Berita Paroki 12 Juli 2009

12 Juli 2009
HARI MINGGU BIASA XV
Am. 7:12-15; Ef. 1:3-14 (Ef. 1: 3-10); Mrk. 6: 7-13

OPTIMIS MENJALANI PERUTUSAN

Dalam Injil Markus 6:7-13 digambarkan bagaimana Yesus mengutus para murid berdua-dua untuk mewartakan pertobatan, mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Meskipun kelihatannya tugas tersebut tidaklah ringan akan tetapi Yesus justru meminta mereka untuk pergi tanpa membawa perlengkapan berupa makanan, minuman dan juga pakaian. Dalam keterbatasan itu, Yesus justru ingin menunjukkan pada para murid, bahwa Roh Allah benar-benar berkarya dalam tugas perutusan mereka. Bahkan Yesus memberikan kuasa dan kekuatan berlebih atas diri mereka. Dalam kuasa Allah, mereka juga dijauhkan dari segala rasa takut dan kawatir dalam perutusan meskipun mereka berangkat tanpa membawa bekal apapun. Justru di sinilah Yesus ingin menunjukkan kepada mereka bahwa Allah selalu menyertai mereka dalam situasi apapun juga. Salah satu pengalaman yang kiranya relevan dengan kisah tersebut adalah pengalaman para Jesuit pada saat mereka menjalani dan memaknai tugas perutusan peregrinasi.

Peregrinasi adalah suatu perjalanan ziarah yang ditempuh dengan berjalan kaki selama 9 hari sejauh 300–350 km, tanpa bekal apapun. Barang berharga yang boleh kami bawa hanya KTP dan pakaian yang melekat di badan. Kami diutus pergi berdua-dua dengan tujuan yang berbeda. Ada yang harus berjalan kaki dari novisiat Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah menuju ke Gua Maria Puh Sarang, Kediri Jawa Timur, ada yang berjalan kaki dari Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sampai Ciamis, Jawa Barat. Ada yang berjalan mengitari Jawa Tengah, dsb. Perutusan ziarah berjalan kaki tanpa bekal sama sekali ini tentu menjadi pengalaman yang menggetarkan. Ketika akan berangkat, kami sangat tegang, takut, khawatir, ragu, deg-degan dengan segala perasaan yang campur aduk tidak karuan. Kami membayangkan bagaimana nanti kami harus berjalan kaki selama 9 hari tanpa bekal, dengan mengemis minta makan setiap harinya, mencari tempat untuk beristirahat, bagaimana nanti kalau kami sakit dalam perjalanan, dan masih banyak lagi ketakutan, kekhawatiran, dan keraguan yang muncul. Perasaan takut, khawatir, dan ragu semakin membuat kami tegang dan gelisah. Pengalaman kami ketika menjalani peregrinasi tersebut, tentu saja tidak sedahsyat pengalaman para Rasul yang diutus Yesus untuk mewartakan pertobatan, mengusir setan dan juga untuk menyembuhkan orang sakit.

Akan tetapi melalui pengalaman tersebut kami belajar untuk menangkap pesan iman dari Allah sendiri bahwa Allah senantiasa berkarya lewat karya Roh Kudus dalam diri kita dalam keadaan apapun juga, sebagaimana Roh Kudus itu juga berkarya dalam diri para murid dalam menjalankan tugas perutusan. Roh Kuduslah yang memampukan kami mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran. Kami yakin bahwa pengalaman akan campur tangan Allah dalam kesulitan hidup juga pernah dialami oleh kita semua dalam hidup sehari-hari. Pada saat kita mengalami masa-masa sulit dan berat dalam hidup, entah menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan atau juga dalam berelasi dengan lingkungan sekitar kita. Sering kita merasa buntu, tidak ada jalan keluar. Pada saat-saat seperti itu, biasanya kita membawa semua ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahan, di dalam doa-doa pribadi dan terlebih lagi dalam Ekaristi. Setelahnya kita seperti mendapat kekuatan baru, yang memampukan untuk menghadapi segala permasalahan dalam hidup kita. Namun sayangnya kita sering melupakan dari mana kekuatan yang memampukan itu muncul. Kita merasa semua persoalan yang datang dalam hidup bisa selesai karena kemampuan dan usaha kita sendiri. Karenanya kita butuh pertobatan dan mengandalkan Allah lewat Roh Kudus-Nya.

Melalui bacaan Injil pada hari ini, kita semakin disadarkan bahwa dalam menjalani hidup perutusan ini kita tidak pernah bisa lepas dari peran serta Allah sebab melalui kekuatan Roh Kudusnya, kita senantiasa diberi kekuatan dan keberanian untuk berjuang dalam menjalankan tugas perutusan kita masing-masing dengan penuh kasih dan tanggungjawab. Dalam Roh Kudus inilah kita berani menaruh pengharapan dan optimis bahwa Allah senantiasa membantu dan menemani kita dalam setiap tugas dan perutusan.
Yesus juga mengajak kita untuk menyadari bahwa tujuan segala tugas perutusan kita sebenarnya juga diarahkan kepada semangat pelayanan kepada orang lain. Sebagaimana kedua belas murid Yesus yang diminta

Yesus untuk memusatkan perhatian pada pengutusan mereka. Mereka datang dan melayani untuk orang lain, mereka tidak membawa diri mereka sendiri melainkan kuasa yang telah mereka terima dari Allah sendiri. Bagi kita semua yang merasa menjadi utusan, keprihatinan pada penderitaan dan memberikan perhatian serta kasih pada sesama kiranya juga menjadi salah satu pokok utama dalam tugas perutusan kita.

Dengan semangat para rasul kita juga diharapkan terbuka pada semangat pertobatan. Bertobat dapat berarti juga berani berwawasan luas dan memberi ruang gerak pada yang ilahi dalam kehidupan ini. Dengan demikian setidaknya kita diharapkan akan dapat menjalankan tiga tugas perutusan utama dari Yesus (lihat Markus 3:13-19) yakni setia dan taat menyertai Yesus, berani mewartakan Injil dan mengusir segala yang jahat dalam dunia ini dengan kuasa Yesus.

Oleh karena itu dengan berbekal pengalaman iman akan Allah, hendaknya kita masing-masing selalu optimis dalam menjalankan seluruh rangkaian tugas perutusan. Kita percaya bahwa Allah yang setia dan penuh kasih selalu memampukan kita untuk memulai dan menyelesaikan seluruh rangkaian tugas dan tanggung jawab kita.

Fr. Pandrias, SJ

19 Juli 2009
HARI MINGGU BIASA XVI
Yer. 23-1-6; Ef. 2:13-18; Mrk. 6:30-34

PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B

Juli

19 Mg Hari Minggu Biasa XVI
22 Rb Pw S. Maria Magdalena
25 Sb Pesta S. Yakobus, Ras
26 Mg Hari Minggu Biasa XVII
29 Rb Pw S. Marta, Maria dan Lazarus, Sahabat Tuhan
31 Jm Pw S. Ignasius dr Loyola, Im; Pendiri Tarekat S.J.

JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI
18-19 Juli 2009

Gereja St. Anna

Hari : Sabtu, 18 Juli, Jam 17.30
Pen. jwb : Pd. Bmb II, Lk Lila Santana & Barnabas
Koor : Caecilia

Hari : Minggu, 19 Juli, Jam 06.30
Pen. jwb :Joyoseputro & M. Magdalena
Koor : Klender

Hari : Minggu, 19 Juli, Jam 08.30
Pen. jwb : DS. Selatan, Lk Ursula & F. Asisi
Koor : DS. Selatan

Hari : Minggu, 19 Juli, Jam 16.30
Pen. jwb : DS. Indah, Lk Stella Maris & M. Assumpta
Koor : DS. Indah

Hari : Minggu, 19 Juli, 18.30
Pen. jwb : DS. PTB, Lk Santa Anna & Gabriel
Koor : Santa Anna

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman Kedua

FX. Enrico Agung Gana Buana (Lk. Kristhoporus)
Emiliana Yanny Puspitasari (Prk. Kristhoporus-Grogol)

FX. Dapot Martua Pintu Batu (Lk. Herman Bouwens)
Irma Hadi Sutjipto (Karawang)

Pengumuman Ketiga

Bernadinus Steni S (Lk. Martinus)
Caecilia Dwi Astuti O (Lk. Emmanuel)

Rudianto Ignatius Pakpahan (Prk. Bunda Teresa)
M. Marliana Nuprilinda LG (Lk. Elizabeth)

Ignatius Ellfanus Yuni Chandra (Lk. Philipus Rasul)
Renata Anida Rohani M (Lk. Philipus Rasul)

Lim She Lit (Klender)
Florentina Teniwati (Lk. Herman Bouwens)

Yohanes Ronny Costamte (Lk. Nazareth)
Regina Cinduringtias P (Prk. Yohanes Penginjil)

Ignatius Bayu Wibowo (Lk. Theresia d’ Avilla)
Florentina Putranto (Prk. Katedral-Bogor)

PDKK

PDKK mengundang seluruh umat St. Anna untuk menikmati Sabda Tuhan pada hari Rabu 15 Juli 2009. Tempat Gedung Yos Sudarso, jam: 19.00 Wib. Tema : Ron Ryan V
Pewarta Bpk Robby Jonosewojo.

WKRI CAB. ST. ANNA

WKRI Cab. St. Anna mengadakan penyuluhan tentang “ Gizi Lansia” pada hari Minggu, 12 Juli 2009. Jam 10.00 WIB. Tempat Stasi Yoakhim. Mohon kehadiran para lansia. Tidak dipungut biaya.

PASUKRIS/CFC

Kami mengundang semua anggota Pasukris Paroki Santa Anna Duren Sawit, Jakarta Timur untuk hadir pada hari Jumat, 17 Juli 2009, jam 19.30-22.00 WIB. Tempat Kapel St. Yoakhim, dengan acara “Bincang-bincang tentang Kelompok Umat Basis”. Penyelenggara Pasukris ”Keluarga Muda” Stasi Yoakhim ( Bapak Yosef MS. Setiawan).

OMK

Kami mengundang Orang Muda Katolik (OMK) Santa Anna (13-15 tahun dan belum menikah) yang terlibat di paduan suara di paroki dan yang mempunyai minat bernyanyi untuk menghadiri pertemuan pada hari Sabtu, 18 Juli 2009 jam 19.00 WIB di Gereja St. Anna dalam rangka mengikuti lomba paduan suara OMK se KAJ tanggal 1 November 2009. Kami tunggu kehadirannya. Turut mengundang romo-romo Paroki Duren Sawit.

Pojok Liturgi
Minggu, 12 Juli 2009 – Minggu Biasa XV

Santo Benediktus, Abbas

Benediktus, abbas, berasal dari keluarga petani kaya di Nursia (Italia). Oleh orang tuanya ia disekolahkan di Roma. Keadaan di Roma pada saat itu penuh dengan bangsa-bangsa pemuja dewa pagan, Aria dan kehidupan mengarah ke barbarisme. Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Ketika itu ia berusia 20 tahun. Dalam pencarian akan kesunyian yang total, Benediktus mulai mendaki lebih jauh lagi di antara bukit-bukit hingga akhirnya ia mencapai sebuah tempat yang disebut Subiaco, 50 mil sebelah timur kota Roma. Meskipun Benediktus hidup jauh dari dunia, seperti para bapa padang gurun yang lain, ia harus menemui godaan-godaan. Akan tetapi dibantu oleh kerahiman ilahi, ia menemukan kekuatan untuk menolak godaan tersebut.

Pada saat itu juga Tuhan mulai mengirim banyak orang kepadanya. Mereka datang untuk mendengarkan kabar gembira tentang Yesus Kristus. Tuhan mulai mengerjakan karya besar dalam dirinya. Ia menyembuhkan orang-orang yang sakit, memberikan penghiburan bagi orang yang tertekan, membagikan amal dan makanan kepada yang miskin. Mulai saat itu banyak orang dari berbagai daerah dan bangsa ingin bergabung bersama Benediktus.

Penghuni sebuah biara yang dekat dari gua itu meminta Benediktus menjadi abbas mereka. Kemudian Benediktus meninggalkan gua dan disambut dengan gembira. Tetapi ia segera menyadari, bahwa kehidupan di biara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Benediktus berusaha memperbaikinya. Namun tidak semua biarawan setuju, bahkan ada yang membenci dan berupaya meracuninya. Untunglah Benediktus selamat ketika gelas yang berisi racun itu tiba-tiba saja retak ketika dijamahnya. Benediktus meninggalkan biara itu dengan sedih hati. Ia kembali ke Subiaco dan mengumpulkan banyak pertapa yang terpencar dimana-mana. Ia mempersatukan mereka dalam 12 biara.

Akhirnya Benediktus pindah ke Monte Kasino bersama murid-muridnya. Ia menjadi bapa atau abbas yang bijaksana dan menyayangi keluarga biarawannya. Ia mengajar para rahibnya untuk senantiasa berdoa, bekerja dengan tekun dan selalu rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Di Monte Kasino Benediktus menulis peraturan hidup membiara yang termasyur itu. Peraturan-peraturan tersebut ditujukan bagi mereka yang ingin menyangkal keinginan mereka sendiri. Benediktus mampu melakukan hal-hal yang baik karena ia senantiasa berdoa. Di kemudian hari, ribuan biara mengikuti peraturan-peraturan yang bijaksana dan tegas dari Santo Benediktus. Benediktus wafat pada tanggal 21 Maret 547 di biaranya di Monte Kasino.

Membaca kisah hidup dari Santo Benediktus, kita setidaknya dapat mengambil beberapa keutamaan yang dimiliki olehnya. Misalnya saja tentang kepribadiannya yang sangat mengasihi Allah, tegas dalam menolak segala godaan, pemimpin yang bijaksana, pembimbing rohani yang ulung, seorang yang lembut hati dan penuh dengan belas kasih dan pengampunan.
Benediktus, (480-547), abbas dan pendiri Ordo Benediktin (Ordo ini termasuk dalam Trapis). Ia dikenal juga sebagai pelindung dari orang yang sedang dalam sakratul maut. Nama Benediktus sendiri berarti diberakti oleh Tuhan. Benediktus juga kerap kita kenal sebagai seorang biarawan yang berpegang teguh pada regula-regula atau aturan-aturan. Gereja Katolik memperingati Santo Benediktus setiap tanggal 11 Juli.

Sumber Utama : http://permana1988.wordpress.com/2009/01/29/benediktus-abbas/

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>