Berita Paroki 16 Agustus 2009

16 AGUSTUS 2009
HARI MINGGU BIASA XX, TAHUN B/I
Ams 9:1-6 ; Ef 5:15-20 ; Yoh 6:51-58

Perhatikan Bagaimana Kamu Hidup

Esok kita akan merayakan Hari Kemerdekaan kita yang ke 64. Petuah Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus hari ini mengetuk hati saya untuk bertanya, bagaimana kita mengisi 64 tahun kemerdekaan kita? Ajakan untuk memperhatikan secara seksama bagaimana kita hidup, mengisi dan memaknai kemerdekaan kita, rasanya relevan. Dalam beberapa kunjungan ke wilayah, hampir selalu terasa nada keprihatinan bahwa gereja kita semakin tua, bukan dalam arti makin tambah dewasa, tapi bahwa yang kumpul-kumpul di lingkungan adalah orang-orang tua saja, 4 L (Lu lagi, lu lagi). Dalam bincang-bincang live-in panggilan 26 dan 27 Juli lalu pun, juga terasa bahwa para frater, bruder dan suster yang hadir dari 14 Tarekat itu lebih banyak dikerumuni oleh orang tua atau anak-anak remaja kecil. Pertanyaannya, apakah gereja tak menarik lagi, terutama bagi yang muda-muda? Apakah panggilan jadi romo, bruder, suster tak menarik lagi? Apakah nilai-nilai kehidupan katolik, cara hidup katolik, tak menarik lagi di tengah arus kehidupan modern yang sarat teknologi, kebebasan, dan tawaran-tawaran materialisme, atau bahkan konsumerisme? Atau apakah Yesus Kristus tak menarik lagi bagi orang sekarang?

Akulah Roti Hidup

Injil hari ini berkisah tentang pewahyuan diri Yesus sebagai roti hidup yang turun dari sorga. Roti yang kita nikmati setiap kali kita merayakan Ekaristi. Namun yang lebih penting dari semua itu Yesus Kristus adalah pusat kehidupan kristiani kita, makanan utama yang membuat kita hidup dalam iman yang benar. Barangsiapa makan roti hidup ini akan hidup selama-lamanya. (Yoh. 6:51-58). Maka sungguh aneh bila Yesus Kristus, makanan pokok, tidak lagi menarik bagi orang sekarang; atau hanya menarik bagi orang tua-tua, gereja tua. Sungguh mengusik hati bila panggilan hidup khusus yang berpusat pada Yesus Kristus dengan menjadi imam, bruder, suster kurang menarik lagi. Apa yang salah?

Cara Hidup Kita

Dalam bacaan pertama dan kedua, baik penulis kitab Amsal maupun Santo Paulus memberitakan tawaran cara hidup secara merdeka. Apakah kita mau memilih cara hidup yang dipimpin oleh Hikmat, mengikuti jalan pengertian yang membuat kita hidup (Ams. 9: 1-6), cara hidup yang arif, mengerti kehendak Tuhan, dan penuh dengan Roh (Bdk. Ef. 5:15-18) atau kita lebih tertarik pada kebodohan seperti orang bebal, bodoh, dan mabuk anggur. Kepada kita sekarang, sebagai pribadi maupun umat Allah, Gereja, tersedia pilihan – pilihan cara menghayati hidup dan iman tersebut. Apakah kita lebih memilih cara hidup katolik yang bodoh, yang membuat Kristus dan Gereja-Nya makin tidak menarik atau yang mengerti kehendak Tuhan, penuh dengan Roh menuju keselamatan? Kiranya kita perlu menghadirkan kembali Kristus sebagai pusat hidup kristiani, dengan cara-cara yang lebih menarik. Bila kita mengharapkan Kristus, sang Roti Hidup, dapat kita sambut dengan layak agar betah tinggal di dalam hati kita; kiranya kita harus menyiapkan diri dan hati dengan sungguh layak dan pantas sewaktu berdoa atau ke gereja. Para bapak dan ibu kiranya perlu memberi contoh pada putra-putrinya, bagaimana mempersiapkan diri dan hati dengan pantas sejak dari rumah. Imam diharapkan untuk menyapa dan mengajak umat sungguh menyambut Tuhan, mengajak umat untuk menikmati kehadiran Tuhan dengan khidmat dan khusuk sebelum Ekaristi dimulai. Seluruh umat bersama imam kiranya perlu mengalahkan musuh terbesar bagi umat perkotaan dewasa ini yakni diburu-buru waktu dan kepraktisan. Sebab sebagian besar umat dalam lubuk hatinya masih lebih merindukan perayaan Ekaristi yang khidmat dan bermakna, mungkin sedikit makan waktu lebih lama, daripada misa yang rutin, kurang rasa (hambar), terburu waktu karena khawatir diprotes umat bila sedikit kelamaan. Cara berpakaian kita ke gereja, atau waktu kita berdoa secara pribadi, pelan tapi pasti akan mempengaruhi dan membentuk sikap kita apakah kita sungguh hormat pada Tuhan atau tidak. Bila kita tanpa sadar membiasakan diri berpakaian kurang pantas waktu berdoa atau ke Gereja, membiarkan HP berdering, membiarkan anak bawa mainan ke dalam Gereja rasa hormat akan keagungan Tuhan pun (tremendum et fascinosum, Tuhan yang menggentarkan dan mengagumkan) pelan tapi pasti akan terkikis dan pudar. Banyak contoh sederhana cara menghayati hidup iman kita yang bisa kita kaji kembali. Mana saja cara hidup beriman kita yang membuat Yesus Kristus tidak menarik lagi bagi sebagian orang sekarang. Cara hidup menggereja yang tak lagi menarik bagi orang sekarang. Mana saja cara hidup membiara atau cara hidup rohaniwan yang tak lagi menarik bagi umat sekarang? Kita diberi kemerdekaan untuk memilih cara hidup yang dipimpin oleh pengertian dan Roh Allah atau yang dipimpin oleh kebodohan yang menjauhkan Tuhan. Maka mari kita tanggapi tawaran dan ajakan sabda Tuhan hari ini, dengan memperhatikan secara seksama cara hidup kita bersama yang kurang pas, sebagai pribadi atau umat Gereja, dan memperbaikinya agar Yesus Kristus dan Gereja-Nya tetap menarik.

(Matheus Supomo).

23 Agustus 2009
HARI MINGGU BIASA XXI, TAHUN B/I
Yos 24:1-2a,15-17.18b ; Ef 5:21-32 ; Yoh 6:60-69

PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I

Agustus 2009
16 Mg Hr Minggu Biasa XX
17 Sn HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA*
20 Km Pw S. Bernardus, Abas Puj G
21 Jm Pw S. Pius X, Paus
22 Sb Pw SP Maria, Ratu
23 Mg Hr Minggu Biasa XXI
24 Sn Pesta S. Bartolomeus, Ras
27 Km Pw S. Monika
28 Jm Pw S. Agustinus, UskPuj
29 Sb Pw Wafatnya S. Yohanes Pembaptis , Mrt

*Menurut MAWI (sekarang KWI) 1972. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dirayakan sebagai Hari Raya (Sollemnitas). Tetapi Uskup setempat dapat memindahkannya ke hari lain sekitar tgl tsb.

DEWAN PAROKI

Dewan Paroki St. Anna mengundang segenap Pengurus Dewan Paroki Pleno dalam acara “Rapat Dewan Paroki Pleno III-2009” yang akan diselenggarakan, pada Hari/Tanggal: Minggu, 30 Agustus 2009, jam : 10.00-selesai. Di : Gd Yos Sudarso. Mengingat sangat pentingnya acara tersebut maka kami minta kehadiran dan partisipasi seluruh Pengurus Dewan Paroki Pleno secara penuh.

JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI
22 – 23 Agustus 2009

Gereja St. Anna

Hari : Sabtu, 22 Agustus, Jam 17.30
Pen. jwb : PDKK
Koor : PDKK

Hari : Minggu, 23 Agustus, Jam 06.30
Pen. jwb : Duren Sawit PTB; Thomas, Maria Immaculata
Koor : Santa Anna

Hari : Minggu, 23 Agustus, Jam 08.30
Pen. jwb : Pondok Kelapa II; Gregorius, Veronica
Koor : Pondok Kelapa II

Hari : Minggu,23 Agustus, Jam 16.30
Pen. jwb : Billy & Moon; Theresia Lisieux, Martha
Koor : Madah Triaswara

Hari : Minggu,23 Agustus, 18.30
Pen. jwb : Duren Sawit Indah; Stella Maris, Martinus
Koor : Duren Sawit Indah

Stasi Yoakhim

Hari : Sabtu, 22 Agustus, Jam 18.30
Pen. jwb : St. Timotius
Koor : Wil Malaka Sari 1

Hari : Minggu, 23 Agustus, Jam 08.00
Pen. jwb : St. Ignatius
Koor : Wil Malaka Jaya 2

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman Pertama

Hermanus Yoseph H. J. R. Manalu (Lk. Katharina )
Esra Wantijes Lumban Gaol (HKBP)

Ignatius Foury Krisyunanto (Lk. St.Anna)
Agnes Murniati (Prk. St. Fransiskus)

Andrianus Yofy (Prk. St. Fr. Asisi)
Angelica Pramesthiningsih (Lk. Maria Gratia)

Markus Wisnu Murti (Lk. Lila Santana)
Aurea Indah Fitriani (Lk. Lila Santana)

Yakobus Yoel Benu (GMIT-Maranata Soe)
Iluminata Apon (Lk St. Thomas)

Johanes Chrismanto (Prk. St. Maria Vianney)
Stefani Anastasia Dhian A (Lk. Katharina )

Thedorus Alexander C. Santoso (Prk. Bonaventura )
Elisabeth C. Yuliana Satjawidjaja (St. Yoseph )

Pengumuman Kedua

Emanuel Bakti K. S. Wyana (Lk. Kana )
Velly Vabriany (Lk. Kana )

Vincent Rionaldo (Prk. St. Kristoforus )
Irene Fajar Setiadharma (Lk. St. Martinus )

Robertus Anung Kriswardoyo (Prk. Administratif Nandan)
Fransiska Endyah K. Putri (Lk. Paulus Rasul)

PDKK

PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut merenungkan sabda Tuhan, pada Hari/tanggal: Rabu, 19 Agustus 2009, Jam : 19.00 WIB. Pewarta: Bpk. Thomas Sulasbi. Tema: Kekuatan Ucapan Syukur. Mari kita bersama-sama bersuka cita di dalam Kasih-Nya.

WKRI

WKRI St. ANNA akan mengadakan :

1. NOVENA 3 SALAM MARIA, dengan tema “Ajarlah Aku Melakukan KehendakMu Sebab Engkaulah Allahku”, pada Hari/Tanggal : Kamis, 20 Agustus 2009, jam 17.00-selesai. Tempat : Gereja Stasi Yoakhim. Penutupan : Kamis, 17 September 2009.
2. Seminar tentang “Kiat Penurunan Daya Ingat”, pada Hari/Tanggal: Minggu, 06 September 2009, jam 10.00-selesai. Pembicara : dr. Murtuanto,Sp KJ. Tempat : Gedung Yos Sudarso. Tiket : Rp 10.000(termasuk snack+makan siang+pemeriksaan kemampuan daya ingat).

BALAI PENGOBATAN

1. Akan mengadakan Donor Darah di gereja Santa Anna, pada Hari/Tanggal : Sabtu, 29 Agustus 2009, jam : 09.00 – 12.00. Di : Gd Yos Sudarso lantai 1(ruang AC). Donor darah ini merupakan kejasama sie SPSE dengan Sie Kesehatan.
2. Jadwal dokter balai pengobatan:
• Dokter Umum ? Dokter Gigi
16 Agustus : dr. Dwi Jani 16 Agustus : drg. Dian
23 Agustus : dr. Tuti & dr. Lusia, Sp KK 23 Agustus : drg. Liana

Pojok liturgi

MERAH PUTIH
Sebagai umat Katolik, setiap kali kita merayakan hari kemerdekaan, kita diajak untuk berefleksi. Sudahkah kita bangga mengatakan diri sebagai 100 % Katolik dan 100 % Indonesia ? Marilah kita sejenak merenungkan, sejauh mana kita ikut andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebelum melihat kedalam diri kita sendiri, ada baiknya kita melihat kebelakang juga. Sejarah mencatat bahwa ada beberapa tokoh Katolik yang cukup membawa warna bagi kemerdekaan bangsa kita. Kita lihat saja ada Romo van Lith, Romo Soegijapranoto, Romo Becks, Romo Brouwer, Romo Dick Hartoko, Romo FX Satiman, Romo Mangunwijaya. Pertanyaan kita sekarang adalah apakah karya dan jasa para pendahulu kita tersebut hanya melulu kita jadikan cerita sejarah saja ? Bagaimana kita sebagai generasi penerus bersedia dan bertekad untuk berjuang demi kemanusiaan itu sendiri sebagaimana yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita. Pada saat kita mengenangkan dan merenungkan hari kemerdekaan kita seperti sekarang ini, sangat tepat kiranya untuk dijadikan bahan perenungan kembali jejak umat Katolik dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh karena itu, semestinya kita saling berkontemplasi sejauh mana kita telah menghidupkan nilai-nilai Katolik yang kita yakini yakni adanya kasih, pengampunan dan pelayanan dalam hidup kemasyarakatan sekitar kita. Saatnya kita menggali kembali nilai-nilai 100 % Katolik dan 100 % Indonesia sebagai suatu daya perekat antar komponen bangsa kita. Pertanyaanya sudahkah kita memaknai semua ini sebagai suatu tantangan dan misi kita sebagai umat dalam suatu bangsa ?

Bagi kita sebenarnya hidup adalah perutusan. Jadi kita semua diutus untuk menyalakan kembali misi hidup kebangsaan kita. Kita juga diajak untuk menyalakan kembali warna dan semangat bendera kebesaran kita yakni Merah dan Putih. Merah kita artikan sebagai suatu warna keberanian. Berani untuk terus membela hak-hak kebebasan manusia, membela kemerdekaan warga dan terlebih keberanian untuk terus menerus memperjuangkan nilai-nilai Injili yang kita yakini benar. Sedangkan putih sendiri dapat kita artikan sebagai suatu bentuk pengosongan diri untuk senantiasa ingat pada kekudusan dan kesucian sebagai gambar Ilahi. Dasar dari keberanian itu adalah kesucian hati dan budi kita sendiri. Dari pemaknaan dasar atas warna bendera kita tersebut, hal yang menarik bagi kita adalah jika warna tersebut kita kaitkan dengan warna dalam liturgi kita, kiranya kita dapat juga menghubungkannya. Warna merah dalam liturgi biasanya digunakan untuk memperingati semua martir dalam Gereja. Sedangkan warna putih digunakan dalam perayaan para kudus. Hal dasar yang hendak kita ambil disini adalah bagaimana bendera bangsa kitapun dapat diartikan bahwa warna merah juga digunakan untuk mengenang para pahlawan dan keberanian seluruh rakyat dalam membela kemerdekaan bangsa, kemudian warna putih dapat diartikan sebagai warna untuk mengenangkan kesucian dari para pendahulu dan rakyat Bangsa Indonesia yang gugur demi membela martabat bangsa. Akan tetapi semua warna itu hanyalah merupakan simbol saja, simbol tersebut akan menjadi berguna jika lebih dimaknai secara konkrit dalam realitas konkrit hidup sehari-hari. Bagimana kita berani menjadi warna merah dan putih di tengah aneka warna dalam hidup masyarakat kita. Akhirnya, beranikah kita mempertahankan ‘warna dasar merah dan putih’ dalam hati dan budi kita sebagai umat Katolik dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Beranikah kita meneruskan semangat Injili dengan semangat kepahlawanan di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Saatnya kita umat Katolik menyatukan kembali semangat merah putih dalam realitas hidup berbangsa dan bernegara. Merdeka !

One Response to “Berita Paroki 16 Agustus 2009”

  1. Bapak Matheus Supomo yang bercahaya,

    Si pemain kendang sudah beraksi. Jangan cemas, pak. Gamelan akan kembali dimainkan. Di latar nan jembar. Beranda tak bertepian.

    Tidak sekedar klasik, tapi kontemporer.

    Tak lama lagi semangat Romo Mangun, dkk, akan kembali dari dinding-dinding biara tua. Semoga suara tetabuhannya di dengar.

    Wassalam

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>