Berita Paroki 07 Juni 2009
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Ul. 4:32-34.39-40; Rm. 8:14-17; Mat. 28:16-20
TIGA CAPRES
“Wah, pilpres kita bakal ramai!, Sekarang kita punya 3 pasang capres dan cawapres!” kata Cakra penuh semangat. “Kok cari ramai? Emangnya kalau capres dan cawapresnya ada 3, republik kita akan lebih baik? Kalau cuma satu kan malahan tidak repot! Tidak usah mengeluarkan biaya begitu besar untuk pilpresnya, untuk kampanye, untuk iklan-iklan di televisi dsb. Kan lebih baik uangnya dibagikan kepada orang miskin?” jawab Guntur tak kalah semangatnya. “Dulu di zaman orba juga gak repot, tidak ada keributan, tidak ada pengeluaran negara yang begitu besar untuk pilpres.” “Lalu di mana demokrasi kita? Kalau satu, pasti tak ada persaingan, kompetisi yang sehat dan akibatnya sang capres cawapres tidak terangsang untuk memikirkan program yang terbaik yang akan dipersembahkan kepada bangsanya. Semua hanya akan ditentukannya oleh selera dia!” jawab Cakra. “Dengan satu capres dan cawapres, bangsa kita tak punya pilihan, tak ada demokrasi, tak ada variasi, akibatnya tak ada pula kreativitas. Satu capres dan cawapres hanya akan melahirkan kediktatoran”, Nino menambahkan dengan suara yang tak kalah serunya. “Yah!” Guntur tidak mau kalah, “Tetapi akibatnya sekarang ongkos pilpres ini bisa menyengsarakan rakyat! Yang ada cuma kompetisi tidak sehat, tidak santun, maki-maki, demo-demo!” “Mungkin” kata Cakra kembali, “tapi lihatlah, memang ada gesekan, tapi kemudian ada dialog, ada kesepakatan, ada saling perhatian. Tiga memungkinkan rakyat berpikir, menyimak dan kemudian memilih berdasarkan pertimbangannya dengan bebas. Di sini orang di”wongke”, bukan diperintah-perintah dan kemudian jadi robot yang tidak berkutik!”
Injil pada hari Minggu ini berkata: “pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,…”(Mat.28:19). Dalam Pesta Tritunggal Mahakudus kita diajak merenungkan Allah kita. Tritunggal Mahakudus adalah suatu misteri yang sulit dipahami, bahkan Santo Augustinuspun cukup lama ragu tentangNya. Otak kita bak sebuah sumur pasir di pantai yang tak cukup untuk menampung pengetahuan tentang Allah yang lebih luas daripada samudra. Namun, orang Katolik wajib berusaha mengerti dan karenanya wajib menjelaskannya kepada siapapun yang bertanya kepada kita. Orang selalu mengatakan bahwa Allah itu satu (seperti nomor satu, juara, paling hebat, paling kuasa dan serba maha). Tapi jangan lupa satu juga bisa berkonotasi sedikit, kecil, miskin, lonely. Satu capres dan cawapres pasti terasa miskin, sepi dan tidak seramai tiga capres dan cawapres yang lebih demokratis, dinamis, kompetitif, kreatif dan karenanya produktif. Nah Allah yang Esa itu yang bagaimana? Yang Esa yang statis masif atau yang dinamis?
Santo Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih (1Yo.4:8). Allah Junjungan kita memang Maha Esa, karenanya Mahakuasa, tetapi Dia juga Maha pengasih. Karenanya ada dinamika dan tak ada sifat otoriter padaNya. Dalam Allah ada dialog, pembicaraan, ada saling perhatian dan ada saling kasih yang sempurna. Dengan siapakah pembicaraan, perhatian dan saling kasih itu? Ketika hendak menciptakan manusia Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita …”(Kej.1:26). “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.(Yoh.1:1-3). Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. (1Yo.5:6-7).
Allah adalah kasih. Kasih yang sejati dilakukan dalam dinamika pribadi-pribadi yang setara. Dalam Allah ada pribadi-pribadi yang saling mengasihi. Allah bukan satu pribadi yang masif otoriter. Berbeda dengan kasih manusia yang lemah, kasih Allah itu sempurna. Karena kesempurnaan kasihNya, Bapa, Putera dan RohNya sungguh-sungguh menyatu dan satu. Three in one yang sempurna. Karenanya bukan satu yang diktator, tetapi sungguh tiga yang saling mengasihi, karenanya Dia sungguh menyatu jadi satu: Allah itu Mahaesa, Tritunggal Mahapengasih.
Karena MahapengasihNya Allah tidak menjadikan kita robot atau budak. Manusia dijadikan bagai anakNya, dengan memiliki kemampuan yang serupa dengan Allah untuk juga saling berbicara, berembuk, saling menaruh perhatian dan saling mengasihi. Karena KemahakuasaanNya kita harus menyembahNya (Ul 4:32-34.39-40), tetapi semuanya itu bukan karena diperintah atau keterpaksaan, tetapi karena kesadaran dan kebebasan yang mengalir dari dalam diri kita sebagai anakNya serta karena bimbingan RohNya (Rom.8:14-17). Karenanya kita tidak boleh saling memerintah dan memaksakan kehendak. Kita wajib saling berembuk, saling memperhatikan dan mengasihi seperti yang dilakukan Allah. Kita harus hidup rukun, karna saling mengasihi, bukan karena diperintahkan aturan-aturan. Dalam arti inilah kita diminta menjadikan semua bangsa muridNya. Semua orang harus hidup sesuai dengan teladan kasihNya. Semoga dengan adanya 3 capres cawapres, bangsa kita semakin dewasa, semakin mampu berdialog, berembuk merencanakan yang terbaik bagi bangsa dan Negara kita sesuai dengan teladan Allah kita Tritunggal Mahapengasih.
(H.Hardi Tjandraatmadja)
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Kel. 24:3-8; Ibr. 9:11-15; Mrk. 14:12-16.22-26
PENANGGALAN LITURGI
TAHUN B/I
Juni
7 Mg HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
11 Km Pw S. Barnabas, Ras
13 Sb Pw S. Antonius dr Padua, ImPujG
14 Mg HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
19 Jm HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
20 Sb Pw Hati Tersuci SP Maria
21 Mg Hari Minggu Biasa XII
24 Rb HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
28 Mg Hari Minggu Biasa XIII
29 Sn HARI RAYA S. PETRUS dan S. PAULUS, RAS
13-14 Juni 2009
Gereja St. Anna
Hari : Sabtu, 13 Juni, Jam 17.30
Pen. jwb : Bintara Jaya, Lk Montini & Benedictus
Koor : Montini
Hari : Minggu, 14 Juni, Jam 06.30
Pen. jwb : Klender, Lk Maria Magdalena & Adrianus S
Koor : Duren Sawit Selatan
Hari : Minggu, 14 Juni, Jam 08.30
Pen. jwb : DS. Timur, Lk Elizabeth & Alb. Agung
Koor : BIA
Hari : Minggu, 14 Juni, Jam 16.30
Pen. jwb : DS. PTB, Lk M. Mirabilis & M. Gratia
Koor : St. Anna
Hari : Minggu, 14 Juni, 18.30
Pen. jwb : DS. Baru, Lk Yohana & Bethlehem
Koor : Duren Sawit Baru
PENGUMUMAN PERKAWINAN
Pengumuman Pertama
Yoseph Matius Edwin Salim (Prk. St. Thomas)
Veronica Nesia Limar (Lk. Elia)
FX. Douan Wardhani (Lk. Benedictus)
Veronika Diana Sofiawati (Prk. Katedral-Semarang)
Thomas Pandu Brahmantya (Prk. St. Mikael)
Theresia Nungki Kusuma W (Lk. Martinus)
Yosef Mario Kristamtama (Prk. Kalvari)
Priska Petria (Lk. Don Bosco)
Franciscus Cahyo Budianto (Lk. Faustina Kowalska)
Olivianti Susanti (Cibubur)
Georgius Kristian Efendi (Prk. St. Paulus)
Godeliva Anita Chandra (Lk. Paskalis)
Robertus Bambang Tri Haryadi Prk. (St. Yoseph-Sukabumi)
Aster Mariana Sipayung (Lk. Soegiopranata)
Pengumuman Kedua
Kristianus Andy Prasetyo (Lk. Blasius)
Patricia Hana Pramartika (Lk. Keluarga Kudus)
Ignatius Krisna Budi Aryoko (Lk. St. Paulus)
Sylvia Ery Tanjunga (Prk. Cililitan)
Frederick Titoes Libert (Jogyakarta)
Anastasia Shinta NH (Lk. Angela)
PDKK mengundang seluruh umat St. Anna untuk menikmati Sabda Tuhan pada:
Hari/tanggal : Rabu, 10 Juni 2009
Tempat : Gedung Yos Sudarso
Jam : 19.00 Wib
Tema : Hikmah Suatu Penderitaan
Pewarta : Ibu Inge Aryanti Priyatna
Dalam rangka mendukung acara Social & Gathering Camp, mohon partisipasi dari seluruh umat St. Anna untuk menyumbangkan buku2 bacaan dan mainan layak pakai untuk disalurkan kepada anak-anak di desa Pawenang-Kab. Nagrak, Sukabumi. Bantuan tersebut dapat kami terima dari tanggal 14 Juni – 12 Juli 2009 setiap habis misa.
Kami mengundang umat paroki St. Anna untuk berdoa ROSARIO bersama, pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 13 Juni 2009
Jam : 16.30 s/d 17.15 Wib
Tempat : depan Gua Maria
Akan ada pembakaran ujud doa, yang disiapkan dari rumah. Bunda memberkati. Amin.
Mohon kepada seluruh ketua lingkungan yang belum menyetor uang kolekte Bulan Maria agar segera menyetorkannya kepada Panitia Devosi melalui Sekretariat Paroki.
1. Dokter Umum
• 7 Juni : dr. Tuti
• 14 Juni : dr. Budi
2. Dokter Gigi
• 7 Juni : drg. Inge
• 14 Juni : drg. Titus
Tritunggal Maha Kudus
Ajaran tentang Allah Tritunggal berpangkal dari iman yang diakui waktu orang “dibaptis atas Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (bdk Mk 28:19). Kepercayaan akan satu Allah Bapa-Putera-Roh Kudus ini, menyambung pembaptisan Yesus sendiri pada awal pengutusanNya. Dalam bab pertama Injil tertua, Markus (Mk 1:9-11) disebut: suara Allah Bapa dari surga mewahyukan Yesus sebagai PuteraNya Yang tercinta, sementara Roh Kudus memperlihatkan Diri dalam rupa merpati. Misteri Tritunggal juga muncul di saat puncak pewartaan Yesus yang dalam kegembiraan dipenuhi Roh Kudus memuji Bapa, Tuhan langit dan bumi, yang tidak dikenal siapapun selain Putera dan orang yang kepadanya diberitahukan oleh Putera (Lk 10:21 dst). Iman Perjanjian Baru akan satu Allah Bapa-Putera-Roh Kudus ini merupakan inti iman Kristiani. Pokok wahyu seluruh Injil adalah, bahwa Yesus dalam pewartaan dan perbuatanNya menampakkan Allah sebagai BapaNya. Hubungan Bapa-Putera yang kekal diwahyukan kepada manusia oleh Allah-Putera supaya semua manusia dapat menjadi anak-anak Allah dengan percaya kepada Yesus (Yo 1:12). Yesus mengutus Roh Kudus supaya orang sanggup mengakuiNya sebagai Tuhan (bdk 1 Kor 12:5 dst) dan menyanggupkan orang beriman untuk menyebut Allah sebagai “Bapa” mereka (Rom 8:15), dan dengan demikian mendapatkan keselamatan dan memahami kebenaran. Adanya Allah Bapa-Putera-Roh Kudus ini dialami dulu sebagai cara bertindak Allah dalam sejarah keselamatan, lalu diwartakan dan baru sesudahnya direfleksi Gereja dalam bentuk rumusan-rumusan teologis untuk menangkis pelbagai bidaah.
Bentuk bahasa rumusan ajaran tentang Tritunggal berasal dari abad ke-3 dan ke-4 antara Konsili Nicea I (325) dan Konstantinopel (381). Misteri iman ini hanya dapat diketahui dari Wahyu, bukan hal yang irasional ( bertentangan dengan akal sehat) melainkan transrasional (melampaui akal budi yang terbatas). Misalnya bahwa Allah adalah esa secara istimewa karena Ia Tritunggal. KesatuanNya tak terbatas, juga lain dari kesatuan apapun di dunia karena sungguh-sungguh ilahi (angka “satu” dan “tiga” harus dimengerti secara analog, bukan kualitatif, diterapkan secara berbeda daripada sama seperti kita menggunakan angka-angka tersebut). Kesatuan kodrat tiga pribadi ilahi yang unik dan transenden ini menjadi dasar rumusan wahyu paling sederhana dan indah dari St. Yohanes Penginjil: “Allah adalah cinta kasih” (1 Yo 4:16).
(disarikan dari Ensiklopedi Gereja jilid IX oleh Adolf Heuken SJ, Penerbit CLC 2006)







Leave a Reply