Berita Paroki 03 Januari 2010

03 Januari 2010

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN, TAHUN C/II

Yes 60:1-6 ; Ef 3:2-3a,5-6 ; Mat 2:1-12

JADILAH BINTANG TERANG PENUNJUK JALAN

“Aduh PLN ini bagaimana? Sebentar-sebentar lampu mati. Kalau lampu mati, listrik padam, kita kan tak bisa buat apa-apa! Bapak kan harus mempersiapkan bahan untuk ceramah besok!” keluh pak Sunar mencari lampu daruratnya. ”Sayang, lampu darurat kita juga mati, rupanya Bambang lupa menyetrumnya! Bambang juga tak bisa belajar, padahal sedang ulangan umum,” kata anaknya. ”Sabar toh, Pak. Sebentar lagi juga akan nyala!” kata bu Sunar memberikan lampu teplok kepada suaminya. ”Sabar, sabar bagaimana? Kalau lampu mati, kan rumah kita juga jadi rawan. Kita harus segera menyalakan lampu teplok. Kemarin dulu rumah tetangga kita dimasuki pencuri, pas ketika lampu mati,” kata pak Sunar kembali. ”Memang begitulah, jika lampu padam! Pekerjaan terhambat. Orang jahat meraja-lela. Orang jahat itu kan bekerjanya dalam kegelapan,” kata istrinya dengan sabar. ”Bu Sunar, bu Sunar! Tolonglah saya! Santi demam! Panasnya hampir 40 derajat!” teriak Yati, tetangga sebelah membawa anaknya yang masih berumur 1 tahun. ”Jangan khawatir nak, ibu punya bawang merah. Sebentar ibu kupas, uleg dan campur dengan minyak kayu putih. Nanti kita balurkan di seluruh tubuhnya,”jawab bu Sunar penuh ketenangan. ”Aduh, ibu ini sungguh bintang penerang bagi kami. Hanya ibulah yang selalu menolong kami. Karena terang ibu, kami menjadi tenang,” kata Yati penuh rasa terima kasih. Benar! Tanpa ”terang” kita tidak dapat berbuat banyak dan akan khawatir. Karena gelap kita bisa tersesat, dan lebih celaka lagi pada saat itu berbagai macam kejahatan bisa mendapatkan kesempatan. Karena itulah kita perlu segera mencari dan sekaligus memberikan ”terang”. Dengan ”terang” yang diberikan bu Sunar, Yati bisa mengurus bayinya. Dengan ”terang” bu Sunar, pak Sunar semakin bisa sabar dan tidak marah-marah lagi. ”Terang” bisa kita peroleh dari saudara, teman, tetangga, sesama kita, bacaan, kotbah pastor, tetapi juga dapat dari gejala alam dan pengalaman sehari-hari. Bu Sunar mampu memberi ”terang” yang diperoleh dari pengalamannya membesarkan anak selama ini. Dari pengalaman mengajar murid-muridnya, seorang guru seringkali merasa mendapatkan ”terang” yang dapat membawanya kepada Sang Terang, sehingga imannya lebih diperkuat. Pak Jeffry dalam sharingnya mengemukakan bahwa dari foto-foto yang dibuatnya, dia mendapatkan ”terang” bahwa dia sebenarnya tidak boleh mengeluh. Sebaliknya dia harus memperlihatkan rasa syukur dan terima kasih, karena begitu berlimpah kebaikan yang diterimanya dari Allah. Pengalaman sebagai sukarelawan menolong korban tsunami di Aceh beberapa waktu yang lalu menyadarkan pak Syarif bahwa Rahmat dan Kebaikan Tuhan jauh melampaui musibah yang dialami. Kini dia selalu mengajak kita bersyukur kepada Tuhan. Dari peristiwa pemadaman lampu, dapat disimpulkan bahwa, pertama dalam kegelapan tidak banyak yang dapat kita lakukan, kedua kita bisa tersesat dan ketiga kita bisa didatangi oleh kejahatan. Karena itu, perlulah kita segera mencari terang, agar kemudian kita mampu menjadi penerang orang lain.

Seperti bapak dan ibu Sunar, tiga orang Majus dari Timur juga mencari ”terang”. Hobby dan pekerjaan menyelidiki bintang, membawa mereka ke penemuan bintang terang yang jadi penunjuk tempat kelahiran Yesus ”Sang Terang” di Bethlehem (Mat.2:1-12). Setelah menemukan ”Sang Terang”, mereka menjadi penerang bagi orang lain seperti Herodes, ahli-ahli kitab dan kita semua. Sebenarnya seperti mereka, kita juga diminta Yesaya menjadi ”bintang penerang” bagi orang lain sebagaimana pernyataannya ”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.”(Yes.60:1) seraya tetap mencari sang Terang ”Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu”(Yes.60:3). Dari peristiwa orang majus, kita juga semakin mengerti apa yang ditulis oleh Santo Paulus: ”Orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus(Ef.3:6).

Kita memerlukan ”Terang”. Bacaan-bacaan hari ini menjelaskan bahwa Yesuslah ”Sang Terang” bagi segala bangsa yang perlu kita cari. Seperti orang majus menemukanNya pada Sang Bayi di gubuk yang hina, Sang Terang dapat kita temukan dalam hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Terang yang kita peroleh tidaklah untuk diri kita sendiri saja, tetapi agar kita semakin dapat berbakti kepadaNya dan menghantar semua orang kepadaNya juga. Dalam suasana Natal 2009 dan Tahun Baru 2010 ini marilah kita selalu mencari Sang Terang dan sekaligus menjadi terang bagi sesama kita. Marilah kita jadikan gereja Santa Anna menjadi terang bagi masyarakat sekeliling kita dengan menjadi pembawa damai, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang sudah semakin ditinggalkan orang: hidup penuh kasih, sabar, tidak menggunakan kekerasan, murah hati, tolong menolong, jujur, disiplin dan menghargai lingkungan hidup. Selamat Hari Natal 2009 dan Tahun Baru 2010. Semoga Tuhan selalu menyertai kita! (H.Hardi Tjandraatmadja)

10 Januari 2010

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN, TAHUN C/II

Yes 40:1-5,9-11 ; Tit 2:11-14, 3:4-7 ; Luk 3:15-16,21-22

JADWAL PERAYAAN & PETUGAS EKARISTI

09 – 10 Januari 2010


Gereja St. Anna

Untuk jadwal petugas Tata tertib & Koor tanggal 09 – 10 Januari 2010 akan diumumkan di pengumuman mimbar tanggal 03 Januari 2010.

Stasi Yoakhim

Hari              : Sabtu, 09 Januari, Jam 18.30

Pen. Jwb       : St. Matheus

Koor             : Don Bosco

Hari               : Minggu, 10 Januari, Jam 08.00

Pen. Jwb       : St. Ignatius

Koor             : Candela

PENGUMUMAN PERKAWINAN

Pengumuman Pertama

J. Bayu Kristianto                                         Lk. Fr. Asisi

Natali Harisa                                                 Prk. Maria Bunda Karmel

Sion Abdorsius Damanik                               Lk. Alexander

Lidia Ramot Sitorus                                      Lk. Alexander

Agustinus Yohakim Ngamel                           Lk. Paulus Rasul

Yulita Sutyas Christ Tanti                              Prk. Petrus Canisius

Pengumuman Kedua

Fransiscus Reynard Tenegar                          Lk. Lusiana

Hildegard Bernardien                                     Lk. Mangunwijaya

Teddy Antonius Sitanggang                           Lk. St. Helena

Hermeni Kristina Nainggolan                          HKBP – Cempaka Putih

Pengumuman Ketiga

Daniel Egbertus                                            Lk. Trinitas

Uni Darmaningsih                                          Cibubur

Benedictus Rianto Wongso                            Prk. St. Maria – Tangerang

Caroline Niki Marinda Widoyo                        Lk. Joyoseputro

Gerson Kent Bawengan                                Lk. St. Monica

Jane Arisandy Anggraeni                               Bethel

PDKK

PDKK mengundang umat St. Anna untuk ikut bersuka cita merenungkan firman Tuhan, pada Hari/Tanggal: Rabu, 06 Januari 2010, Jam: 19.00 WIB. Di : Gd. Yos Sudarso lt 1.

KEP ANGKATAN VII

Pendaftaran KEP angkatan ke-7 tahun 2010 sudah dibuka. Bagi umat yang berminat bisa mendapatkan informasi lebih lanjut dengan cara menghubungi Ratna: 0816867456, Suryanto: 0818867917, Sony: 08161913642 atau dapat membuka www.gerejastanna.org. Marilah mengalami kasih Yesus secara nyata dalam pribadi kita masing-masing.

Pojok liturgi

Struktur dan Bentuk Liturgi

Bagian I Dialogis : Anabatis – Katabatis

Struktur liturgi yang dimaksud di sini adalah bagaimana liturgi disusun dan dibangun. Oleh karena itu kita akan melihat berbagai unsur dan hal yang membangun susunan liturgi baik itu menurut isi teologisnya ataupun bentuk ungkapannya. Hal ini perlu kami sampaikan dengan harapan umat makin hari semakin mengerti seluk beluk liturgi kita.

I. Dialogis : Anabatis – Katabatis

Berangkat dari pengertian liturgi sebagai perayaan, kita dapat menyatakan bahwa liturgi pada dasarnya adalah perjumpaan antara Allah dan manusia. Pengertian liturgi sebagai perjumpaan itu menunjuk dimensi komunikasi dalam liturgi. Komunikasi terjadi antara dua pihak, yang dalam liturgi berarti Allah dan manusia. Perjumpaan dan komunikasi antara Allah dan manusia itu selalu berlangsung melalui Kristus dalam Roh Kudus, jadi dapat dikatakan bahwa liturgi memiliki strukutur dialogis. Pertama-tama, Allah dalam Kristus berinisiatif untuk memanggil, mengumpulkan, dan memilih jemaat untuk menjadi umat Allah dan memuliakan Allah. Maka, hidup Kristiani dan hidup jemaat pada dasarnya adalah karunia sebab Allah sendiri yang memanggil dan mengumpulkan jemaat itu.

Dalam pertemuan itu Allah menawarkan diri dan kasih trinitarisnya agar manusia memperoleh kesempatan dan kemungkinan untuk berperan serta dalam hidup Allah. Dalam struktur liturgi, dimensi Allah yang menawarkan diri itu disebut segi katabatis. Segi katabatis merupakan segi gerakan menurun (dari Allah ke Manusia). Inilah segi pengudusan Allah yang merupakan karunia Allah kepada manusia. Selanjutnya manusia dalam kebersamaan sebagai jemaat ditantang untuk menanggapi dan menjawab panggilan Allah. Tanggapan jemaat itu merupakan segi anabatis atau segi gerakan mengatas atau naik (dari manusia ke Allah). Dalam segi anabatis itu, manusia menghunjukkan sembah bakti kepada Allah. Jemaat memuji dan memuliakan Allah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa strukur liturgi dibangun oleh dua aspek utama, yakni segi katabatis dan segi anabatis.

Seluruh bidang liturgi selalu memuat struktur dialogis ini. Dengan daya dan kekuatan-Nya dalam sakramen, Allah menawarkan Diri-Nya berupa pengudusan manusia dan manusia menanggapi dengan jawaban, doa dan pujiannya. Dengan Sabda-Nya dalam liturgi sabda, Allah menjumpai umat-Nya sendiri, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja (bdk SC 7). Terhadap Sabda Allah itu, jemaat menanggapi dengan mazmur pujian, doa dan pernyataan imannya. Demikian pula dalam ibadat harian, terjadi dialog antara Kristus dan jemaat melalui sabda Tuhan dan doa pujian. Struktur dialogis liturgi ini sebenarnya merupakan rincian lebih lanjut dari hakikat liturgi sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus yang berupa karya penebusan umat manusia (katabatis) dan pemuliaan Allah (anabatis).

Perlu ditambahkan bahwa paham liturgi sebagai komunikasi juga bisa dilihat menurut dimensi vertikal dan horisontal. Dengan dimensi vertikal diungkapkan relasi dan komunikasi antara Allah dan jemaat. Sedangkan dimensi horisontal menunjuk komunikasi antarjemaat sendiri. Baik antara jemaat dan umat beriman, maupun antara umat beriman sendiri, terjadi suatu dialog kehidupan.

Sumber Utama :

Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta : Obor, 2004

E. Martasudjito, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta : Kanisius, 1999

SELAMAT TAHUN BARU 2010

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>