Berita Paroki 30 Agustus 2009
HARI MINGGU BIASA XXII, TAHUN B/I
Ul 4:1-2,6-8 ; Yak 1:17-18,21b-22,27 ; Mrk 7:1-8,14-15,21-23
PENGHORMATAN SEMU
Seorang bapak, tetangga saya di kampung sewaktu saya masih kanak-kanak, mempunyai suatu kebiasaan yang menarik dalam mendidik anak-anaknya. Sebelum doa malam keluarga, beliau menyuruh anak-anaknya untuk mencuci tangan dan kaki sebelum tidur, kemudian membuang air kecil. Lepas tengah malam menjelang pagi, dibangunkan lagi untuk buang air kecil. Agar anaknya mau bangun, dijanjikan oleh bapak tersebut untuk melihat “wong rondha”, orang ronda thek-thek keliling dengan membunyikan kenthongan, sekarang lebih dikenal dengan istilah kamling. Rumah si bapak sudah bentuk cluster, dalam artian sempit, tanpa pagar antara tetangga. Kamar mandi di halaman depan rumah, seperti kebiasaan rumah-rumah kampung di Jawa, agar sehabis bepergian langsung mencuci muka, tangan dan kaki, agar bersih sebelum masuk rumah. Halaman belum ada paving block. Jadi “ritual” pembasuhan muka, tangan dan kaki mutlak perlu. Buang air kecil malam, dimanfaatkan sekalian nonton “wong rondha”.
Kebiasaan tersebut dilakukan oleh si bapak, yang kemudian dilanjutkan anak-anaknya dalam mendidik anak, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran anak dalam budaya bersih. Akibatnya mereka akan terbiasa dengan kebersihan, selalu bersih waktu mau tidur, dan tidak mengompol. “Ritual” tersebut dilakukan menjelang doa malam keluarga, sehingga dalam pemahaman anak-anaknya, ada keterkaitan antara doa malam dengan cuci tangan dan kaki. Sejalan bertambahnya usia, anak-anaknya menyadari bahwa hal tersebut hanya berkaitan dengan kebersihan, bukan ibadah.
Berbeda dengan kebiasaan orang Yahudi dalam hal pembasuhan tangan selalu dihubungkan dengan ibadah. Adat istiadat orang Yahudi sangat keras dalam hal sebagai syarat yang dituntut oleh adat istiadat bangsa itu. Memang benar bahwa Taurat Musa menuntut beberapa hal yang istimewa, tetapi lama-kelamaan sifat imamatnya dibengkokkan dan telah ditambah oleh orang-orang itu, dengan tujuan untuk mempertahankan perbedaan yang jelas antara Israel dengan bangsa-bangsa kafir, Yahudi dan non Yahudi.
Yesus berkata bahwa mereka memuji Tuhan dengan bibirnya tetapi hatinya jauh dari pada-Nya seperti yang dikatakan Yes 29:13, yang mempertentangkan devosi bibir dengan ibadah nurani. Ada kecenderungan agama lebih merupakan soal ritus dan pemenuhan menjalankan peraturan. Pengertian mengenai salah dan benar, baik dan buruk lebih didasarkan pada hal diketahui atau tidak diketahui oleh khalayak.
Kecenderungan tersebut dilihat dari adanya orang yang tampak taat beragama, rajin ke gereja, mengikuti misa setiap hari, membaca Kitab Suci, berdoa sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah tidur, kolekte tidak pernah lupa, memakai simbol-simbol agama berupa asesoris-asesoris, tetapi mereka sebenarnya penuh kedengkian dan kejahatan, mereka lebih takut omongan orang yang mengecam orang yang berdosa dibanding harus mengikuti suara hatinya untuk menegakkan cinta kasih sesama. Kata dunia orang demikian ini disebut munak, hipokrit, alias munafik, orang Jawa menyebutnya jebule amung lamis.
Ibadah Katolik tidak hanya membutuhkan upacara syahdu dan menyejukkan hati, tetapi harus menggugah sanubari untuk mewujudkan kebaikan Allah itu dalam hubungan dengan sesama. Perlakuan dan kepedulian kita terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin, termarjinalkan adalah parameternya.
Apakah orang beriman benar-benar potret kebaikan Allah ataukah hanya sekedar mencari keuntungan diri sendiri?
Yesus tidak menentang hukum Musa, melainkan menentang pratek-pratek kesalehan yang berlebihan dan pemahaman hukum secara partial(terpenggal-penggal). Tradisi penafsiran hukum yang dimutlakkan juga ditolak Yesus. Yesus mengajak orang kembali pada hukum dan semangat-Nya yang awali. Yesus mengajak kembali pada jiwa dan semangat hukum yang lebih penting daripada rumusan sendiri. Yesus mau menunjukkan keteladanan cara-cara hidup beragama yang benar harus disertai dengan kesadaran akan cinta kasih Allah kepada manusia. Kita harus membina hubungan yang bersifat pribadi dengan Allah. Penghayatan agama yang benar harus ditunjukkan lewat perbuatan-perbuatan baik yang kita tunjukkan kepada sesama. Berbuatlah kepada orang lain apa yang anda suka orang lain perbuat kepadamu. Cintailah sesamamu seperti anda mencintai dirimu sendiri. Layanilah sesama dengan semangat rendah hati. Itu adalah inti ajaran Kristus. (A.J. Dwijanta Mintawidada).
HARI MINGGU BIASA XXIII, TAHUN B/I
Yes 35:4-7a ; Yak 2:1-5 ; Mrk 7:31-37
PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I
Agustus 2009
29 Sb Pw Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Mrt
30 Mg Hari Minggu Biasa XXII
03 Km Pw S. Gregorius Agung, PausPujG
05-06 September 2009
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 05 September, Jam 17.30
Pen. jwb : Buaran; Helena, Agustinus
Koor : Helena
Hari : Minggu, 06 September, Jam 06.30
Pen. jwb : Pondok Kelapa I; Claris, Michael
Koor : Pondok Kelapa I
Hari : Minggu, 06 September, Jam 08.30
Pen. jwb : Klender ; Jayaseputro, Adrianus
Koor : Klender
Hari : Minggu, 06 September, Jam 16.30
Pen. jwb : Malaka Jaya II; Matheas, Lukas
Koor : PS Immanuel
Hari : Minggu, 06 September, Jam 18.30
Pen. jwb : Pondok Bambu II; Lila Santana, Bunda Maria
Koor : Gloria
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 05 September, Jam 18.30
Pen. jwb : St. Monika
Koor : Wil. Malaka Sari 2
Hari : Minggu, 06 September, Jam 08.00
Pen. jwb : St. Timotius
Koor : Lilin Suci
Pengumuman Pertama
Yohanes Harsandi (GKJW-Surabaya)
Lucia Asih Wijayarsi (Lk Herman Bouwens)
Tonny Freddy Manoppo (GPIB Koinonia)
Santa Rita Tri Meilawati (Lk Santa Ursula)
Emanuel Roy Y. Iskandar (Prk BMV Katedral)
Maria Krisanti Padarani (Lk Vincentius)
Samuel Setiawan Supardi (Lk Veronica)
Yuni Liana (Tambun-Bekasi)
Antonius Hadi Purwanto (Lk Elisabeth)
Christina Theodoris Sihombing (Prk St. Melania)
Pengumuman Kedua
Agustinus S. Lagan Tulit (Lk Joyoseputro)
Agnes Fridasari (Lk Bunda Maria)
Pengumuman Ketiga
Hermanus Yoseph H. J. R. Manalu (Lk. Katharina)
Esra Wantijes Lumban Gaol (HKBP)
Andrianus Yofy (Prk. St. Fr. Asisi)
Angelica Pramesthiningsih (Lk. Maria Gratia)
Yakobus Yoel Benu (GMIT-Maranata Soe)
Iluminata Apon (Lk St. Thomas)
Thedorus Alexander C. Santoso (Prk. Bonaventura )
Elisabeth C. Yuliana Satjawidjaja (Lk St. Yoseph )
Ignatius Foury Krisyunanto (Lk. St.Anna)
Agnes Murniati (Prk. St. Fransiskus)
Markus Wisnu Murti (Lk. Lila Santana)
Aurea Indah Fitriani (Lk. Lila Santana)
Johanes Chrismanto (Prk. St. Maria Vianney)
Stefani Anastasia Dhian A (Lk. Katharina)
Dalam rangka memperingati HUT GEREJA ST. ANNA akan diadakan berbagai kegiatan, seperti: GERAK JALAN SANTAI dan SEPEDA SANTAI, pada Hari/Tanggal: Minggu, 06 September 2009, Jam: 06.00 WIB, berangkat dari lapangan parkir gereja St. Anna. Dimohon agar para ketua wilayah untuk segera mendaftarkan keikut sertaannya dan melaporkan jumlah anggota yang ikut. Pendaftaran di sekretariat panitia HUT St. Anna melalui surat atau telepon dengan alamat: Jl. Selat Raas G 2 / 19 Kav. Al Duren Sawit, Jakarta Timur, tlp: 021-862 5863 / 0816 1809 543. Pendaftaran ditutup pada tanggal 30 Agustus 2009.
PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut merenungkan sabda Tuhan, dengan tema “Allah yang Memerdekakan”, pada Hari/tanggal: Rabu, 02 September 2009, Jam : 19.00 WIB. Pewarta: Bpk Gerald Polla. Mari kita bersukacita dalam kasih Tuhan.
Akan mengadakan kegiatan Open House untuk memperkenalan kehidupan Seminari Tinggi Yohanes Paulus II dan tempat pendidikan Imam Diosesan Jakarta, pada Hari/Tanggal: Minggu, 13 September 2009, jam: 09.00 -14.00 WIB. Di: Jl. Cempaka Putih Timur XXV no 7 – 8, RT 002/002, Seminari Tinggi Yohanes Paulus II. Peserta: Mahasiswa, Karyawan, dan Profesional Muda. Info lebih lanjut hub: fr. Didik / fr. Aan / fr. Wahyu / fr. Valen, tlp: 420 33 74.
Malam Inaugurasi Kursus Evangelisasi Pribadi Angkatan VI akan diselenggarakan pada Hari/Tanggal: Kamis, 03 September 2009, jam: 19.00. Di: Gd. Yos Sudarso. Peserta dimohon mengenakan pakaian atas warna Putih dan bawahan warna Hitam.
Sehubungan dengan adanya renovasi gereja paroki, seksi liturgi memohon maaf atas ketidaknyamanan dalam perayaan liturgis selama berlangsung renovasi tersebut. Semoga Bapak/Ibu/Saudara/i tetap dapat merayakan iman dalam ketidaknyamanan tersebut. Terima kasih.
Dibutuhkan seseorang yang terampil dalam memasak, syarat: Wanita berusia antara 20-40 tahun, berkepribadian baik, ulet, dan jujur, beragama katolik, dan berdomisili di sekitar Duren Sawit Indah. Peminat dapat menghubungi Ibu Pepey Riawati Kurnia, alamat: Duren Sawit Indah blok A6 no.2, tlp: 021-861 4679.
Liturgi Gereja Perdana
Sehubungan dengan Bacaan Injil pada hari ini yang mengisahkan tentang tradisi kaum Yahudi, ada baiknya juga untuk pojok liturgi kali ini akan dibicarakan perihal liturgi di masa gereja perdana karena hal itu juga berhubungan dengan tradisi kaum Yahudi. Kita akan melihat secara singkat sebenarnya apa yang dirayakan dalam liturgi pada masa Gereja Perdana tersebut.
Pada masa Gereja Perdana acara utama pertemuan pada hari Minggu adalah “memecah-memecahkan roti” sebagaimana yang tertulis dalam Kis. 2:46 ; 20 :7 dan juga “perjamuan Tuhan” (1 Kor 11:20). Dalam pertemuan itu jemaat bermaksud untuk mengenang secara anamnetis tindakan penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Liturgi Gereja Perdana pada masa itu selain memiliki kebaruan yang didasarkan pada peristiwa Yesus Kristus juga berakar pada tradisi liturgi Yahudi. Dalam kaitannya dengan tradisi Yahudi, dalam hal ini kita dapat mengambil contoh mengenai pengertian anamnese (kenangan). Konsepsi anamnese itu dipahami dalam tradisi Yahudi sebagai penghadiran karya keselamatan Allah sendiri dalam suatu perayaan liturgi. Kenangan dalam arti Yahudi dan biblis adalah suatu perayaan kenangan liturgis-sakramental. Hal ini berarti bahwa bahwa tindakan keselamatan Allah di masa lampau dihadirkan kini dan d isini secara real, simbolik, dan objektif. Kembali pada tradisi Yahudi, perayaan kenangan itu misalnya terjadi dalam liturgi hari raya Pondok Daun (Hari Raya Kaum Yahudi sebagai ungkapan syukur atas hasil panenan yang mereka peroleh) dan khususnya dalam perayaan Paskah sebagai hari kenangan akan pembebasan dari perbudakan Mesir (Kel. 12:14).
Selain Perayaan Ekaristi yang sejak awal sudah menjadi acara utama liturgi Kristiani, liturgi baptisan juga menjadi salah satu bidang liturgi yang penting. Liturgi baptisan itu sendiri sudah dilaksanakan oleh Gereja Perdana sejak awal mula, yakni ketika begitu banyak orang bertobat dan ingin menggabungkan diri dengan kelompok murid Yesus (Kis 2:38). Di samping itu Gereja Perdana juga sadar dengan kenyataan bahwa Yesus berkuasa untuk mengampuni dosa dan Allah sendiri juga telah memberikan kuasa pengampunan dosa itu kepada Gereja melalui daya kekuatan Roh Kudus (Mat 16:19 ; 18:15-18 ; Yoh 20:23). Gereja Perdana juga selalu melihat hubungan yang tidak terpisahkan antara liturgi dan kasih pelayanan kepada sesama di dalam hidup sehari-hari (bdl. Kis 4:32. 34 ; 6:1 ; Rm 12:10.13).
Secara pelan-pelan praktek kepemimpinan liturgis dari para uskup, imam dan diakon muncul dan berkembang dalam Gereja pada abad-abad pertama. Menurut sisi historisnya, kepemimpinan liturgis dari kelompok orang yang ditahbiskan itu bukan hanya karena kebutuhan sosiologis, bahwa dalam kelompok sosial apa pun selalu dibutuhkan pemimpin, melainkan terutama karena hal ini berkaitan dengan soal apostolisitas . Masalah apostolisitas mencuat berkaitan dengan timbulnya ajaran sesat atau bidaah yang membingungkan dan menyesatkan umat. Berkaitan dengan hal tersebut, sejak awal mula Gereja meyakini, bahwa apa yang berasal dari para Rasul merupakan ajaran dan tradisi yang benar dan harus diikuti.
Itulah beberapa hal yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dirayakan dalam Liturgi Gereja Perdana. Apa yang terjadi pada masa Gereja Perdana tersebut, kiranya penting untuk kita ketahui karena hal itu juga merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan Tata Liturgi kita dewasa ini. (Fr. Pandrias, SJ)
1 Apostolisitas adalah bagaimana Gereja dengan seluruh struktur, ajaran iman, liturgi, dan kepemimpinannya masih setia dengan Gereja para rasul.
2. Sumber Utama : E. Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, Yogyakarta : Kanisius, 1999.







PARAS TERSEMBUNYI
kau, dalam senyap dan sunyi kita bercumbu
tak habis-habisnya kukecap manis madu-mu
kendati tak melulu itu
kuputar-putar rosario, tapi hati beku
kau, betapa jengahnya
nonton pentas sandiwara-sandiwara lama
dari satu panggung ke panggung lainnya
yang juga itu-itu saja,
cuma sejauh mata di kepala memandang saja
kau, dan sahabat-sahabatmu, terimakasih ‘tuk ingatkan,
jika umbul-umbul terlalu tegak kupancangkan
yang di luar, yang di dalam
agar aku tidak absen, berkaca lagi di kedalaman
kau, semogalah kau maafkan,
jika rengekan-rengekan dan permintaan-permintaanku
memberondong hari-harimu dalam ketenangan
biar kudengar konon, untuk itu pintumu selalu dibukakan
tapi aku bertanya-tanya, sampai kapan cuma jadi pekerja kau dinistakan…?
kau, semogalah kau maafkan,
kalau kerap luput mata hatiku, tak melihat wajahmu terbentang di kenyataan
letupan-letupan kemauan dagingku acap membutakan
atau … aku yang terlalu jauh berfantasi tentangmu
hingga aku tak mampu membacai isyaratmu
kau, semogalah kau maafkan,
jika aku suka mengeliminasi mereka, hanya karena beda warna atau bendera
jika cintaku pada lainnya
terkubur semata karena aku mau seragam semua
nostalgi sekolah dasar, logika paling dasar
gusti, aku memilih bersama kau, yang berhembus bagai angin
darimana datangnya dan kemana perginya, siapa tahu …
biar saja para ahli meteorologi dan lainnya sibuk analisa,
di dalam ruang-ruang kantor ber-ac, di gedung-gedung besar sana, peduli apa?
hembusan itu lebih memabukkan-ku!
****