Berita Paroki 22 Februari 2009
HARI MINGGU BIASA VII
Yes. 43:18-19.21-22.24b-25; 2Kor. 1:18-22; Mrk. 2:1-12
HATI YANG LUMPUH, BANGUNLAH!
Hari-hari serasa semakin cepat berlalu saja. Rasanya baru kemarin kita merayakan Natal, besok hari Rabu depan, sudah Hari Rabu Abu. Panitia Natal baru saja dibubarkan, sudah dibentuk Panitia Paskah.
Alkisah, di surga sedang geger. Tuhan Yesus menghilang.
Para malaikat mulai berkasak-kusuk, menebak-nebak ke mana Tuhan Yesus pergi. “Ya, sejak Natal lalu ia pergi ke Eropa. Karena Natal di sana tak lagi sakral, sudah terlalu komersial…”, kata malaikat yang satu.
Malaikat yang lain menimpali,”Enggak mungkin. Pasti Tuhan Yesus berkunjung ke Bethlehem, karena Ia merayakan Hari Ulang Tahun-Nya si sana bersama para peziarah dari pelbagai bangsa.”
“Oi, saya yakin-bin-yakin. Tuhan Yesus pasti ke Indonesia, karena di sana lagi banyak bencana. Ada banjir, angin ribut dan tanah longsor. Ada gonjang-ganjing pemilu. Di sana butuh Tuhan Yesus….,” kata Malaikat ketiga yang prihatin pada nasib bangsa Indonesia.
Tak lama kemudian, menjelang Hari Rabu, tiba-tiba Tuhan Yesus muncul lagi di hadapan mereka. Para malaikat itu tergopoh-gopoh menemui-Nya untuk memastikan ke mana Tuhan Yesus pergi, sembari memastikan siapa yang paling benar menebaknya.
“ Semua salah,” kata Tuhan Yesus,” Saya pergi ke dalam hati setiap orang. Karena manusia dewasa ini, apalagi menjelang masa puasa ini, banyak yang meninggalkan hatinya.”
Rabu abu adalah awal dari suatu Retret Agung umat kristiani. Dalam retret agung ini, umat beriman diharapkan mundur dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, dan kembali menghuni hatinya masing-masing yang telah lama ditinggalkan, dengan jalan berpantang dan berpuasa. Jalan pantang dan puasa perlu dilakukan, karena itu merupakan lembar setiap manusia kembali menata rumah hatinya. Masa Puasa adalah saat tepat umat beriman menyapu kekotoran hati, menyingkirkan dosa-dosa yang melekat. Suara hati yang lama tidak didengarkan, dalam masa ini, kembali ditelisik lagi. Semua tak lain bertujuan agar Kehendak Tuhan menjadi semakin layak tinggal di hati.
Apakah berpantang dan berpuasa hanya bertujuan untuk menata hati yang remuk redam karena dosa?
Bacaan Injil hari ini mengisahkan seorang lumpuh yang mendatangi Yesus. Sebagai seorang yang cacat lumpuh, hatinya pasti remuk redam. Ia merasa tidak berdaya dan tidak berguna. Ia tidak mempunyai nilai sama sekali di hadapan banyak orang. Selain itu, dalam masyarakat Semitis, cacat tubuh dianggap sebagai kutukan dosa. Maka Yesus berkenan mentahirkan si lumpuh,” Mana yang lebih mudah mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?” Si lumpuh tahu persis bahwa Yesus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, karena Ia adalah Allah Yang berinkarnasi menjadi manusia.
Seperti apakah hati yang lumpuh itu?
Hati yang lumpuh adalah hati yang remuk redam, hati yang penuh dendam, hati yang kecil penuh kekhawatiran, hati yang disesaki oleh segala nafsu. Hati yang penuh iri dan dengki, hati yang cemburu, hati yang selalu memegahkan diri. Hati yang tertutup rapat atas penderitaan orang lain, hati yang penuh kemarahan, hati yang penuh rencana busuk; hati yang loba, bermental korupsi, dan penuh rencana kekerasan. Hati yang malas, suka menindas, hobi memeras.
Hati yang lumpuh adalah hati yang rusak sebelah, membusuk, dan tidak peka terhadap kebutuhan sesama.
Hati yang lumpuh seperti itu, dalam masa Puasa ini hendaknya dibangun kembali, sehingga ketika suatu saat Yesus mengetuk pintu hati kita, dengan senang hati kita mempersilahkan Dia masuk di kedalaman hati. (FA. Adihendro)
HARI MINGGU PRAPASKAH I
Kej. 9:8-15; 1Ptr. 3:18-22; Mrk. 1:12-15
PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I
Februari
22 Mg Hari Minggu Biasa VII
23 Sn Pw S. Polikarpus, UskMrt
25 Rb HARI RABU ABU. PUASA DAN PANTANG
Maret
1 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH I
8 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH II
15 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH III
19 Km HARI RAYA S. YOSEF, SUAMI SP. MARIA
22 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH IV
25 Rb HARI RAYA KABAR SUKACITA
29 Mg HARI MINGGU PRAPASKAH V
28 Feb – 1 Maret 2009
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 28 Februari , Jam 17.30
Pen. jwb : Mal. Jaya I, Lk Ignasius & Don Bosco
Koor :
Hari : Minggu, 1 Maret, Jam 06.30
Pen. jwb : Pd. Bmb II, Nasareth & Kana
Koor : Gloria
Hari : Minggu, 1 Maret, Jam 08.30
Pen. jwb : DS. Selatan, Lk Angela & Ursula
Koor : DS. Selatan
Hari : Minggu, 1 Maret, Jam 16:30
Pen. jwb : Pd. Bmb I, Lk Yoseph & Phil. Rsl
Koor : Pd. Bmb I
Hari : Minggu, 1 Maret , Jam 18:30
Pen. jwb : DS. Timur, Lk Leo Ag. & Albertus Ag.
Koor : DS. Timur
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 28 Februari , Jam 18.30
Tatib : Yustinus
Koor : Alexander & P. Rasul
Hari : Minggu, 1 Maret, Jam 08.00
Tatib : Hieronimus
Koor : Mal. Sari I
Stasi MBS
Hari : Minggu, 1 Maret, Jam 08.00
Pen. jwb : Bintara Jaya
Koor : Bina Iman Anak
Jadwal Dokter Gigi
• 1 Maret : drg. Dian
• 8 Maret : LIBUR
Jadwal Dokter Umum
• 1 Maret : dr. Dwi Jani J
• 22 Februari : dr. Tuti
Misa RABU ABU di Gereja St. Anna: Jam 06.00, 07.30 ( pen. jawab Strada) dan jam 19.00 WIB. Di Stasi Yoakhim: Jam 19.00 WIB. Di Stasi MBS: Jam 06.00 WIB.
St. Peter’s High School akan mengadakan secara cuma – cuma:
Pemeriksaan gula darah & kolesterol, untuk masing2 100 orang pada hari Minggu, 1 Maret 2009 jam 09.00 s/d 11.00 Wib. Tempat gd. Yos Sudarso Lt. II. Umat diwajibkan puasa selama 12 jam sebelum periksa. Pendaftaran : 22 Feb. 09 di Balai pengobatan St. Anna. Setiap peminat hanya boleh satu pemeriksaan.
Sakramen tobat bagi orang sakit 2-22 Maret 2009. Dimohon wilayah yang membutuhkan membuat penjadwalan dengan romo moderator masing-masing.
03 Maret | Wilayah Duren Sawit Indah | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
03 Maret | Wilayah Duren Sawit PTB | Rm. Dibyadarmaja, SJ
03 Maret | Wilayah Duren Sawit Timur | Rm. Sudriyanta, SJ
04 Maret | Wilayah Duren Sawit Baru | Rm. Dibyadarmaja, SJ
04 Maret | Wilayah Duren Sawit Selatan | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
04 Maret | Wilayah Pondok Bambu I | Rm. Sudriyanta, SJ
05 Maret | Wilayah Klender | Rm. Dibyadarmaja, SJ
05 Maret | Wilayah Pondok Bambu II | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
05 Maret | Wilayah Buaran | Rm. Sudriyanta, SJ
11 Maret | Wilayah Malakasari II | Rm. Dibyadarmaja, SJ
11 Maret | Wilayah Malakasari I | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
11 Maret | Wilayah Malaka Jaya 2 | Rm. Sudriyanta, SJ
12 Maret | Wilayah Pondok Kelapa I | Rm. Dibyadarmaja, SJ
12 Maret | Wilayah Pondok Kopi I | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
12 Maret | Wilayah Pondok Kelapa II | Rm. Sudriyanta, SJ
17 Maret | Wilayah Billy Moon | Rm. Dibyadarmaja, SJ
17 Maret | Wilayah Pondok Kopi II | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
17 Maret | Wilayah Bintara Jaya | Rm. Sudriyanta, SJ
18 Maret | Wilayah Malaka Jaya 1 | Rm. Ardi Handojoseno, SJ
Dengan pengalaman selama 25 tahun, Yayasan Keluarga Bunda yang menyelenggarakan PG/TK Maria Yacintha, SD Maria Fransiska, SMP Pax Ecclesia dan SMA Pax Patriae siap menerima putra – putri anda. Hubungi nomor telp: 021-93720118 untuk KB/TK dan SD atau 02182413795 untuk SMP dan SMA. Pendaftaran dari tanggal 17 Februari – 30 April akan mendapatkan Potongan Biaya Khusus.
1. TK YOHANES RASUL, membuka pendaftaran siswa baru thn ajaran 2009/2010. Pendaftaran setiap hari kerja jam 08.00-12.00 Wib. Untuk info lengkap hubungi Kep. Sek TK Yohanes Rasul(021-8608540)
2. SMK KATOLIK SINT YOSEPH, membuka pendaftaran siswa baru thn ajaran 2009/2010. Info lengkap dapat dilihat di papan pengumuman gereja.
BURSA KERJA
Dibutuhkan:
1. Phone Banking Officer & Collection Officer, min DIII, laki/perempuan max. 35 th, fasih berbahasa Inggris, bisa mengoperasikan komputer, punya kepribadian yang baik, mampu bekerja di bawah tekanan dan mandiri. Kirim lamaran ke PT. Alihdaya Indonesia, Gedung adalowongan.com lt. 1&2 Komp. Pertokoan Duta Mas Fatmawati Blok A1 No.42-Jl. RS. Fatmawati No. 39, Jakarta Selatan
Hari Minggu Biasa VII, 22 Feb. 09
Rabu Abu menandai permulaan masa Pantang dan Puasa selama 40 hari, paralel dengan lama Yesus berpuasa di padang gurun (Mrk 1:13; Mat 4:2; Luk 4:2). Nama Rabu Abu berasal dari “Dies Cinerum/Hari Abu” dalam rubrik misa Romawi warisan Paus Gregorius Agung (590-604). Thomas Talley, ahli sejarah liturgi mencatat data liturgi Rabu Abu yang dimana dahi ditandai dengan abu terlacak pada upacara Kepausan Roma tahun 960.
Akar kebiasaan ini ada dalam Perjanjian Lama dimana abu digunakan sebagai tanda merendahkan diri dan pengakuan kefanaan, juga sebagai tanda penyesalan dan pertobatan dari dosa (Yer 6:26; Yes 58:5; Dan 9:3; Yun 3:6). Semula penggunaan abu lebih dihayati sebagai devosi pribadi, baru belakangan menjadi bagian ritus pertobatan publik para peniten (orang yang bertobat). Di hari pertama masa Puasa mereka menaburi diri dengan abu, memakai pakaian dari karung dan tetap terpisah dari komunitas hingga Kamis menjelang Paskah. Dalam perkembangan berikut penandaan tobat dengan abu dari pembakaran daun palma sisa perayaan Minggu Palem yang diberkati menjadi penitensi umum bagi seluruh umat.
Menandai salib pada dahi juga meniru tanda/meterai rohani yang diterima orang Kristiani saat dibaptis, yang juga kita lakukan saat masuk gereja atau sesaat sebelum Injil dibacakan dalam misa. Hal ini menandai pelepasan dari perbudakan dosa dan setan, menjadi hamba Tuhan (lihat Yeh 9:4-6; Rom 6:3-18; Why 7:3;9:4; 14:1). Inilah inti pengalaman masa Puasa: pembaharuan kesadaran siapakah kita di hadapan Allah, menanggapi panggilan Tuhan pada kita untuk bertobat.







Leave a Reply