Belas Kasih Allah
Minggu PraPaskah 5, Yoh 8:1-11
Pernah dengar cerita tentang Tony belum? Telepon rumahnya berdering pukul 3:20 dini hari. Dia merayap turun dari tempat tidurnya, berjalan sempoyongan setengah tidur setengah sadar dan mengangkat telepon. “Apakah ini Tony?”, terdengar suara dengan nada marah dari telepon. “Ya…”, gumam Tony. “Dengar ya.. ini aku Fernanda, tetanggamu seberang jalan. Aku telepon untuk kasih tahu, gonggongan anjingmu itu bikin aku gila. Tolong cepet suruh dia diam.. tetangga baru pindah sudah bikin masalah…!”
Pagi hari keesokan harinya, jam 3 dini hari, telepon Fernanda berdering-dering. “Halo…?” gumamnya terkantuk-kantuk. “Tuan Fernanda, ini saya Tony, tetangga baru seberang jalan.” “Jam 3 pagi kamu telepon? Kamu gila apa…?””Tuan Fernanda, saya telepon untuk memberi tahu… saya tidak punya anjing….”
Saudari-saudaraku ytk dalam Kristus. Susah ya untuk mengampuni dan melupakan. Ketika kita tahu seseorang berbuat salah, kadang tidak cukup hanya menghakimi, kita malah mengutuki mereka. Kalau kesalahan itu merugikan atau melukai hati kita, lebih lagi, bisa jadi kita lalu merancang balas dendam, seperti film-film silat Mandarin jaman dulu. Jika kesalahan itu berkaitan dengan kekuasaan, logika yang muncul nampaknya hanya kalah-menang atau hadiah-hukuman, atau dalam dunia politik kita ya koalisi atau oposisi. Dan lebih parah lagi, dosa itu melekat terus. Hukuman yang sudah ditanggung, seperti dipenjara, seakan tidak pernah usai meski sudah lama lewat terjalani. Kita selalu ada dalam godaan melihat orang lain dengan kacamata kesalahan-kesalahan mereka. Kadang malah diam-diam kita bersorak melihat orang lain jatuh karena lalu kita jadi merasa lebih baik dan lebih hebat!
Kita merasakan kekejaman para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Mereka sama sekali tidak menghargai wanita yang jatuh dalam dosa perjinahan itu. Mereka hanya peduli pada dosanya dan menggunakannya untuk kepentingan mereka sendiri, mencoba menjerat Yesus. Dia adalah bidak dalam permainan catur mereka. Ini adalah permainan kekuasaan. Permainan yang juga menyingkapkan sikap kita pada diri kita sendiri atau orang lain berkenaan dengan kesalahan atau dosa.
Mari kita “fast forward” sampai pada akhir cerita. St Agustinus mencatat, akhirnya hanya tinggal “misera et misericordia”, wanita malang dan belas kasih. Kata “misericordia” (belas kasih) asalnya dari ‘misereor’ (jatuh iba) dan ‘cor’ (hati). Para penuntut bergantung pada logika, tetapi Yesus menghadapinya dengan hati.
Mereka pikir logika ada dipihak mereka, memenangkan mereka. Mereka mencoba meletakkan Yesus pada posisi tanpa jalan keluar yang aman dan nyaman. Kalau Yesus memilih berbelas kasih, ia akan menempatkan diri melawan Hukum Musa yang menetapkan hukuman mati dengan cara dirajam untuk jenis kejahatan itu. Kalau Dia memilih mengiyakan hukuman rajam, Dia dapat dituduh memicu pembunuhan melawan hukum sipil penjajah Romawi.
Kisah ini adalah sebuah kisah luar biasa yang menunjukkan bagaimana kasih dapat menaklukkan logika yang bertautan dengan nafsu mengejar kekuasaan. Ini adalah salah satu kisah paling dramatis dalam Perjanjian Baru. Betapa menakjubkan kecerdasan dan kecerdikan yang ditunjukkan Yesus untuk menuntaskan tantangan yang terhidang: mereka pikir mereka sudah memojokkan dia. Tapi tak hanya lolos, Yesus bahkan menang mutlak dan kata orang Malaysia: berjaya. Justru para penuntut kini jadi terdakwa yang satu demi satu pergi diam-diam “mulai dari yang tertua”, kata Yohanes penuh ironi. Kecerdasan yang bersekutu dengan cinta dan belas kasih, menang.
“Aku pun tidak menghukum engkau,” kata Yesus pada perempuan itu. Belas kasih adalah kisah Tuhan. Paus Leo Agung mengajarkan bahwa Yesus adalah tangan kasih Allah yang terulur untuk menyambut dan memeluk kita. Belas kasih adalah keadilan Tuhan, kata St Teresia dari Liseux. Sementara dalam Perjanjian Lama kita diberi tahu bahwa Sepuluh Perintah Allah ditulis dengan “jari Tuhan” (Kel 31:18, Ulangan 9:10) pada dua loh batu, di sini kita punya Yesus yang menulis dengan jarinya, tanda kekuasaan Ilahi, dua kali sebagai tanda pengampunan Tuhan yang memberi kesempatan kedua pada umatnya untuk berubah karena kasih dan setiaNya. St Agustinus menafsirkan bahwa hukum Yesus ditulis di tanah subur yang akan menghasilkan buah, bukannya di atas batu tandas tandus sebagaimana hukum Perjanjian Lama.
Yesus bersabda pada perempuan itu, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”. Meskipun Yesus telah mengampuni dosa-dosanya, Yesus juga berharap perempuan itu menghidupi hidup baru dalam rahmat dan kesatuan dengan Allah sedari saat itu dengan tidak berbuat dosa lagi. Ketika kita menerima pengampunan Tuhan, kita semua semestinya “pergi” menuju hidup baru sebagai manusia baru. Sikap inilah yang diharapkan saat kita menerima Sakramen Tobat, Sakramen Rekonsiliasi sebagai salah satu persiapan menyambut Paskah. Semoga belas kasih Allah yang kita terima menggerakkan hati kita untuk menebar belas kasih yang sama pada sesama. Amin.
AM Ardi Handojoseno SJ. Kotbah dalam bahasa Inggris disampaikan di Gereja St. Fransiskus Xaverius North Sydney, 21/03/2010







Romo Ardi, thanks a lot…vr good reminder.Agar kita semua mau berubah total setelah bertobat…….how wonderful.
Selamat petang (?) Mo…met berkarya….May God be with U always
Cheers,
lily
Yth., Romo Ardi, terima kasih atas tulisan Romo.
Selamat belajar & selamat melayani.
salam,
Hmh….kring…lagi ngapain Rm, study kelompok and banyak assignment ya, tapi ngga lagi tidur kan seperti Tn Tony and Fernanda dalam homili diatas. Wah Rm, kalo saling ngebalas gitu, kapan selesainya, anyway thanks untuk mengingatkan semua dalam masa Prapaskah ini. Have a good day
Rgds,
mary
Ya, begitu bicara belas kasih, yang menyertai hendaklah pengertian. Dengan pengertian orang dapat memahami persoalan yang ada. Kenapa perempuan berdosa itu tak jadi dihukum, ya karena orang mengerti bahwa yang berdosa bukan orang perempuan itu saja, sedangkan yang mau menyambit bisa saja dosanya lebih besar. Menyadari hal demikian itu membuat orang memiliki rasa dan perasaan, ya rasa sakit, ya rasa menderita, ya rasa susah, ya rasa sengsara, ya rasa pilu, ya rasa duka, kan ini tak enak dirasa bagi orang. Lantas bagaimana dong? Ya biarlah Tuhan yang menghakimi, bukan saya yang menghukum. Memahami persoalan lebih baik daripada menambah persoalan. Mengasihi lebih baik daripada menghakimi.Dari dahulu menebar belas kasih itu baik.
Dari Yuliana Sutarmi