Berita Paroki 25 Oktober 2009
HARI MINGGU BIASA XXX, TAHUN B/I
Yer 31:7-9 ; Ibr 5:1-6 ; Mrk 10:46-52
SAKIT, SEMBUH, DAN EKARISTI
Di Surabaya, ada sebuah Rumah Sakit (RS Darmo) menggunakan ungkapan Bahasa Latin “Salus aegroti suprema lex” [artinya, keselamatan orang sakit adalah hukum yang paling utama], sebagai motto pelayanannya. Orang sakit memang perlu mendapatkan prioritas untuk dilayani. Bahkan mobil ambulance apabila sedang mengangkut pasien dan menyalakan tanda sirene pasti akan mendapatkan pelayanan istimewa di jalan umum.
Pertanyaannya, apa itu ‘sakit’ dan apa makna suatu ‘penyembuhan’?
Sakit
Sakit adalah suatu kondisi tidak nyaman yang dialami seseorang di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu. (KBBI, Ed. 3, 2005 hal 980). Entah sakit fisik ,entah non-fisik, badani atau mental, semuanya membutuhkan recovery, suatu pemulihan kondisi agar menjadi baik. Secara normal, seseorang dalam kondisi sakit pasti tidak ingin berlama-lama menjalani penderitaannya. Ia ingin sesegera mungkin lepas dari kondisi ini. Karena, pada hakekatnya, manusia itu “baik adanya” (Kej 1:31), terlebih ia dipanggil untuk menjadi sempurna (Mat 5:48). Gerak dari siklus kehidupan adalah untuk menjadi sempurna dan baik adanya. Maka apabila ada penyakit yang menderanya, ia (atau keluarganya) berusaha sekuat mungkin mengupayakan apa saja yang bisa dilakukan agar ia bisa lepas dari sakitnya.
Demikian pula perikop Bacaan Injil hari ini:
Sudah begitu lama Bartimeus, anak Timeus, yang buta duduk di tepian jalan, menunggu Sang Penyembuh lewat. Ketika Yesus lewat di hadapannya, berserulah ia “Yesus, Putera Daud, kasihanilah aku!”. Seruan ini adalah seruan seorang yang sudah tidak tahan lagi pada kondisi kebutaannya. Ia ingin lepas dari kondisi tidak nyaman ini. Ia ingin recovery menuju ke kondisi yang lebih baik dan sempurna, yakni bisa melihat.
Lalu Yesus berhenti, dan berkata: “Panggillah dia!” Kata-kata Yesus ini merupakan hukum utama bagi setiap pelayanan kristiani.. Panggillah orang-orang sakit, cukupilah kebutuhannya. Dan Yesus ingin setiap orang mengalami “menuju ke kesempurnaan” itu.
Sembuh
Sudah semenjak dulu, sakit dianggap sebagai suatu musibah. Sementara orang menganggapnya sebagai cobaan Tuhan, sebagian lagi mengganggapnya sebagai upah dari kesalahan manusia. Tetapi, lepas dari itu, kondisi sakit mempunyai dua wajah: profan/sekular dan ilahi/rohani. Maksudnya, wajah profan yakni suatu kondisi sakit itu bisa dirasakan, dilihat, dan diderita seseorang. Sedangkan wajah ‘ilahi’ yakni bahwa sakit merupakan buah-buah dosa, suatu ‘tool’ dari Allah untuk menguji iman dan takwakal manusia.
Keduanya membutuhkan suatu penyembuhan, “menjadi sehat kembali” (op.cit hal 1027) dan penyembuhan selalu merupakan kerjasama antara pasien dan sang penyembuh. Betapa ahlinya seorang dokter kalau sang pasien tidak ada kehendak untuk sembuh, maka akan sulit untuk mendapatkan recovery. Begitu pula bisa sebaliknya. Sering terjadi, dari rumah merasa sakit namun ketika masuk ke ruang praktek dokter langganan, rasanya sudah sembuh total!
Demikian konon, ada interaksi timbal balik antara Yesus dengan Bartimeus. Kata Yesus: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab Bartimeus: “Raboni, supaya aku dapat melihat!”. Lalu kata Yesus kepadanya, “…imanmu telah menyelamatkan dikau!”.
Ekaristi
Perayaan Ekaristi adalah suatu perayaan tawaran penyembuhan. Ketika menghadiri Perayaan Ekaristi, setiap umat harus berangkat dari suatu titik kerinduan sebagaimana dirasakan oleh Bartimeus, yakni kerinduan untuk disembuhkan dari segala kondisi sakit yang kita derita. Bisa saja itu “sakit” kebutaan akan penderitaan dan kemalangan orang lain di sekitarnya. “Sakit” tuli akan jeritan minta tolong orang-orang sekitar dan orang-orang yang membutuhkan perhatian kita. Atau bisu menyuarakan kebenaran di mana tidak ada keadilan, di mana ada kejahatan, fitnah, kekerasan,.dll. Sampai-sampai kita menderita kanker jiwa yang menggeroti hidup, sehingga kita mudah terbujukrayu oleh godaan dan kenikmatan duniawi, atau lumpuh akan cinta kasih kepada keluarga, anak, suami/istri, dan tetangga dll.
Oleh karena itu, sebelum menerima Tubuh Kristus, perlulah kita selalu berdoa: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh!”. (Fr Azzis A)
HARI MINGGU BIASA XXXI, TAHUN B/I
Why 7:2-4.9-14 ; 1Yoh 3:1- 3 ; Mat 5:1-12a
PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I
Oktober 2009
28 Rb Pesta S. Simon dan Yudas, Ras
November 2009
01 Mg HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
02 Sn PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
04 Rb Pw. S. Karolus Borromeus, Usk
31Oktober – 01 November 2009
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 31 Oktober, Jam 17.30
Pen. Jwb : Pondok Bambu II; Paskalis, Kanna
Koor : Gloria
Hari : Minggu, 01 November, Jam 06.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Indah; Immanuel, Martinus
Koor : Duren Sawit Indah
Hari : Minggu, 01 November, Jam 08.30
Pen. Jwb : Malaka Jaya I; Don Bosco, Ignatius
Koor : Symphony Altissima
Hari : Minggu, 01 November, Jam 16.30
Pen. Jwb : Buaran; Elia, Helena
Koor : Agustinus Benedictus
Hari : Minggu, 01 November, Jam 18.30
Pen. Jwb : Klender; Joyoseputro, Sanjaya
Koor : Sanjaya
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 31 Oktober, Jam 18.30
Pen. Jwb : St. Leonardus
Koor : Gracia
Hari : Minggu, 01 November, Jam 08.00
Pen. Jwb : St. Dionisius
Koor : St. Paulus
Stasi MBS
Hari : Minggu, 01 November 2009
Pen. Jwb : Bintara Jaya
Koor : Bina Iman
* Selama bulan Rosario petugas tata tertib dimohon menyiapkan petugas untuk berdoa Rosario 20 menit sebelum misa.
Pengumuman Pertama
Yulius Darwadi (Lk. Benedictus )
Suprapti (Benhil)
Christian Tirta Negara (Prk. Keluarga Kudus )
Yuliana (Lk. Paulus Rasul )
Blasius Indrawan (Prk. St. Yoseph )
Maria Yusnita Ratna Lestari (Lk. Stella Maris)
Pengumuman Kedua
P. Edison Sihombing (Prk. Arnoldus)
Raima Holong Sihaloho (Lk. Gregorius )
Erick Budi Jaya (Prk. St. Yohanes Penginjil )
Flora Rohma Nita Sinaga (Lk. St. Petrus )
Robertus Mujiono (Prk. St. Arnoldus )
Florentina Kristiani Sulistiorini (Lk. Yohana)
Rafael Triloko Basanto (Prk. Maria Bunda Karmel)
M. M. Rensy Triapsari Wibowo (Lk. Mathilda )
Yohanes Baptista Anton D (Prk. Hati Kudus )
Maria Flora Rosaline (Prk. St. Mikael)
FX. Ferdinand ( Lk. Blasius )
Felisitas Meldayani Djaja (Lk. Barnabas )
Pengumuman Ketiga
Yustinus Yudo Endiarno (Lk. St. Ursula )
J. Anugria R. Meira M (Prk. Hati Kudus Yesus)
Andreas Agus Sapto Nugroho (Prk. St. Mateus)
Florentina Herispuspitasari (Lk. Bernadette)
Ireneus Munara Susanto (Prk. St. Yohanes Penginjil )
Lucia Novi Hermiyanti (Lk. Trinitas )
Paulus Danny Asmara (Lk. St. Anna)
Margareth Agustin Haryo Putri (Prk. Paskalis )
Eliza Natario (Lk. Herman Bouwens)
Fransiska Cindy (Lk. Herman Bouwens)
Gleen Mikael Leonard Tinus (Lk. Hieronimus )
Hesty Vincentia Rumondor (Prk. Bunda Hati Kudus Yesus)
Ignatius Y. Gunawan Leo (Prk. St. Yoseph)
Margaretha Irene (Lk. St. Albertus Agung)
Petrus Denn Samora (Lk. Gabriel )
Paramita Maria (Lk. Gabriel )
Petrus D. Indi Fendrastianto (Prk. Ibu Teresa)
Stephany Febriarini (Lk. St. Monica)
PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut bersukacita dalam merenungkan firman Tuhan dengan tema “Bunda Maria Lambang Kesempurnaan dan Kegenapan”, pada Hari/Tanggal: Rabu, 28 Oktober 2009, Jam: 19.00 WIB. Pwt: Ibu Elisabeth. Di: Gd. Yos Sudarso.
Dibutuhkan segera :
1. Salesman, 2. Tenaga Sales Support, 3. Designer. Syarat : Pria (untuk no 1), Wanita (untuk no 2 & 3), usia max 30 thn, , pendidikan min D3/S1 (untuk no 1, 2, & 3), berpengalaman di bidang sales min. 1 thn (untuk no 1), jujur, ulet dapat bekerja dibawah tekanan, komunikatif, penampilan menarik, bisa mengoperasikan software Adobe Photoshop, Coreldraw, Freehand, dapat bekerjasama dengan tim, penempatan di Jakarta. Lamaran dapat dikirim ke: PT SUSAN PHOTO ALBUM, perkantoran Kencana Niaga, jl. Taman Aries Blok D1 no IV Kembangan, Jakarta Barat 11620 (belakang bank BCA) atau email ke : susanalbumpro@yahoo.com.
Teologi Inkulturasi Liturgi
Dasar teologis inkulturasi ialah misteri kasih trinitas yang diwahyukan dalam rangka sejarah dan mengalami puncak dalam peristiwa Yesus Kristus. Inkulturasi merupakan konsekuensi wajar dari peristiwa keselamatan Allah sendiri yang menyejarah. Karya keselamatan Allah selalu mendarat, membumi di dalam sejarah, sebagaimana memuncak dalam peristiwa Kristus. Maka Pewartaan iman Kristiani juga hendaknya mendarat, membumi, dan “menjadi manusia”.
Dalam diri manusia yang konkrit, manusia pada umumnya terikat pada budaya, adat kebiasaan, bahasa, dan pola pikir. Oleh karena itu hendaknya Injil harus disampaikan dan dijelmakan dalam adat, budaya, bahasa, dan pola pikir manusia atau bangsa yang konkrit. Injil yang adalah daya dan kekuatan Allah dalam Kristus harus menjadi bagian dan jiwa hidup manusia yang menerima dan mengimani Injil. Inkulturasi dituntut oleh hakikat Injil karena Injil sebagai daya dan kekuatan Allah yang menyelamatkan bukanlah Injil yang an sich, semacam “roh yang melayang-layang”, melainkan Injil mengenai kehadiran Yesus Kristus dalam rangka sejarah.
Injil memang telah disampaikan dan diwartakan dengan memakai pengantaraan bahasa, ungkapan, pola pikir, dan budaya tertentu namun menurut isi batinnya Injil selalu bersifat satu dan sama, yaitu kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam Roh Kudus bagi sejarah dan dunia. Maka, jika kita berbicara mengenai inkulturasi, orang harus membedakan antara isi dan pengungkapan bagaimana Injil itu diwartakan.
Kemestian inkulturasi telah diyakini oleh Gereja, sebagaimana tampak jelas dalam Vatikan II. Gereja sungguh memandang positif kebudayaan dan adat kebiasaan para bangsa dan sejauh selaras dengan hakikat liturgi kebudayaan itu dapat masuk dan ditampung dalam liturgi (SC 37, bdk SC38.40). Kesadaran ini bertumpu pada kebutuhan dasar yang dirasakan oleh para Bapa Konsili, yaitu perlunya suatu pembaruan liturgi, mengingat “dalam liturgi terdapat unsur-unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang di sepanjang masa dapat atau bahkan harus mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang sesuai dengan inti hakikat liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok (SC 21). Dalam kutipan ini terungkap, bahwa Konsili tidak memandang seluruh tata cara liturgi yang telah diwariskan selama berabad-abad itu sebagai semacam “dogma” yang tak dapat diganggu gugat. Para Bapa Konsili menyadari sekali bahwa unsur-unsur liturgi yang ada selalu terdiri atas unsur-unsur hakiki yang memang berkaitan dengan penetapan Kristus sendiri dan unsur-unsur lain yang hanya muncul dalam perkembangan sejarah dan tidak termasuk unsur hakiki.
Dalam rangka pembaruan inilah, suatu inkulturasi lebih lanjut dibayangkan oleh para Bapa Konsili Vatikan II. Dalam SC artikel 22-40, Vatikan II memberikan kaidah-kaidah pembaruan liturgi, agar pembaruan itu tidak berlangsung secara liar dan seenaknya sendiri. Pembaruan liturgi harus dibuat sedemikian rupa, sehingga di satu pihak tetap menjaga dan mengungkapkan kekayaan budaya setempat. Maka, maksud ide inkulturasi selalu jelas, yaitu bagaimana liturgi itu benar-benar liturgi umat setempat (karena terungkap dengan, dalam, dan melalui budaya setempat) dan sekaligus benar-benar liturgi Gereja Katolik.
Sumber Utama : E. Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makan, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta : Kanisius, 1999







Leave a Reply