Berita Paroki 20-21 Februari 2010
Hari Minggu Prapaskah I, TAHUN C/II
Ul 26:4-10 ; Rm 10:8-13 ; Luk 4:1-13
Sungguhkah Anda Bertobat?
Andai setan datang bawa suap puluhan juta bahkan milyaran bertanya pada Anda: “Jika engkau sungguh Katolik, anak Allah, ubahlah kesulitan hidup Anda sekarang juga selagi ada peluang basah…. ngapain capek-capek banting tulang, ngapain jujur-jujur dalam kerjaan dan jabatan…” Bagaimana jawab Anda? Alamak, saya yakin banyak yang langsung klepek-klepek, nyungsep, termasuk saya. Puasa? Mati raga? Tobat Pra-Paskah? Rontok seketika. Mungkin setan tahu Anda nggak doyan uang. Maka datanglah dia bawa cewek cantik atau cowok tajir banget, dan bertanya pada Anda: “Jika engkau sungguh Katolik, anak Allah, ngapain pertahanin pacar, isteri atau suamimu yang kadang nyebelin itu? Ganti saja, cobain yang baru, mumpung ada kesempatan..selingkuh dikit knapa?” Apa respon Anda? Saya yakin banyak yang diem-diem langsung listing. Coba saja, sekali-sekali role play jadi “setan” dan ajukan pertanyaan ini pada pacar, suami, isteri Anda selama masa Pra-Paskah ini. Iseng-iseng untuk nguji motivasi katoliknya…Apa kata mereka? Saya yakin di hadapan pacar, isteri, suami, atau sebagai orang tua di hadapan anak, banyak yang akan mati-matian menyangkalnya… Menyangkal karena merasa Katolik, dan Katolik itu nggak boleh makan suap, nggak boleh selingkuh, harus lurus ikuti Jesus Kristus…
Minggu ini kita masuki masa Pra-Paskah. Kita diajak ber-APP, bertobat, bermetanoia, dengan menghayati Sabda Tuhan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Bukan sekedar berubah, change, tapi berubah menjadi lebih baik, change and improvement! Untuk menguji motivasi pertobatan kita, mari kita kuntit “setan” jalan menawarkan tiga macam godaan. Pertama, godaan untuk mengubah batu menjadi roti agar kita tak perlu bersusah payah untuk hidup enak. Siapa sih yang tak ingin hidup enak serba kecukupan? Bebas dari kemiskinan dan kelaparan. Bebas dari sport jantung harian memikirkan apa yang bisa dimakan esok? Godaan untuk ambil jalan pintas, menghalalkan segala cara agar dapat mengatasi kesulitan yang sedang kita hadapi. Kita diajak untuk tidak menukar identitas anak Allah kita demi kemudahan hidup demikian. Caranya tidak demikian. (Bdk. Luk. 4:3-4). Godaan kedua, tawaran kekuasaan dengan segala kehebatannya. Godaan untuk jabatan tinggi, status sosial yang dihormati, bahkan untuk menumpuk kekayaan dan memiliki kekuasaan. Siapa sih yang tak ingin dihormati, disanjung dipuji, punya status sosial dan jabatan tehormat dengan power besar dalam hidup ini? Tapi haruskah status sosial, jabatan, pangkat, kuasa itu kita dapatkan dengan menukar iman kita? Haruskah sebagai orang yang sudah dibaptis, menjadi anak Allah, menukarnya dengan menyembah Tuhan yang lain dalam bentuk berhala-berhala modern? (Bdk. Luk. 4:6-8). Berhala serba tak punya waktu, berhala konsumerisme, berhala hedonisme yakni mengejar kenikmatan hidup saja, dan berhala lainnya yang membuat kita lupa dan meninggalkan Tuhan. Untuk menukar Tuhan dengan berhala-berhala itu nggak usah jauh-jauh ke mal, hotel atau tempat hiburan. Kita pun dapat tanpa sadar menukarnya di Gereja atau di rumah, dengan mendiskon waktu yang seharusnya diperuntukkan bagi Tuhan, dengan membawa gaya konsumeris ke gereja. Godaan ketiga, bujukan untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah agar ditatang para malaikat. (Luk. 4: 9-12). Tampaknya inipun lagi ngetrend sekarang, nggak muda nggak tua, ambil jalan pintas lompat dari mal, jembatan layang, atau lantai hotel yang tinggi untuk mengatasi kesulitan hidup. Pikirnya, barangkali malaikat, bidadari yang cantik-cantik akan menatang agar tak jatuh sakit; tapi ternyata ya konyol mati beneran. Kita sering tergoda untuk menyalah-gunakan kuasa dan kebaikan Tuhan sebagai tameng, sebagai kedok semata. “ In the name of God”, “atas nama Yesus Kristus” kita menzolimi sesama kita. Bila itu yang kita lakukan, alih-alih para malaikat menatang kita, alih-alih Tuhan akan melindungi kita. Yang terjadi justru tindakan konyol kita makin menyengsarakan orang lain dan menjauhkan mereka dari Tuhan.
Bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk memurnikan motivasi iman Katolik kita. Mengajak kita untuk memurnikan motivasi pertobatan kita, khususnya dengan ber- APP “bekerja sama melawan kemiskinan” selama masa Pra-Paskah. Semoga aksi dan gerakan melawan kemiskinan di Lingkungan kita selalu bersumbu pada Yesus Kristus; yang kita imani, dan tidak meningggalkan Kristus atau menukarnya sebagai aksi karitatif atau kemanusiaan belaka, sebagaimana juga dilakukan oleh mereka yang bukan Katolik dan tidak mengenal Kristus. Firman Tuhan dan rahmat Roh Kudus hendaknya selalu menjiwai dan mewarnai aksi dan gerak pertobatan kita. Mari kita pun bertanya pada diri kita masing-masing, sungguhkah kuasa dan rahmat Roh Kudus, yang kita terima sejak baptisan, menjiwai hidup kita sehari-hari? Sungguhkah kita mengimani Yesus Kristus dan bukan sebagai asesories saja yang kadang dengan mudah kita tukar demi jabatan, kekayaan, kehidupan yang wah, calon isteri atau suami pilihan? Semoga bersama Yesus yang kembali dari sungai Yordan, kita dipenuhi dengan Roh Kudus dan selalu dipimpin oleh Roh Kudus dalam laku pertobatan kita di padang gurun kehidupan kita. (Matheus Supomo)
Hari Minggu Prapaskah II, TAHUN C/II
Kej 15:5-12 ; Flp 3:17- 4:1 ; Luk 9:28b-36
27-28 Februari 2010
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 27 Februari, Jam 17.30
Pen. Jwb : OMK Malaka Sari II
Koor : OMK
Hari : Minggu, 28 Februari, Jam 06.30
Pen. Jwb : Billy & Moon; Mathilda
Koor : Madah Triaswara
Hari : Minggu, 28 Februari, Jam 08.30
Pen. Jwb : Bintara Jaya; Bernadette
Koor : Laetitia
Hari : Minggu, 28 Februari, Jam 16.30
Pen. Jwb : Malaka Sari I; Yakobus
Koor : Malaka Sari I
Hari : Minggu, 28 Februari, Jam 18.30
Pen. Jwb : Duren Sawit Timur; Albertus Agung
Koor : Duren Sawit Timur
Stasi Yoakhim
Hari : Sabtu, 27 Februari, Jam 18.30
Pen. Jwb : St. Petrus
Koor : WKRI Malaka Jaya II
Hari : Minggu, 28 Februari, Jam 08.00
Pen. Jwb : St. Leonardus
Koor : Gracia
Jalan Salib di Gereja St. Anna & Stasi Yoakhim akan diadakan setiap Hari Jum’at, Jam 18.00 selama masa Prapaskah, dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi.
Pengumuman Pertama
Ambrosius Kursibi Lk. Yakobus
Naomi Susilawati GBT Darah Kristus
Edward Sugiono GBI
Yosepha Maria Pramana Lk. Kanna
Gregorius Ade Pautianus Prk. St. Yakobus
Fransiska Maureen Noviyanti Lk. Paulus Rasul
Pengumuman Ketiga
Emmanuel Christian Prk. St. Klara
Emiliana Rini Lk. Yustinus
PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut dalam Seminar Hidup Dalam Roh Kudus sesi ke IV dengan tema “Menerima Karunia dari Allah”, pada Hari/Tanggal: Rabu, 24 Februari 2010, Jam: 19.00 WIB. Pwt: Ibu M. Th. Inge A. Pryana. Di: Gd. Yos Sudarso lt 1.
Sie Kesehatan akan mengadakan Donor Darah pada Hari/Tanggal: Minggu, 28 Februari 2010, Jam: 09.00-12.00. Di: Gd. Yos Sudarso lt. 1. Mohon partisipasi umat untuk menyumbangkan setetes darah anda untuk menolong sesama kita yang membutuhkan.
Jadwal Balai Pengobatan:
• Dokter Umum:
21 Feb 2010 : dr. Ita
28 Feb 2010 : dr. Budi & dr. Lusia, SpKK
07 Mar 2010 : dr. Ferdi
1. Telah tersedia di sekretariat St. Anna buku “REVOLUSI BATIN ADALAH REVOLUSI SOSIAL” karya Rm. J. Sudrijanta, SJ.
2. Kegiatan – kegiatan yang ingin dimuat di berita Paroki, silahkan disampaikan ke Sekretariat paling lambat hari Rabu, pukul : 15.30 WIB.
Dibutuhkan segera:
1. Penjahit Wanita. Syarat: wanita, sudah berpengalaman di bidangnya, berdomisili di daerah Kalimalang. Bagi yang berminat dapat menghubungi Ibu Caecilia (LIA Modiste): 863 2444 atau 0813 86087251.
2. Supir dan Packing. Syarat: pria, usia max 35 thn, memiliki SIM A. Bagi yang berminat dapat menghubungi Ibu Lena: 0856 8307332.
3. Guru Inggris. Syarat: min. D3/S1; Guru Sempoa. Syarat: min. SMA; Guru Bimbel SD. Bagi yang berminat dapat menghubungi Feby: 704 55225, 0816 1965053 atau email ke: eltp_center@yahoo.com
WARNA LITURGI
Warna liturgi merupakan simbol liturgi bagi dua hal. Pertama, warna liturgi mengungkapkan sifat dasar misteri iman yang sedang dirayakan. Kedua, warna liturgi mau menegaskan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun liturgi. Pertanyaan tentang bagaimana jenis warna liturgi dipilih dan ditentukan agak sulit dilacak dan direkonstruksi. Akan tetapi, yang pasti ialah bahwa pemilihan warna liturgi amat dipengaruhi oleh penafsiran makna atas simbol warna sebagaimana dipahami suatu budaya dan masyarakat tertentu. De facto, penafsiran terhadap simbol warna bisa bermacam-macam dan berbeda antara suatu bangsa-budaya yang satu dengan yang lain. Bahkan, dalam masyarakat kita sendiri, penafsiran terhadap warna bisa berbeda. Misalnya, tanda adanya orang mati diungkapkan dengan bendera kecil berwarna merah atau juga kuning dalam masyarakat yang satu dan berwarna putih dalam masyarakat yang lain. Kaitannya dengan simbol warna tersebut, berikut ini akan kami bahas mengenai makna simbolis warna-warna liturgi secara umum dan penggunaanya.
Putih dan Kuning
Warna putih dikaitkan dengan makna kehidupan baru, sebagaimana dalam liturgi baptisan. Selain itu juga dipandang sebagai simbol kemurnian, terang, ketidaksalahan, kemuliaan abadi. Warna kuning umumnya dilihat sebagai warna mencolok sebagai bentuk lebih kuat dari makna kemuliaan dan keabadian, sebagaimana dipancarkan oleh warna emas. Dalam liturgi, warna putih dan kuning digunakan menurut arti simbolisasi yang sama, yakni makna kejayaan abadi, kemuliaan kekal, kemurnian dan kebenaran. Itulah sebabnya warna putih dan kuning bisa digunakan bersama-sama atau salah satu.
Warna putih atau kuning dipakai untuk masa paskah dan natal, hari-hari raya, pesta dan peringatan Tuhan Yesus, kecuali peringatan sengsaraNya. Begitu pula warna putih atau kuning digunakan pada hari raya, pesta, dan peringatan Santa Perawan Maria, para malaikat, pada hari raya semua orang kudus, Santo Yohanes Pembaptis, pada pesta Santo Yohanes pengarang Injil, Takhta Santo Petrus Rasul dan Bertobatnya Paulus Rasul.
Merah
Warna merah merupakan warna api dan darah. Maka, warna merah ini amat dihubungkan dengan penumpahan darah para martir sebagai saksi-saksi iman, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus sendiri menumpahkan darahNya bagi kehidupan dunia. Dalam tradisi Romawi Kuno, warna merah merupakan simbol kuasa tertinggi, sehingga warna itu digunakan oleh bangsawan tinggi, terutama kaisar. Apabila para kardinal menyatakan kesiapsediaannya untuk mengikuti teladan para martir, yang mati demi iman.
Dalam liturgi warna merah dipakai untuk hari Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, dalam perayaan-perayaan sengsara Kristus, pada pesta para rasul dan pengarang Injil, dan dalam perayaan-perayaan para martir.
Hijau
Pada umumnya warna hijau dipandang sebagai warna yang tenang, menyegarkan, melegakan, dan manusiawi. Karena warna hijau melambangkan keheningan, kontemplatif, ketenangan, kesegaran, dan harapan, warna ini dipilih untuk masa biasa dalam liturgi sepanjang tahun. Dalam masa biasa itu, orang Kristiani menghayati hidup rutinnya dengan penuh ketenangan, kontemplatif terhadap karya dan sabda Allah melalui hidup sehari-hari, sambil menjalani hidup ini dengan penuh harapan akan kasih Allah.
Ungu
Warna ungu merupakan simbol bagi kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati dan mawas diri. Itulah sebabnya warna ungu dipilih untuk masa Adven dan Prapaskah sebab pada masa itu semua orang Kristiani diundang untuk bertobat, mawas diri, dan mempersiapkan diri bagi perayaan agung Natal ataupun Paskah. Warna ungu juga digunakan untuk keperluan ibadat tobat.
Pada umumnya, liturgi arwah menggunakan warna ungu sebagai ganti warna hitam. Dalam liturgi arwah itu, warna ungu melambangkan penyerahan diri, pertobatan dan permohonan belas kasihan dan kerahiman Tuhan atas diri orang yang meninggal dunia dan kita semua sebagai umat beriman.







Leave a Reply