Berita Paroki 26 – 27 Juni 2010
27 Juni 2010
Hari Minggu Biasa XIII
1Raj 19:16b, 19-21 ; Gal 5:1, 13-18 ; Luk 9:51-62
HAL MENGIKUTI YESUS
“Menjadi Katolik itu mudah, tetapi mengikuti Yesus tidak!”, kata seorang teman saya pada suatu hari.
“Memang berbeda antara menjadi Katolik dan mengikuti Yesus?”, tanya saya.
“Beda dong. Menjadi Katolik itu mudah asal mendaftar menjadi katekumen, mengikuti pelajaran selama kurang lebih setahun; dan ketika ujian lulus, pasti dibaptis menjadi Katolik.”, jelasnya kemudian.
“Lha, kalau mengikuti Yesus?”
“Mengikuti Yesus beda. Coba dengarkan Injil hari ini! Ada orang ingin mengikuti Yesus, memohon-mohon, tetapi Yesus malah mengatakan ‘Serigala mempunyai liang dan burung-burung mempunyai sarang. Tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya’, sanggupkah mengikuti Pribadi yang seperti itu? Sedangkan kepada orang yang tidak meminta mengikuti-Nya, Yesus malah mengatakan ‘Ikutlah Aku!’”.
“Walah, saya malah jadi bingung nih…!”, sergah saya sebelum teman saya itu sempat menjelaskan lebih lanjut.
Yang saya ketahui, bahwa dalam hal mengikuti Yesus seseorang harus berani melepaskan egoisme pribadi. Sebenarnyalah manusia adalah bejana-bejana rapuh. Hanya egoisme yang menyesatkan pikiran manusia seakan-akan ia bisa menentukan kemana ia mau dan berkehendak. Termasuk dalam hal mengikuti Yesus.
Mengikuti Yesus tidak cukup dengan mengatakan “Aku mau mengikuti-Mu, Yesus, kemana pun Engkau pergi”, karena Yesus akan menantang kita “Sanggupkah kamu hidup dengan cara-Ku?” Mengikuti cara hidup (way of life) Yesus harus berani mati terhadap diri sendiri, seperti Santo Paulus menulis: ’Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku’ (Gal 2:19b-20a). Kisah kesaksian Santo Paulus menjadi rasul Yesus Kristus memang fenomenal. Dari seorang penista semua pengikut Yesus, malah dipanggil Yesus sendiri ketika Paulus (d/h Saulus) dalam perjalanannya ke Damsyik, hingga akhirnya ia rela mematikan dirinya sendiri (disalibkan dengan Kristus) untuk bisa hidup dengan way of life Yesus Kristus. Santo Paulus rela mematikan rasa egoisme diri untuk menista para pengikut Yesus, dan lebur dalam bara api cinta Yesus. Hampir semua surat-surat Paulus memberikan kesaksian senada. Mati terhadap diri artinya matinya egoisme pribadi. Tidak ada egoisme pribadi di hadapan Yesus. Ego ini kadangkala tersembunyi dalam segala macam keinginan “Aku ingin menguburkan saudaraku dulu” atau “Aku ingin berpamitan dulu dengan saudara-saudaraku” atau “Aku belum punya waktu”, “Tunggu aku kalau sudah pensiun”, “Biar anak-anak gedhe dulu, baru aku aktif di Lingkungan”, “Aku enggak bisa nyanyi, biar orang lain aja!”.”Boleh pacaran dulu enggak?”, “Apa untungnya buatku?” dll.dsb.. Ego tersembunyi ini sering menyebabkan kita kehilangan kekang diri, kita dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang remeh yang akhirnya membuyarkan niat asli mengikuti Yesus.
Dari Bacaan Injil tadi, dapat kita ketahui bahwa mengikuti Yesus pertama-tama memang harus dikatakan: yang menentukan panggilan itu adalah Yesus sendiri. “Ikutlah Aku!” (bdk.Yoh 15:16: “…bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu”, kata Yesus). Inilah yang sering dinamanakan “pengalaman akan Yesus” (Experience of Yesus), ‘disentuh’ oleh Yesus, dicintai, merasa damai dalam Yesus, “dibakar oleh api cinta Kristus” (pinjam istilah Paus Benedictus XVI). dll. Yang kedua, apabila orang sudah terpanggil tidak ada seorang pun atau apapun yang mampu merintanginya. Ada pameo: “Dilarang malah nekad, didorong-dorong malah mundur” Dan yang ketiga, apabila ia sudah (merasa) terpanggil [apapun posisi dan status Anda] tidak layaklah kalau masih mementingkan rasa egoisme diri, termasuk keinginan-keiginan pribadi. Kepentingan Yesus Kristus yang harus dinomersatukan. Dan, inilah hal yang sulit!. (Fr Asisi Adi)
04 Juli 2010
Hari Minggu Biasa XIV
Yes 66:10-14c ; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12,17-20
JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI
03-04 Juli 2010
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 03 Juli, Jam 17.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Baru: Keluarga Kudus
Koor : Duren Sawit Baru
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 06.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Indah; Martinus
Koor : Yohanna
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 08.30
Pen. Jwb : Klender; Adrianus Samadi
Koor : SMA Budhaya
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 16.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Timur; Elisabeth
Koor : Gregorian
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 18.30
Pen. Jwb : PDKK/ PDOMKK
Koor : PDKK/ PDOMKK
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 03 Juli Jam 18.30
Pen. Jwb : St. Ignatius
Koor : St. Paulus
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 08.00
Pen. Jwb : St. Monica
Koor : Lilin Suci
Stasi MBS
Hari : Minggu, 04 Juli, Jam 08.00
Pen. Jwb : Wilayah Billy&Moon
Koor : Madah Trias Swara
PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman Pertama
Tjong Liat Nen Pemangkat
Lidia Sri Nancy Hutabarat Lk. Elisabeth
Sirilus Catur Prasetyo Prk. Mathius-Bintaro
Irma Carolina Lk. Ursula
Pengumuman Kedua
Antonius Oka Mahendra Kauripan Lk. Nazareth
Alexandra Tanti Alodia Pernama Prk. St. Andreas-Kedoya
Hotdiman Somundar Sitanggang Lk. Leonardus
Inglen Verawaty Naibaho HKBP
David Fajar Santoso Rus Prk. Theresia
Christina Dyan Puspita Sari Lk. Martinus
Pengumuman Ketiga
Markus Puthut Harmiko Prk. St. Agustinus
Agnes Krismawati Lk. Mikael
Tarsisius Tukijan Lk. Maria Asumpta
Lyster Renny Sitorus Prk. Mathias
INFORMASI
V PDKK : Mengundang umat St. Anna untuk ikut bersuka cita dalam merenungkan Sabda Tuhan dengan tema “Praise and Workship” pada Hari/Tanggal: Rabu, 30 Juni 2010, Jam: 19.00 WIB. Pwt: Bpk. Anwar. Di: Gd. Yos Sudarso lt. 1.
V BAPTIS BAYI: Formulir Baptis Bayi dapat diambil di sekretariat paroki st. Anna. Rekoleksi baptis bayi diadakan setiap minggu keempat tiap bulannya dan baptisnya diadakan setiap minggu pertama pada bulan berikutnya setelah rekoleksi.
V MEDITASI ST. ANNA: Kelompok Meditasi St. Anna mengajak umat St. Anna untuk ikut “Meditasi Bersama”, setiap hari Sabtu, jam 07.00. Di Gd. Yos Sudarso lt. 2.
V LEGIO MARIAE : Kelompok Legio Mariae Presidium Maria Guadalupe mengundang umat St. Anna yang ingin lebih mengenal Bunda Maria dan ingin berkarya dalam karya pastoral kunjungan umat, untuk bergabung dan hadir dalam rapat presidium setiap hari Sabtu, Jam 16.00. Di Gd. Yos Sudarso lt. 2.
WORKSHOP MANAJEMEN EKONOMI KELUARGA
Mengundang para penggerak komunitas lingkungan untuk mengikuti “Pelatihan Manajemen Ekonomi Keluarga” pada Hari: Sabtu (14.00-21.30) dan Minggu (08.00-16.00), Tanggal: 3 dan 4 Juli 2010, di Gd. Yos Sudarso. Pelatihan ini merupakan kerjasama antara Dewan Paroki St Anna dengan Yayasan Purba Danarta, sebuah bank dan lembaga penyedia pelatihan ekonomi mikro yang berkantor pusat di Semarang.
Ditengarai bahwa ada banyak keluarga yang belum mampu mengatur keuangan secara bijaksana sehingga boros, konsumtif dan tidak memiliki tabungan yang seharusnya. Pelatihan ini diharapkan bisa membantu keluarga-keluarga untuk bisa berperilaku hemat, bisa lebih banyak menabung dan lebih produktif. Untuk memastikan keikutsertaannya pada program ini, dimohon setiap peserta memberikan dana partisipasi sebesar Rp 10.000,-. Tempat pendaftaran: Sekretariat Paroki St Anna.
PELUANG PENDIDIKAN WIRAUSAHA
Dicari 100 orang muda untuk dididik menjadi wirausahawan. Terbuka untuk umum, bebas untuk semua agama, golongan, suku, ras, dst. Akan diberikan: (1) uang saku di atas Rp 1 juta per bulan, (2) modal wirausaha pada akhir pendidikan wirausaha selama 12 bulan. Syarat: pria/wanita berjiwa muda, memiliki impian menjadi pengusaha, berani, ulet dan tidak gengsian, berbadan dan berjiwa sehat, berpendidikan D1 atau pernah kuliah, tidak bekerja. Program Kursus Praktek Kewirausahaan (KPK) ini merupakan kerjasama antara Seksi Pelayanan Sosial Ekonomi (SPSE) Paroki St Anna dengan PT Tumbuh Berkembang Indonesia. Walk-in interview/presentasi pendidikan awal di Gd. Yos Sudarso. Pada hari Minggu, 4 Juli 2010 pukul 13.00. Tempat pendaftaran: Sekretariat Paroki St Anna.
BANTUAN BENCANA KEBAKARAN
Terima kasih kepada seluruh umat St. Anna yang sudah menyumbang untuk korban kebakaran lingkungan Herman Bouwens. Jumlah sumbangan uang tunai yang sudah diterima melalui sekretariat paroki dari tanggal 15 Juni s/d 21 Juni 2010 sebesar: Rp 2.630.000,- ; dari hasil kolekte dan kas stasi MBS sebesar: Rp 7.204.000,- dan sumbangan non tunai sudah di salurkan ke Wisma Samadi. Berikut rekapan total sumbangan yang telah masuk melalui Sekretariat:
| Keterangan | Nominal |
|
Rp 6.669.000,- |
|
Rp 5.350.000,- |
|
Rp 2.630.000,- |
| Hasil Kolekte & Kas stasi MBS | Rp 7.204.000,- |
| Total | Rp 21.853.000 |
Uluran tangan anda sangat berarti bagi mereka.
BURSA KERJA
Dibutuhkan segera:
a) Tenaga Administrasi. Syarat: wanita, min. Lulusan SMK, berpengalaman min. 02 thn, berdomisili di sekitar Duren Sawit ; b) Drafter. Syarat: menguasai autocad dan gambar 3D dengan 3D max, berpengalaman min. 02 thn. Bagi yang berminat untuk a dan b dapat menghubungi (021) 707 80838.
Pojok Liturgi
PENGERTIAN STIPS DAN IURA STOLAE
Istilah yang lazim digunakan dalam kodeks (KHK, 1983) yang dimaksudkan dengan stips (stipendium) adalah: sumbangan suka rela umat beriman dalam bentuk uang kepada seorang imam dengan permintaan agar dirayakan satu atau sejumlah Misa untuk ujud/intensi dari penderma. Stips merupakan balas jasa dari penghargaan suka rela bagi sang imam yang telah melayani suatu kebutuhan umat beriman. Tapi bukan kewajiban umat dan imam pun tidak berhak menuntut.
Sedangkan Iura stolae adalah: sumbangan umat beriman kepada seorang imam yang melaksanakan perayaan sakramen (misalnya: baptis, perkawinan, pengurapan orang sakit) atau melakukan suatu pelayanan pastoral lainnya seperti pemberkatan rumah. Namun karena sudah “salah kaprah” kedua pengertian tersebut disamakan saja, sehingga istilah tersebut juga lazim disebut stipendium. Perlu diperjelas lagi bagi kita pemahaman tentang stipendium maupun iura stolae adalah berbeda dengan persembahan (oblationes) dan derma (alms. donation), kolekte (collection).
Persembahan (oblationes) adalah pemberiaan suka rela dari umat beriman kepada Allah dalam perayaan peribadatan ilahi dalam bentuk natura (roti, anggur, beras, makanan, dll.) maupun dalam bentuk uang. Pemberian dalam bentuk uang yang dikumpulkan disebut kolekte. Maka kalau ada umat yang mengumpulkan sewaktu perayaan atau yang meletakkan uang dalam amplop di atas meja altar dengan tidak menyebut intensinya itu bukan iura stolae, atau stipendium melainkan kolekte persembahan yang harus dipakai untuk kepentingan Gereja atau paroki. Karena itu, imam tidak berhak mengambilnya untuk kepentingan pribadi.
Makna stips Misa
Sejarah kebiasaan memberi stipendium pada perayaan Misa sudah lama dipraktekkan dalam Gereja, bahkan usianya sejak kehidupan Gereja itu sendiri. Meskipun nama dan penafsirannya berubah-ubah selaras dengan perkembangan jaman, tetapi intinya tetap sama yakni bahwa stipendium Misa adalah persembahan dari umat sebagai ungkapan pemberian diri umat kepada Gereja.
Aturan kodeks tentang stipendium dan iura stolae
Kitab Hukum Kanonik menegaskan perihal stipendium sebagai suatu kebiasaan/tradisi yang teruji dan merayakan misa sesuai dengan intensi/maksud tertentu dari penderma. Kanon 945, § 1: “Sesuai dengan kebiasaan Gereja yang teruji, imam yang merayakan Misa atau berkonselebrasi boleh menerima stips yang dipersembahkan agar mengaplikasikan Misa untuk intensi tertentu”. Jelas di sini nampak unsur kewajiban dari imam untuk merayakan misa sesuai dengan intensinya. Imam tidak boleh tidak merayakan misa tanpa intensi yang dituntun sesuai dengan maksud dari penderma. Demikian juga imam hendaknya melayani semua orang dalam merayakan ekaristi meskipun tanpa stips (stipendium). Hal itu ditegaskan dalam kanon 945, § 2: “Sangat dianjurkan agar para imam merayakan misa untuk intensi umat beriman kristiani, terutama yang miskin, juga tanpa menerima stips”.
Kitab hukum kanonik juga menyatakan larangan imam menuntut umatnya dalam hal stipendium dalam pelayanan kepada umat secara tegas dinyatakan dalam kan. 848: “Pelayan sakramen tidak boleh menuntut apa-apa bagi pelayanannya selain persembahan (oblationes) yang telah ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, tetapi selalu harus dijaga agar orang yang miskin jangan sampai tidak mendapat bantuan sakramen-sakramen karena kemiskinannya”.
Tujuan orang memberi derma dalam bentuk stipendium adalah bagi kesejahteraan Gereja dan penghidupan para pelayannya. Selain itu, umat diajak untuk bertanggungjawab secara ekonomis atas perkembangan hidup Gereja dan para pelayannya. Kanon 946 menyatakan: “Umat beriman kristiani, dengan menghaturkan stips agar misa diaplikasikan bagi intensinya, membantu kesejahteraan Gereja dan dengan persembahan itu berpartisipasi dalam usaha Gereja mendukung para pelayan dan karyanya”.
(Diambil dari berbagai sumber)







Leave a Reply