Berita Paroki 13 – 14 Maret 2010

14 Maret 2010

Hari Minggu Prapaskah IV TAHUN C/II

Yos 5:9a,10-12 ; 2Kor 5:17-21 ;  Luk 15:1-3,11-32

BERHATI – HATILAH !

Hujan gerimis mengguyur daerah Duren Sawit pada sore itu. Cuaca mendung kelabu. Biarpun waktu masih pukul 16:00 tetapi suasana cuaca sudah gelap seperti pukul 18:00 petang. Saya berjumpa dan omong-omong dengan Andea seorang yang aktif dalam lingkungan di Paroki Duren Sawit.

Dia berceritera tentang pertemuan APP di lingkungannya: “Lingkungan kami sudah rutin kumpul setiap minggu. Pada masa Prapaskah 2010 ini tidak ada buku tuntunan pertemuan APP, kami hanya mendapat selembar kertas! Buku yang kami peroleh adalah Buku Jalan Salib dan buku renungan harian. Maka pertemuan lingkungan kami gunakan untuk Jalan Salib. Setelah jalan salib, waktu masih tersedia. Kami lalu sesuka hati saja omong-omong tentang “Apa itu kemiskinan? Siapa itu orang Miskin? Apa penyebab kemiskinan? Bagaimana langkah-langkah kami melawan kemiskinan? Pembicaraan kami dapat meriah. Semua mau bicara. Banyak yang berpendapat ini dan itu”.

Tanggapanku: “Syukur, jika pertemuan APP itu dapat berjalan dengan baik!”. Andea membantah:”Tapi bagiku, semua tidak teratur. Pembicaraan ramai, tapi dasar langkah-langkahnya sesuka kita saja. Tidak ada tuntunan gerak bersama kita!”

Pembicaraan kami mengenai APP itu juga didengar oleh Ibu Ita, seorang Ibu dari lingkungan yang lain lagi. Dia ikut berceritera: “Kalau di lingkunganku pakai cara campuran. Kami mempunyai rekan-rekan dari paroki lain yang diberi Buku Panduan APP. Sementara dari paroki kita hanya ada lembaran kertas dinamika APP. Kami lalu menggabungkannya. Beberapa teks kami perbanyak sebagai tambahan pemikiran dan refleksi kami untuk melangkah”.

Aku lalu memberi tanggapan, bahwa di paroki kita memang juga sudah ada buku panduan APP yang kita beli dari keuskupan, tetapi karena kita mau membuat dinamika yang lebih tajam untuk gerakan ‘melawan kemiskinan’, maka kita tidak memakai buku itu. Bagi beberapa lingkungan yang membutuhkan buku itu untuk mendukung dinamika gerakan itu dapat saja meminta di sekretariat. Kita usahakan agar gerak dinamika di lingkungan itu dapat lebih hidup, bukan hanya kegiatan rutin membaca tuntunan APP. Dengan dinamika yang arahnya jelas ‘bekerjasama melawan kemiskinan’ setiap lingkungan pun dapat mengembangkan kreativitas dan gerakan yang hidup. Bukan hanya sekedar usul gagasan!.

Andea menanggapi: “Gerakan kita membuat tuntunan APP sendiri itu bagus, tetapi apakah dengan membuang uang buat beli buku yang dibuang seperti itu? Kita mau melawan kemiskinan tapi langkah kita justru pemborosan!”

Aku ganti memberi tanggapan, bahwa kalau kita mau maju, pastilah harus butuh biaya. Maka buku yang sudah kita beli tidak kita bagikan langsung dengan harapan bahwa gerakan seluruh lingkungan dapat lebih hidup. Untuk pembekalan kita di Guadalupe itu memang butuh biaya yang besar . Tetapi hal itu tetap kita lakukan juga dengan harapan hasil kegiatan lebih besar. Maka sekarang bergeraklah bersama melawan kemiskinan.

Andea menyahut : “Kalau begitu kita harus berani mengambil langkah baru, entah seberapapun biaya atau pengorbanannya. Akibat selanjutnya pikir nanti. Sekarang mari bergerak! Kita terus berubah mencapai keinginan yang baru. Seperti Tara Pradipta, murid meditasi Anand Krishna dengan konsekuensi pelecehan seksual; atau Pengamen Ari yang mencari selamat dengan terjun ke BKT tetapi maut menyambutnya; atau meditasi seorang pastor yang meninggalkan pikiran liturgi?” (Andea menyebut beberapa berita hangat yang ada dalam umat dan masyarakat).

Aku menjawab: “Kita memang harus berani berubah. Maka kita juga terus bergerak mencapai kemajuan dan kesempurnaan. Seperti pada kisah anak yang hilang dalam Injil (Luk  15: 1-2, 11-32), kita harus berani meninggalkan kemapanan dan ketenangan untuk berjuang ke daerah yang lain. Tapi janganlah kita mudah tergiur dan terhanyut oleh spontanitas sesaat. Anak bungsu yang menjual segala kekayaan warisan orang-tua untuk maju di tempat yang lain. Tetapi di negeri yang jauh, dia tergiur oleh pesta pora, hidup berfoya-foya dan segala kenikmatan sesaat. Akhirnya dia jatuh melarat dan sengsara. Kita harus tetap setia mengikuti Kristus. Hidup kita telah diperbaharui dalam Kristus. Barangsiapa ada dalam Kristus, dialah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu (2Kor 5:17). Maka kita juga harus setia mengikuti Kristus.  Dialah Guru dan Penyelamat kita. (Nico D)

21 Maret 2010

Hari Minggu Prapaskah IV TAHUN C/II

Yes 43:16-21 ; Flp 3:8-14 ;  Yoh 8:1-11

MARET

25 Km                    Hari Raya Kabar Sukacita

JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI

20-21 Maret 2010

Gereja St. Anna

Hari              : Sabtu, 20 Maret, Jam 17.30

Pen. Jwb       : Duren Sawit Selatan; Ursula

Koor             : Duren Sawit Selatan

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 06.30

Pen. Jwb       : Duren Sawit Timur; Elisabeth

Koor             : Christo Regi Dicata

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 08.30

Pen. Jwb       : Duren Sawit PTB; Gabriel

Koor             : Melodia Singers

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 16.30

Pen. Jwb       : Pondok Kopi I; Dionisius

Koor             : Lilin Suci

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 18.30

Pen. Jwb       : Buaran; Lucia

Koor             : Mateo

Stasi Yoakhim

Hari              : Sabtu, 20 Maret, Jam 18.30

Pen. Jwb       : St. Ignatius

Koor             : Yopalex

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 08.00

Pen. Jwb       : St. Monica

Koor             : Candela

Stasi MBS

Hari              : Minggu, 21 Maret, Jam 08.00

Pen. Jwb       : Pondok Kelapa I

Koor             : Pondok Kelapa

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman Pertama

Yoseph Donald Gunawan Tjenderasa                   Lk. Lusiana

Widya Santika                                                Tiberias

Albertus Heru Sofianto                                     Prk. Matheas

Elisabet Ella Lusina                                           Lk. St. Yoseph

Epifanus Yakobus Meo Lay                                Lk. Leonardus

Riama Simamora                                            Bekasi

Pengumuman Kedua

Stefanus Mario Stephend Sutioso                        Lk. Stella Maris

Diah Nesia Nurhalim                                         Prk. Trinitas

Pengumuman Ketiga

Nugroho Dewa Adji                                          GKI-Buaran

Antonia Herita Ratna Dri Kuntari                         Lk. Agnes

SEKSI LITURGI

Pedoman Petugas Tata Tertib, Paduan Suara beserta jadwalnya sudah dapat didownload di website gereja St. Anna (www.gerejastanna.org)

PDKK

PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut dalam Seminar Hidup Dalam Roh Kudus  sesi ke VII dengan tema “Diubah Menjadi Serupa Dengan Kristus”, pada Hari/Tanggal: Rabu, 17 Maret 2010, Jam: 19.00 WIB. Pwt: Ibu Veronika Olivera Wijaya. Di: Gd. Yos Sudarso lt 1.

SEKSI REKSA ROHANI PEMASYARAKATAN

Kami mengetuk pintu derma Paskah anda untuk menyumbangkan PAKAIAN LAYAK PAKAI, SABUN, PASTA GIGI, SIKAT GIGI yang akan kami sumbangkan kepada para Warga Binaan (perempuan dan laki-laki remaja) di Rumah Tahanan Pondok Bambu pada tanggal 23 Maret 2009. Kami mohon supaya barang-barang tersebut dapat dititipkan di Sekretariat Paroki pada jam kerja sebelum Hari/Tanggal: Senin, 22 Maret 2009. Atas perhatian Bpk/Ibu/Sdr/Sdri kami mengucapkan terima kasih.

PDOMKK

PDOMKK mengundang OMK St. Anna untuk hadir di Persekutuan Doa OMK, pada Hari/Tanggal: Sabtu, 20  Maret 2010, Jam: 19.00 WIB. Pembicara: Berto (dari PD Paroki Blok Q). Di: Gd. Yos Sudarso lt 1. Mari kita merenungkan firman Tuhan di masa Prapaskah ini.

Katekese

JALAN SALIB

Pada setiap hari Jumat dalam masa Prapaskah, kita mengadakan kegiatan jalan salib. Ada baiknya kita mencoba melihat kembali sejarah awal terbentuknya prosesi jalan salib tersebut. Sejak abad pertama umat Kristiani telah mengadakan ziarah ke tanah kelahiran Yesus. Santa Helena, Ibunda Raja Konstantin melakukan ziarahnya yang terkenal itu pada abad ke-4 dalam usahanya untuk mengenali secara lebih dekat tempat Yesus dilahirkan, wafat dan dimakamkan. Kemudian, pada sekitar tahun 1199 ketika tentara-tentara Perang Salib berhasil menguasai Yerusalem dan sekitarnya, umat Kristiani dapat melakukan ziarah tanpa kesulitan sehingga mereka dapat mengenang seluruh prosesi peristiwa Yesus ketika di salib.

Melalui Ibadat Jalan Salib diharapkan bahwa umat dapat menghadirkan kembali proses perjuangan Yesus dalam memanggul salib. Ibadat Jalan Salib juga bertujuan untuk menghadirkan Tanah Suci baik bagi mereka yang tidak dapat berziarah ke sana maupun bagi mereka yang sudah  berziarah ke sana.

Devosi Jalan Salib mulai populer sejak abad ke-14. Jalan Salib pada waktu itu dipopulerkan oleh para biarawan Fransiskan. Fransiskus dari Asisi sendiri mempunyai dua devosi yang amat mendalam yaitu Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus, masing-masing dilambangkan dengan salib. Untuk mengenang dan menyimbolkan Jalan Salib Yesus pada waktu itu, umat membuat perhentian-perhentian kecil di dalam gereja atau perhentian tersebut dibangun di luar gereja. Ke-14 peristiwa jalan salib tersebut ditetapkan oleh Paus Clement XII (1730-1740). Baik kita melakukan Ibadat Jalan Salib seorang diri atau bersama-sama dengan umat lain, di dalam gereja atau pun di ke-14 perhentian di luar gereja, ibadat ini menjadikan kisah sengsara dan wafat Yesus terasa nyata dan hidup. [1]

Melalui jalan salib tersebut umat diharapkan benar-benar menjiwai ajakan Yesus Sang Penebus dalam mengorbankan diri bagi orang lain. Kita semua diajak untuk mawas diri secara lebih dalam lagi di masa-masa Prapaskah ini sehingga kita benar-benar dapat mau menderita dan berkorban seperti Yesus. Pada saat Ibadat Jalan Salib tersebut, hal yang terpenting adalah niat pertobatan yang sungguh-sungguh. Jadi tidak hanya berhenti di bibir atau di hati saja melainkan mewujud melalui tindakan konkrit. Pertobatan tanpa diikuti oleh tindakan nyata pada dasarnya masih mandeg sebatas janji. Dalam mengikuti Ibadat Jalan Salib yang terpenting bukanlah dramanya yang bagus, bukan pula cara membawakannya yang menarik dan penuh penjiwaan akan tetapi yang terpenting disini adalah bahwa Salib itu sungguh-sungguh ingin kita hidupi.  Namanya saja jalan salib, maka konsekuensinya adalah kita mau berjalan bersama Salib Kristus. Kalau setelah mengikuti jalan salib hati kita tidak berubah pada pertobatan itu sendiri, berarti kita tidak sadar betul apa maksud dan tujuan mengikuti jalan salib. Saatnya sekarang kita menapaki pertobatan itu secara bertahap dalam hati dan hidup kita. Sehingga suka cita kebangkitan itu juga dapat dirasakan oleh saudara-saudari kita yang lain.


Sumber : Ask a Franciscan by Father Pat McCloskey, OFM, 2001, St. Anthony Messenger Press.

BURSA KERJA

Dibutuhkan segera:

  1. Staf  HRD. Syarat: wanita, usia max. 30 tahun, pendidikan S1 Psikologi. Surat lamaran dapat dikirim ke: HRD PT. Romindo Primavetcom, Jl. Dr. Saharjo no 264 Tebet, Jakarta Selatan 12870 atau email ke hermanto.tb@romindo.com, sebelum tanggal 25 Maret 2010.
  2. Tenaga Penjahit Wanita (Modiste). Bagi yang berminat dapat menghubungi Ibu Titien, di Taman Duren Sawit, blok E4 no 3, tlp: 860 4610.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>