Berita Paroki 20 September 2009
HARI MINGGU BIASA XXV, TAHUN B/I
Keb 2:12,17-20 ; Yak 3:16,4:3 ; Mrk 9:30-37
Layakkah Kita Disebut Murid Yesus?
Minggu lalu penginjil Markus mengisahkan tentang pokok pengakuan iman kristiani yang diwakili oleh rasul Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk. 8:29).Mesias yang menderita. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk. 8:31). Namun pewahyuan itu tidak dipahami oleh para murid sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini (Mrk.9:32), meski mereka segan menanyakannya pada Yesus. Di tengah jalan mereka malah sibuk memikirkan karier mereka sendiri dalam “kabinet” Yesus, siapa yang terbesar di antara mereka, yang akan pegang pos terpenting. Mirip-mirip dengan polemik sekarang ini bagaimana kira-kira komposisi kabinet baru nanti, siapa yang akan menduduki pos-pos strategis. Tentu seperti halnya para murid waktu ditanya oleh Yesus waktu itu, apa yang mereka perbincangkan di tengah jalan? Para elite politik pun pura-pura“diam” kalau ditanya, padahal mereka sedang bertengkar memperebutkan kursi kabinet. TuhanYesus tidak memproklamirkan diri sebagai mesias yang penuh kekuasaan, tapi sebaliknya sebagai pemimpin yang siap menderita untuk menyelamatkan bangsa manusia, sebelum bangkit mulia. Yesus tidak menjanjikan jalan mudah untuk menjadi murid-Nya, jalan populer yang disukai oleh orang-orang fasik (bdk.Keb. 2:17-20).
Keutamaan Murid
Bacaan Kitab Suci, khususnya Injil minggu-minggu ini, menyegarkan kembali prinsip dasar kemuridan kristiani itu. Sanggupkah kita menjalankannya? Sudahkah kita belajar mewujudkannya dalam hidup kita sehari-hari? Semua terpulang pada diri Anda, saya, dan kita masing-masing baik sebagai pribadi maupun sebagai warga Gereja Tuhan.
Pertama, menyangkal diri dan memikul salib. (Mrk. 8:34). Murid Yesus dituntut untuk menyangkal diri dan segala kepentingannya. Mengikuti Yesus dan tidak mencari kepentingan diri sama sekali. Bersedia untuk memikul salib Tuhan, penderitaan akibat dosa dan kesalahan yang tidak dilakukannya dan bukan akibat kekonyolannya sendiri. Syarat ini sungguh tidak mudah untuk dilaksanakan sehari-hari. Kita begitu mudah tergoda untuk mencari kepentingan diri sendiri dengan berbagai bentuk dan dalihnya, bahkan tidak jarang dengan mengatas-namakan Tuhan. “Atas nama Tuhan” kita bisa saja mengkotak-kotakkan dan memusuhi teman, sahabat, sesama pelayan Tuhan, dan sebagainya, juga di dalam kegiatan menggereja sekalipun. Kedua, tidak mencari selamat sendiri. “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil ia akan menyelamatkannya.” (Mrk. 8:36). Keutamaan murid yang kedua ini pun sangat mendasar. Kalau kita masih mencari selamat untuk diri sendiri, dan tidak mau berkorban serta mendahulukan orang lain terutama yang sangat menderita; maka kita akan kehilangan keselamatan itu sendiri. Kita diajak untuk berani berkorban, mengupayakan keselamatan orang-orang lain yang rindu akan Tuhan dan warta gembira-Nya. Dalam kenyataan sehari –hari mungkin kita juga masih jauh dari keutamaan ini. Kita cenderung mementingkan diri, mencari keselamatan diri sendiri lebih dulu, masih dipenuhi hikmat dunia dengan segala iri hati yang menjadi sumber kekacauan, tidak damai, dalam hidup bersama (Yak. 3:16-18). Ketiga, pelayan dari semuanya. Injil pada hari ini mengajak kita untuk hidup dalam keutamaan murid Tuhan yang tak kalah mendasarnya ini, dalam menciptakan masyarakat damai dan berkeselamatan. Kita dituntut untuk menjadi pelayan bagi semua yang ada di seputar kehidupan kita. Hanya dengan cara demikian kita dapat menjadi murid pilihan Tuhan. Bandingkan dengan naluri dan kecenderungan diri sehari-hari, mungkin masih sangat jauh dari prinsip kemuridan ini. Setiap hari kita berjuang mati-matian dalam pekerjaan, dalam pergaulan, dalam bermasyarakat, untuk menjadi yang unggul, menjadi pemenang nomor satu, untuk menjadi yang terhebat, dengan memompa seluruh power brain kita secara profesional sampai-sampai tak memberi tempat untuk kasih dan penyelenggaraan ilahi dari Allah.
Semoga Injil hari ini menyegarkan penghayatan kemuridan kita ini, dalam tindakan dan perbuatan kita sehari-hari di dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar kita. (Matheus Supomo)
HARI MINGGU BIASA XXVI
Bil 11:25-29 ; Yak 5:1-6 ; Mrk 9:38-43,45,47-48
PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I
September 2009
27 Mg Hari Minggu Biasa XXVI
29 Sl Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung
30 Rb Pw. S. Hieronimus, ImPujG
Oktober 2009
01 Km Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, PrwPuj
02 Jm Pw Para Malaikat Pld
26-27 September 2009
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 26 September, Jam 17.30
Pen. jwb : OMK
Koor : OMK
Hari : Minggu, 27 September, Jam 06.30
Pen. jwb : Billy & Moon; Luciana, Tarcisius
Koor : Madah Triaswara
Hari : Minggu, 27 September, Jam 08.30
Pen. jwb : Pondok Bambu II; Nasareth, Soegijapranata
Koor : BIA
Hari : Minggu, 27 September, Jam 16.30
Pen. jwb : Pondok Kelapa II; Agnes, Gregorius
Koor : Pondok Kelapa II
Hari : Minggu, 27 September , Jam 18.30
Pen. jwb : Duren Sawit Baru; Betlehem, Keluarga Kudus
Koor : Vincentius
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 26 September, Jam 18.30
Pen. jwb : St. Markus
Koor : Wil Malaka Sari I
Hari : Minggu, 27 September, Jam 08.00
Pen. jwb : St. Katharina
Koor : Angelus
Pengumuman Pertama
Yustinus Anggun Susilo (Lk. St. Mikael)
Rosalina Soumury (GKM)
Antonius Pratana Sembiring (Prk. St. Antonius Padua)
Maria Ina Darmayanti (Lk. St. Benedictus)
Hubertus Poedjii Harsono (Prk. St. Theresia)
Lidwina Nurul Leily (Lk. Luciana)
Pengumuman Kedua
FA. Anggara Adi Handoko (Lk. Paulus Rasul)
Anastasia Prihanti Wulandari (Prk. Rasul Barnabas)
Rudolfus Bengu (Prk. St. Antonius)
Bernadetha Bhoki (Lk. Soegijapranata)
Andreas Setianto Yudha A. Chandra (Prk. St. Servatius)
Genoveva RD. Sri Kuntari (Lk. Fransiskus Assisi)
Pengumuman Ketiga
Samuel Setiawan Supardi (Lk. Veronika)
Yuni Liana (Tambun-Bekasi)
Antonius Hadi Purwanto (Lk. Elisabeth)
Christina Theodoris Sihombing (Prk St. Melania)
Yohanes Anto Santosa Poedjiwo (Prk St. Yoseph)
Valentina Renatta Sri R. Setiawan (Lk. St. Helena)
Akan mengadakan lomba Kitab Suci dan lomba Mazmur untuk kategori Anak dan Remaja tingkat Paroki, pada tanggal 27 September 2009. Tiap wilayah dihimbau untuk mengirimkan wakil pesertanya masing-masing 1 orang. Pendaftaran ditutup pada tanggal 20 September 2009.
KKMK St. Anna mengajak para karyawan/ti muda untuk ikut serta dalam kegiatan Retret dan Ziarah, pada Hari: Jumat – Minggu, Tanggal : 20-22 November, di Gua Maria Padang Bulan. Biaya : Rp 250.000,- dengan sistem pembayaran 2 kali pembayaran . Tempat terbatas. Bagi yang berminat dapat menghubungi Dian : 0856 1099 501.
Dibutuhkan segera :
1. Juru Masak , syarat : Pria / Wanita sehat jasmani (lebih diutamakan yang mempunyai pengalaman memasak), bersedia dilatih dan ditempatkan di Singapura. Bagi yang belum bisa memasak akan ada pelatihan untuk menjadi Juru Masak. Peminat dapat menghubungi Bp. Oki : 021- 701 03113 atau 0816 945 509.
2. Staff Accounting. Syarat : Wanita, pendidikan min DIII/ SI Akuntansi, diutamakan yang mengerti perpajakan, menguasai program aplikasi Windows. Peminat dapat mengirimkan lamaran lengkap beserta : CV, Fotokopi KTP, Pas Foto terbaru, dan cantumkan salary yang diinginkan ke: PT SEMANGAT DUA SEKAWAN, JL. Angkasa no 18-D Kemayoran, Jakarta Pusat 10610.
MESIAS
Dalam renungan hari Minggu ini kita jumpai kata “Mesias” dari Injil hari ini (Mrk 8:29). Apa sebenarnya arti kata itu? Simaklah penjelasan berikut yang dikutip dari “buku pintar” Rm. A. Heuken, SJ.
Mesias (Ibr.) berarti “Yang Terurapi” dan diterjemahkan kedalam bahasa Yunani menjadi ‘Kristus’. DI PL, gelar mesias diterapkan secara umum kepada para → nabi atau imam (Kel 30,30) dan kepada raja (bdk 1 Sam 24,6). Tetapi, secara khusus mesias dikenakan kepada politis-keagamaan dari wangsa Daud, yang dengan bantuan Yahwe akan membawa Zaman Baru dengan penuh keadilan dan menaklukkan dosa dan kejahatan (Dan 9,26). Mesias itu diramalkan oleh para nabi.
Kebanyakan orang Yahudi pd zaman Yesus menafsirkan ‘Kerajaan Terjanji’ sebagai kerajaan yang bercorak duniawi. Mereka menanti-nantikan mesias sebagai seorang politikus, yang memberlakukan hukum keagamaan (Taurat) sebagai hukum negara. Dialah seorang imam, raja, pemimpin perang yang akan menaklukkan musuh-musuh Israel dan memulai zaman jaya Israel. Oleh karena harapan ‘mesianis’ duniawi itu, Jesus segan menggunakan gelar itu bagi DiriNya di muka umum (bdk Mt 16,17).
Tetapi, dl PB ditekankan bahwa Jesuslah Mesias Yang sudah lama dinanti-nantikan (bdk Lk 2,11 ; Mk 8,29 dan 14,16 dst ; Kis 2,36 ; Gal 3,24-29). Namun Jesus, Yang menghapus dosa dan menjadi →Penyelamat ‘domba-domba tersesat’ di Israel, memandang diri sebagai Mesias atau →Almasih dlm arti rohani semata (bdk Mk 14,60 dst). Setelah Jesus Kristus tiada Utusan Allah lain untuk membawa amanat pasti tentang kerahiman dari Allah bagi seluruh umat manusia. Lih. Entri Almasih.
Kutipan dari Ensiklopedi Gereja, A. Heuken, SJ, hal 223,224 ; terb. Cipta Loka Caraka.







Leave a Reply