelda Sesaria Santoso Lk. Maria Asumpta
PDKK
Kegiatan PDKK untuk tanggal 08 September 2010 diliburkan, dan akan diadakan kembali pada tanggal 15 September 2010.
LEGIO MARIAE
Legio Mariae mengundang umat St. Anna untuk:
- Berdoa ROSARIO bersama pada Hari/Tanggal: Sabtu, 11 September 2010, jam: 16.30 s/d 17.15 WIB, di depan Gua Maria. Akan ada pembakaran Ujud Doa, harap disiapkan dari rumah.
- Bagi yang ingin bergabung dengan Legio Mariae Guadalupe silakan datang pada setiap hari: Sabtu, jam: 16.00, di Gd. Yos Sudarso lt. 2 ruang AC (khusus untuk Sabtu minggu ke 2 dimulai setelah Rosario selesai).
PANITIA RENOVASI GEREJA SANTA ANNA
Sehubungan dengan telah berakhirnya Renovasi Gereja Santa Anna – Paroki Duren Sawit yang diawali dengan pembongkaran dan renovasi serta dalam pencarian dana yang dimulai dari tanggal 01 Maret 2006 s/d 31 Juli 2010, maka kami seluruh Panitia Renovasi dengan hormat menghaturkan terima kasih kepada seluruh umat Gereja Santa Anna dan semua pihak yang telah terlibat dan berpartisipasi baik berupa sumbangan dana, tenaga, materiil, sehingga Renovasi Gereja Santa Anna dapat terselesaikan.
Kami atas nama Panitia Renovasi Gereja juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam pelaksanaan renovasi Gereja membuat ketidaknyamanan dalam beribadah dan kami sadar masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan renovasi ini.
Demikian Laporan Pertanggungjawaban Renovasi Gereja telah kami serahkan kembali ke Dewan Paroki. Terima kasih. Tuhan Memberkati.
LAPORAN KEUANGAN
RENOVASI GEREJA SANTA ANNA – DUREN SAWIT
Per 31 Juli 2010
I. JUMLAH PEMASUKAN : (01 Maret 2006 s.d 31 Juli 2010)
- Modal Awal (Deposito & Bunga = Rp 846.035.574.95
- Kartu Partisipasi Umat (KPU) = Rp 913.877.511.00
- Donatur Spontan = Rp 1.378.040.952.00
- Bunga Tabungan = Rp 76.051.474.42
- Kolekte II = Rp 1.014.212.250.00
- Ngamen di Gereja-gereja = Rp 245.557.000.00
- Dari Panitia KEP St. Anna = Rp 27.647.365.00
- Stellakwarta Tour = Rp 18.225.000.00
- Penjualan CD Didiek SSS = Rp 46.600.000.00
- Dari Panitia KEP St. Anna = Rp 4.500.000.00
- Lain – Lain = Rp 4.153.100.00
- Dana dari Keuskupan = Rp 400.000.000.00
- Dana Talangan = Rp 560.000.000.00
. ______________________ (+)
Jumlah Pemasukan = Rp 5.534.900.227.37
II. JUMLAH PENGELUARAN : (Maret 2006 s.d 31 Juli 2010)
A. Pengeluaran Khusus Pembangunan Fisik :
- Surat Ijin Pengurusan IMB Renov. Gereja = Rp 155.000.000.00
- Design Gambar Pastoral = Rp 2.750.000.00
- Sambungan Listrik Baru & Kabel2 & Lampu = Rp 15.008.800.00
- Sound System, Kabel & Ongkos Kerja = Rp 330.475.000.00
- PT. Prambanan = Rp 1.890.000.000.00
- PT. Pagasurya = Rp 725.000.000.00
- Pembuatan Ruang Monitor = Rp 12.878.810.00
- Pembuatan Gudang & Toilet = Rp 6.458.000.00
- Renovasi Bangku & Jok = Rp 52.000.000.00
- Bongkar pasang pintu lipat depan = Rp 2.550.000.00
- AC & Ongkos Pasang = Rp 2.825.000.00
- Exhaust Fan & Kipas Angin Kecil = Rp 4.040.000.00
- Tralis Besi & Tangga = Rp 6.125.000.00
- Rangka plafond akustik = Rp 6.799.500.00
- Handel & Kunci = Rp 2.927.000.00
- Batu Alam = Rp 11.900.000.00
- Rumput & Ongkos tanam = Rp 5.405.000.00
- Material = Rp 11.945.650.00
- Ongkos Tukang = Rp 13.622.500.00
- Pelapis Talang FRP = Rp 11.032.200.00
- Pengecatan Dinding & Balkon = Rp 15.297.490.00
- PT. Design Teknologi Indonesia = Rp 1.105.800.000.00
- Corpus Yesus = Rp 275.000.000.00
- Lampu Sorot = Rp 1.840.000.00
- PT. Royal Mahagony Granits = Rp 166.280.000.00
. ______________________(+)
. = Rp 4.832.959.950.00
B. Pengeluaran Penunjang Pembangunan:
- Gaji Pengawas = Rp 55.095.000.00
- Petugas P2 B Jakarta Timur = Rp 3.050.000.00
- Kamera Digital & Baterai = Rp 1.929.700.00
- Fotokopi & Cetak Gambar = Rp 3.842.290.00
- Ucapan terima kasih kpd Pak Sadi = Rp 10.000.000.00
- Sewa sound system acara Didiek SSS = Rp 3.000.000.00
- Keperluan untuk penggalangan Dana = Rp 15.550.000.00
- Alat-alat tulis = Rp 1.368.500.00
- Biaya Kirim antar Bank = Rp 320.000.00
- Nasi Box & Tumpeng & Snack = Rp 2.502.890.00
- Transport & Pulsa u/komunikasi proyek = Rp 2.518.900.00
- Hadiah pemenang Design Interior = Rp 10.000.000.00
- Lain-lain = Rp 963.610.00
. _______________________(+)
. = Rp 110.140.890.00
C. Biaya Administrasi Bank = Rp 1.173.500.00
D. Pajak atas bunga tabungan = Rp 15.207.864.98
E. Pengembalian Dana Talangan = Rp 410.000.000.00
. _______________________(+)
Jumlah Pengeluaran (A+B+C+D+E) = Rp 5.369.482.204.98
. ________________________(-)
Saldo Kas Per 31 Juli 2010 = Rp 165.418.022.39(*)
Catatan:
(*) Kewajiban yang masih harus dibayarkan ke PT. DTI (Retensi 5%)
= Rp 58.200.000.00







Inginkah anda sendiri berbuat yang sama, membaca Kitab Suci bersama seluruh keluarga anda? Inilah yang dianjurkan dan sangat tepat dilaksanakan dalam Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2010 ini.
Karena Sabtu lalu saya tidak datang ke Pendalaman Iman di lingkungan, maka untuk topik ini saya sharing di sini aja ya….
BACA APA?
Lama.
Sudah lama topik membaca Kitab Suci menjadi pembicaraan antara Ibu dan Bapak. Sejak anak anak kecil, Ibu dalam keterbatasan waktu hanya sempat membicarakan tokoh tokoh: Bapa Abraham, Nuh, Musa, Bunda Maria, Yesus. Ibu juga tidak suka dengan kancil karena bagi Ibu kancil itu tokoh yang suka menipu walaupun oleh banyak orang itu disebut cerdik. Ibu juga tidak tega bercerita tentang Dayang Sumbi yang menikahi anjing. Apa lagi cerita Ande Ande Lumut, bagaimana menceritakannya kepada anak anak soal kelakuan kurang ajar si Yuyukangkang? Lagi pula Ibu toh harus mempersiapkan bahan cerita di Bina Iman Anak, jadi sekalian diceritakan kepada anak sendiri. Maklum Ayaz dan Iyo’ adalah murid Ibu di BIA Wilayah Billymoon, St. Anna.
Bagi Bapak, cerita di Kitab Suci itu jauh di awan awan. Dosa itu akibatnya tidak tampak. Tidak seperti Malin Kundang yang jelas seketika jadi batu begitu dia menghujat emaknya. Sebetulnya di Kitab Suci juga ada istrinya Lot yang dilaknat jadi tiang garam karena tidak patuh kepada Tuhan. Tapi Tuhan itu kan abstrak, sedangkan emak itu jelas. Di samping itu toh kita perlu memperkenalkan cerita lokal agar anak mencintai budaya Indonesia. Ibu tidak menolak pendapat Bapak maka Bapak minta agar Ibu menyediakan lebih banyak buku cerita asli Indonesia. Lalu, Bapak bersemangat cerita Cindelaras kepada Iyo’. Ibu tentu senang karena tugas bercerita sebelum bobo’ diambil alih Bapak. Tapi ternyata Iyo’ tetap minta orang terakhir yang bersamanya adalah Ibu. Maka setelah Bapak bercerita, Ibu masih tetap menemani Iyo’ bobo’. Sambil lalu Ibu bertanya,”Cerita Bapak tadi bagus ya, dik?” Apa jawabnya,”Aneh bu, masa’ ayam bisa bicara!” hahahahhaa…..
Tentu Ibu memberitahu Iyo’,”Namanya juga cerita, dik. Itu Fabel, cerita binatang. Yang penting bukan binatangnya mustahil koq bica bicara tapi pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari cerita itu.”
”Susah ah, bu!” Iya juga! Wah, Ibu salah menjelaskan nih?! Cerita sih cerita aja, biarkan anak menikmati cerita dan tidak perlu repot mikir pelajaran apa yang bisa diperoleh. Masa’ tega sih anak sekecil itu disuruh stress mikirin cerita?!
Ketika habitus doa malam sekeluarga dimulai, dimulai jugalah habitus Pendalaman Iman setelah pembacaan Kitab Suci. Tentu Ibu yang memilih perikop mana yang dibaca malam itu. Ibu selalu memilih perikop singkat dan mudah. Pendalaman Iman itu membicarakan secara nyata semua kejadian hidup sehari-hari yang dilalui anak-anak.
Suatu malam Ibu membaca perikop ini:
Matius:
7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Ibu bertanya,”Siapa tau artinya?”
Iyo’ dengan sigap menjawab,”Aku tau! Artinya, Yesus bisa bediri di atas batu!”
Hahahhahahaaaaaaa….. semua tertawa….
Maka untuk tidak mengecilkan hatinya Ibu menjawab,”Tentu Tuhan Yesus bisa berdiri di atas batu, dik. Kita juga bisa kan. Mbak Ayaz tau jawabnya?”
“Kalau kita melakukan perintah Tuhan, kita akan kuat seperti rumah di atas batu”
“Ya, kita akan kuat melawan setan. Tuhan Yesus bilang apa? Kasihilah sesamamu manusia, misalnya. Itu artinya kita tidak boleh memukul, membunuh, mencuri termasuk nyontek. Kalo ada orang yang mengajak kita nyontek, mestinya kita tolak. Aku anak Tuhan Yesus tidak nyontek!”
Awalnya Iyo’ selalu mengira bahwa ayat ayat itu dipakai untuk menyudutkannya. Sehingga defensif dia selalu bilang,”Aku gak gitu!” Tapi Ibu menjelaskan bahwa apa yang tertulis di Kitab Suci itu berlaku umum. Untuk Bapak, Ibu, mbak Ayaz, Iyo’ dan semua orang. ”Jadi bukan untuk menghakimi siapapun, lagi pula Ibu tidak bilang kalo Iyo’ nyontek kan!”
Lama lama Iyo’ makin senang menebak apa yang dimaksud Kitab Suci. Mungkin karena sudah yakin bahwa bacaan itu tidak dimaksudkan untuk menghakiminya.
Padahal Ibu selalu memilih bacaan bukan tanpa maksud. Ibu tidak pernah memilih bacaan tentang zinah, misalnya, melainkan tentang mendidik anak, tentang patuh pada didikan, tentang pemalas dan rajin, tentang mencemooh, marah, bertengkar dll yang praktis dalam kehidupan anak. Yang pasti, jawaban mereka benar atau salah itu gak masalah, yang penting semua bersemangat menjawab dan Ibu Bapak bebas menjelaskan apa maksud Kitab Suci tanpa anak merasa dihakimi.
Suatu saat Ibu membaca:
Amsal
22:22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang.
22:23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.
”Siapa tau apa maksudnya?”
”Kita tidak boleh merampas barangnya orang lemah”, jawab Ayaz
”OK, dik Iyo’?”
”Kalo merampasnya dari yang kuat boleh?”
”Emang berani?”
”Kalo berani?”
”Ya boleh coba, ditonjok baru tau rasa! Itu sebabnya kalo kamu merampasnya dari yang lemah, maka kamu harus berurusan dengan Tuhan karena Tuhan membela mereka. Yang lemah itu siapa?”
“Yaaaa…. yang lemes, sakit…”
Kakaknya sudah menahan tawa.
“Yang lemah itu orang orang yang kemampuannya di bawah kamu. Misal orang miskin, mbak Tri (staff rumah), anak kelas 1….. kamu kan kelas 5, jadi anak kelas 1 itu lebih lemah dari kamu. kamu suka malak adik adik kelasmu?”
“Aku gak malak! Waktu Ibu lupa ngasih aku uang jajan, aku cuma bilang: bagi dooong uang jajannya. Kalo gak dikasih aku bilang: pelit loe!”
hahahahahaaaaa…..
“Ada yang mau memberimu uang?”
“Ada juga sih…”
“Itu karena dia takut sama kamu. Kan dia lemah… Jangan suka minta gitu lah dik…”
”Kalo aku punya uang, ada temanku yang minta, aku kasih… kenapa aku gak boleh minta?”
”Kalo masih bisa menahan diri tidak minta ya sudah tidak usah minta. Kalo terpaksa minta yaaa… OK-lah!” Ibu jadi ingat: Mintalah maka kamu akan diberi.
Tapi, kalo boleh jujur bacaan apa yang sesungguhnya menyenangkan mereka, maka jawabnya teteuuup: KOMIK! Ibu sudah tidak sabar baca Naruto jadi tidak pernah ikutan baca. Tapi Ibu selalu bertanya kepada Ayaz dan Iyo’,”Ini ceritanya apa?” dan mereka akan lancar menceritakannya. Paling Ibu akan tanya lagi,”Jadi apa bagusnya Naruto?” untuk membahas nilai…. Toh di Naruto juga ada nilai kejujuran, dan setia kawan, misalnya. Tapi kalo tiap kali baca sesuatu anak diajak untuk memikirkan nilai apa yang terkandung dalam bacaan, mungkin juga anak akan berasa…. cape’ d!
? ? ?
Jumat, 22 Juli 2009
M. Ibnurini