Berita Paroki 27 September 2009

27 SEPTEMBER 2009
HARI MINGGU BIASA XXVI, TAHUN B/I
Bil 11:25-29 ; Yak 5:1-6 ; Mrk 9:38-43,45,47-48

KETIKA LIBUR LEBARAN USAI

Waktu libur lebaran kemarin, saya tidak pergi ke mana-mana. Sepanjang hari saya bermalasan-malasan, sambil nongkrong di depan TV
Melihat artis cantik berkerudung, bermain sinetron penuh penghayatan sekaligus bisa menciptakan lagu indah dan menyanyikannya secara merdu… pikiran nakal saya berujar: “Koq agamanya bukan Katolik, [‘duh, ada rasa gimana gitu?] “Cantik-cantik koq enggak Katolik ya?”
Ketika memelototi TV yang meliput aksi bantuan langsung korban gempa di Cianjur oleh para santriwan-santriwati dari Pondok Pesantren didampingi Ustadnya, hati saya ‘mak gregel…koq bukan dari Katolik ya?

Ketika membuka Harian Pagi KOMPAS, saya membaca ada tokoh wanita yang amat produktif serta kreatif menulis buku dan mendirikan komunitas para penulis, tetap lagi-lagi,.. wanita itu berjilbab!
Ketika ada orang dari golongan lain pada kultumnya (kuliah-tujuh-menit) mengkotbahkan hal-hal cinta kasih, rasanya hati ini tak rela; bukankah ajaran kasih merupakan klaim dari ajaran kristiani? Pikiran-pikiran semacam itu, walau kelihatan kekanak-kanakan, tetapi jujur saja sering muncul di benak saya.
Bahkan ketika Mbah Surip (alm) meledakkan lagu “Thak Gendhong”, saya merasa bahwa syair lagu itu amat kristiani banget. Dan, ketika mengadakan pertemuan Bulan Kitab Suci kemarin, kami masih tetap membahas syair lagu ‘Thak Gendhong” tadi. [Bukankah Tuhan senantiasa menggendong kita ke mana-mana, justru pada saat kita berada dalam perjuangan hidup ini?, Karena kasih-Nya, Tuhan akan mengutus para malaikatnya untuk menatang (menggendhong) kita. “Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:12, Mat 4:6, Luk 4:11] Tetapi, ya, kembali pada masalah tadi, Mbah Surip bukan orang Katolik ‘kan? Meskipun syairnya amat kristiani..
Ketika Majalah HIDUP no. 34, 23 Agustus 2009, mengulas WS Rendra yang telah mangkat beberapa waktu lalu, banyak milis memasalahkan soal relijiusitas WS Rendra dan menjadikannya sebagai polemik yang hangat.

Dan, apakah ada sesuatu yang aneh?Tidak.

Dengarkan Bacaan Injil hari ini. Ketika para murid Yesus melihat ada orang lain membuka praktek pengusiran setan, mereka protes! “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”
Tetapi Yesus berpikiran lain. Kata-Nya: “Jangan kamu cegah dia!”

Saya merasa bahwa kadang-kadang kita –sebagai warga kristiani– menganggap diri sebagai warga yang eksklusif (lawan dari inklusif), merasa diri paling dikasihi Tuhan, sehingga wawasan terhadap liyan (orang lain, sesama) perlu dibuka lebih lebar lagi. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan perumpaan yang gamblang dalam cerita The Good Samaritan, Orang Samaria yang murah hati (baca Luk 10:25-41). Bahwa orang lain (liyan), tanpa harus menjadi kristiani, bisa berbuat amat kristiani, melebihi orang kristiani sendiri! Lucunya lagi, ada seorang Kiai Muslim, Pengasuh Ponpes Rudlotul Fatihah, Bantul, KH Muhammad Fuad Riyadi (38), berani mengatakan bahwa “… saya hapal ‘Malam Kudus’, lagu rohani umat Katolik saat Natal. Liriknya bagus. Lagunya bagus. Saya suka Natal, gereja. Saya suka semangat Natal, damai di bumi damai di hati. Saya berani katakan, lagu ‘Malam Kudus’ itu lagu Islami,” (!!)

Sikap suka menilai, menaksir, dan merasa diri paling hebat, dan mengabaikan orang yang tidak sependirian dengan kita, amat dekat dengan sifat Farisi yang selalu dikritik dan dikecam Yesus.
Pointnya adalah kembali kepada kita masing-masing. Hingga saat ini, apakah aku masih menganggap bahwa orang lain (baca: sesamaku) tidak akan bisa menyalurkan cinta kasih kepada orang lain? Bahwa kasih mereka berbeda dengan kasih yang Yesus ajarkan? Apakah perbuatan baik mereka menjadi tidak ada artinya karena tidak dalam naungan Gereja?

Berbangga menjadi “anak-anak Tuhan” adalah baik, tetapi mengeliminasikan orang lain ke dalam kelas yang lebih rendah, bertentangan amat jauh dari ajaran Kristus. Bukankah Roh Kudus berkarya di mana Ia mau (Bacaan Pertama)? Jadi, yang kita perlukan adalah ketajaman intuisi untuk bisa memahami cara Roh Allah bekerja, bahkan orang lain (=liyan) yang tidak seiman pun dengan kita dapat dipakai Allah bagi bekerjanya rahmat. (Fr. Azzis A)

04 OKTOBER 2009
HARI MINGGU BIASA XXVII
Kej 2:18-24 ; Ibr 2:9-11 ; Mrk 10:2-16

PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I

Oktober 2009

07 Rb Pw SP. Maria Ratu Rosario

JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI
03-04 Oktober 2009

Gereja St. Anna

Hari : Sabtu, 03 Oktober, Jam 17.30
Pen. jwb : Duren Sawit Indah; Stellamaris, Maria Asumpta
Koor : Duren Sawit Indah

Hari : Minggu, 04 Oktober, Jam 06.30
Pen. jwb : Pondok Bambu II; Barnabas, Nasareth
Koor : Gloria

Hari : Minggu, 04 Oktober, Jam 08.30
Pen. jwb : Malaka Sari II; Yohanes Pemandi, Paulus Rasul
Koor : Gregorian

Hari : Minggu, 04 Oktober, Jam 16.30
Pen. jwb : Klender; Joyoseputro, Herman Bouwens
Koor : Sanjaya

Hari : Minggu, 04 Oktober , Jam 18.30
Pen. jwb : Duren Sawit Selatan; Angela, Th. d’Avilla
Koor : Duren Sawit Selatan

Stasi Yoakhim

Hari : Sabtu, 03 Oktober, Jam 18.30
Pen. jwb : St. Katharina
Koor : Angelus

Hari : Minggu, 04 Oktober, Jam 08.00
Pen. jwb : St. Matius
Koor : WKRI Wil. Malaka Sari I

Stasi MBS

Hari : Minggu, 04 Oktober, Jam 08.00
Pen.jwb : Bintara Jaya
Koor : Swara Swani

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman Pertama

Antonius Haryatmo B. Nugroho Lk. St. Angela
Nuraini GKI

Pengumuman Kedua

Yustinus Anggun Susilo Lk. St. Mikael
Rosalina Soumury GKM

Antonius Pratana Sembiring Prk. St. Antonius Padua
Maria Ina Darmayanti Lk. St. Benedictus

Hubertus Poedjii Harsono Prk. St. Theresia
Lidwina Nurul Leily Lk. Luciana

Pengumuman Ketiga

FA. Anggara Adi Handoko Lk. Paulus Rasul
Anastasia Prihanti Wulandari Prk. Rasul Barnabas

Rudolfus Bengu Prk. St. Antonius
Bernadetha Bhoki Lk. Soegijapranata

Andreas Setianto Yudha A. Chandra Prk. St. Servatius
Genoveva RD. Sri Kuntari Lk. Fransiskus

PDKK

PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut bersukacita dalam merenungkan firman Tuhan dengan tema “Perjuangan Hidup Berbangsa dan Bernegara”, pada Hari/Tanggal: Rabu, 30 September 2009, Jam : 19.00 WIB. Pwt : Fr. P. Andri Astanto, SJ. Di : Gd. Yos Sudarso.

BULAN ROSARIO

Panitia Bulan Rosario Maria Oktober 2009 mengundang Bpk/Ibu/Sdr/i untuk hadir dalam Misa Pembukaan Bulan Rosario, pada Hari/Tanggal : Kamis, 01 Oktober 2009, Jam : 19.00 (diawali dengan Doa Rosario jam 18.30). Di : Gereja St. Anna.

BURSA KERJA

Dicari Tenaga Penjualan. Syarat : Pria / Wanita, usia 25 – 40 Tahun, memiliki Motor dan BPKB Motor atas nama sendiri; pengalaman kerja min 2 thn, mempunyai motivasi yang tinggi dan dapat bekerja dengan team, berjiwa besar, ulet, dan siap untuk bekerja keras. Lamaran dapat dikirim melalui email : hrdicetea@gmail.com

Pojok liturgi

ROSARIO

Rosario adalah suatu rangkaian doa beserta ?renungan peristiwa Alkitab, yang dilakukan dengan bantuan serangkaian biji-biji. Biji-biji tsb membentuk karangan doa bagaikan karangan bunga mawar (= rosa; Lat.) dan karena itu disebut rosarium.

Mengulang doa yang sama bertradisi lama dan bersifat umum. Sejak abad ke 5 para rahib di Timur Tengah mengulang seruan ‘Tuhan Jesus Kristus, kasihanilah kami!’ sepanjang hari. Kebiasaan ini melanjutkan tradisi Yahudi; mirip dikr (baca: zikir) dlm kaum sufi (mis. Menyerukan 99 nama Allah) dengan menggunakan tasbih. Di India, orang saleh memakai biji yang dirangkai untuk mengulangi mantra tertentu. Doa yang menenangkan itu diambil-alih orang Budha di Tiongkok (abad ke 10) dan di Jepang. Jadi, doa-ulang bertradisi panjang di seluruh Asia. Dlm sementara kalangan Gereja Timur, Rosari terdiri atas 100 atau 107 biji dan tidak selalu berkaitan dengan Maria, melainkan sekedar rangkaian doa-doa tertentu saja.

1. Sulit untuk memastikan kapan Rosari dibentuk. Rosario berawal sejak S. Dominikus dari Prusia (+1460), rahib Ordo-Kartusian, menambahkan meditasi macam-macam “peristiwa” pada setiap sepuluh Salam Maria (1409). Sekitar 1475 Pater Dominikan (di Koeln, Jerman) menetapkan 15 peristiwa yang 20 tahun kemudian dipuji Paus. Dengan demikian , Rosari mendapat bentuknya seperti sekarang.
2. Doa Rosari kini seluruhnya terdiri dari 20 peristiwa sejarah penyelamatan yang terjadi di dalam Injil. Peristiwa itu adalah 5 peristiwa dari masa kanak-kanak Jesus (peristiwa gembira), 5 peristiwa dari kesengsaraannya (peristiwa dukacita), 5 dari kehidupan Jesus dan Maria (peristiwa mulia) dan 5 dari karya penyelamatan Jesus (peristiwa cahaya ; ditambahkan oleh Yohanes-Paulus II). Maka, Rosari bercorak kristologis, karena berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan Bunda Maria dalam peristiwa-peristiwa yang menyangkut Puteranya Jesus.
3. Rosari diberkati oleh imam dan karenanya diperlakukan dengan hormat, pada tangan orang yang meninggal dililitkan Rosarionya.

Disarikan dari Ensiklopedi Gereja, A. Heuken, SJ, hal 140,143; terb. Cipta Loka Caraka

One Response to “Berita Paroki 27 September 2009”

  1. sekedar usul. Alangkah baiknya bila berita paroki di situs gereja ini dibuat update. Saat berita siap direlease langsung diinput juga ke situs ini, sehingga umat yg tdk kebagian lembar berita paroki minggu sebelumnya dpt mencari di situs dan bisa mempersiapkan bacaan dan menyimak lebih dalam seluruh bacaan dan homili pada saat misa berlangsung, tanpa harus mencari dr sumber2 lain. Trm kasih.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>